Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 24 ( Kabar Baik )


__ADS_3

Elvan dan Gendis berjalan menuju tempat parkir. Mereka berjalan berdampingan sampai di depan mobil merah yang sedang terparkir.


Tit!


Suara alarm pengaman mobil. Elvan membuka kunci dan membuka handle mobil itu. Mereka menaiki mobil merah menuju rumah sakit.


“Mas Elvan?” sahut Gendis.


“Hem.”


“Orang tuanya Nita udah tau belum kalau Nita dirawat di rumah sakit?”


“Belum.”


“Ish! Mas Elvan gimana toh? Katanya calon suaminya, tapi kok menyembunyikan rahasia ini dari calon mertuanya?”


“Nanti juga lu tau dari Markonah apa alasannya. Udah, jangan berisik! Telinga gue mulai sakit!” protes Elvan.


Gendis tersenyum memperlihatkan barisan gigi putih yang berjajar rapi.


Drrrtttttt ....


Gawai Gendis bergetar. Ia membuka layar hape dan membaca sebuah pesan.


Elvan hanya melihat Gendis cengar-cengir ketika membaca pesan masuk yang entah dari siapa.


“Dis?” Elvan memanggil.


“Hem.”


Mata Gendis masih terpaku ke layar gawainya.


“Lu gila, ya?”


Gendis melotot dan mengernyitkan dahinya, “kenapa?” tanyanya heran.


“Hape kok diajak senyum-senyum?”


Elvan tersenyum masam membalas cibiran Gendis ketika ia di kampus.


“Eleh! Mas Elvan balas dendam ceritanya?” Mata Gendis mendelik.


Elvan tertawa.


Gendis kembali terpaku ke layar gawainya dan Elvan fokus pada kemudi mobilnya. Hingga tak terasa, mobil itu terparkir di lobi bawah.


Gendis dan Elvan turun dari mobil dan berjalan menuju kamar Yuanita. Berjalan melewati koridor rumah sakit dan melewati banyak ruangan yang berjejer rapi.


Ceklek!


Pintu kamar Yuanita terbuka.


Gendis melihat Yuanita yang sedang tertidur di atas ranjang kecil rumah sakit.


Gendis mendekat dan Yuanita pun terbangun mendengar langkah kaki yang kian mendekat.


“Gendis?” ucap Yuanita.


Gendis mendekat dan memeluk sahabatnya. Mereka berpelukan erat, seolah sedang melepaskan kerinduan. Elvan memilih ke luar kamar untuk memberikan kesempatan privasi mereka berdua dalam kamar.


“Giman keadaanmu, Nit? Aku khawatir tau. Udah dua hari kamu gak ada di kost, gak ngehubungi aku lagi,” keluh Gendis.


Yuanita tersenyum, “Tapi, lu belum telepon orang tua gue di Bandung 'kan?” Yuanita memastikan.


“Belum, kok. Tenang aja. Emang kamu sakit apa, Nit?”


“Gue kecelakaan, Ndis.”


Yuanita menceritakan kronologi kejadian kecelakaan itu yang mengakibatkan dirinya harus dirawat, bahkan diharuskan untuk mendapatkan perawatan lebih dari rumah sakit akibat tertabrak mobil.


***


Gendis terus mendengarkan cerita sahabatnya itu. Gendis tidak menyangka kalau kemalangan itu akan menimpa sahabatnya. Netra Gendis pun berkaca-kaca mendengar perkara curhatan sahabatnya.


“Kok malah nangis?” ucap Yuanita.


“Aku merasa bersalah, Nit. Aku udah langgar janji aku pada Kak Iyan.”


Air mata meluncur di pipi Gendis.


“Loh ... ini kan kecelakaan. Bukan salah lu, Ndis!” bantah Yuanita.


“Tetep aja, Nit. Aku merasa bersalah. Maafin aku, ya? Aku boleh kasih tau Kak Iyan?” tanya Gendis.


“Gak usah. Nanti Kak Iyan malah khawatir. Papa dan Mama udah telpon kok. Tapi, sengaja gue gak beri tau. Takut mereka panik, terlebih Mama yang mudah syok,” terang Yuanita.


“Oh ... ya udah, oke! Aku bakal jaga rahasia ini dari semuanya.”


“Thank’s ya, Ndis.”


Yuanita memeluk erat sahabatnya.

__ADS_1


Mereka terus saja mengobrol. Ngobrol sana-sini khas cewek yang baru bertemu. Mungkin kangen. Tapi, itu bagaikan obat untuk semangat Yuanita yang sekarang sedang mengalami syok karena kaki yang di fonis lumpuh sementara.


Sampai Elvan balik ke kamar. Canda tawa mereka masih menghiasi suasana dalam kamar yang awalnya sunyi.


“Kalian belum bosen?” tanya Elvan ketika membuka pintu kamar.


“Ish! Apaan sih? Sana ke luar lagi!” suruh Yuanita.


“Waktunya minum obat, Markonah!”


“Ya udah, Nit. Aku pulang dulu, ya? Besok sepulang dari kampus aku ke sini lagi,” ujar Gendis.


“Hmmm ... ya udah deh, tapi besok ke sini, ya?” pinta Yuanita.


“Iya. Makan yang banyak biar cepet sehat.” Gendis kembali memeluk sahabatnya.


“Dis, nanti aja pulangnya setelah Markonah minum obat. Biar gue yang anter,” ujar Elvan.


“Gak usah Mas Elvan. Kasihan Nita nanti sendirian. Jagain Nita ya, Mas Elvan?” pesan Gendis.


Elvan tersenyum.


Baru kali ini. Elvan senyum dengan tulus, biasanya tersirat penuh maksud terselubung.


Elvan mengantar Gendis sampai pintu luar.


“Mas, jangan sakitin Nita, ya? Nita itu wanita yang baik. Teramat baik malah. Mas Elvan beruntung kalau bisa milikin Yuanita. Ditambah dia sekarang semakin cantik dengan penampilan barunya.”


Elvan menatap datar.


“Mas Elvan! Dengerin aku gak sih?” Gendis mendelik.


“Lu jadi pulang kagak sih? Gue mesti suapin si Markonah juga. Katanya suruh dijagain?” Dahi Elvan mengernyit.


Gendis tersenyum, “lupa, Mas. Yo wes tak pulang.” Gendis berlalu pergi.


***


Sementara dengan desain baju pengantin mereka sudah hampir rampung. Pengerjaannya tinggal dua puluh persenan lagi mencapai kata finis.


Gaun yang cantik berwarna putih yang menunjukkan kesan modern dan elegan pada si pemakainya. Dan, yang tiga baju sudah selesai. Mereka mengusung adat Sunda dan Jawa. Tak ayal satu diantara-Nya ada sentuhan Sunda dan sentuhan Jawanya. Semua baju didesain secara modern dan elegan.


Sementara Wisnu dan Widya membagi tugas mereka. Wisnu lebih fokus pada urusan kantor, sedangkan Widya mengurus persiapan untuk pernikahan putranya.


Kadang, ada rasa rindu yang mendera pasangan yang tak lagi muda itu. Terang saja, biasanya mereka ke mana-mana selalu bersama, sekarang harus terpisah karena harus memegang peran masing-masing.


.


Malam pun tiba. Widya masih mengecek keperluan untuk putranya itu. Ia ingin dalam pernikahan putranya berjalan lancar dan sempurna. Sedangkan di rumah, ada Wisnu yang tengah merindu.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka.


Widya duduk di tepi ranjang. Sedang Wisnu sedang membaca majalah dan bersandar di ranjang. Wisnu mendekat pada wanita yang mempunyai wajah letih itu.


“Capek ya, Ma?” bisiknya pada telinga Widya.


Widya tersenyum pada suaminya.


“Besok lagi, biar Papa bantu Mama aja, ya? Kantor biar dihandel sama staf kantor.” bisiknya di telinga Widya.


“Enggak usah, Pa. Mama bisa kok.”


Wisnu sedikit memijat pundak istrinya. Ia tahu betul kalau sesungguhnya Widya itu kelelahan. Tapi, sudah sikap Widya yang selalu menyembunyikan seumpama ia belum jatuh sakit. Itulah sikap buruk Widya yang selalu menyembunyikan sesuatu hal yang ia sendiri sebenarnya tidak sanggup untuk mengerjakan seorang diri.


Widya terlihat relax dengan pijatan lembut dari Wisnu. Sesekali, matanya terpejam merasakan nikmatnya pijatan dari suaminya. Setelah cukup lama, Wisnu menyuruh Widya untuk mandi.


“Mandi dulu, gih. Biar badanya enakan,” bisik Wisnu.


Akhirnya, Widya bangkit dari tempat tidur dan menuju pintu kamar mandi. Ia memancarkan air hangat dan berendam sebentar di dalam bathtub. Setelah merasa relax ia melanjutkan aktivitas mandi seperti biasa.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka.


Wisnu telah menunggu istrinya di atas ranjang.


Widya mengambil baju tidur kimono dari dalam lemari bajunya dan menghampiri suaminya di atas ranjang.


***


Ke esokkan harinya. Widya pergi ke rumah sakit. Ia terlalu sibuk mengurusi untuk acara pernikahan hingga ia tidak sempat untuk melihat keadaan calon menantunya itu. Sekalian, ia ingin mengabarkan tentang persiapan untuk acara pernikahan mereka nanti.


.


“Nita ....”


Widya mendekat dan mendekap calon menantunya itu.


“Mama.”

__ADS_1


Yuanita membalas pelukan hangat dari calon ibu mertuanya.


“Elvan belum pulang?”


“Belum, Ma. Mungkin sebentar lagi.”


“Maaf ya, Nak. Mama baru bisa jengukin kamu. Mama mengurus persiapan untuk pernikahan kalian nanti.”


“Iya, gak papa, Ma. Maaf ya, Ma. Nita gak bisa bantu Mama.”


Yuanita merunduk, meratapi ke tidak berdayaannya.


Widya mengangkat dagu yang sedang tertunduk itu, “Jangan sedih, Nak.”


“Nita merasa gak berguna, Ma.”


Mata Yuanita berkaca-kaca.


“Ssttt ... Gak boleh bicara seperti itu. Di balik musibah yang menimpa Nita. Mama malah melihat Elvan menjadi lebih bertanggung jawab.”


Yuanita mengerutkan keningnya.


“Elvan menjadi lebih bertanggung jawab padamu dan kuliahnya. Makasih, Nak.”


Widya kembali memeluk Yuanita.


Ceklek!


Suara pintu terbuka.


Terlihat sosok Elvan yang masuk dari balik pintu kamar rumah sakit dengan wajah yang lesu. Mungkin ia capek.


“Pada ngobrolin apa sih? Kok berpelukan.” Sindir Elvan.


“Eh ... udah pulang, Nak. Sini masuk.” Ajak Widya.


Elvan pun melangkahkan kakinya dan duduk mengambil kursi. Kini, posisi Yuanita berada di tengah. Di antara Elvan dan Widya.


Widya membicarakan tentang persiapan baju untuk pernikahan mereka yang tinggal menunggu finis dua puluh persenan lagi. Baik Elvan dan Yuanita, mendengarkan apa yang diucapkan oleh Widya.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka.


“Permisi ... maaf, Pasien harus diperiksa,” ujar wanita yang berpakaian dinas seba putih.


“Iya, silakan, Dok.”


Elvan dan Widya mundur dan mempersilakan dokter dan jajarannya untuk mengecek keadaan Yuanita.


“Bagaimana dengan keadaan calon menantu saya, Dok?” tanya Widya.


“Alhamdulillah. Semuanya semakin membaik. Besok, Pasien diperbolehkan pulang dengan catatan harus mengikuti terapi untuk kakinya agar kembali normal.” Dokter menerangkan.


Terlihat semburat bahagia pada wajah Widya dan Yuanita. Hanya Elvan yang terlihat biasa. Sesungguhnya, dalam hati yang terdalam, dia lah yang paling bahagia. Entah karena apa.


Tak berselang lama ketika dokter dan asistennya keluar. Widya pun berpamitan untuk kembali mengurus segala persiapan pernikahan mereka. Netra Yuanita kembali berkaca-kaca setelah mendengar Widya akan mempersiapkan untuk acara pernikahannya. Sedangkan dirinya hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit. Ia merasa menjadi orang yang tidak berguna.


“Sayang. Jangan sedih. Mama ikhlas kok ngelakuin ini untuk kalian. Yang penting, Nita cepet sehat. Baju pengantin yang cantik udah menunggu untuk dipakai oleh Cinderella,” hibur Widya.


“Maaf ya, Ma.”


Hanya kata itu yang ke luar dari bibir Yuanita.


Widya memeluk kembali Yuanita sebelum pergi.


.


“Hai ....” sapa Gendis dari balik pintu.


“Hai Ndis,” jawab Yuanita yang tersenyum sumringah melihat kedatangan sahabatnya.


Lagi-lagi, Elvan memilih ke luar untuk memberikan mereka ruang agar lebih leluasa untuk mengobrol.


“Gimana kabarmu, Nit?” tanya Gendis sambil menarik kursi untuk duduk di samping Yuanita.


“Baik. Ada kabar baik, Ndis.”


Mata Yuanita berbinar menyembunyikan rasa bahagianya.


“Apa?”


“Besok gue udah bisa balik.”


“Waahhh ... Selamat ya, Nit. Aku bahagia mendengarnya.”


Gendis memeluk Yuanita erat.


..


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2