Apa Itu Cinta

Apa Itu Cinta
Dilema


__ADS_3

Tak aneh lagi kalau Jakarta memang selalu macet. Apalagi kalau sudah melewati pasar. Banyak berjejalan pedagang kaki lima yang mengambil hak pejalan kaki. Tak sedikit pula para pengendara sembarangan memarkir kendaraannya. Tapi untunglah sekarang mulai dilakukan tindakan tegas untuk masalah tersebut. Setidaknya mengurai sedikit kemacetan.


Polusi udara dari kepulan asap sisa-sisa bahan bakar kendaraan semakin menambah tercemarnya Lingkungan disana. Belum lagi ditambah limbah Pabrik dan Rumah tangga yang sengaja dibuang sembarangan ke dalam Kali maupun comberan membuat populasi Ikan hampir punah.


Lingkungan yang jauh dari kata asri.


Disana sini Pengendara membunyikan klaksonnya bergantian. Menambah kebisingan hiruk-pikuk kemacetan. Ini menandakan kalau para pengendara mulai stress berlama-lama dalam kemacetan.


Sudah beberapa saat macet total, mau putar balik pun sama saja.


Mereka terjebak macet yang parah


Pak Bos mulai berkeringat dan air mukanya merah padam.


"Sial,"


umpatnya sambil menekan klakson tak sabar dengan kendaraan yang ada didepannya.


"Ini salahmu,"


Tuduh Pak Bos sambil mengacungkan telunjuknya.


Mami bos diam saja sepertinya tak ingin berdebat. Ia hapal betul dengan sipat suaminya itu kalau sedang emosi.


Lagipula memang Ia yang mengajak untuk keluar Rumah untuk menuju pusat perbelanjaan.


Mami merasa terpojok dan memilih untuk bungkam.


Setelah lima belas menit, barulah jalanan mulai normal kembali.


Semua ketidaknyamanan saat macet terbayarkan setelah mobil berhasil diparkirkan di tempat parkir.


Merekapun belanja bergerombol karena takut kalau terpisah.


Mami yang memiliki Big size itu sangat sulit menemukan pakaian yang pas untuknya.


Toko biasa tidak menyediakan ukurannya. Ira mengajak Mami masuk ke sebuah butik. Alhasil Mami mendapat beberapa potong pakaian yang berkwalitas dengan model yang unik.


Mami sangat senang dan membayar semua belanjaan termasuk belanjaan Ira.


Waktu belanja dipersingkat karena Pak Bos sudah mulai memberi kode pada Mami untuk segera pulang.

__ADS_1


Sebenarnya para Ladies masih ingin berbelanja tapi karena instruksi dari Pak bos sungguh tidak dapat diabaikan.


Merekapun segera melangkahkan kaki keluar lalu masuk kedalam Kijang Tua, biar klasik punya sendiri. Gak perlu naik kendaraan umum dalam batin Bos. Karena disana-sini berseliweran mobil mewah.


Sesampainya di Rumah. Mamih mengeluh akan kakinya yang mulai terasa pegal-pegal. Iapun segera memanggil Ira, mungkin ini bisa menjadi alasan untuk berlama-lama berbincang-bincang bersama untuk membicarakan hal yang serius.


Safhira segera menghampiri Mami.


"Ada apa mih?"


Tanyanya lirih, karena letih yang amat sangat. Efek dari kemacetan dan berkeliling mall .


"Duduk sini"


Ajak Mami kepada Ira untuk Duduk disampingnya.


"Kaki mami pegal-pegal. Tolong balurkan ini,"


Ujarnya sambil menyerahkan sebotol kecil minyak serai berisi 100 ml itu. Irapun segera membalurkannya sambil memijit kedua kaki Mami yang daritadi selonjoran.


"Kamu pintar mijit Ra. Mamih seneng kalau Kamu mau jadi menantu Mami,"


Ira diam saja tak menjawab pikirannya teralih kepada kekasih Pilipinnya.


Ada sedikit kecemasan yang melandanya dengan kesenyapan selama dua hari ini.


Memang tidak mudah menjaga hubungan jarak jauh, terlebih banyaknya perbedaan diantara Mereka, mulai dari Keyakinan, Kewarganegaraan sampai Selera makanan.


Ira tak sanggup jika harus membayangkan tentang masadepannya nanti jika diboyong ke Negara Pilipin atau menetap di Kerajaan Jordan. Harus rela jauh dari Keluarga dan tak tahu bisa kembali atau tidak, dan bagaimana jika suatu saat nanti kekasihnya berubah setelah menikah kemudian meninggalkannya, atau setelah memiliki keturunan malah meninggal dan ia menjadi seorang janda.


Bahkan Ira sampai memikirkan tentang keyakinan anak-anaknya kelak jika menikah dengan Ramon akan Beragama apa? Akankah Ia berpindah Agama dengan ancaman anak-anak.


Sungguh Ira jadi takut dengan hal yang belum terjadi.


Bahkan ia jadi Dilema dengan hubungannya dengan kekasih Pilipinnya itu.


Mami yang sedari tadi memperhatikan Ira yang sedang melamun itu jadi bertanya-tanya. Apakah Safhira mempunyai pacar? karena pertanyaannya membuat Ira termenung begitu, untuk mencairkan suasana Mami menyambung perkataannya.


"Kalau kamu bersedia menikah dengan Pale Mami akan membuka cabang dan Kamu yang akan mengurusnya nanti,"


Mami to the point pada Ira karena tak mau menunggu lebih lama karena digantung itu tidak mengenakkan. Ia ingin mengetahui jawabannya sesegera mungkin kalau bisa sekarang juga.

__ADS_1


"Terimakasih Ra, pijitanmu mantap. Sekarang Mami ngerasa lebih enakan. Gimana Ra? Mami sangat berharap kalau Kamu bisa Menjadi bagian dari keluarga ini, Kami semua menyayangimu Safhira. Mami harap Kamu memberi jawaban yang tidak mengecewakan,"


Sekali lagi Ira menjadi dilema ia sama sekali tidak dapat mengambil keputusan untuk saat itu.


"Maap Mih. Kasih Ira waktu buat mikirin semua dengan matang. Sekarang Ira gak bisa berpikir apa- apa."


"Ya udah kalo gitu kamu sekarang istirahat dan tidur sore. Karena besok subuh Mami ingin Kamu ikut belanja ke Pasar. Mami ingin ajarin Kamu berbelanja dan juga bumbu rahasia ."


Ira masih dalam kondisi dilema sehingga ia hanya mengangguk kemudian berlalu menuju kamar tidur.


Ia berbaring dan memandang langit-langit kamar. Pikirannya buntu tak dapat berpikir lagi karena keduanya baik Ramon maupun Pale bukan calon Imam yang ia idamkan.


Ramon memang Lelaki sejati, bertanggung jawab, bijaksana tapi berbeda keyakinan. Ira pernah berkonsultasi dengan Guru spiritualnya, bahwa lebih baik menikah dengan laki-laki yang seiman.


Sedang untuk Pale sendiri ia tak memiliki perasaan apapun lagipula Pale bukan tipenya tak ada hal yang membuat Ira tertarik padanya.


Ia memejamkan mata kemudian terlelap.


Seperti biasa ia bangun subuh. Tapi kali ini ikut berbelanja kepasar dengan Mami.


Sudah lama ia tak merasakan badannya sesegar ini karena tidur malam yang lebih awal.


Mami mengajarkan bagaimana cara memilih ayam yang baik untuk dijadikan pecel syam. Bahkan mengajak ketempat langganannya.


Mami juga mengajarkan bagaimana cara memilih sayuran yang segar untuk dijadikan sambal dan lalapan .


Begitupula dengan bumbu rahasia yang Mami sering beli ditempat langganan.


Termasuk memilih daging bebek dan Lele juga.


Setelah semuanya terbeli barulah Mami membeli sarapan untuk Seluruh Orang Rumah. Bahkan makanan yang Ira pilih dibayar oleh Mami.


Safhira jadi sungkan dengan kebaikan seluruh anggota keluarga itu.


Tapi ia tak dapat berbohong kalau Ia tak ada perasaan khusus kepada Pale. Lagipula Ira tak ingin terlibat dengan dunia kuliner terlebih bisnis ini. Ia tahu sendiri bagaimana lelahnya menjadi Bos. Harus belanja kemudian memasak lalu berniaga.


Sungguh Ira ingin pergi dari Rumah itu jika ada kesempatan dan alasan yang tepat.


Setelah semuanya Ok. barang belanjaan diangkut kedalam mobil dengan membayar jasa kuli panggul.


Kemudian menyusul Mami dan Safhira.

__ADS_1


Mobil kijang Tua segera melesat menuju Rumah.


__ADS_2