Apa Itu Cinta

Apa Itu Cinta
Satria Erlangga


__ADS_3

Hati Ira bagai disambar petir. Dadanya terasa amat sesak. Sungguh sakit rasanya dan ia tak dapat membendung air mata yang tanpa permisi mengalir begitu saja.


Ia sungguh tak mengerti dengan pemikiran ayahnya itu.


Safhira merangkul pundak Bima yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Yapi Bima seorang anak laki- laki yang tegar. Walaupun keadaan begitu sangat memprihatinkan tapi ia bisa menutupinya dengan senyuman.


Bima membalas menepuk-nepuk punggung Kakak perempuannya itu.


"Udah Teh jangan nangis."


Ujarnya. Tapi Safhira masih sesenggukan. Belum bisa meredam gejolak emosi dari kesedihan yang dirasakan.


"Nangis gak nyelesein masalah Teh. Ayo kita cari solusinya, biasanya Ayah paling nurut sama kata-kata Teteh."


Tuturnya lagi. Menghibur Kakak Perempuannya itu agar berhenti menangis. lalu ia meraih gelas yang berisi air putih yang ada di atas meja untuk diberikan kepada Ira.


Ira segera meminumnya. Memang menangis membuat tenggorokannya kering kerontang, setelah minum otaknya mulai perlahan mendingin dan sesenggukanpun terhenti begitupun perasaanya mulai berangsur membaik. Ternyata segelas air putih sangat bermanfaat.


Safhira merasa letih dan ingin merebahkan diri. Tapi tak ada tempat yang memungkinkan kecuali Mushala yang berada disebelah warung.


Ira segera mengajak Bima ke Mushala dan berpesan padanya agar menunggunya saat tidur. Sekedar jaga-jaga kalau terjadi hal yang tak diinginkan. Karena kalau sudah tidur dirinya memang menjadi seperti mayat tidak akan sadar apapun.


Ia benar-benar kelelahan. Bima memperhatikan Kakak perempuannya yang langsung tergolek kurang dari setengah menit itu.


Ia menjadi teringat kemasa lalu saat Safhira baru Lulus SMA dan langsung dapat pekerjaan disebuah Toko pakaian sebagai SPG. Gajih pertama yang didapat diberikan kepada ayah. Dan dirinya dibelikan beberapa setel pakaian yang bergambar Naruto. Kartun favoritnya pada waktu itu. Sungguh ia sangat gembira sampai terkenang hingga sekarang momen yang membahagiakan itu. Ia tahu kalau Kakak perempuanya itu sangat menyayanginya.


Nalurinya sebagai Lelaki membuatnya berangan-angan. Kalau sudah Lulus sekolah SMA nanti ia akan bekerja dan uangnya akan digunakan untuk membahagiaakan yyah dan kakaknya itu, tapi masih sangat lama pikirnya


sambil menopang dagu.


Waktu terus berlalu sampai akhirnya jam menunjukkan jam empat sore. Bima mulai jenuh dan berniat untuk membangunkan Safhira yang tertidur pulas tanpa menyadari Orang yang keluar masuk sedari tadi untuk beribadat. Untung saja Kakaknya itu memilih posisi tempat yang tepat sehingga tidak mengganggu kegiatan peribadatan ditempat itu.


Ternyata Kakak perempuannya itu belum berubah. Masih sama seperti dulu kalau tertidur seperti Orang Mati. Bahkan suara Orang yang Sallat berjamaah tak terdengar olehnya.

__ADS_1


Untung ia menjaganya kalau tidak entah apa yang akan terjadi, batinnya.


Sesaat kemudian Ira bangun dan lamat-lamat diliriknya jam tangan karet berwarna Abu-abu bermerek QQ itu menunjukkan pukul empat lebih lalu terperanjat kemudian mendekati Bima.


"Kok Eteh gak dibangunin sih Bim. Waktu Ashar jadi kelewat. Pasti banyak Orang yang ngeliat Eteh tidur tadi,"


ujar Ira mengerucutkan bibirnya sambil bersidakap .


"Habis Eteh nyenyak banget tidurnya Bima jadi gak tega ngebanguninnya. Lagian tadi sepi pengunjung kok paling gak nyampe sepuluh orang kok Teh,"


jawab Bima menjelasakan dengan enteng agar Kakak perempuan kesayangannya itu berhenti mengomel.


"Tungguin barang-barang. Eteh mau mandi."


Ucap Safhira sambil mengambil pakaian untuk ganti tapi tanpa Ia sadari tak membawa perlengkapan untuk mandi.


"Bim beliin Sikat gigi, odol, sabun sama syampo Merk T ya,"


Perintahnya kepada Bima sambil memberikan sejumlah uang.


"Gak apa-apa Eteh tunggu disini ya."


Bima mengangguk kemudian berlalu.


Ira merasa gerah karena keringat yang mulai terasa lengket karena belum mandi.


Walau dirasa kurang nyaman tapi ia mengambil wudhu dan melaksanakan Sallat Ashar, karena mungkin akan memakan waktu yang lama untuk menunggu perkengkapan mandi tiba.


Akhirnya ia bosan menunggu terlalu lama dan mulai teringat dengan ponsel yang berada didalam tas Abu - abu lalu merogohnya dan segera memeriksa kalau-kalau ada panggilan atau SMS yang masuk.


Ternyata Ia menemukan sebuah panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal beserta SMS.


"Hi. Apa kabar Safhira?

__ADS_1


salam kenal. Doni."


Ternyata nomor tak dikenal itu berasal dari Doni. Pria yang ia jumpai di Busway dilihatnya waktu panggilan masuk menunjukan jam dua siang, saat dimana Ira sedang tertidur lelap.


Ira segera membalas, tapi ia ragu- ragu untuk menyebut Apa kepada Doni karena Ia tidak tahu persis siapa yang Lebih Tua diantara mereka. Hanya mengira- ngira saja. Seumuran atau hanya selisih setahun atau dua tahun.


"Hi juga. Alhamdulillah Aku baik, kamu sendiri apa kabar?"


Sekejap saja balasan sudah masuk, Ira tersenyum sendiri, entah mengapa hatinya berbunga-bunga membaca pesan dari Doni.


"Aku sehat, Kamu lagi ngapain?"


"Aku lagi balas SMS Kamu,"


"Kamu lucu banget. BTW Kamu kelahiran tahun berapa?maap kepo."


"Aku kelahiran 1989. Kamu sendiri,"


"Aku kelahiran 1988, wah karena kamu lebih muda dari aku, mulai sekarang Kupanggil adek ya,"


"Boleh, Ku juga panggil Kau Abang deh,"


"Kalo boleh tahu Adik asli dari Daerah mana?"


"Ira dari Sukabumi Bang, pernah kesana kah?,"


"Belum Dek. Tapi salah satu anggota Keluarga jauh Abang ada yang punya vila diPuncak. Dari sana jauh gak ke Sukabumi?"


Sebenarnya vila tesebut milik ayahnya tapi ia tidak mau kalau sampai ira berpikir itu milik ayahnya. Ia tidak ingin jati dirinya diketahui publik termasuk apalagi Seseorang yang baru saja Ia kenal. Ia sangat privasi mengingat Ia Anak semata wayang dikeluarganya. Ia harus melindungi diri dari musuh saingan bisnis Ayahnya dengan cara menyamar menjadi orang sederhana agar tidak mencolok.


Memang sejak lahir Identitas Doni dirahasiakan dari Publik oleh Ayahnya bahkan dari Keluarga besar Erlangga sendiri karena memang di dalam Anggota Keluarga itu ada yang serakah dan menghalalkan segala cara untuk berebut harta warisan.


Tidak termasuk Ayahnya yang bernama Satria Erlangga. Sering sekali mendapat serangan dari Orang yang tak dikenal. Termasuk salah satu dari tragedi kecelakaan berencana yang terjadi beberapa tahun silam saat sebelum Doni lahir, membuat Satria mengalami patah tulang ringan pada kakinya, dan sekarang telah pulih walau belum sembuh total.

__ADS_1


Semenjak kejadian itu Ia memperketat penjagaan dan merekrut bodyguard terbaik untuk mengantisipasi hal serupa atau yang lebih buruk lagi.


"Gak ngerti Bang. Adek malah belum pernah ke Puncak padahal si harusnya deket dari Sukabumi, tapi emang seringnya plesiran ke Pelabuhan Ratu kalo pas liburan itupun dulu banget waktu masih kecil, di Cisolok ada keluarga jauh yang tinggal disana tepatnya deket pemandian air panas umum Bang."


__ADS_2