
Sejenak, Yuanita dan Elvan beradu pandang. Di awal mereka hanya berpura-pura mesra, malah terjebak dalam perjodohan dari orang tua mereka.
“Sayang?” ucap Widya yang tak lain ibu dari Elvan dengan ekspresi menyipitkan mata.
Widya menghampiri Yuanita dan memeluknya. Ciuman kecil pun meluncur dari bibir calon ibu mertuanya. Tak menyangka, bahwa pacar dari anaknya merupakan orang yang telah ia jodohkan dengan anak temannya di Bandung.
Yuanita hanya tersenyum kecil, hatinya tak karuan ketika mengetahui kalau orang tua Elvan adalah calon mertuanya yang dulu pernah menemuinya dan memintanya untuk menikah dengan anaknya yang tak lain adalah Elvan.
“Tante,” sapa Yuanita yang tak mampu menjawab apa-apa.
Ini pasti mimpi, sadar, Nita! Pekik dalam hati Yuanita.
“Jadi, pacarmu itu Yuanita, Van?” sahut Wisnu/papanya.
“Mmmm ....”
Elvan menggaruk kepalanya tak dapat bicara apa-apa.
“Haha ... Kalau tau seperti ini, Papa enggak akan bilang tentang perjodohan, Van. Papa setuju, kalau kamu sama Yuanita,” ujar Wisnu semagat.
“Iya, Pa. Mama juga sama!” ucap Widya sambil memeluk Yuanita.
“Ayok, Nak. Mama udah masak banyak. Mari kita makan. Oh iya, jangan panggil Tante, panggil Mama, ya? Kan, kalian mau menikah,” ucap Widya yang berlalu pergi ke meja makan.
Mati! Pekik hati Yuanita.
Yuanita dan Elvan, mematung di tempat. Netra mereka saling berpandangan. Waktu seakan berhenti berputar dikala itu. Kepura-puraan mereka kini harus berubah menjadi kenyataan. Entah, apa yang mereka rasa saat ini.
“Nita, Elvan! Ayok makan!”
Widya memanggil nama mereka.
Kaki mereka melangkah, menuju ruang makan. Di meja makan telah banyak terhidang menu makanan. Di sana Widya dan Wisnu yang telah menanti mereka.
SRET
Elvan menarik kursi yang berada di meja makan untuk Yuanita. Dengan perasaan grogi, akhirnya Yuanita duduk di kursi makan bersama keluarga Adhitama.
Rumah mewah yang hanya di tinggali oleh keluarga Adhitama dan beberapa asisten rumah tangganya, terasa sepi. Karena Elvan telah tumbuh menjadi pemuda dewasa, tidak ada lagi suara anak kecil dalam rumah besar itu. Papa dan mamanya juga mulai sibuk dengan perusahaannya.
Mereka menantikan hadirnya cucu di tengah kemegahan rumah mereka yang dianggap sepi itu.
“Nita ....” panggil Wisnu.
“Iya.”
Yuanita mendongak.
“Kira-kira, kapan kamu siap dipersunting Elvan?” tanya Wisnu lagi.
'UHUK!'
Elvan terbatuk
Elvan mengambil gelas dan mengisikan air.
Glek ... Glek ... Glek ....
Suara Elvan meneguk air yang ada dalam gelasnya. Sementara Yuanita melirik ke arah Elvan. Ia bingung dengan keadaan ini.
Dunia ini luas. Tapi, kenapa Gue harus dijodohkan sama si Markonah? Pekik hati Elvan.
“Kalau Nita, terserah Elvan aja, Om," ujar Yuanita yang bingung harus menjawab apa.
Mata Elvan mendelik.
“Kenapa Lu lempar pertanyaan itu ke Gue?” ucap Elvan berbisik pada telinganya.
Yuanita hanya tersenyum.
“Van? Kapan Kamu siap? Papa minta, secepatnya!” tegas Wisnu.
“Emmm ... Nanti, Kita berunding dulu ya, Pa?” ujar Elvan.
Elvan mendekatkan bibirnya di telinga Yuanita, “Lu, sih! Ngapain lemparin jawabannya ke Gue?” ucap Elvan berbisik.
“Lah ... Terus, Gue harus jawab apa?” bisik Yuanita.
“Tolak, kek! Atau, Lu emang suka dengan perjodohan ini, ya?” bisik Elvan lagi.
'JLEKK!'
Kaki Elvan yang berada di bawah meja, diinjak oleh Yuanita.
“AWWW!”
Elvan menjerit, sakit.
__ADS_1
“Kenapa, Sayang?” tanya Yuanita sambil tersenyum masam.
Sialan si Markonah! Gue diinjek dengan sengaja, malah sok-sok an gak tau lagi! Gerutu Elvan dalam hati.
“Enggak. Enggak papa Sayang.” Elvan menjawab lalu berbisik, “Sialan Lu, Markonah!”
Mama dan papanya hanya tersenyum melihat anak mereka yang sepertinya tengah mesra-mesranya. Walau pun, itu bukan hal yang sebenarnya.
Widya dan Wisnu memilih meninggalkan mereka di ruang makan. Memberikan waktu berdua untuk berunding menetapkan tanggal pernikahan mereka.
Elvan melihat ke sudut-sudut rumah. Memastikan kalau di dalam ruangan itu sudah tidak ada orang.
“Sekarang gimana, Markonah?” tanya Elvan.
“Gak tau, deh! Lu aja bilang, batalin pernikahannya! mumpung pertunangan Kita juga belum terjadi,” ucap Yuanita.
“Gila! Gak bisa!” ucap Elvan.
“Kenapa? Lu ngarep bisa kawin sama Gue, ya?” Yuanita mendelik.
Elvan terdiam dan memandang tajam mata hitam Yuanita. Mereka baru tersadar, kalau wajah mereka sudah sangat dekat.
Berpaling.
Dua-duanya memalingkan wajah saat tersadar ketika mata mereka telah saling pandang dalam satu titik.
Hening.
***
“Tan, Nita pamit, ya?” ucap Yuanita sebelum pulang.
“Iya, Sayang. Jangan panggil Tante.”
Widya mengingatkan.
“Oh, iya, Ma. Maaf, Nita lupa.” Yuanita beralasan.
“Iya, gak papa. Mungkin karena belum terbiasa. Hati-hati , Sayang.” Widya kembali memeluk Yuanita.
“Iya, Ma.”
Yuanita mencium tangan Widya dan Wisnu.
Langkah kaki Yuanita terayun menuju pintu depan berwarna putih yang menjulang tinggi. Ia melewati beberapa foto keluarga Elvan yang terpasang rapi di beberapa sudut. Bahkan, lemari kaca yang berdiri kokoh, berisikan pernak-pernik hiasan di dalamnya.
Elvan mengeluarkan mobil yang masih terparkir di halaman rumahnya. Yuanita membuka handle pintu mobil dan masuk ke dalam mobil merah itu bersama Elvan.
Wisnu telah berpesan kepada Elvan, selepas wisuda nanti, Elvan akan memegang beberapa saham keluarganya di perusahaan. Karena, sampai detik ini, Elvan belum pernah terjun mengelola perusahaan papanya. Yang Elvan tahu hanya menghabiskan uang dari orang tuannya.
Malam yang bertabur bintang sangatlah indah untuk dinikmati. Cahayanya yang berkerlap-kerlip menambah kesan syahdu untuk dua insan yang tengah di mabuk asmara. Namun, hal ini tidak berlaku untuk pasangan yang telah di jodohkan oleh kedua orang tuanya.
“Van,” ucap Yuanita memecah kebisuan.
“Hem.”
Elvan terfokus kepada kendali mobilnya.
“Kenapa Lu gak tolak aja sih?” tanya Yuanita.
'SRETT!'
Mobil direm.
Elvan memandang Yuanita. Terlihat keraguan pada mata Yuanita kalau harus menikah dengan laki-laki play boy dan manja seperti Elvan.
“Kalau Gue bisa, udah Gue lakuin dari tadi, Markonah!” ucap Elvan.
“Ya, Lu usaha dong! Gue gak mau nikah muda, Van! Gue masih mau kuliah. Kan, kalau udah nikah nanti punya anak. Gue belum siap!” Bantah gadis berkaca mata.
Elvan mendelik, memandang wajah cantik yang berkelakuan polos itu. Elvan menahan tawa karena Yuanita menyinggung masalah punya anak.
Elvan mendekatkan wajahnya ke bibir Yuanita, hampir rapat. Napasnya terasa berembus dikala wajah mereka terlampau dekat.
Terlihat, ekspresi Yuanita terpaku dalam keadaan itu. Mata coklat itu, kini benar-benar dekat dengannya.
DEG.
Dada Yuanita berdegup kencang tatkala bibir Elvan telah mendekati wajahnya.
“Lu mau ngapain?” tanya Yuanita dengan agak terbata.
“Mau buat anak!” ucap Elvan dengan tatapan mata tajam.
“What?”
Mata hitam itu membulat.
__ADS_1
Elvan menahan tawa melihat ekspresi Yuanita yang membulatkan matanya karena kaget.
“Markonah, Gue masih waras. Mana mungkin Gue mau buat anak sama, Lu!”
'Hufff ....'
Yuanita membuang napas dengan perasaan lega.
“Kenapa, Lu?” Mata Elvan mendelik.
“Gak papa. Terus, rencana Lu apa untuk menggagalkan pertunangan Kita yang akan dilakukan beberapa hari lagi?” tanya Yuanita.
“Gue belum bisa mikir. Waktunya terlalu dekat, tinggal beberapa hari lagi,” ucap Elvan.
“Terus? Gue harus nerima dengan keadaan ini, gitu?” Yuanita menatap Elvan.
“Mungkin. Kalau Lu punya ide untuk gagalin, kenapa enggak?” jawab Elvan.
Hening.
Pikiran Yuanita menerawang entah ke mana. Ia membayangkan kalau sampai pertunangannya terjadi, berarti ia harus siap menjadi istri dari orang yang paling ia anggap menyebalkan di dunia. Ia menggelengkan kepalanya ketika membayangkan hal itu.
“Enggak mungkin ... Enggak mungkin!” ucap Yuanita yang sedang berpikir kalau ia menikah dengan Elvan.
“Kenapa, Lu?” tanya Elvan heran.
“Gak!” pungkas Yuanita.
Akhirnya, mobil kembali berpacu di bawah langit malam. Mobil meluncur ke kost Yuanita. Hening, tanpa ada kata yang terucap dari bibir mereka.
.
Yuanita membuka handle pintu dan melangkah kaki keluar dari dalam mobil, “Thank’s,” ucap Yuanita.
“Oke!”
Tanpa ada kata lain, Elvan tancap gas berlalu pergi dengan mobil merahnya. Kini, mobil itu telah menghilang dari pandangan Yuanita.
Yuanita masuk dalam kost. Melewati beberapa ruangan yang tengah sepi, karena telah larut malam. Ia melirik ke kamar Gendis, lampunya juga telah mati, menandakan penghuninya telah tidur.
Yuanita membuka kunci kamar dan mendorong handle pintu kamarnya. Ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah di malam yang teramat melelahkan dengan konflik yang masih bergulir.
Yuanita merebahkan tubuhnya yang letih ketika sudah mengganti bajunya. Ia menatap langit-langit kamar dan sekejap, membayangkan pertemuan dengan keluarga Adhitama.
***
“Nit, semalem Kamu pulang jam berapa?” tanya Gendis yang berada dalam angkot menuju kampus.
“Jam sebelas malam, memang ada apa, Ndis?” tanya Yuanita.
“Gak ada apa-apa. Oh iya, kok sekarang Kamu mau jalan bareng Mas Ganteng? Hayoo ... Udah mulai kepincut, ya?” ucap Gendis menunjukkan telunjuk ke wajah Yuanita sembari menyipitkan matanya.
“Sembarangan!”
“Mas Ganteng juga suka ngeles seperti Kamu. Aku rasa, Kalian itu cocok, Nit.” Gendis terkekeh.
“Amit-amit, Ndis! Jangan ngomong gitu, ah!” ujar Yuanita.
Gendis tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
Akhirnya, mobil angkot berhenti di samping gerbang kampus. Gendis dan Yuanita keluar dari dalam angkot yang sesak dengan penumpang lain. Mereka melangkahkan kaki di dalam koridor kampus.
“Sarapan dulu, yuk?” Ajak Gendis.
“Gue gak laper.”
“Nanti sakit, loh, Nit.”
“Tapi, emang Gue gak laper, Ndis. Gue tunggu Lu di kelas aja, ya? Gue malaes ke kantin!”
“Oh, ya udah, deh. Bye!”
Gendis melambaikan tangannya dan berlalu dari pandangan Yuanita.
Yuanita masuk ke dalam kelas. Menunggu sahabatnya yang sedang sarapan di kantin kampus. Belum ada orang dalam ruangan itu. Yuanita sibuk sendiri dengan lamunannya tentang perjodohan ini.
“Ya Allah ... Apakah memang ini sudah menjadi jalan hidupku?”
“Apakah Aku harus menerima perjodohan ini?”
“Apakah setelah menikah, Aku akan hidup bahagia?
Dan masih banyak pertanyaan. Ia benar-benar tenggelam dalam pertanyaan yang terlintas dalam dirinya.
..
Bersambung..
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁