
Sementara itu Safhira yang mulai membukakan kedua kelopak mata dari tidur nyenyaknya itu lamat-lamat menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul empat sore.
Sontak ia segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri lalu melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Diamatinya Seisi rumah, semua sudah pergi kecuali Cathy yang sedang asyik menonton TV. Iapun segera menghampiri gadis itu dan duduk disampingnya lalu ikut menonton .
"Eh mbak, sudah bangun tah!"
"Kenapa mbak gak dibangunin?"
"Mamah yang gak ngebolehin siapapun dirumah ini ngeganggu tidur mbak,"
"Terus sekarang gimana jadinya?"
"Tenang Cathy yang anterin kesana, bentar ya aku ganti baju dulu."
Ujarnya sambil mematikan TV kemudian berlalu.
Ira masih terduduk ditempat yang sama tak beranjak dari sana menunggu gadis itu.
Ira semakin bingung dengan perlakuan Mamih bos yang sangat baik padanya dan teringat pada apa yang pernah diucapkan kepadanya, tapi ia sungguh tak memiliki perasaan terhadap Pale, lantas bagaimana bisa menjalankan sebuah pernikahan tanpa didasari rasa suka.
Sungguh ia tak ingin membohongi dirinya sendiri ataupun orang lain. Ia memutuskan untuk memberi pengertian kepada Mamih bos setelah mendapatkan kesempatan dan waktu yang tepat.
Sesaat kemudian Cathy siap dan menggandeng Safhira menuju kendaraan roda dua berwarna merah kesayangannya.
"Ayo mbak! "
Ira mengangguk dan segera mengambil posisi dan berpegangan padanya. Gadis itu segera menyalakan motor matic nya lalu segera menggiringnya ke lokasi sida mampir.
Cathy dan Ira bergandengan meninggalkan tempat parkiran menuju Kedai yang sedang ramai pengunjung, merekapun segera berbaur dengan Tiger dan Bos untuk membantu melayani pesanan para pengunjung.
Waktu terus berlalu, malampun semakin larut begitupula pengunjung yang nyaris tak kelihatan batang hidungnya, lagipula dagangan hampir habis semua kecuali soto Lamongan dan beberapa tusuk sate usus.
Mereka semua mulai bebenah untuk persiapan penutupan Kedai. Tapi tiba-tiba sebuah Truk barang parkir dan dua orang Pria turun dari kendaraan tersebut lalu menghampiri kedai itu dan memesan beberapa hidangan.
__ADS_1
"Pecel lele pakai tempe dan tahu nasinya satu setengah."
ujar Pria berbadan tinggi besar dan berkulit gelap itu, kira-kira berumur hampir empat puluh tahunan.
"Habis, lho Ton cuma sisa nasi sama soto dan sate usus, kalo mau"
Jawab Mamih dengan gaya centilnya, rupanya mereka adalah langganan setia bos, terlihat dari perbincangan akrab mereka bahkan bos hapal nama mereka.
Sedang pria yang satunya kira-kira seumuran dengan temannya dan memiliki fisik yang agak kurus tapi tinggi itu bilang untuk menghidangkan apa saja sama seperti temannya. Tono.
Irapun segera mengantarkan hidangan pesanan mereka dan meletakkan semuanya tepat diatas meja, kemudian pria tinggi kurus temannya Tono, segera meraih gelas yang berisi teh tawar panas lalu menyeruputnya.
"Siapa namamu?"
Tanyanya sembari terus menyeruput minumannya itu.
"Nama saya Safhira."
Jawab Ira sambil menundukkan pandangannya karena pria tersebut mengedipkan sebelah kelopak matanya dan membuat Ira merasa jengkel tapi ia harus profesional pada pekerjaanya untuk tetap melayani setiap pelanggan dengan baik.
"Namaku Priyo, kamu harus ingat cantik, aku akan kebih sering kesini kalo kamu mau memberikan nomor ponselmu,"
"Ini isi lagi !"
Perintah Priyo dengan nada kasar dan sombong lalu menyerahkan gelas yang sudah kosong itu kemudian memalingkan wajahnya.
Ira segera undur diri kemudian mengisi kembali teh tawar panas yang diinginkan Priyo, sebenarnya ia enggan dengan pelanggan genit satu itu, tapi apa boleh buat pelanggan adalah Raja, ia melangkah dengan gontai menuju meja pelanggan yang menyebalkan baginya itu.
Diletakkannya teh tawar panas tersebut tanpa menoleh sedikitpun ke arah Priyo dan berlalu begitu saja.
Ira melanjutkan pekerjaanya beberes dan memasukkan sebagian barang- barang yang seharusnya dibawa pulang ke dalam kijang tua kesayangan bos.
Semoga kalian cepat pergi, gumam safhira saat menyusun barang-barang didalam mobil.
Setelah kedua pria itu berlalu barulah Ira menghampiri meja tempat mereka makan tadi lalu mengangkut sisa-sisa semuanya dan segera membersihkannya.
__ADS_1
Semua telah rapi dan kedaipun segera ditutup.
Seminggu kemudian Cecep datang menghampiri kediaman bos untuk segera menjemput Safhira.
"Silahkan masuk Pak."
Sahut Bos setelah mendengar salam yang diucapkan oleh Cecep dan mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di sofa berudu berwarna coklat polos di Ruangan tamu.
Hari itu Cecep berpenampilan rapi mengenakan kemeja kotak-kotak biru dipadukan dengan celana Cardinal biru pula. Rambutnya disisir rapi dan berwarna hitam pekat, sepertinya habis disemir karena beberapa hari yang lalu masih terlihat putih merata.
Bos dan Cecep bercengkrama panjang lebar, mulai dari perkenalan diri sampai membicarakan hal yang konyol dan lucu. Itulah salah satu kelebihan dari Cecep yang pintar berkomunikasi dengan orang lain bahkan membuat orang- orang segan padanya.
Sedangkan Safhira sendiri masih terlelap dan tidak mengetahui kalau Ayahnya sudah berada disana.
Bos merasa senang karena calon besan orangnya humoris dan cepat akrab dengan orang lain. Ia menjadi berani mengungkapkan keinginannya untuk meminta Ira menjadi menantunya.
"Pak Cecep saya ingin memperkenalkan anak sulung saya laki-laki seumuran Safhira, sebentar tak panggilkan."
Kata Mami bos kemudian berlalu meninggalkan tamunya mencari Pale yang ternyata berada di kamar mandi, sedang mandi pikirnya karena terdengar suara byur,,, byur,,,
Ia menunggu putranya di depan pintu kamar mandi, karena percuma kalau berbicara saat itu sebab kamar mandinya kedap suara jadi suara dari luar tak akan terdengar.
"Kamu cepat ganti baju dan sapa bapak Cecep, "
Perintahnya kepada anak sulungnya yang saat itu hanya berbalutkan handuk.
"Siapa itu pak Cecep mah?"
Tanya Pale sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal itu dan merasa asing dengan nama tersebut.
"Ayahnya Safhira."
Pale mengangguk dan bergegas menuju lemari pakaian, tapi ia malah berakhir dengan pakaian seragam kerjanya yang tergantung dibelakang pinto, toh beberapa jam lagi ia akan berangkat kerja. Sekalian saja pikirnya.
Papi bos menyerahkan sebuah asbak kayu yang berukirkan seekor Naga kepada Cecep, karena terlihat mulai mengeluarkan sebungkus rokok. Sedang ia sendiri bukan perokok. Asbak itu biasa digunakan oleh Pale yang mulai merokok saat masih sekolah dulu, mungkin lingkungan STM yang hampir seluruh muridnya Laki-laki semua membuat lumrah untuk penularan merokok.
__ADS_1
Setelah rapi dan wangi ia kembali menghadap cermin dan merasa ada yang kurang dengan penampilannya.
Setelah sadar kalau rambutnya belum klimis iapun segera meraih gel rambut dan mengoleskan pada seluruh rambutnya agar terkesan segar.