Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 19 (Bandara)


__ADS_3

Akhirnya, setelah kurang lebih dua minggu. Wisnu telah diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah semakin membaik hanya tinggal pemulihan saja.


Elvan mengurus administrasi untuk kepulangan papanya dari rumah sakit. Wajah Wisnu tampak bahagia ketika mengetahui kalau dirinya diperbolehkan pulang.


.


Sementara sang istri sudah menunggunya di rumah untuk menyambut kedatangannya.


Tanpa sepengetahuan Elvan. Ternyata Yuanita diminta datang ke kediaman Adhitama untuk menyambut kedatangan calon papa mertuanya yang akan datang dari rumah sakit.


Yuanita ikut membantu bi Minah yang sedang memasak di dapur bersama calon mama mertuanya.


“Sini, Ma. Biar Nita yang nerusin.”


Pinta Yuanita mengambil alih mengiris-ngiris sayuran.


“Mama seneng deh, Elvan mendapatkan calon istri yang rajin sepertimu, Nak.”


Widya tersenyum sembari memberikan sayuran yang sedang ia potong.


Widya mengerjakan pekerjaan yang lain bersama bi Minah. Hari ini, semua menu makanan, Widya yang menentukan dan membuat dengan tangannya sendiri. Karena ia sadar sudah lama sekali dirinya tidak memasak masakan untuk suaminya. Dirinya terlalu sibuk ikut mengurus perusahaan bersama suaminya.


Akhirnya, semua masakan sudah siap dihidangkan. Yuanita membantu menyiapkan semua masakan calon mertuanya ke atas meja makan. Sementara bi Minah membersihkan peralatan masak di dapur.


“Udah beres semua, Nak?” tanya Widya, calon mertuanya.


“Udah, Ma,” ucap Yuanita yang sesekali mengusap keringat yang ada di dahinya.


“Sini, Nak!”


Widya memanggil Yuanita.


Yuanita melangkah, mendekat pada Widya. Tepat di depannya, akhirnya terjadilah pelukan hangat dari calon mama mertuanya.


“Makasih ya, Nak. Kamu udah mau menerima Elvan sebagai tunanganmu, calon suamimu. Percayalah. Elvan itu orang yang baik. Ia seorang yang penyayang. Mungkin, kalau kalian telah berumah tangga. Kamu akan mengetahuinya, Nak,” ucap Widya yang sedang memeluk Yuanita.


Yuanita tersenyum. Ia tidak mengucapkan apa-apa selain membalas pelukan hangat dari Widya.


Dalam hati Yuanita berkecamuk. Ada rasa haru ketika ia mendengar kata-kata dari calon mertuanya itu. Ia ingin sekali mempercayakan hal itu, namun terasa berat karena di matanya, Elvan merupakan sosok laki-laki play boy yang mempunyai banyak kekasih.


“Nak!”


Widya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Yuanita.


“Iya, Ma.”


“Mama udah mempersiapkan gaun untukmu, ada parfum di atas gaun itu. Kamu pakai aja. Mama sudah siapkan di kamar Elvan. Kamu mandi di sana aja, Elvan sedang di rumah sakit kok. Satu jam lagi, mereka baru sampai,” ucap Widya.


“Apa, Ma? Mandi di kamar mandinya Elvan?” Mata Yuanita membulat ketika mendengar ucapan dari calon mertuanya.


“Iya. Elvan kan enggak ada di kamarnya. Lagian, dalam beberapa minggu lagi kalian akan melangsungkan pernikahan. Itung-itung latihat.”


Widya terkekeh menutup mulut dengan telapak tangannya.


“Tapi, Ma.”


“Udah, gak papa. Elvan gak bakal marah juga.” Widya mendorong tubuh calon menantunya. Mengarahkan tubuh itu menuju kamar putra kesayangannya.


.


Yuanita masuk dalam kamar Elvan ia menutup rapat pintu kamar itu. Kamar yang besar menurut Yuanita. Karena, kamarnya yang ada di Bandung tidak terlalu besar. Mungkin, hanya separuh dari kamarnya Elvan.


Yuanita memandang keadaan kamar yang luas itu. Ia memandangi foto dalam kamar yang luas itu. Banyak foto-foto yang terpajang di sudut dinding kamar. Yuanita memperhatikan satu persatu wajah yang ada dalam foto-foto itu.


“Kok semua foto bergambar si Kucing Garong, sih? Ceweknya mana? Punya cewek banyak, tapi enggak ada satu pun yang ia pasang.” Yuanita heran.


Tanpa terasa. Yuanita sudah sepuluh menit memperhatikan foto-foto Elvan.


“Astaga! Aku mesti mandi! Takut, tuh Kucing Garong datang!”


Yuanita bergegas memasuki kamar mandi.


Dengan cepat. Yuanita langsung bergegas mandi. Ia menggunakan peralatan mandi milik Elvan, kecuali sikat gigi.


Setelah itu, ia memakai handuk dan segera mengambil dres yang berada di atas ranjang yang besar itu. Yuanita mengambil parfum yang telah disiapkan oleh calon mama mertuanya.


Yuanita duduk di atas ranjang itu masih memakai handuk. Ia menyemprotkan parfum yang beraroma cherry blossom yang lembut dan ia langsung memakai dres dari mama mertuanya. Yuanita sedikit memoles wajahnya dengan alat make up yang ia bawa dalam tas kecil.


***

__ADS_1


Malam nanti juga bertepatan dengan pemberangkatan Iyan ke Malaysia. Ia menemui Gendis di kost-nya dan menghabiskan waktu berduaan dengannya.


Mereka menghabiskan waktu di taman Mangrove Wonorejo yang berada di Jalan Bozem Wonorejo, Rungkut Surabaya. Mereka duduk sambil menikmati hijaunya pepohonan yang menyejukkan. Iyan menghabiskan waktu siang sampai petang hari bersama Gendis di taman itu.


“Gendis,” ucap Iyan lembut menyebut namanya.


“Iya, Kak.”


Gendis menatap wajah Iyan.


“Nanti malam, aku balik ke Malay. Tolong jagain Yuanita, ya? Dia anaknya baik, care sama orang di sekitarnya.”


“Iya, Kak. Tanpa kakak bilang. Gendis udah tau kalau Nita orang yang baik.”


“Semoga di lain hari kita bisa bertemu lagi ya, Ndis.” Iyan menatap wajah Gendis.


Gendis tersenyum.


Gendis sebenarnya sedih. Ia menyembunyikan kesedihannya melalui senyum yang tersimpul di bibirnya. Berat untuknya berpisah dengan Iyan. Namun, harus bagaimana lagi? Pekerjaannya di sana.


Hening.


Tidak ada kata yang terlontar dari mulut mereka. Hawa yang sejuk malah mendinginkan hati, seolah menjadi beku. Nyanyian burung tak lagi merdu ketika matahari mulai tergelincir. Sang Jingga telah menunjukkan eksistensinya. Mereka kembali pulang.


***


Yuanita memasukkan parfum pemberian calon mama mertuanya ke dalam tas selempang kecil miliknya.


Ia keluar dari kamar Elvan dengan mini dres warna coklat muda dan wangi parfum yang menggoda khas cherry blossom. Lembut.


.


Sementara Elvan memarkirkan mobil di depan rumah sakit. Ia menjemput papanya ke kamar dan membawa papanya di kursi roda, masuk ke dalam mobilnya.


Di sepanjang jalan. Mereka berbincang antar lelaki. Omong kosong ke mana-mana dan tak terasa, si merah telah terparkir di halaman rumah Elvan.


Rumah tampak sepi seperti tidak ada kehidupan. Scurity pun tidak ada di tempatnya. Begitu pun dengan bi Minah yang biasanya terlihat tatkala pintu rumah terbuka. Wisnu mengernyitkan dahinya karena heran.


“Van, orang-orang pada ke mana? Mama masih kerja, kah?” tanya Wisnu sambil berjalan masuk rumah lebih dalam.


“Entah.”


“Selamat datang ke rumah!” sambut Widya, bi Minah, mang Parmin.


Widya melangkah dan memeluk Wisnu, suami yang ia rindukan. “Selamat datang kembali, Pa,” ucap Widya yang masih ada dalam dekapannya.


Wisnu pun membalas pelukan hangat dari istrinya dan mencium lembut rambut dan kening wanita paruh baya yang telah ia nikahi sekitar dua puluh dua tahun yang lalu.


“Makasih, sayang. Tapi seperti ada yang kurang, Ma,” ucap Wisnu.


“Apa?”


“Calon menantu Papa gak ada di sini?” bisik Wisnu pada Widya.


“Ehhemm ....” Elvan berpura-pura batuk. “Kalian bisikin apa, sih? Lupa ya, kalau di sini ada anak kalian?” Elvan memutar bola mata coklatnya.


“Dasar! Kita makan dulu, yuk!" Ajak Widya.


Widya, Wisnu dan Elvan berjalan menuju ruang makan. Sedangkan bi Minah dengan mang Parmin, kembali ke tempat kerjanya masing-masing.


“Markonah?” celetuk Elvan ketika melihat Yuanita yang duduk menanti di meja makan.


Wajah mama dan papanya terlihat heran ketika mendengar Elvan memanggil nama Markonah pada Yuanita.


Yuanita tersenyum, “Hai ... Pa, selamat datang kembali di rumah.” Yuanita mencium lengan Wisnu.


“Makasih, Nak.”


Wisnu tersenyum.


Sementara Elvan masih mematung ketika Yuanita berada di dekatnya. Elvan tidak menyangka, dengan penampilan seperti itu, Yuanita semakin menarik di hadapannya bahkan dengan wangi cherry blossom yang semakin membuat ia tergoda.


“Sayang ....” sapa Yuanita yang berada di samping Elvan.


“Eh!"


Elvan terperanjat, bertambah kaget melihat Yuanita yang telah berdiri di sampingnya.


“Ya udah. Mari kita makan? Udah lengkap semuanya, kan?” ucap Widya.

__ADS_1


Wisnu tersenyum.


Widya dan Wisnu berjalan ke ruang makan. Sementara Elvan masih berdiri di tempatnya.


“Ayok!”


Ajak Yuanita galak seperti biasanya.


Namun, lengan Yuanita melingkar pada lengan Elvan yang menunjukkan keromantisan di hadapan calon mertuanya. Entah mengapa, Elvan malah merasa grogi ketika lengan itu mengait pada lengannya. Ada degup yang mulai mengencang yang ia rasakan saat itu.


Oh ... Tuhan, kenapa denganku? Perasaan apa yang sedang kurasa saat ini? Pekik dalam hati Elvan.


.


Mereka menikmati makan malam yang telah tersaji. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. Yuanita mulai gelisah karena satu jam lagi Iyan akan berangkat ke bandara.


“Sayang, kamu kenapa? Kok seperti gelisah duduknya?” tanya Widya ketika semuanya sudah selesai makan.


“Itu. Itu, Ma. Yuanita ada perlu.” Suara Yuanita terbata mengutarakan hal itu pada Widya.


“Oh ... Ya udah, berangkat saja gak papa kok, Nak. Van antarkan calon istrimu!” ujar Wisnu.


“Baiklah.”


Elvan mendorong kursinya ke belakang dan bergegas menyambar kunci mobil yang ia taruh di atas meja.


“Pa, Ma. Nita pamit, ya?”


Yuanita menyalami lengan kedua orang tua Elvan.


Elvan dan Yuanita berjalan berdampingan menuju ke halaman rumah, dimana mobil merah itu terparkir.


Elvan membukakan handle pintu mobil untuk Yuanita. Tak banyak bicara, Yuanita masuk dalam mobil merah itu. Disusul dengan Elvan yang masuk dalam mobil itu.


Di dalam mobil, Elvan melihat Yuanita telah gelisah. “Lu kenapa?” tanya Elvan ketika memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Gue mau ke bandara, Van.”


Sret!


Elvan mengerem mobilnya di pinggir jalan.


“Mau ngapain?”


Mata sipitnya membulat.


“Menemui seseorang,” ujar Yuanita samar.


“Siapa?” tanya Elvan.


“Entar juga Lu tau. Ayok antar Gue ke bandara, Van!” ujar Yuanita seperti sedang terburu-buru.


Tanpa banyak bicara. Elvan kembali memacu si merah menuju bandara.


***


“Kak Iyan!”


Yuanita berlari dan memeluk Iyan.


Gendis meninggalkan mereka. Memberi waktu untuk mereka melepas rindu di saat-saat terakhir menjelang pemberangkatan Iyan ke Malaysia.


Gendis mendekati Elvan yang sedang mengepalkan lengannya, karena lagi-lagi Yuanita memeluk laki-laki lain di hadapannya. Wajahnya memerah menahan kesal.


“Jangan marah, mas Elvan. Iyan itu Kakak nya Yuanita,” ujar Gendis.


“Apa?”


Elvan memandang mata Gendis.


“Iya, selama ini mas Elvan salah sangka. Sama sepertiku. Kak Iyan itu soudara Yuanita. Ia bekerja di Malaysia. Kedatangannya ke mari ingin memberikan selamat pada Yuanita karena adiknya telah bertunangan. Dengan kedatangannya yang tiba-tiba, kak Iyan berharap menjadi surprise buat Yuanita.” Gendis menerangkan.


..


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁

__ADS_1


__ADS_2