
"Bye,,,"
Kata terakhir yang ia ucapkan kepada Doni, lalu Pemuda itu menyimpan Nomor Safhira dan berencana untuk menghubunginya nanti. Karena untuk saat ini ia takut mengganggu Ira yang terlihat masih dalam perjalanan.
Doni adalah seorang Mahasiswa dari salah satu Universitas Swasta. Hari itu ia tak ada mata kuliah yang harus diikuti. Ia sangat populer diKampus tentu saja karena kecerdasan dan ketampanannya. Tanpa ada yang tahu bahwa ia juga sangat Kaya. Karena Doni tidak pernah menunjukannya. Selalu rendah hati dan bergaya hidup sederhana dibalik kacamata silindernya. Termasuk semua atribut yang ia kenakan. Ditambah tak pernah ada Body guard yang mengikutinya terlebih ia tak pernah menggunakan kendaraan pribadi. Kemana-mana selalu menggunakan kendaraan umum. Sama sekali tidak akan ada yang mengira kalau Doni adalah Orang Kaya.
Seperti janji Cecep kepada Putri semata wayangnya untuk menjemput di Lokasi yang telah disepakati. Ia segera memerintahka Putra angkatnya untuk segera berangkat ke Halte .
"Jat. Ira sebentar lagi sampai. Kamu cepat jemput dia."
Katanya setelah membaca SMS dari Putrinya itu sambil melirik jam tangan bermerk Seiko yang sering ngaco karena sudah terlalu Tua tapi tetap kinclong, bukti dari sang pemilik yang merawatnya dengan baik, mungkin waktunya mengganti yang baru tapi Cecep tak pernah ingin menggantinya karena jam itu hadiah dari Seseorang yang sangat ia Cintai.
Drajat dan Truk tangkinya sudah standbye menantikan kedatangan adik angkatnya itu, sembari terus memantau dan memperhatikan lalu lalang orang- orang yang keluar dari Halte.
Tak lama ia dapat menemukan Safhira keluar dari Halte. Tapi tidak melihat kearahnya, malah berbelok menuju pohon rindang dipinggir jalan, terlihat pedagang kaki lima disana yang sedang berjualan aneka macam buah-buahan.
Drajat ingin menyusul Safhira tapi takut ada petugas yang menegurnya karena parkir sembarangan karena posisinya saat ini tidak ada lahan parkir husus. Ia sedikit cemas kalau- kalau apa yang ia kuatirkan menjadi kenyataan. Akhirnya ia segera menelpon Ira.
Saat sedang memilih buah-buahan tiba-tiba ponselnya bergetar. Iapun segera mengangkatnya setelah melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.
"Halo A,"
sapa Safhira. Tanpa basa-basi Drajat to the point.
"Aa didalam Truk tangki diseberang Jalan ."
Tuturnya kemudian memutus panggilan.
Ira segera menoleh kearah sebrang dan menemukan apa yang ia cari. Kemudian segera memilih beberapa buah-buahan juga membayarnya dan berlalu tanpa peduli akan kembalian dari uang lebih belanjaanya saking terburu-buru.
__ADS_1
Sangat sulit baginya untuk menyeberang karena lalu lintas kendaraan yang padat itu nyaris tidak ada celah untuknya menerjang aspal tersebut. Sungguh ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak berani menyeberang ditengah seliweran kendaraan .
Sampai sesaat kemudian ada seseorang yang akan menyeberang seperti dirinya. kesempatan ini ia gunakan untuk mengikutinya menyebrang dengan perasaan was- was mengikuti Orang tersebut, mungkin traumanya yang sangat besar membuatnya takut akan laju kendaraan, dan akhinya sampai ditepian trotoar dengan selamat.
Safhira segera menaiki Truk tersebut walau dirasa agak ribet baginya dengan fisiknya yang minimoi itu.
Drajatpun segera tancap gas setelah Ira duduk manis disebelahnya. Takut kalau ada petugas yang memberinya SP.
"Gimana kabar Lu Ra?"
Tanya Kakak angkatnya itu tanpa melirik. Tetap fokus pada stirnya.
"Alhamdulillah. Sehat A, sekarang Aa gemukan, tapi kenapa sekarang agak iteman."
Jawab Ira sambil memperhatikan Kakak angkatnya yang sekarang memang lebih berisi. Terlihat dari pipinya yang terlihat cabi tetapi penampilannya sekarang lebih rapih walau agak sedikit lebih gelap warna kulitnya.
Jawabnya dengan nada datar dan masih terus fokus menyetir tanpa menoleh.
Ira enggan bertanya lagi dan membiarkan Drajat menyetir dengan tenang.
Begitulah perjalanan kali ini dilalui tanpa obrolan yang terdengar hanya suara mesin truk yang berdentum nyaring dan pemandangan Ibu Kota yang carut marut menurutnya.
Setelah memasuki kawasan Monas Drajat memarkir Truknya dan menuntun Safhira untuk bertemu dengan Cecep.
Syukurlah. Mereka sudah dapat segera berkumpul karena Cecep dan Bima ternyata sedari tadi menunggu di Gerbang dekat Parkiran. Ira dan Drajat segera menghampiri mereka.
Cecepun lega dengan kemunculan anak gadis dihadapannya itu.
Tanpa terasa Matahari sudah sangat terik rasanya berada tepat sejengkal diatas kepala.
__ADS_1
Kemudian Bima menuntun Safhira menyusuri jalan setapak yang dikanan kirinya berjejer rapi pepohonan rindang, dan tiap beberapa meter ada kursi panjang dari besi yang sengaja disediakan untuk pengunjung.
Tapi Ira masih belum mengerti sebenarnya ini Hutan Kota ataukah hanya sebuah Taman Kota. Ia sangat gengsi untuk bertanya kepada Bima yang baru kelas lima Sekolah Dasar. Takut dianggap bodoh oleh adik Laki- lakinya itu.
Setelah sampai di ujung jalan disana terdapat Mushala dan Warung makan.
Kesempatan ini ia gunakan untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai Muslimah. Ia mengajak Bima untuk Sallat berjamaah tapi Ira tidak bisa memaksa akan penolakan adik bungsunya yang nakal itu.
Mukena umum yang ia kenakan sudah dilipat dan diletakan ketempat semula. Lalu melangkah mengikuti Bima menuju warung makan yang tepat berada disebelah Mushala.
"Ayo Teh pesen apa aja terserah. Semuanya masuk bon A Jajat."
Tutur Bima menjelaskan. Irapun tidak sungkan memesan satu porsi nasi dengan lauknya sambal goreng ati juga serundeng Ayam. Sedang Bima satu setengah porsi nasi ditambah pepes Ikan Nila dan semangkuk sayur sop.
Tidak heran kalau napsu makan Bima begitu besar. Sesuai dengan badannya yang bongsor jika dibandingkan dengan kedua Kakaknya yang kerempeng itu. Sungguh masa pertumbuhan bagai ulat yang menyantap habis dedaunan sebuah pohon dalam sekejap.
Sedang Ira merasa kenyang sebelum menyentuh makanan miliknya karena memperhatikan adiknya yang sedang makan dengan rakusnya.
Tapi ia harus makan untuk mengisi energinya yang telah terkuras. Sisa makanan yang tak ia habiskan secepat kilat disambar oleh Bima.
Ira terkekeh dan mengelus rambut adiknya dengan lembut. Ia memang sangat memanjakan Bima tak pernah sekalipun membentak apalagi memarahi.
Ia masih bertanya-tanya dengan tempat tinggal Mereka sekarang. Bima malah mengajak makan disana, tidak segera mengajak ke tempat tinggal yang sekarang. Sungguh ia teramat lelah dan ingin segera berbaring untuk beristirahat. Lalu bertanya pada Bima.
"Bim Teteh capek. Pengen tiduran"
ucapnya memelas. seketika air muka bima menampakkan rasa iba sambil menundukkan kepala, tapi melihat Kakaknya yang terlihat kelelahan ia segera Ceria menutupi sesuatu.
"Sebenernya Kita disini jadi Gembel Teh, tidur disekitaran Gerbang Monas itupun pada malam hari setelah Gerbang digembok, ngampar spanduk bekas buat alas tidur di tegah jalanan aspal, sebenernya A Jajat nawarin buat ngontrak tapi Ayah gak mau, katanya begini udah nyaman."
__ADS_1