
minggu 16 september 2012
"To trust is easy, but the proof is very far cause even this time to embrance you is imposible cause I dont know if your afraid me or else...
how the miracle wiil the happen
"I still love you"
Safhira tertegun setelah membaca sms dari kekasih Pilipinnya itu sedikit terlihat frustasi seraya melempar ponsel ke kasur.
"Rupanya pria ini ingin pembuktian cinta dariku"
batin gadis imut itu.
"Kata-katamu mengancam,,,
kamu lebih mengerti kalau rasa cintaku lebih besar dari rasa cintamu terhadapku.
Kamu juga tahu sebelum kamu mencintaiku aku sudah lebih dahulu mencintaimu,
sampai detik ini perasaan itu masih sama coba kamu renungkan kisah tentang kita berdua."
Ira menuang kata-kata itu di diary nya karena tak sanggup mengucapkan secara langsung pada Ramon.
Ira masih terus membatin.
" Apakah pembuktian cinta itu harus pergi ke Hotel?
terus mau ngapain dihotel
kan aku sudah sering bilang aku ini Muslim tak mungkin hal seperti itu terjadi, jangan harap!
Itulah perbedaan kita sayang kamu Alpen aku Muslim dan kamu bangsa Pilipin sedang aku bangsa Indonesia
dan sepertinya kamu agak mesum
meski aku cinta kamu tapi ciuman pertama begitu juga keperawananku ini yang hanya akan aku berikan untuk suamiku kelak."
Ira jadi bimbang dengan hubungannya dengan Ramon dan memutuskan untuk membicarakannya diKantor besok.
Mereka memang satu Kantor tapi Ira hanya seorang OB kontrak sedangkan Ramon staff administrasi lapangan.
Jam pun menunjukkan pukul o7.00
masih terlalu pagi untuk semua staff kecuali Ramon yang sudah terbiasa standbye di mejanya mengecek semua pekerjaan hari ini sambil menunggu pujaan hati untuk membersihkan mejanya.
Tak lama menunggu Irapun muncul seperti biasa untuk ritual bersih-bersih disusul senyum yang sedikit dipaksakan,
Hari ini Ira mengenakan seragam batik bercorak pink serasi dengan hijab yang ia gunakan, bagi Ramon kekasihnya itu sangat imut walau bodyny pendek tapi bibir tipis yg merona tanpa lipstik dan sepasang mata cokelat itu mampu menyemangati hari- harinya walau tanpa pulasan make up selalu terlihat manis dan menarik.
"Boleh saya pegang tanganmu"
Ramon meminta ijin pada kekasihnya itu,
dengan nada ketus Ira menimpali
__ADS_1
"maaf sayang aku Muslim dan ini tidak benar"
Walau sebenarnya Ira ingin seperti pasangan normal pada umumnya
betapa tidak pria yg ada dihadapannya itu type Ira banget cerdas, cekatan, lincah, dewasa, pengertian ditambah belahan rambut yang khas itu membuat Ramon mirip aktor laga Jacky chan.
tapi Ira memang komitmen untuk keyakinannya dan selalu bisa menahan diri.
"Bagaimana sayang, nanti sabtu malam jadi kita ke Hotel?"
tanya Ramon sambil bersidakap tak sabar menanti jawaban dari gadisnya.
Ira enggan menjawab pertanyaan tersebut takut terbawa emosi dan salah berbicara walau bagaimanapun Ia sangat mencintai Pria yang ada dihadapannya, lagian bingung pula bagaimana harus mengungkapkan kegalauannya itu dan berlalu begitu saja setelah pekerjaannya selesai.
Ramon masih belum puas karena bagaimanapun ia perlu memastikan keperawanan gadis yang membuatnya sering terjaga dimalam hari.
Merekapun sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Di sela kesibukannya Ira berpikir untuk menjawab pertanyaan Ramon lewat SMS saja karena tak sanggup untuk secara langsung karena terhipnotis oleh pesona pria pujaan hatinya itu jadi tak mampu berkata-kata.
Setelah selesai semua tugasnya Ira bergegas menuju pantry untuk rehat sejenak.
Ternyata disana ada Elis
sedang membuat kopi,
OB tercantik dikantor itu bodynya yang tinggi semampai, matanya yg sipit bak artis Korea" pink"cuma kulit sawo matang saja menjadi minus didirinya namun malah meninggalkan kesan manis.
"Ra jangan kemana-mana ya ada yang mau kubicarakan, tunggu sebentar aku mau mengantar kopi ini dulu"
"Ok" dengan suara lesu.
Di tariknya salah satu kursi yang mengelilingi meja bundar yg ada dihadapannya sembari membenamkan wajahnya.
"Lama banget sih"
gumamnya,
gerakan spontan jemari yang diketukkan ke meja menandakan kejenuhan, sebenarnya Ia memang butuh teman untuk ngobrol .
Sesaat kemudian Elis datang dan langsung duduk dikursi yang berseberangan dengan Ira.
"Jangan ngelamun nanti kesurupan!"
tutur Elis tegas
"Nggak kok Ceu, cuma nungguin aja, kelamaan dari tadi"
sahut Ira,
kemudian menegakkan wajahnya dan bersindakap.
Ira memanggilnya Eceu karena memang Elis berusia duapuluhdua tahun, satu tahun lebih tua darinya.
"Gak kerasa ya Ra kita kerja disini tiga hari lagi balik ke Tanah air,
__ADS_1
sebenernya aku masih pengen ngumpulin duit tapi apa daya kontrak selesai dan gak ada perpanjangan"
ungkap Elis, menatap kearah Ira dengan wajah sendu, Irapun merespon.
"Hu uh ceu lusa kita sudah bisa balik ke Tanah air, "
belum selesai berbicara Elis sudah menyela.
"Pulang kerja kita belanja yuk"
Ira menganggukan kepalanya
"ok, yang penting traktirannya aja"
Mereka berdua pun bersama-sama beranjak dari tempat duduknya menuju balkon, tempat kesukaan mereka melihat langit dan pemandangan dari atas yang menyejukkan mata dan hati.
Mereka berdua saling menatap dan tertawa karena melihat peristiwa lucu di bawah, tepatnya dari tempat parkiran.
Itu adalah salah satu keuntungan melihat dari ketinggian pikir mereka.
"Ra kita selvi di ruang rapat yuk, pajangan disana juga bagus-bagus lumayan buat mejeng"
Irapun menerima ajakan Elis.
"Ayo, lumayan buat kenang-kenangan"
Merekapun sepakat dan berlalu menuju ruang rapat yang kosong itu berfose jeprat jepret mengambil gambar sebanyak banyaknya sungguh kesempatan terakhir karena tiga hari lagi kontrak kerja mereka selesai tanpa ada perpanjangan.
Tiba-tiba mereka menghentikan kegiatannya itu karena mendengar langkah kaki dan segera keluar dari ruang rapat dalam batin mereka siapa yang datang di waktu sibuk jam dimana para staff sibuk diruangannya masing-masing, ternyata si cantik Ayu petugas OB lantai dua bagaimana tidak perawakannya yg tinggi semampai dan wajah kebule an menjadi saingan berat untuk Elis .
"Ada apa Yu?"
tanya Elis sambil melirik setumpuk kertas yang dibawa oleh Ayu,
"Mesin fhotochopy lantai dua rusak"
belum selesai bicara Ira sudah memotong.
"Sini aku bantuin copy in "
sambil menggandeng lengan Ayu dan mereka berduapun melangkah ke arah mesin yang dimaksudkan meninggalkan Elis yang memang kurang akur sama Ayu.
"yang ini di copy 10 lembar, yang ini 5 lembar, yang ini bolak-balik 30 lembar dan yang ini posisinya harus ditengah ini nya"
Ayu menjelaskan kepada Ira dengan hati-hati tak ingin ada kesalahan karena ini perintah pak Yusuf yang terkenal garang, Irapun mengangguk dan mulai mengoperasikan mesin itu sesuai instruksi,
Setelah kelar Ayupun mengucapkan terima kasih sambil mencubit pipi Ira yg menggemaskan.
"Makasih say"
sambil berlalu melambaikan tangan dan berkedip.
"sama-sama "
jawab Ira sambil mengerucutkan bibirnya, merasa teraniaya.
__ADS_1