
Netra Elvan terbelalak ketika melihat penampilan yang sama sekali jauh dari kata modis. Gadis itu memakai rok span di bawah lutut, kemeja ukuran besar sehingga lekuk badannya seperti tenggelam ketika mengenakannya di tambah kaca mata bulat dan rambut yang diikat bak ekor kuda.
“Kenapa? Lu nyerah?” ucap Rizal terkekeh, sambil memainkan alisnya.
“Ka-gak! Gak ada kamus menyerah dalam hidup Elvan!” jawab Elvan yang seolah ragu.
“Udah ... nyerah aja, Van sebelum Lu nyemplung sama si gadis berkaca mata!” Bobi terkekeh.
“Gak! Gak bakal dan gak akan pernah mundur Gue!” ucap Elvan mantap.
“Oke! Tapi, taruhannya apa, nih?” tanya Rizal.
“Mau Lu apa?” Elvan berbalik menantang.
"Hape keluaran terbaru, ya?” jawab Rizal.
“Gak kurang tuh?” Tantang Elvan.
“Gimana, Bob? Lu mau nambahin?” tanya Rizal pada Bobi.
“Udah cukup lah. Kantong Gue lagi bokek juga,” pungkas Bobi.
Pertaruhan akan dimulai. Deal, dengan hape berharga enam belas juta rupiah sebagai taruhannya.
Ospek telah di mulai. Semua calon mahasiswa baru sedang menjalani tugas dari para senior kampus.
Elvan menarik tangan gadis berkaca mata itu membawa ke tempat yang terbilang sepi. Sedangkan kakak seniornya hanya bisa menatap tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena, mereka tidak ingin berurusan dengan laki-laki kaya tersebut.
“Lepasin!” ucap si gadis berkaca mata dengan menghempaskan genggaman tangan Elvan.
“Santai, santai.” Elvan mencoba menenangkan.
“Mau ngapain, Lo?” ucap si gadis itu sambil membenarkan kaca mata dengan tangan kedua jarinya.
“Gue mau tau nama, Lu.” Ucap Elvan yang mendadak kehilangan rayuan mautnya.
Gadis berkaca mata hanya memandang mata Elvan dengan penuh kecurigaan.
“Gue Elvan, nama Lu siapa?” Elvan menjulurkan tangannya.
“Gue gak yakin Lu mau kenalan sama Gue!” Gadis itu mengernyitkan dahinya.
Gue juga ogah sebenarnya kenalan sama Lu, cupu! Ini semua demi hape yang berharga enam belas juta sebagai taruhannya, gumam Elvan dalam hati.
Si gadis itu terus menatap dengan curiga, walau Elvan telah menjulurkan tangannya.
“Nit! Ayok ke Kantin, Aku udah laper," ajak sahabat yang baru ia kenal.
Gadis itu melangkahkan kakinya, namun dengan sigap, Elvan telah memegang lengan gadis itu erat.
“Lepasin!” ucap gadis berkacamata yang berusaha melepaskan genggaman lengan Elvan.
“Gue gak bakal lepasin sebelum Lu kasih tau nama, Lu!” Ancam Elvan.
Terbesit dalam hati gadis itu untuk mengubah namanya dan menyembunyikan identitas dirinya.
“Nama Gue ... Markonah,” ucap gadis berkaca mata itu.
Elvan berusaha menahan tawanya mendengar nama itu. Namun, benteng pertahanan akhirnya roboh juga dengan tawa yang menggelegar. “Ha ... Ha ... Ha ....”
“Kenapa, Lu?” tanya gadis itu.
“Lu jangan bohongin Gue, Markonah! Tadi temen Lu panggil dengan sebutan Nit, bukan Mar- konah!” Elvan terkekeh.
Sial! Gue kira ni cowok blo’on ternyata pinter juga, gak bisa Gue kibulin, ucap dalam hati gadis itu.
“Nita! Ayok!” Sahabatnya memanggil namanya.
“Tuh! Gue denger Loh, sahabat Lu bilang Nita, bukan Markonah!” Pungkas Elvan seraya melepaskan lengan si gadis berkaca mata.
“Serah!” ucap gadis itu dan berlalu pergi meninggalkan Elvan.
***
Nita, sapaan dari teman dekatnya. Ia bernama lengkap Yuanita Yudistira, gadis cupu asal kota Bandung. Nita atau Yuanita itu gadis yang pintar walau dandanannya sangat cupu dengan kaca mata bulat telah menyempurnakan kecupuan gadis itu.
“Kamu ngapain toh deket-deket sama cowok itu?” tanya Gendis sahabatnya.
Gendis. Sahabat baru Yuanita. Gendis dan Yuanita sama-sama merantau ke Surabaya karena mereka mendapatkan beasiswa prestasi di sana. Gendis asal Yogyakarta yang medok dengan logat Jawanya. Sedangkan Yuanita asal Bandung, namun ia bisa menyesuaikan logat bahasanya dengan siapa ia bicara.
“Gue gak deketin Dia, Ndis. Cowok itu yang narik lengan Gue!” jelas Yuanita.
“Moso, si? (Masa, sih?) Kok iso, yo? (Kok bisa, ya?)” Gendis heran.
“Entah! Udahlah kita lanjut makan. Nanti waktu istirahat Kita keburu habis.”
__ADS_1
Mereka meneruskan makan mie ayam di kantin kampus.
“Edan! Puwedese, iki! (Gila! puwedesnya, ini!)” ucap Gendis sambil menyeruput jus jeruk.
“Lebay!” ucap Yuanita.
“Tenanan iki, (Benaran ini) Nit!” Gendis mengelap keringat di keningnya dengan tisu yang ia ambil dari dalam tasnya.
***
Di sisi lain, ada Elvan yang sedang berbincang dengan Rizal dan Bobi di depan kelas.
“Gimana kabar gadis berkaca mata, Van? Lu udah tau apa aja tentang Dia?” tanya Rizal.
“Gue udah tau namanya,” jawab Elvan.
“Namanya siapa?” tanya Bobi.
“Nita.”
“Gak langsung Lu tembak, Van?” tanya Rizal.
“Belum.”
“Kenapa?” tanya Bobi.
“Gak bakal seru kalau Gue langsung nembak Dia. Entar tu hape keburu berada di tangan Gue dong,” ucap Elvan sambil memainkan alis.
“Pede beud, teman satu ini!” Rizal menepuk pundak Elvan.
.
Akhirnya kegiatan ospek hari ini telah usai. Seluruh calon mahasiswa baru terlihat lelah setelah aktivitas ospek. Entah disengaja atau tidak. Badan mereka capek setelah melaksanakan ospek siang itu. Yuanita dan Gendis berjalan gontai melewati koridor kampus.
Tiga cowok tengil pun datang menghampiri Yuanita dan Gendis.
“Hay, Nita ....” Sapa Rizal dan Bobi.
Netra Yuanita mendelik ke arah Elvan, ‘Pasti kelakuan si Kucing Garong!’ Pekik dalam hati Yuanita.
“Hay, Markonah ....” Elvan melambaikan satu tangannya.
“Hay juga Kucing Garong! Sorry ya, Cing. Gue capek hari ini. Minggir, Lu!” Yuanita mendorong Elvan dan menarik lengan Gendis.
“Mas-Mas ganteng, maaf yo, sahabat Aku emang lagi sensi hari ini. Njaluk ngapuro, yo? (Minta maaf, ya?)” ucap Gendis dengan logat dan bahasa Jawanya.
“Ojo ngono, (Jangan gitu,) Nit. Mesti sopan karo sopo wae! (sama siapa aja!)” Gendis memberikan wejangan kepada Yuanita.
“Sa karep Mu! (Terserah Kamu!)” Yuanita berlalu pergi meninggalkan Gendis.
“Weh ... Iso Jowo Kowe? (Bisa Jawa Kamu?) Tunggu!” Gendis berlari mengejar Yuanita yang telah berada jauh di depan sana.
.
Sementara, di belakang sana ada dua laki-laki yang tengah heran melihat gadis cupu yang mendorong Elvan.
“Kok Dia berani dorong Lu, Van? Gue gak yakin Lu bisa taklukan Dia!” ujar Rizal.
“Lu ngeraguin Gue?” Mata Elvan melebar menatap Rizal.
“Dalam kamus Gue. Gak ada tuh kata-kata menyerah!” timpal Elvan lagi.
***
Drett ... Drett ....
Gawai Elvan bergetar. Ia mengambil gawai yang berada dalam saku celananya.
“Stella?” ucap Elvan dengan suara pelan.
[Sayang, Aku mau jalan-jalan dong. Kamu punya waktu enggak? Nongkrong, yuk?] Isi pesan dari Stella.
[Oke ... My sugar Honey. Nanti Aku ke kost mu, see you, muahh.] Elvan membalas pesan dari Stella.
“Wedeh. Kemarin nongkrong di kantin sama Ferlita. Lanjut jalan ke kost-nya Chika. Hari ini udah mau ke temuan sama Stella, keren deh!” Rizal mengangkat jempol.
“Gue cabut dulu, Bro!” Elvan melambaikan tangan dan melangkahkan kaki pergi meninggalkan dua orang sahabatnya.
Elvan membuka handle pintu mobilnya dan merundukkan badannya untuk masuk dalam mobil.
Ia menstater mobil merah itu menuju sebuah kost yang masih berada di tengah Kota Surabaya.
Tepat di sebuah kost yang besar, ia memarkirkan mobilnya di halaman yang memang terparkir banyak mobil di dalamnya.
Tidak di sengaja, Elvan melihat sebuah angkot yang berhenti di seberang jalan. Mata Elvan tertuju kepada seorang gadis setelah angkot berlalu pergi.
__ADS_1
“Markonah?” ucapnya spontan.
Elvan terpaku di samping pintu mobilnya dan matanya tertuju kepada gadis yang telah memasuki sebuah kost sederhana. Gadis itu telah berjalan dengan sahabatnya.
“Oh ... jadi si Markonah kost di sini?” terucap dari bibir Elvan.
“Sayang!” ucap Stella yang mengagetkan dirinya.
Dengan cepat, Elvan memalingkan pandangannya ke arah Stella.
“Hay ... Honey.”
Elvan merenggangkan kedua tangannya.
Stella mendekat dan menyambut lengan yang terbuka itu dengan pelukkan.
“Aku kangen,” ucap Stella yang masih ada dalam pelukan.
Mereka berdua menuju ke kamar atas Stella. Elvan memilih untuk duduk di balkon kamar Stella.
“Ayok, masuk!” Ajak Stella.
“Di sini aja, Honey. Aku lagi memandangi pemandangan indah di sini,” ujar Elvan.
“Baiklah. Mau minum apa?” tanya Stella.
“Yang segar.”
“Ya, apa?”
“Terserah yang penting ada es nya.” Pungkas Elvan.
Stella masuk dalam kamar untuk mengambil minuman dan camilan dalam dapur yang ada di kost-nya. Sementara Elvan, tengah asyik menyelidik tempat kost sederhana yang ada di seberang jalan.
“Ngapain? Khusuk banget liatin kost di seberang jalan sana?” tanya Stella dengan mata penuh selidik.
“Enggak papa. Sepertinya kost-nya sejuk ada pohon rindang di samping kost itu.” Elvan menunjuk ke pohon yang menjulang tinggi di samping kost itu.
“Oh ... ini minumnya,” ucap Stella singkat dan menyodorkan minuman dingin untuk Elvan.
Elvan meneguk minuman dingin yang disediakan oleh Stella di tengah teriknya sinar matahari.
“Sayang. Aku mandi dulu, ya? Katanya mau jalan?” ucap Stella yang bangkit dari kursinya.
“Oke! Dandan yang cantik ya, Honey!” pungkas Elvan.
Stella kembali masuk dalam kost-nya. Sedangkan Elvan masih mengintai kost yang di tempati oleh Yuanita.
Dari seberang sana, terlihat Yuanita keluar dari kamarnya yang sama-sama ada di lantai dua. Yuanita memakai celana jeans pendek dan atasan kaos berwarna hitam, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih ia tidak mengenakan kaca mata pada saat itu.
Terlihat Yuanita duduk santai dengan membawa segelas es jeruk. Yuanita terlihat santai ketika ia menyenderkan punggungnya di kursi. Ia memejamkan matanya dan menikmati hilir angin yang tertiup dari pepohonan besar yang berada di samping kamarnya sehingga menyibakkan rambutnya yang terurai panjang.
Cantik juga si Markonah, ucap dalam hati Elvan.
“Ish! Paan sih, Gue? Masa suka dengan cewek cupu kutu buku kek Dia?” gerutu Elvan.
“Sayang!” ucap Stella.
“Eh! Iya Honey. Kamu udah beres?” tanya Elvan gelagapan.
“Udah. Berangkat, yuk!”
***
Selepas magrib. Elvan mengantarkan Stella kembali ke kost-nya.
“Makasih, Sayang,” ucap Stella yang membawa banyak barang yang diberikan Elvan.
“Iya, sama-sama.”
“Aku pulang, ya? Bye Sayang.” Stella turun dari dalam mobil dan memasuki kost-nya.
Elvan memperhatikan kost Yuanita yang sepi seperti tak berpenghuni. Ia menunggu. Berharap Yuanita keluar dari kamar kost-nya.
Drett ... Drett ....
Hand phone Elvan bergetar di atas laci dekat kaca mobilnya. Elvan meraihnya dan menggeser layar hape-nya.
[Kenapa belum pulang?] Pesan dari Stella.
“Mampus Gue! Ternyata Stella masih mengintai dalam kost-nya!” gerutu Elvan dalam mobil.
[Ini mau pulang, Honey. Bye,] balas Elvan dan tancap gas berlalu pergi meninggalkan kost Stella.
Bersambung..
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁