Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 8 (Pacar Pura-pura)


__ADS_3

Yuanita, kini benar-benar ada di hadapan Elvan. Sepasang mata hitam itu memandang tajam sepasang mata coklat Elvan yang ada di hadapannya.


“Ngapain Lu liatin Gue kek gitu?” tanya Yuanita, galak.


“Ish! Lu manis dikit kek. Sayang tuh make up sama dress yang udah cantik, tapi yang pakek galak banget kek, Lu!” ucap Elvan yang kini tengah beranjak dari sofa tempat duduknya.


“Maksud, Lu?”


Mata Yuanita membulat.


Yuanita melangkahkan kaki mendekati Elvan, bermaksud untuk memukul lengan Elvan yang menurutnya menyebalkan. Namun, kaki Yuanita terkilir. Ia lupa kalau kini dirinya sedang mengenakan high heels.


Dengan cepat, Elvan merengkuh si gadis berkaca mata yang hampir terjatuh. Kini, Yuanita berada dalam rengkuhan tubuh si jangkung.


Degup jantung Elvan mengencang tatkala mata hitam itu memandangnya dengan bulat yang hampir sempurna. Keadaan menjadi canggung dikala itu.


Elvan melepaskan rengkuhannya perlahan, hingga gadis berkaca mata itu telah berdiri tegap di depan matanya.


“Dasar, Cupu! Lu gak inget, kalau Lu sekarang pakai high heels?”


Elvan berusaha bersikap acuh seperti biasa walau dalam hatinya bertentangan.


Yuanita beranjak pergi. Namun, kakinya tidak mendukung akibat terkilir.


“Aww!”


Yuanita memegang kakinya ketika hendak berlalu pergi.


“Kenapa, Lu?” Dahi Elvan mengernyit.


“Gak papa!”


Yuanita berjalan dengan tertatih merasakan sakit pada kakinya.


Yuanita berjalan dengan sedikit menyeret kaki. Elvan mengekor dari belakang. Keduanya mempunyai sifat yang sama. Sama-sama mempunyai ego yang tinggi. Mungkin, karena ketika perjumpaan awal mereka yang tidak mengenakan, hingga terbawa hingga saat ini.


Sebenarnya, Yuanita adalah wanita yang baik. Ia begitu care kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.


Yuanita terus berjalan melewati mobil merah milik Elvan yang sedang terparkir.


“Kelewatan, Markonah! Mobil gue di situ.” Elvan menunjuk ke mobil merahnya.


Yuanita seperti tidak menghiraukan ucapan Elvan. Ia terus berjalan dengan kaki yang masih sakit.


“Hemm ... Sebentar lagi juga dia bakalan duduk. Gak bakal kuat melangkah lagi.”


Elvan tahu persis kalau membaca situasi seperti itu tentang cewek.


Elvan mengekor dari belakang. Mengikuti langkah kaki si gadis berkaca mata yang selalu ia anggap cupu. Benar saja, setelah lumayan jauh dari mobil yang terparkir. Akhirnya, Yuanita duduk di bangku taman yang ada di pinggiran trotoar.


Terlihat, Yuanita sedang mengelus kakinya dengan ekspresi meringis. Elvan pun mendekat dan kini berdiri tepat di depan Yuanita.


“Makanya, jangan sok, kuat!” ujar Elvan sambil melipat kedua tangannya di dada.


Yuanita mendongak.


“Siapa bilang gue gak kuat?”


Yuanita memaksakan berdiri dan melangkahkan kakinya di depan Elvan. Namun, akhirnya Yuanita kembali jatuh dalam rengkuhan Elvan. Ia sudah tak sanggup berjalan. Elvan pun telah mengetahui hal itu karena ia melihat kaki Yuanita yang memang terlihat bengkak.


Tanpa banyak bicara. Elvan menggendong tubuh Yuanita. Walau di awal, Yuanita sedikit berontak.


“Lepasin!” ucap Yuanita yang sedang digendong Elvan.


Elvan tak bergeming, mendengar ucapan dari gadis berkaca mata itu. Ia tetap menggendongnya walau sedikit ada pemberontakan dari Yuanita.


Elvan menurunkannya ketika tepat berada di depan mobil merahnya. Elvan membuka handle pintu mobil dan menariknya.


“Masuk!” Perintah Elvan.


Yuanita pun masuk dalam mobil merah itu, ia merasa sudah tak kuat kalau harus berjalan kaki.


Hening.


***


Di perjalanan, hanya terlihat wajah cemberut dan wajah yang serius mengemudikan mobil. Hanya napas yang saling bersahutan pada waktu itu.


Elvan memarkirkan mobilnya di apotek yang berada di pinggir jalan. Ia turun untuk membeli krim pereda nyeri untuk kaki Yuanita dan ia kembali memacu si merah menuju kost Yuanita.


Hingga akhirnya, mobil merah itu masuk di halaman kost yang sederhana itu. Elvan membuka pintu mobil. Yuanita hendak ke luar dari dalam mobil. Namun, Elvan segera menggendongnya.


“Gue bisa sendiri!” ucap Yuanita.


“Gak usah ngeyel dan gak usah sok kuat!” Netra Elvan melebar ketika memandang wajah Yuanita.


Elvan menggendong Yuanita masuk ke dalam kost. Gendis belum pulang pada saat itu. Elvan menurunkan Yuanita di kursi depan kamar Yuanita.

__ADS_1


“Mana kunci kamar, Lu?” Elvan menatap tajam.


Tanpa ada kata, Yuanita memberikan kunci kamarnya pada Elvan.


“Sorry, Gue masuk!”


Tanpa menunggu persetujuan dari Yuanita, Elvan memaksa hendak mengambil air es.


Namun, nihil! Di dapur Yuanita tidak terdapat kulkas. Ia kembali ke luar, dari kamar Yuanita dan bergegas pergi membawa mobilnya tanpa ada satu patah kata yang keluar dari bibirnya.


“Set, dah! Tu orang gak punya sopan-sopannya! Maen ngeloyor pergi aja!” Yuanita masih meringis di depan kamarnya.


Yuanita menyenderkan punggungnya ke tembok dan menghela napas panjang kemudian mengeluarkannya perlahan.


Tak berselang lama, mobil merah itu kembali memasuki halaman kost Yuanita.


“Ngapain lagi tuh si Kucing garong?” celetuk Yuanita yang masih meringis.


Elvan turun dari dalam mobil sambil menenteng beberapa butir es batu dan handuk kecil di tangannya.


“Mau ngapain, Lu?” tanya Yuanita.


“Udah, Lu gak usah banyak tanya. Gak usah cerewet!” jawab Elvan.


Elvan membuka es batu dan membungkusnya dengan handuk kecil, “Mana kaki, Lu?” Pinta Elvan.


Tak banyak bicara. Yuanita mendekatkan kakinya yang terkilir pada Elvan. Yuanita tak mau banyak bicara, karena pemuda yang berada bersamanya sangat jutek pada saat itu.


Markonah, andai Lu tahu. Gue khawatir dengan keadaan, Lu! umpat dalam hati Elvan.


Yuanita melihat Elvan yang sedang mengompres kakinya dengan handuk dan es batu. Sekitar lima belas menit, Elvan terus mengompres sedikit demi sedikit dengan es yang ia bungkus dengan handuk kecil. Terakhir, Elvan mengoleskan krim obat pereda rasa nyeri yang ia beli di apotek.


Ternyata, Elvan itu baik. Celetuk dalam hati Yuanita.


Yuanita kepergok sedang memandang Elvan yang seperti peduli dengannya.


“Kenapa pandangin Gue mulu?” tanya Elvan.


“Kenapa Lu baik sama Gue?” tanya Yuanita.


“Biar Lu sehat! Besok, Lu mesti ke rumah Gue untuk ketemu nyokap dan bokap Gue. Gue terlanjur ngomong kalau pacar Gue itu cantik. Masa, udah cantik jalannya ngesot?” ucap Elvan.


Dasarrr Kucingggg Garongggg! Bener pan? Untung gue gak baperan! Sekali ngeselin, ya tetep aja ngeselin! Pekik dalam hati Yuanita.


***


“Malam, Pa, Ma!” sapa Elvan yang hendak pergi ke kamarnya.


“Udah pulang, Van?” ucap mamanya.


“Udah, Ma.”


“Sini, Van!” Papanya memanggil.


Elvan berjalan mendekati kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa ruang tivi.


“Besok kesempatan terakhir kamu membawa pacarmu, untuk diperkenalkan pada kami ke rumah ini. Karena, Papa enggak mengizinkan kalau sama pacarmu yang tiga orang itu!” tegas Papanya.


“Kalau memang dia bisa ambil hati Mama, mama janji. Akan membatalkan perjodohan kalian!” ucap Mamanya.


“Beneran, Ma?”


Elvan menatap dengan mata berbinar.


Mamanya mengangguk dan tersenyum.


Dalam sekejap. Rona wajah Elvan berubah, ia malah bingung kalau mamanya malah suka sama pacar pura-puranya yang tak lain si gadis cupu.


Ya Tuhan, apes Gue! Maju kena, mundur kena kalau kek gini caranya! Gerutu dalam hati Elvan.


“Kenapa? Kok wajahnya begitu? Apa kamu bohongin kami tentang pacar baru kamu itu?” Mata mamanya menyelidik.


“Enggak! Besok dia mau ke sini, kok. Elvan udah janjian sama dia.” Pungkas Elvan.


“Ya udah, Ma, Pa. Elvan ke kamar dulu, ya?” timpal Elvan lagi.


“Oke! Selamat istirahat, Sayang,” ucap mamanya.


.


Elvan berlalu pergi. Langkah kakinya terayun menaiki anak tangga dan membuka handle pintu kamarnya.


Ia membenamkan tubuhnya. Angannya seketika melayang tentang hari esok. Elvan memandangi langit-langit kamar dan mencoba memejamkan mata.


Ia merasa gundah dengan keadaan ini, “Kalau besok berhasih, otomatis Gue berjodoh sama si Markonah? Idih! Enggak-enggak!" Elvan membayangkan sambil menggelengkan kepala.


Tapi, apabila Gue terima perjodohan orang tua malah lebih parah, Gue gak kenal sama gadis itu. Gimana ini, Tuhan? Tanya dalam hati Elvan.

__ADS_1


***


Sementara Yuanita, masih mengusap lembut kaki yang hampir sembuh itu. Sesekali ia tersenyum tatkala mengingat Elvan si jutek bisa semanis itu terhadapnya. Walau ujung-ujungnya tetep ngeselin.


Yuanita tak sadar kalau Gendis tengah memperhatikan kelakuan absurd dari dirinya.


“Kamu kenapa, Nit?” ucap Gendis yang kini ada di depan matanya.


“Ndis? Sejak kapan Lu di sini?” tanya Yuanita heran.


“Sejak Koe ngguyu-ngguyu dewe. (Sejak Kamu senyum-senyum sendiri.)” Gendis masih menatap wajah Yuanita.


Terlihat pipi Yuanita memerah karena malu.


“Lu dari mana, sih? Jam segini baru balik?” Yuanita mengalihkan pembicaraan.


“Dari rumah teman, ada perlu hehe ... Kaki mu kenapa 'to?” Mata Gendis tertuju pada kaki Yuanita yang membengkak.


“Terkilir. Tapi bentar lagi juga sehat kok, udah pakek krim pereda nyeri,” ucap Yuanita sambil terkekeh.


Gendis kembali ke kamarnya, begitu pun dengan Yuanita yang mulai menutup pintu kamarnya dan bergegas naik ke atas ranjang.


Hatinya selalu gundah, apabila ia teringat tentang perjodohannya dengan laki-laki yang sama sekali belum ia kenal.


***


Yuanita kini sudah berada di kampus, mengikuti pelajaran seperti biasanya. Kakinya kini jauh lebih baik dari pada malam itu. Rasa sakit telah tiada.


Jam pelajaran pun tak terasa sudah berakhir. Semua mahasiswa berhamburan dari tiap fakultas.


Ternyata, Elvan telah menunggu Yuanita di depan pintu kelasnya, “Lu ngapain di sini?” tanya Yuanita.


“Latihan,” ucap Elvan singkat.


“Latihan apa?” Dahi Yuanita mengernyit.


“Jadi pacar gue. Ingat, Lu mesti mesra sama Gue di depan orang tua Gue!” ucap Elvan.


“Kalau gue gak mau?” Mata Yuanita mendelik.


“Gue juga gak mau bantuin, Lu!” Ancam Elvan.


Hening.


Mau gak mau, Gue mesti ikutin permainan si Kucing garong, nih! Pekik dalam hati Yuanita.


“Oke! Deal?”


“Deal!”


Elvan dan Yuanita berjabat tangan.


.


Malam pun tiba. Sekitar jam tujuh malam, Elvan menjemput Yuanita ke kost-nya. Setelah lelah berlatih menjadi sepasang kekasih yang romantis. Kini, tiba saatnya mereka mempraktikkan di depan orang tua Elvan.


Yuanita telah tampil cantik, ia dibantu merias oleh Gendis. Yuanita begitu cantik malam ini dengan dress yang dibelikan Elvan.


Sampailah di rumah mewah kediaman keluarga Adhitama.


“Cing, Gue grogi!” bisik Yuanita.


“Santai! Jangan panggil gue dengan sebutan Cing, Markonah! Panggil gue dengan sebutan Sayang,” ucap Elvan ketika mereka di depan pintu.


Elvan menggandeng mesra lengan Yuanita dan masuk ke dalam rumah. Terlihat orang tuanya sedang menonton tivi.


“Honey," ucap Elvan.


"Iya, Sayang," jawab Yuanita.


"Ternyata, calon mertuamu sedang menonton tivi,” ucap Elvan dengan suara kencang agar orang tuanya melihat betapa mesranya mereka dengan tangan yang saling menggenggam mesra.


Orang tuanya menyambut kedatangan gadis yang disebut sebagai pacar dari anak laki-lakinya.


Mata Yuanita membulat ketika melihat mamanya Elvan, “Tante Widya?” Bibir Yuanita berucap.


“Lu kenal sama Mama, gue?” bisik Elvan.


“Tante Widya itu calon mertua gue, Van! Berarti, yang dijodohkan itu, Lu sama Gue.” Celetuk Yuanita kecil sambil memandang netra Elvan.


##


“MATI!” terucap dari bibir Elvan dan Yuanita.


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2