
Sesampainya di Rumah. Safhira membantu Bos menurunkan beberapa barang-barang belanjaan yang beratnya sesuai dengan kemampuannya.
Kemudian Safhira menaruhnya ketempat yang semestinya.
Dr,,,e,,,,t ,,,
Ponsel Ira bergetar, kemudian diangkatnya telpon yang bertuliskan Ayah di Layar ponselnya.
"Assalammualaikum"
"Waalaikumsalam. Gimana kabar Ayah?"
"Alhamdulillah sehat. Lu sekarang dimana Ra? Ayah sekarang lagi di Monas. A Jajat kerja disini,"
"Kerja di Kedai pecel ayam Yah,"
"Usahain kesini Ra. Nanti dijemput kalo udah turun dari Busway."
Pintanya. Lalu mengirimkan SMS yang berisi rute tujuan dari tempat Ira sampai ke Monas."
"Iya Yah. Ira minta ijin dulu sama Bos."
Ada apa batin Ira. Terakhir kali ketemu masih di Pamanukan. Sekarang sudah berada di Monas. Bahkan Ia sempat mencari ke Sukabumi, sungguh ia tak mengerti dengan ayahnya yang bisa berada dimana-mana dalam waktu yang singkat.
Terus Sakti dan Bima bagaimana keadaanya? apa ikut serta dengan ayah, atau masih di Pamanukan? kalau masih di Pamanukan siapa yang mengurus? juga usaha Koperasinya bagaimana? sungguh tadi Ia lupa untuk menanyakannya.
Sekarang ia harus meminta ijin kepada Bosnya itu untuk menemui ayahnya segera. Karena perintah Orang Tua sungguh tak bisa diabaikan dan harus dilaksanakan sesegera mungkin seperti yang diperintahkan ayahnya untuk datang. Ya tentunya ia harus segera datang.
Mami saat itu sedang mencuci lalapan untuk dagangan.
"Maap mih. Nanti sore aku mau minta ijin, karena ada urusan keluarga yang mendesak, "
"Urusan apa Ra?kalo boleh Mamih tahu?"
"Ayah Ira lagi di Monas pengen ketemu katanya Mih,"
"Oh ya udah Mamih ijinkan, salam buat Ayahmu"
Kata Mamih Bos sambil memberikan sejumlah uang diluar Gaji dan Bonus,
Ira semakin sungkan menerimanya karena terlalu sering diberi.
__ADS_1
"Nggak usah mih. Ira terlalu banyak hutang budi sama Mami"
Tuturnya sambil menyerahkan kembali sejumlah uang tersebut kepada Mami Bos.
"Kalo Kamu gak mau terima berarti Kamu menghina Mami. Kasilah aku muka sama ayahmu. Setidaknya buat beli buah tangan dijalan."
Safhira tak kuasa untuk menolak lagi karena Bosnya sudah berbicara begitu.
Ia segera Pergi ke Kamar Mandi untuk membersihkan diri. Lalu menyiapkan beberapa helai pakaian untuk ganti. Berjaga-jaga kalau seandainya nanti keadaan memaksanya untuk tinggal.
Saat itu ia mengenakan gamis abu-abu yang diserasikan dengan hijab, tas, sepatu, dan jam tangannya juga begitulah style dirinya agar terkesan moodis walau berbalutkan gamis.
Setelah dirasa Ok. Ia segera berpamitan kepada Bos dan yang lainnya.
"Biar Pale yang mengantarmu sampai tempat Busway"
kata Mami, sambil memberikan kode kepada anak sulungnya itu.
Pale pun segera memasangkan helm untuk Ira tanpa di minta.
Sejurus kemudian Mereka sudah sampai dilokasi yang dimaksudkan.
"Sama-sama Mbak. Hati-hati di jalan"
Pale pun melambaikan tangan kepada Ira. Gadis itu tersenyum kepadanya kemudian berlalu sampai tak terlihat lagi karena menaiki Jalan Layang untuk dapat masuk Rute Busway.
Sebenarnya Pale berharap pada Safhira untuk menoleh kebelakang tadi saat akan menaiki tangga. Hanya sekedar untuk memastikan perasaan Gadis itu. Tapi nihil. Pale sedikit kecewa tapi bukankah cinta tak dapat dipaksakan?
Saat itu Ira tak banyak berpikir ia hanya fokus pada tujuannya berjalan lurus kemudian menaiki anak tangga lalu melintasi Jalan layang yang mulai menua ditandai dengat besi yang mulai berkarat disertai lubang-lubang kecil. Ia jadi berhati-hati saat melangkahkan kakinya. Tak peduli pada pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya maupun pengamen yang menembangkan sebuah lagu dengan suara fals yang serak tetapi tetap percaya diri demi mengais rejeki.
Sesaat Ira berhenti. Ingin melihat pemandangan dari atas.
Sungguh mengerikan bagaimana kalau Jembatannya roboh. Ia jadi takut dengan angan-angannya sendiri lalu mempercepat langkahnya. Ingin segera sampai ke ujung Jembatan.
Sesampainya di ujung ia turun menapaki satu persatu anak tangga dan akhirnya mulai memasuki Halte lalu menunggu Busway sesuai rute yang ditujukan.
Kebetulan Bus yang ia naiki sangat padat. Mau tidak mau Safhira harus berdiri walau sebenarnya ia sangat tidak suka bejejal-jejal apalagi sampai mencium bau ketingat yang menyengat seperti yang sedang ia alami sekarang. Dari sebelah kiri dan kanan entah siapa dari kedua orang tersebut yang mengeluarkan bau tak sedap.
Kepalanya jadi pusing dan mual, tapi ia harus tahan sampai Halte berikutnya.
Setelah pintu terbuka Ira setengah berlari menerjang pintu itu lalu mengambil napas yang panjang setelah keluar dari Bus.
__ADS_1
Ia masih harus transit dua kali lagi.
"Semoga aku kebagian tempat duduk untuk Bus berikutnya "
Gumamnya. Tanpa ia sadari terdengar oleh seseorang yang sedang berdiri disebelahnya. Terlihat sama-sama bersiap menaiki Bus yang sama.
Sekali lagi Safhira kebagian berdiri. Ingin ia mengumpat tapi percuma saja tak akan merubah keadaan. Ira terlihat mulai mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan kemalangan yang menimpa dirinya saat ini.
Safhira tak menyadari kalau seorang pemuda berkacamata, berperawakan tinggi kurus yang tadi berdiri di Halte yang sama mendengar gumamannya. Ia tak mengira sedang diperhatikan.
Karena kasihan dengan Ira. Ia menawarkan untuk bertukar tempat.
"Silahkan kamu duduk ditempat Saya. Biar saya yang menggantikan kamu untuk berdiri,"
"Terimakasih"
Ucap Ira kepada pemuda berkulit putih dan berambut klimis dengan belahan pinggir itu. Sambil mengembangkan senyum termanis yang Ia miliki. Akhirnya ia bisa berbahagia untuk sesaat menikmati perjalanan tanpa harus lelah berdiri.
Sesekali Ira mencuri-curi pandang pada pemuda itu. Yah lumayan tampan apalagi ciri khas tahi lalat disudut bibir bawah sebelah kanannya memunculkan kesan seksi. Ya Pria seksi batinnya. Sampai akhirnya pandangan nereka beradu. Seketika ia tersipu melihat senyum manis mengembang dari pemuda itu. Hatinya menjadi berbunga-bunga. Ingin ia menyapa sekedar ingin tahu namanya. Tapi gengsinya yang tinggi itu menahannya karena pantang bagi dirinya untuk memulai duluan pada seorang pria.
Sedang pemuda yang berdiri dihadapan Ira sedari tadi memperhatikannya dan merasa lucu dengan tingkah polah Safhira yang terkesan lugu dan polos. Ia penasaran dan ingin lebih mengenal Ira lebih dalam lagi. Juga berencana akan menyapanya nanti setelah sampai di Halte.
Waktu yang di tunggupun tiba. Pintu Bus terbuka dan semua penumpang berdesak-desakan ingin segera keluar dari sana.
Di Halte Ira menunggu Bus terakhir yang akan membawanya ke tujuan akhir.
Pria tadi segera mengejar Ira. Takut kehilangan jejak sebelum meminta nomor ponselnya.
"Hai Nama Saya Doni,"
Betapa terkejutnya dirinya melihat pemuda yang tampan tadi, menyebutkan nama dan mengajak bersalaman. Irapun tak ingin menyia- nyiakan kesempatan ini tapi tetap dengan prinsipnya tak berjabatan tangan, tapi segera menyahut.
"Nama Aku Safhira,"
"Boleh saya menyimpan nomor ponselmu?"
"Tentu,"
Ira segera memberikan nomor ponselnya. Tapi sangat disayangkan Busnya sudah datang dan ia segera meninggalkan Doni menaiki Bus tujuan terakhirnya itu.
.
__ADS_1