Apa Itu Cinta

Apa Itu Cinta
Gelandangan


__ADS_3

Ira segera menyudahi kegiatan saling berkirim SMS nya itu setelah melihat kemunculan Bima, padahal ia belum sempat menanyakan dari Daerah mana Doni berasal.


Ira memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tanpa peduli lagi akan adanya SMS ataupun panggilan yang masuk.


Ia bergegas menuju WC Mushala yang entah layak atau tidak dipergunakan untuk mandi. Ia tak perduli yang ada dipikirannya sekarang adalah segera membersihkan diri dan berganti pakaian.


Setelah rapih dan merasa segar Ira kembali menghampiri Bima yang sejak tadi setia menunggu di Mushala.


Mereka berdua meninggalkan tempat itu menuju pintu Gerbang dimana Ayahnya berada.


Saat itu Cecep sedang bercengkrama dengan seorang Pria berkulit gelap yang kira-kira seumuran dengan Drajat yang memarkir Truknya tepat disebelah Truk tangki yang digunakan kakak angkatnya.


Ira dan Bima menghampiri Ayahnya itu dan menyalami pria tersebut.


"Kenalin ini anak perempuan saya, Safhira. Kakaknya Bima."


Ucap Cecep kepada Pria yang bernama Warsito. Dilihat dari namanya mungkin berasal dari Jawa Tengah atau Jawa Timur. Namun Ira enggan bertanya ia hanya tersenyum dan sibuk memperhatikan Truk milik Warsito yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menaruh berbagai macam benda termasuk barang dagangannya.


Terlihat berbagai jenis sashet merk kopi, susu, dan minuman lainnya mungkin Warsito ini berjualan minuman panas maupun dingin terbukti dari adanya termos dan box es disana, juga berbagai makanan ringan termasuk mie instan.


Warsito mengangguk dan memanggil Seseorang .


"Surti,,,"


Teriaknya, dan tak lama muncul Seorang Perempuan yang usianya kira-kira dibawahnya dua tau tiga tahun dan Seorang balita laki -laki berusia sekitar tiga tahunan. Ternyata istri dan anaknya.


Istrinya itu segera membuatkan minuman hangat untuk kami dikarenakan Sunset yang sudah menampakkan diri, tapi udara Ibu kota yang cenderung agak panas tak terlalu berpengaruh pada sore yang mulai gelap itu.


Ira hanya menyimak obrolan ayahnya dengan Warsito. Tak tertarik nimbrung


ia tak perduli, malah memperhatikan balita yang sejak tadi hanya mengucing ibunya dan curi-curi pandang kearahnya.


Ira merasa lucu dengan tingkah balita itu tapi sekaligus heran dengan bintik-bintik seperti biang ketingat di seluruh tangan, kaki, tak terkecuali wajahnya.

__ADS_1


Ira mendekati Surti dan menanyakan nama dari balitanya itu.


"Namanya Aditia, Mbak."


Jawab Surti, Safhira langsung menyapa adit sambil mencubit pipi gembilnya.


"Hay Adit. Mau permen?"


Tapi Adit diam saja malah malu dan menyembunyikan dirinya dibalik badan ibunya. Ira tersenyum melihat kelakuan lucu Adit dan merogoh permen yang ada disakunya dan menyodorkannya.


Tapi adit menggelengkan kepala, Ira tidak menyerah begitu saja.


"Ini ambil"


Lagi-lagi Adit menggelengkan kepala dan tetap mengucing pada Ibunya. Ira kemudian menyerah dan memberikan permen itu kepada ibunya, lalu ia berikan lagi kepada balitanya.


Begitulah, sampai tak terasa malam semakin larut.


Ira hanya fokus pada pemandangan langit yang cerah saat itu. Dimana Bintang-bintang berkelip bertaburan disana sini, sungguh menyejukkan hati, sekejap menghibur hatinya yang masih bingung harus berbuat apa terlebih dengan pemikiran ayahnya yang aneh. Ia belum sempat bertanya beberapa hal karena selalu saja ada orang lain. Ia ingin berbicara empat mata saja tapi belum menemukan kesempatan.


Ira masih terus memandangi bintang- bintang tersebut sambil menerka-nerka, Rasi bintang apa kira-kira, ia membayangkan beberapa Rasi bintang tapi tidak ada yang cocok.


"Scorpio,bukan. Emm,,biduk. Bukan."


Gumamnya. padahal ia sendiri sudah lupa dengan formasi keseluruhan Rasi bintang.


"Doooor"


"Astaghfirullahaladzim"


Kalimat istighfar spontan keluar dari lisannya yang dikagetkan oleh suara nyaring Adik Laki-lakinya itu.


"Bima! ngagetin Eteh aja, ni jantung hampir copot tau."

__ADS_1


Omel Ira sambil memegang dadanya yang terasa ada debaran kencang gema dari detak jantungnya yang cepat.


Bima malah cengengesan karena merasa usahanya itu sukses besar.


"Mangkanya jangan ngelamun mulu nanti kesurupan,"


"Siapa yang ngelamun. Eteh cuma lagi nebak aja malam ini yang keluar Rasi bintang Apa gitu,"


"Rasi bintang apa Teh?"


"Lupa. Itu kan pelajaran IPS, harusnya Kamu yang tahu masih berstatus pelajar pasti masih anget apa yang diajarin Guru."


Ira balik mengIntervew Bima, yang dulu saat kelas satu meraih peringkat pertama dikelasnya.


Bima malah jadi terdiam, mengingat saat ini ia meninggalkan kegiatan Sekolah, untung saja bertepatan dengan libur panjang jadi masih ada harapan kembali ke Sekolah.


Ira tidak tahu tentang nilai akademis Bima yang menurun drastis bahkan tidak masuk dalam lingkaran sepuluh besar. Ira tidak tahu tentang pertengkaran Orangtuanya yang hampir setiap hari, bahkan tentang sikap ibunya yang berubah jadi tidak seperti dulu. Bima merasa kehilangan kasih sayang dan perhatian dari Rarah lalu membuatnya malas belajar dan mulai tidak fokus dengan apa yang diterangkan oleh Guru-guru di Sekolah.


Empat tahun sudah Kakak perempuannya itu merantau keluar Negeri dan mengirim uang yang tidak sedikit setiap bulannya bahkan mungkin itu seluruh gaji yang dimiliki Ira, tapi semuanya habis tak tersisa karena Saat itu Cecep sedang terlilit banyak hutang dan Usianya yang lanjut ditambah Rarah yang mulai lupa dengan tanggung jawabnya sebagai Ibu dan Istri, membuat Cecep kehilangan semangat untuk membangun kembali bisnisnya yang telah bangkrut. Bukannya menyemangati alih-alih kabur dengan Pria lain.


Ya. Ceceplah yang saat itu tetap berdiri tegar ditengah kehancuran. Ia yang tetap memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Oleh karena itu setelah perceraian Semua anak-anak memilih mengikuti ayahnya ketimbang ibunya.


Ira yang mulai menangkap kesedihan dibalik kedua bola mata adiknya itu segera merangkul pundaknya.


"Bintangnya indah ya Bim, nanti Eteh ngomong sama ayah. Cari solusi yang terbaik, anggap aja sekarang kita lagi liburan."


ujarnya lagi sambil mengelus rambut adiknya yang agak kaku pertanda kurang perawatan.


Hari semakin gelap dan para priapun bubar dari obrolannya. Terlihat Warsito membawa gulungan spanduk kemudian digelarnya ditengah jalanan aspal dekat gerbang yang telah digembok. Ternyata spanduk yang lumayan lebar. Lalu ia, istri dan balitanya tidur diatas spanduk itu dengan balutan kain tipis.


Sungguh pemandangan yang menyayat baginya. Inikah yang disebut dengan Gelandangan? tapi sebenarnya Warsito memiliki Truk. Lalu kenapa mereka semua nyaman dengan keadaan itu? Ia tidak perlu terlalu memikirkan Orang lain. Yang harus dipikirkan adalah keadaan keluarganya sendiri.


Ia harus mencari solusi dan segera berbicara dengan ayahnya. Tapi ayahnya malah menyuruh Ira untuk tidur di dalam Truk. sementara Cecep dan Bima mengalah tidur seperti keluarga Warsito. Beralaskan spanduk bekas dan terlelap diatasnya dengan berbekal sarung tipis dan olesan Lotion anti nyamuk.

__ADS_1


__ADS_2