Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 27 ( Pernikahan )


__ADS_3

Tidak berselang lama. Grab food pun datang. Elvan ke luar untuk mengambil pesanannya dan Yuanita masih berada dalam kostnya. Mungkin ia rindu dengan kostnya saat ini.


“Markonah!” panggil Elvan.


Yuanita hanya mendelik.


“Makan, yuk?” Ajak Elvan.


“Ogah!”


Yuanita kesal karena masih saja Elvan menyebut panggilan Markonah terhadapnya.


“Lu marah?”


“Gak!”


“Terus? Dari tadi nge-gas terus.”


Hening.


Yuanita bungkam, begitu pun dengan Elvan.


“Makan, gak?” tegas Elvan.


“Gue gak lapar!”


Elvan mendekat. Dalam keadaan seperti ini, ia mengeluarkan ancaman yang sangat ampuh pada Yuanita. Bibirnya mendekati wajah Yuanita.


“Mau ngapain, lu?” Yuanita bergidik.


“Cium, lu!”


“Idihhh!”


Yuanita menutup wajahnya. Ia begitu malas kalau Elvan sudah bicara seperti itu. “Awas aja kalau lu berani macem-macem!” tegas Yuanita.


“Makanya, cepetan makan! Biar lu bisa minum obat.”


Walau hatinya masih kesal. Akhirnya Yuanita memutuskan untuk menerima suapan nasi dari tangan Elvan.


“Markonah?” sahut Elvan.


Yuanita tidak menjawab, hanya mendongakkan wajahnya.


“Besok nyokap nyuruh nyobain baju pengantin. Lu kuat gak?”


“Iya. Gue udah gak papa cuma kaki masih seperti mati rasa,” jawab Yuanita.


“Markonah.”


Lagi-lagi Elvan menyebutkan panggilan itu yang membuat Yuanita menjadi bete.


“Apaan sih? Markonah-markonah terus? Nama gue Yuanita! Bukan Markonah!” tegas Yuanita.


Elvan tak mengira ekspresi Yuanita bakal seperti ini. Apakah ini tandanya Yuanita mau disebut sayang? Entahlah, mungkin dia lagi datang bulan jadi emosian.


Setelah selesai makan. Elvan memberikan obat yang ia bawa dalam mobilnya dan memberikan pada Yuanita.


“Lu bawa ini dari rumah?” tanya Yuanita.


“Iya. Kenapa?”


Elvan memberikan air minum dalam kemasan.


“Gak papa,” ucap Yuanita sambil meminum obatnya.


***


Yuanita pergi ke rumah sakit untuk terapi kaki bersama Elvan. Kaki Yuanita mulai dapat digerakkan, ia mulai belajar berjalan dengan kakinya. Langkahnya terus dibarengi oleh Elvan. Berulang kali, Yuanita terjatuh ketika belajar melangkah dan Elvanlah yang menolongnya.


“Thank’s ya, Van?”


“Untuk apa?”


“Lu udah sabar dampingin gue buat terapi.”


“Gak masalah. Bentar lagi kita akan melangsungkan pernikahan. Masa istri Elvan Adhitama hanya duduk di kursi roda?”


“Elvan!”


Bentak Yuanita dengan mata melebar menatap tajam padanya.


Elvan terseyum dan mengangkat dua jari pertanda damai. Dirinya hanya bercanda. Tapi, Yuanita lagi sensi ia merasa jengkel dengan calon suaminya itu.


Yuanita bangkit dari kursi rodanya, ia ingin membuktikan kalau dirinya bisa berjalan lagi.


Bruk!


Tubuhnya ambruk karena kakinya belum bisa menopang berat badannya. Elvanlah yang menangkap tubuh itu.


“Tuh, kan.”


Elvan menatap mata Yuanita ketika dirinya ada dalam pangkuannya ketika terjatuh.


“Apa?”


“Lu butuh gue.”


Bisik Elvan sambil menyelipkan rambut di telinga Yuanita.


Deg!


Degup jantung Yuanita semakin mengencang dan entah kenapa, wajah Yuanita memerah bagaikan tomat ketika Elvan membisikan kata itu padanya.


Yuanita serasa terkunci dalam keadaan itu. Kakinya seakan kembali mati rasa dibuatnya dan lidahnya terasa kelu untuk menjawab perkataan Elvan. Hanya netra yang berbicara ketika tubuh yang lain tidak dapat bergerak sama sekali.


Rasa itu semakin nyata adanya, ketika Elvan memandang lekat netra coklat itu pada Yuanita. Rasa yang dipenuhi dengan degup jantung yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata. Entah terasa indah atau bahkan sebaliknya.

__ADS_1


***


Tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk melaksanakan pernikahan Elvan dan Yuanita. Tidak terlalu tampak kesibukan di rumah mewah itu.


Baju pengantin pun sudah di coba, hotel berbintang sudah di hias oleh WO dan catering telah siap. Pembayarannya sudah lunas tinggal menunggu hari pernikahan mereka datang.


Yang berbeda hanya orang tua Yuanita yang sudah datang di Surabaya untuk menyaksikan pernikahan putrinya yang tinggal menghitung hari.


Kaki Yuanita pun terus berangsur membaik sudah bisa kembali berjalan walau belum terlalu lancar. Rasa pegal yang mendera apabila ia terlalu lama berjalan atau berdiri tanpa pegangan.


Orang tuanya sama sekali tidak mengetahui tentang kecelakaan yang menimpa Yuanita beberapa minggu yang lalu karena ketika mereka datang, kaki Yuanita sudah dapat kembali berjalan walau masih belum stabil.


.


Tiba saatnya Elvan wisuda. Ia sudah menyabet gelar sarjana walau dengan nilai IPK yang tidak terlalu bagus, namun tetap tersemat rasa bangga dari Papanya karena sebentar lagi Elvan akan mengambil alih beberapa perusahaan keluarga Adhitama.


Elvan tampak gagah ketika memakai toga. Tanpa disadari, beberapa kali Yuanita mengambil fotonya pada moment-moment tertentu ketika pelaksanaan wisuda.


Yuanita pun tampak cantik dengan setelan kebaya simpel modern. Ia tidak terlalu suka yang ribet dan lekuk yang sangat ketat, hal itu tidak memberikan kenyamanan untuknya.


“Selamat ya, Van! Mulai dari hari ini, Papa udah resmikan pemindah tanganan sebagian perusahaan Papa untuk mu.”


Wisnu memeluk putra kebanggaannya itu yang diikuti oleh Widya. Mereka bertiga berpelukan hingga beberapa menit sehingga rasa haru, bangga dan bahagia telah bercampur menjadi satu, hal itu yang mereka rasa saat ini.


“Selamat ya, Van?”


Terucap manis seperti penampilan Yuanita saat ini.


Netra Elvan mendelik dan menarik lengan Yuanita. Mereka berpelukan menjadi empat orang. Rasa haru juga dirasakan oleh kedua orang tua Yuanita yang melihat keakraban putri mereka di tengah keluarga Adhitama.


***


Yuanita masih beraktivitas seperti biasa. Ia masih pergi ke kampus, namun ada yang sedikit berbeda. Ia mulai terus diantar oleh Elvan.


Bahkan, Elvan sering mengantar sampai pintu kelas Yuanita. Elvan masih mendapatkan izin akses masuk dari pihak kampus karena keluarganya masih selalu berdonasi untuk kampus tersebut.


“Belajar yang bener, jangan kek gue. Punya nilai pas-pasan di IPK, gue nyesel udah sia-siain waktu kuliah dulu.”


Elvan mengelus rambut Yuanita.


Yuanita tersenyum.


Kemesraan itu baru terlihat akhir-akhir ini ketika Yuanita duduk di kursi roda dan banyak yang meledek keadaannya waktu itu. Dari sanalah, Elvan mulai peduli dengan calon istrinya itu. Apakah Elvan udah melepas atribut play boynya? Entah.


Ciuman kecil mendarat di ujung kepala Yuanita. Kemesraan kecil itu yang membuat para cewek di kampus yang melihat merasa iri pada Yuanita yang berhasil meluluhkan laki-laki play boy menjadi semanis itu. Mungkin, dulu Elvan terlampau mengekspos kemesraan yang berlebih pada pacar-pacarnya ditambah ceweknya terlalu agresif sehingga sangat terbiasa melihat adegan semacam itu di kampus, bahkan untuk sebagian orang mungkin akan merasa jijik atas tingkah mereka pada masa itu.


“Van! Gue gak terima lu mainin, ya? Liat aja, calon istri lo gak bakal tenang di kampus!” ancam Stella.


“Mau lo apa?”


“Gue mau, lo kayak dulu bisa bersama-sama gue kapan pun gue minta!”


“Sorry, Stell. Hidup gue udah berat, karena sekarang gue harus mengurus perusahaan bokap gue. Jadi, lu gak usah nambah ribet lagi!” tegas Elvan.


“Gue gak bakal nyerah buat dapatin lo kembali, Van!” ujar Stella yang mulai berubah bahasa.


Elvan bergegas ke kantor karena ia sudah memegang setengah dari perusahaan Papanya. Kini Adhitama corp. Terbagi menjadi dua, Adhitama induk dan Adhitama Jr (Junior) yang dikepalai oleh Elvan.


Tak terasa, waktu telah menunjukkan jam makan siang. Entah kenapa, Elvan merindu pada Yuanita. Mungkin selama beberapa minggu yang lalu, mereka selalu makan bersama di rumah sakit, jadi Elvan merasakan rindu pada suasana itu.


Kebetulan, jam istirahat kantor sama kampus bersamaan. Elvan memutuskan ke kampus hanya untuk makan siang bareng dengan Yuanita.


“Siang, Van!” ujar Dino, salah satu scurity di kampus itu.


“Ish! Pak Elvan. Sekarang ia sudah jadi bos perusahaan ternama di sini, Din,” bisik Cipto, scurity kampus juga.


“Apa sih, mas Cipto? Panggil seperti biasa aja. Di sini Saya hanya sebatas alumni kampus.”


Cipto dan Dino tersenyum.


“Ya udah, Mas. Saya permisi,” ujar Elvan dan berlalu pergi memarkirkan mobil merah itu di dalam parkiran kampus.


“Kok Elvan berubah ya, Din?” ucap Cipto.


“Ho’oh. Tapi baguslah, keluar dari kampus menjadi pribadi yang baik. Gak seperti masih kuliah, urakan dan sombongnya minta ampun!” celetuk Dino.


Elvan melangkahkan kaki ke kantin, karena ia tau betul calon istrinya suka makan di kantin jam segini.


“Mas Elvan?” ucap Gendis heran.


“Apaan sih, Ndis? Kok bahas dia?” ucap Yuanita.


Yuanita tidak menyadari kalau Elvan telah berdiri di belakangnya.


“Kenapa mata lu melotot gitu sih, Ndis? Lu kesambet?” tanya Yuanita lagi.


Tiba-tiba, Elvan menarik kursi dan duduk tepat di samping kursi Yuanita. Sekarang giliran mata Yuanita yang terbelalak melihat Elvan.


“Elvan?” Bibir Yuanita agak menganga.


Dengan jailnya, Elvan merapatkan bibir Yuanita dengan telunjuk dan jempol tangannya.


“Rapet! Entar ada lalat masuk mulut, lo!” ucapnya sembari terkekeh kecil.


“Hem ... Ngapain lu kemari? Bukannya jam segini lu harus ada di kantor, ya?” ucap Yuanita seolah cuek, padahal dalam hatinya senang bisa bertemu Elvan.


“Kangen sama Lu.”


Uhukkk!


Yuanita terbatuk. Ia segera menenggak air mineral dalam botol kemasan milinya.


“Cieee ... Ada yang kangen, Nit.” Goda Gendis.


“Apaan sih?” Wajah Yuanita memerah.


Elvan senang menggoda Yuanita. Ia dengan santainya menatap gadis yang sedang malu itu dan menyanggah dagu dengan kepalan tangannya.

__ADS_1


“Apaan sih lu, Van. Tatap gue kayak gitu?” Yuanita memalingkan pandangannya.


“Aku pindah meja aja lah. Berasa jadi obat nyamuk di sini,” ucap Gendis yang membawa minuman dan mangkok baksonya.


“Jangan, Ndis!” ucap Yuanita yang semakin grogi kalau ditinggal berdua dengan Elvan.


Dengan cepat, Elvan menarik lengan Yuanita dan tidak membiarkan Yuanita beranjak darinya.


“Lepasin, Van!”


Yuanita berusaha menepis cengkeraman Elvan namun sia-sia. Tenaga Elvan jauh lebih kuat darinya.


“Sini aja sama Gue.”


Elvan menarik lengan Yuanita hingga dirinya telah kembali duduk di posisinya.


“Lu kenapa sih? Kok gue jadi horor deket-deket sama lu!” ujar Yuanita yang sok cuek di hadapan Elvan.


“Kan gue udah bilang. Gue kangen sama lu!”


Elvan masih menggoda Yuanita. Ia merasa senang melihat Yuanita yang semakin terlihat kikuk di hadapannya.


“Ya udah lanjut makan, apa mau gue suapin kek di rumah sakit waktu lalu?” sambung Elvan lagi.


“Gak, gue bisa makan sendiri. Lu mau makan apa? Biar gue pesenin.”


Diam-diam Yuanita mulai perhatian.


“Mie ayam, tapi disuapin sama Lu.” Pinta Elvan.


“Manja!” ucap Yuanita dan berlalu pergi.


Tak berselang lama. Mie ayam pun datang ketika Yuanita sudah habis memakan bakso miliknya.


“Kenapa gak dimakan?” tanya Yuanita.


“Kan lu gak suapin gue,” jawab Elvan.


Yuanita memutar bola matanya. Diraihlah mangkok yang berisikan mie ayam di atas meja dan menyuapi Elvan yang tampak lapar siang itu.


“Lu laper, ya?” tanya Yuanita ragu.


Elvan mengangguk sambil meminum air mineral dalam botol Yuanita.


“Punya gu ....” katanya terpotong. Karena botol minumnya telah lebih dulu ditenggak oleh Elvan.


Huuffff ....


Yuanita membuang napas, kesal pada Elvan.


***


Hari pernikahan mereka pun telah tiba. Dalam acara ijab kabul, Yuanita memakai pakaian adat Jawa yang dipadukan dengan unsur modern, karena mereka menghormati keluarga Adhitama.


Yuanita memakai kebaya warna putih untuk acara ijab yang dilaksanakan pagi hari, dengan sanggul serta hiasan di kepala dan bunga melati yang menjuntai.


Keadaan menjadi hening tatkala penghulu telah duduk di depan kedua mempelai hingga terjadi prosesi ijab kabul.


“Ananda Elvan Syahreza Adhitama Bin Wisnu Adhitama, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Yuanita Yudistira Binti Doni Yudistira dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas, tunai.” Penghulu berucap.


“Saya terima nikah dan kawinnya Yuanita Yudistira Binti Doni Yudistira dengan maskawin tersebut, tunai,” jawab Elvan.


“Bagaimana para saksi?” Penghulu bertanya pada saksi nikah.


“Sah!” ujar para saksi nikah dan tetamu undangan.


Alhamdulillah ....


Sambil disambung dengan doa-doa dari penghulu dan di aamiinkan oleh orang-orang yang hadir dalam pernikahan itu.


.


Buku pernikahan pun telah di berikan pada Elvan dan Yuanita. Mereka berpose dengan memegang buku pernikahan untuk dokumentasi pernikahan. Yuanita pun mencium tangan Elvan.


“Mas, cium dong Mbaknya. Kan udah sah sekarang,” ujar fotografer.


Yuanita mendelik, karena mereka mempunyai sebuah perjanjian sebelum dilaksanakan acara pernikahan.


Elvan tersenyum mendengar fotografer itu seraya berbisik pada Yuanita, “Cium di bibir, ya?”


“Awas aja lo kalau berani!” bisik Yuanita sembari mengancam.


Elvan menarik lengan Yuanita hingga Yuanita berada dalam dekapannya. Lengan Yuanita memegang pinggang Elvan untuk mencegah tubuhnya semakin berdempet.


Cup!


Ciuman manis tersemat pada kening Yuanita.


End.


###


Sementara, Gue akhiri sampai sini dulu ya, Guys. Insya Allah gue angkat lagi cerita ini. Di tunggu KRISAN dan MASUKAN untuk cerita ini dari kelen semua.


Terima kasih untuk Allah SWT.


Untuk Mak On line Gue, mak Rini Ermaya, mak Endang Trias, mak Citra Rahayu Bening, yang udah kasih suport bahkan ilmunya ke Gue.


Tak lupa juga untuk, Ammy Putri, Yuli Rofifah, Shoimatul Fitria, Rainy Junika Anshel, Ayyudia yang sudah memberikan votenya untuk karya ini sebelum karya berakhir.


Terakhir, untuk yang like, komen, yang baca cerita gue di sini dan keluarga besar di Facebook yang terkadang memberikan inspirasi dikala gue gak mood nulis.


Thank’s buat semuanya. Berkat kalian semua, cerita gue mendapat apresiasi yang baik.


Lampung, 26 Mei 2020


Salam,

__ADS_1


Dareen Naveen Kenan


__ADS_2