Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 22 ( PaMer Call)


__ADS_3

Tut!


Menyambungkan telpon.


.


Elvan merogoh gawai dari saku celananya. Ia tercengang ketika melihat nomor dengan nama PaMer (papa mertua) call..


“Markonah, bokap lu nelpon.”


Mata Elvan membulat.


Yuanita langsung mengangkat kepalanya. Ia sudah tidak tertunduk lagi mendengar papanya menelepon.


“Anggkat, gak?” tanya Elvan.


Yuanita mengangguk, “Iya, kalau nanyain gue, bilang aja gue lagi sama lu,” pinta Yuanita.


Elvan mengangguk dan mengangkat teleponnya.


[Halo, Om?] jawab Elvan masih memanggil dengan sebutan Om.


[Nak Elvan, Yuanita ada dengan Nak Elvan enggak?] tanya Doni yang berada dalam telepon.


[Ada, Om. Nita lagi sama Elvan sekarang. Ada apa, ya?]


[Ini, Mamanya mau bicara sama Yuanita, katanya hape Yuanita sedang tidak aktif.]


Elvan memberikan hapenya pada Yuanita.


[Halo ....] jawab Yuanita.


[Iya, Nak. Ini Mama. Kamu baik-baik aja 'kan?] Todong Rani bertanya.


[Nita baik-baik aja kok, Ma. Ada apa?] tanya Yuanita yang seolah tidak ada apa-apa.


[Alhamdulillah. Mama kira ada apa-apa. Habis, hape kamu enggak aktif. Mama jadi cemas. Kamu lagi enggak bohong 'kan sama Mama?]


[Enggak. Nita baik-baik aja. Mama, Papa juga sehat-sehat kan di Bandung?] Yuanita mengalihkan pembicaraan.


[Iya. Kami baik-baik saja. Ya udah Mama tutup teleponnya, ya? Salam buat nak Elvan.]


Tut!


Telepon terputus.


Yuanita mengembalikan hape itu pada Elvan.


Elvan tahu. Sebenarnya Yuanita sedang bersedih karena fonis dokter yang menyebutkan bahwa kakinya akan lumpuh, walau hanya sementara.


Yuanita wanita yang tangguh. Ia bisa mandiri dan kuat, seperti karakter seorang wanita yang Elvan cari selama ini. Namun, ego lah yang sangat mendominasi. Sehingga hatinya telah ia abaikan. Hati yang telah mulai tumbuh karena kekagumannya terhadap gadis berkaca mata itu.


***


“Nita? Gimana keadaanmu, Nak?”


Widya memeluk Yuanita.


“Alhamdulillah, baik, Ma.”


Yuanita tersenyum.


Yuanita memang pandai menyembunyikan kesedihannya. Entah kenapa, ia hanya berani menunjukkan ekspresi sedihnya hanya pada Elvan.


“Syukurlah, Mama khawatir.” Widya mencium pipi Yuanita. “Orang tua Nita udah tau, kalau Nita dirawat di rumah sakit, Van? Sambung Widya.


Elvan menggelengkan kepalanya.


“Loh, kenapa?”


Kening mamanya mengerut, heran.


“Pinta Nita, Ma.” Yuanita menjawab.


“Tapi, kamu baik-baik aja kan, Nak?”


Tatap Widya cemas.


“Baik-baik kok, Ma.”


Yuanita tersenyum di balik kesedihannya.


“Ma, Elvan mau bicara. Mama ikut Elvan ke luar ruangan, yuk?” Ajak Elvan.


Tak banyak bicara. Widya mengikuti putranya berjalan menuju pintu untuk ke luar dari ruangan itu.


Elvan sengaja mengajak Widya agak jauh dari ruangan dimana Yuanita sedang terbaring.


Elvan menceritakan fonis yang telah dijatuhkan oleh dokter padanya.


“Apa?”


Widya syok mendengar penjelasan dari putranya.


Elvan mengangguk.


“Gimana, Ma? Elvan gak bisa jagain dia kalau dia sendiri masih kost. Apa sementara waktu, Nita tinggal bersama kita?”


“Iya. Mama setuju. Nita juga kelak akan tinggal di rumah kita juga.”


Haduhhh ... Kenapa nyokap malah mengingatkan masalah itu sekarang, sih? gerutu Elvan dalam hati.


Setelah mengambil keputusan. Elvan dan Widya kembali ke kamar Yuanita.

__ADS_1


Di sana, terlihat Yuanita yang sedang terbaring. Ia fokus melihat tetesan air infusan.


“Sayang ....” panggil Widya.


“Iya, Ma.”


Mata Yunita melirik pada Widya.


“Nanti, Nita tinggal sama Mama, ya?” Pinta Widya.


Yuanita memandang wajah Elvan.


Elvan mengangguk.


“I-iya, Ma. Kalau Nita tidak merepotkan,” ucap Yuanita yang merasa tidak enak.


“Malah, Mama seneng kalau kamu tinggal di sana Sayang.”


Widya tersenyum dan memeluk Yuanita.


***


Drrrtttttt ...


Hape Elvan bergetar.


[Sayang. Ketemuan, yuk?] Isi pesan dari Stella.


[Gak bisa. Lagi sibuk.] Balas Elvan.


[Sekarang kamu gitu, deh.] Terselip emoticon sedih.


[Kamu minta berapa? Lagi di mall kan?] Todong Elvan yang sangat tahu karakter pacarnya yang mata duitan.


[Hehe ... Iya. Ya udah transfer 5 juta ya, sayang? Muach] Balas Stella.


Elvan menggelengkan kepala. Ia mulai jengah dengan Stella yang tidak bisa mengertikannya. Elvan membuka e-banking yang ada di hapenya dan mengetik nominal yang dipinta oleh Stella.


[Makasih, Sayang.] Stella membalas melalui pesan dan menyelipkan kiss emoticon di dalamnya.


Elvan melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah tiba saatnya Yuanita minum obat.


“Markonah, bangun. Makan dulu, ya?”


“Gue gak laper, Van.”


“Gimana lu mau cepet sehat Markonah? Ayok makan! Apa mau gue cium, lu?” Ancam Elvan.


“Eh! Sejak kapan lu ngancam gitu sama gua?” Mata Yuanita membulat.


“Sejak lu ngeyel! Buruan! Gue mau ke kampus. Ada jam siang di kampus.”


Elvan memang sedang sibuk-sibuknya mengurus tugas akhir di kampus. Yuanita juga tidak mau membuat Elvan telat hanya karena mengurus dirinya. Yuanita mencoba meraih makanan yang ada di atas meja, samping ranjangnya.


“Mau ngapain, lu?” tanya Elvan.


“Udah. Biar gue yang suapin lu.”


Elvan mengambil satu paket makanan sehat yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit.


Deg!


Jantung Yuanita berdetak lebih kencang tatkala Elvan mulai menyuapinya. Uluran lengan itu kini mulai mengarah ke mulutnya.


Hati Yuanita kini gelisah. Entah apa yang ia rasakan ketika beberapa kali suapan itu meluncur pada mulutnya. Maklum saja, Yuanita baru pertama kali disuapi oleh laki-laki yang bukan keluarganya sendiri. Biasanya Iyan yang menyuapinya ketika dirinya sedang sakit.


Suapan demi suapan akhirnya selesai juga. Hingga pemberian obat pun selesai. Elvan pamit pada Yuanita untuk pergi ke kampus.


Entah sengaja atau tidak. Elvan mencium pucuk kepala Yuanita. Ini merupakan kali pertama Yuanita mendapat kecupan dari laki-laki.


Deg!


Lagi-lagi jantung Yuanita kembali berdegup ketika bibir Elvan meluncur di atas kepalanya.


“Cepet sehat, ya?”


Elvan mengacak sedikit rambut Yuanita dan berlalu pergi.


Yuanita kaget atas apa yang Elvan lakukan hari ini padanya. Ia mengusap kepala yang tadi sempat menjadi persinggahan bibir Elvan pada kepalanya.


“Si Kucing garong kesambet apaan, ya?”


Yuanita memilih tidur. Tak mau ambil pusing dengan kelakuan calon suaminya itu. Yuanita berusaha cuek dengan Elvan. Karena dirinya


tahu, Elvan seorang play boy yang hanya bisa mempermainkan wanita. Jangankan dirinya yang hanya dijodohkan. Pacar yang ia pilih sendiri pun hanya sebatas untuk pertaruhan.


***


“Sayang, jalan yuk?” Ajak Ferlita.


“Kapan?” tanya Elvan.


“Pulang kampus.”


“Sorry, aku gak bisa,” elak Elvan.


“Sayang, kamu kenapa sih? Sekarang gak romantis lagi. Ketemu pun jarang semenjak kamu bertunangan. Apa memang kamu benar-benar mencintai gadis itu? Gadis yang katamu cupu ....” ucapnya terpotong.


“Stop!”


Elvan menatap tajam Ferlita. Sorotnya sudah seperti singa yang akan menerkam mangsanya.


“Oke!”

__ADS_1


Ferlita menghentikan ocehannya dan mengangkat kedua jarinya pertanda damai.


“Kalau lu masih mau jalan sama gue. Masih mau menikmati uang dari gue. Gak usah banyak komplain!” tegas Elvan.


Ferlita tak menyangka kekasihnya saat ini berani membentaknya. Ia semakin takut kalau kehilangan Elvan. Rasa yang dulu Ferlita punya hanya takut kehilangan uang. Kini berubah takut kehilangan Elvan. Mungkin karena gaya pacaran mereka yang telah melampaui batas. Entahlah.


Chika sudah Elvan lepaskan. Apakah Ferlita juga akan Elvan lepaskan? Di sini hanya Stella yang masih ada dalam titik aman. Karena dirinya benar-benar hanya menginginkan uang Elvan saja. Malah, tanpa sepengetahuan Elvan, Stella sering bergonta-ganti pasangan.


.


“Lu kenapa, bro?” tanya Rizal.


“Gak papa," jawab Elvan datar.


“Itu, bibir lu ditekuk aja, kek gak dikasih jatah jajan.” Bobi terkekeh.


“Diem, lu!” sungut Elvan.


Bobi dan Rizal saling menyikut lengan. Menggantikan pertanyaan apa yang terjadi pada sahabatnya saat ini?


Hening.


“Bro, tugas kita hampir kelar. Lu gimana?” Rizal mengalihkan pembicaraan.


“Belum.”


“Mau kita bantuin?”


Bobi menawarkan jasanya.


“Gak usah. Udah ya, gue mesti balik. Ada urusan.” Pungkas Elvan sembari melangkahkan kaki menuju parkiran.


Elvan bergegas menuju rumah sakit dengan laju mobil yang tidak terlalu kencang.


.


Di sisi lain, ada Yuanita yang melirik terus ke arah pintu. Mungkin ia mengharapkan kedatangan Elvan. Jangan-jangan, Yuanita udah mulai suka sama Elvan.


Mustahil! Cetus hatinya ketika ia membayangkan kalau dirinya mulai menyukai Elvan.


Berkali-kali pintu itu dipandanginya. Lagi-lagi pintu itu tak terdorong. Hingga makanan yang di kasih dari pihak rumah sakit telah dingin. Yuanita memilih tidur memejamkan mata.


Ceklek!


Pintu rumah sakit terbuka.


Elvan melihat makanan Yuanita masih utuh tak tersentuh sama sekali, bahkan sampai dingin ketika Elvan memegang piring itu.


“Markonah, bangun.”


Elvan menepuk lengan Yuanita pelan.


“Hem ....”


Yuanita masih tertidur.


“Makan markonah! Atau, lu mau gue cium, hah?” Ancam Elvan.


Lagi-lagi Elvan mengancam dengan kata-kata seperti itu. Karena menurutnya sangatlah ampuh untuk membuat Yuanita takut. Takut? Yupz, karena Yuanita belum pernah berciuman dengan siapa pun.


Mata Yuanita terbelalak mendengar Elvan bicara seperti itu. Kenapa dia selalu mengancam gue dengan kata-kata jijik kek gitu, sih! pekik hati Yuanita.


Yuanita membalik posisi tidurnya.


“Aww!” Yuanita merintih.


“Kenapa, lu?” tanya Elvan.


“Tangan gue sakit, mungkin tadi salah posisi tidur,” keluh Yuanita.


“Heleh, ngomong aja pengen disuapin!”


Elvan mengambil alih makanan Yuanita.


“Enak aja! Emang beneran sakit kok. Ya udah, sini biar gue makan sendiri. Gue gak mau bergantung sama lo!” ucap Yuanita ketus.


Elvan terdiam. Sedikit last back ke masa lalu ketika kaki Yuanita terkilir dan ia memaksakan kakinya untuk berjalan, yang akhirnya bengkak semakin parah.


“Engak, engak! Biar gue yang suapin lu!” seru Elvan.


“Gak usah, gue udah sembuh. Sini!” Pinta Yuanita.


“Mau gue cium, lu?” Ancam Elvan lagi.


“Emang lo berani? Ini rumah sakit!”


Yuanita menantang dengan mata yang membulat.


Elvan mendekatkan bibir ke wajahnya Yuanita seraya berbisik, “Jangan bangunkan harimau yang sedang tertidur,” bisik Elvan di samping telinga Yuanita.


Deg!


Jantung Yuanita kembali berdegup kencang. Ia mulai gemetar dan berwajah pucat mendengar bisikan Elvan yang menurutnya seperti bisikan setan.


“Iya. Gue nurut.”


Yuanita menelan ludah.


Elvan tersenyum sumringah, merasa menang dari Yuanita dengan ancamannya itu.


..


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2