Apa Itu Cinta

Apa Itu Cinta
Pamanukan


__ADS_3

Ira memperhatikan makanan yang dimasak Ramon, sungguh makan siang yang sangat sederhana .


Pipilan jagung rebus dicampur kacang polong, diatasnya ditaburi parutan keju dan cuci mulutnya hanya sebuah pisang.


"Apa kamu kenyang?"


tanya Ira setelah prianya menghabiskan semua tanpa sisa.


"Kenyang banget"


ayo segera berangkat nanti partnerku marah-marah aku bawa orang lain kesini "


Rupanya Ramon tidak tinggal sendirian, ia berbagi ruangan dengan sesama Pilipin lain yang sangat menjaga privasi dan kesepakatannya tidak membawa orang lain ke dalam apartemen.


Untuk kali ini Ramon melanggarnya.


Merekapun melaju menuju Irbid terlebih dahulu yang kurang lebih memakan waktu satu jam dari Aman, barulah sampai di Jarah setelah memakan waktu 15 menit.


Mereka tak menyangka hari itu sangat ramai sampai sulit mencari tempat untuk parkir.


"Kamu jangan jauh-jauh dariku nanti hilang"


ucap Ramon kuatir,


Ternyata jam lima sore nanti ada konser musik dan sekarang ini banyak stand yang mempromosikan produknya masing-masing.


Mereka takjub dengan keindahan puing reruntuhan Romawi kuno yang berjejer rapih.


Angin yang agak kencang menebarkan debu-debu menambah suasana menjadi lebih Romantis. Menyusul hujan rintik- rintik untuk sesaat, membuat pemandangan terasa lain lagi.


Banyak Turis manca negara memburu beberapa stand, ada yang sibuk berselvie, ada juga Turis lokal yang berkenalan dengan Safhira.


Suasana sore itu sangat ramai tapi tak mengurangi keindahan arsitektur Romawi kuno yang menakjubkan.


Kertas bertuliskan nomor itu masih aman didalam tas belum sempat Ira lihat karena menghargai Ramon yang berada disampingnya, sungguh pintar Turis lokal yang bernama Sameh itu berkenalan dengannya tanpa disadari oleh Ramon .


Ira terkesima dengan sepasang mata Sameh yang berwarna hijau, perawakan tinggi, dan ototnya yang agak berisi, juga penampilannya yang keren membuatnya meleleh.


Ramon menggiring kekasihnya ke Gelanggang karena pertunjukan gambusnya sebentar lagi akan segera dimulai disana.


Tak disangka manusia berjejal-jejal disana, beruntung mereka dapat tempat yang bagus.


Lampu tersorot dimana- mana suasana menjadi terang seketika dan sekali lagi mata Ira beradu dengan Sameh ini sungguh suatu kebetulan yang indah pikir Ira tak melepaskan pandangannnya kepada Sameh. Dibarisan sebrang sana dengan posisi yang menguntungkan itu Sameh membuat isyarat "Call me " kepada Ira


dan Ira segera mengacungkan jempolnya sebagai isyarat "ok"

__ADS_1


Kali ini gadisnya tergoda oleh pria lain dan Ramon masih tidak menyadarinya.


Malam semakin gelap Ira mengajak Ramon untuk segera pulang takut kemalaman sampai Mes.


Ramon setuju merekapun berlalu meninggalkan konser yang belum selesai itu.


Dalam perjalanan pulang mereka membahas tentang keindahan pemandangan yang barusan beserta hiruk pikuknya.


"Sebenarnya saya enggan mengantarmu ke Mes, masih ingin berduaan lebih lama lagi denganmu."


Ucap Ramon, berharap Ira paham akan maksudnya menginap di Hotel.


Namun Ira yang sangat polos tidak mengerti hanya mengucapkan terimakasih setelah sampai depan Gerbang.


"Terimakasih banyak sayang, udah ngajak aku kencan hari ini, bye,,,"


Kemudian melambaikan tangan dan berlalu.


Ramon kecewa untuk kesekian kalinya karena gadisnya selalu tak mengerti dengan keinginannya.


Sementara Ira dikamarnya masih bingung dengan nomor itu.


"Ini tidak benar walaupun Turis yang mengaku bernama Sameh itu rupawan aku tak tahu sifat aslinya sedang Ramon karuan baik dan sopan" gumamnya.


Begitulah hubungan Safhira dan Ramon hanya sekedar taaruf tanpa harus bersentuhan.


Ramon selalu sabar menanti dan menghormati gadisnya itu sampai pada waktu dimana ia mendapat Informasi mengenai kepulangan Ira ke Indonesia yang tidak sampai seminggu lagi, membuatnya hilang akal menjadi egois dan ingin memiliki kekasihnya seutuhnya dengan mengajak ke Hotel.


Namun keyakinan gadis Muslimnya itu malah membuat Ramon semakin serius dengan hubungannya dan memutuskan akan menyusulnya ke Indonesia untuk melamarnya nanti.


Demi mewujudkan impiannya Ramon terus menabung bahkan bekerja sampingan selepas pekerjaan kantor berharap uangnya cepat terkumpul.


Sementara itu Ira sudah sampai ditempat Ayahnya, Pamanukan.


Kontrakan yang sederhana terdapat empat ruangan dan salah satunya menjadi kamar Ira. Ia memilih kamar depan dengan jendela yang besar sehingga sinar mentari bisa masuk dengan baik dibanding dengan kamar lainnya yang pengap dengan jendela yang minimalis.


Malam itu Ira sulit memejamkan mata karena udara disana sangat panas dan segerombol nyamuk yang nakal , bahkan kipas angin tidak sanggup mengusir kenakalan nyamuk-nyamuk itu.


Seperti biasa Ira bangun kala mendengar bedug subuh kemudian segera Mandi dan berwudhu untuk mengerjakan kewajibannya sebagai seorang Muslim.


Sementara Sakti dan Bima masih ngorok begitupun pak Cecep.


Ira belum membangunkan mereka. Ia masih teringat Sakti yang waktu itu masih SMA, murid paling mini dikelas sepuluh jika dibandingkan dengan versi yang sekarang seperti miracle saja, Sakti menjadi tinggi hanya dalam waktu beberapa tahun saja tidak bersua, menjadi lebih tampan dengan hidung mancung, mata agak sipit warisan dari Ayahnya dan kulitnya yang bersih itu lebih terlihat seperti keturunan Tionghoa.


Begitupun Bima yang memiliki bibir yang seksi dan tingginya diatas rata-rata untuk anak kelas lima SD, juga hidungnya yang pesek itu menambah keimutan tersendiri. Seingatnya Bima juga berkulit bersih kenapa sekarang menjadi kecoklatan, apa mungkin karena sering mengejar layangan?pikirnya.

__ADS_1


Tepat jam 6 Bima bangun dengan sendirinya, mandi dan bersiap untuk pergi kesekolah.


"Tok...tok..."suara pintu diketuk.


Ira segera membuka pintu, ternyata seorang gadis berseragam SMP menyerahkan tiga bungkus nasi uduk yang masih hangat kemudian berlalu tanpa meminta bayaran.


"Siapa itu Bim?"


"Itu Riris, anaknya pacar Ayah, tiap pagi nganterin nasi uduk gratis Teh"


Jawab bima sambil mengambil sebungkus dari genggaman kakaknya itu untuk ia santap.


"Eteh anter kamu ke Sekolah ya, sekalian jalan-jalan keliling kampung."


Merekapun berangkat bersama menyusuri Gang-gang kecil dan sebentar saja sudah sampai di Sekolahan.


Bima menyalami kakak perempuannya itu dan bergabung dengan teman-temannya.


Melihat hal itu Ira tersenyum setidaknya Bima masih ceria ditengah broken home, sedang dirinya merasa sedih dengan nasib Ayahnya yang kesepian di usia senja.


Entah apa yang merasuki Ibu malaikatnya menjadi Raja tega seperti itu.


Ada apa sebenarnya?


Tapi Ira enggan menanyakannya sebelum Ayahnya bercerita sendiri,


Toh nasi sudah menjadi bubur.


Ira mengelilingi kampung dan kembali ke kontrakan setelah pukul 08.00.


Dihalaman terlihat Sakti sudah bersiap dengan pakaian rapi menunggangi motor bebek.


"Mau kemana ?" tanya Ira


"Cari sarapan Teh"


Jawab Sakti dan berlalu dengan motor bebeknya itu.


"O Iya tadi Nasi uduknya cuma tiga bungkus,"


gumam Ira kemudian masuk kedalam. Ia melihat ayahnya sedang menikmati sarapan sambil menonton berita, kemudian Ira menghampirinya sambil membawakan segelas air putih.


"Hari ini lu ikut sama Sakti, belajar ngurus koprasi, Ayah udah gak kuat bawa motor, kalo lu dah ngerti nanti lu yang nerusin biar Sakti cari kerjaan laen"


Ungkap Cecep menjelaskan pada puteri semata wayangnya itu, Cecep yakin pada Ira yang mempunyai bakat bisnis seperti dirinya dibandingkan Sakti yang belum ada kemajuan setelah beberapa tahun mengelola bisnis itu.

__ADS_1


__ADS_2