
Malam ini Safhira langsung tidur begitu sampai dikamarnya begitu pula Cathy.
Mungkin karena mereka kelelahan setelah melayani pesanan pelanggan dan memang sore itu luar biasa teramat laris, tapi malah cepat pulang jam sepuluh dagangan ludes des.
Biarpun lelah tetap bisa beristirahat lebih awal.
Seperti biasa, walau badannyaterasa nyeri semua sampai ketulang-tulang Ira tetap bangun subuh untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim, dan sehabis itu mengerjakan pekerjaan Rumah.
Setelah sikembar berangkat kesekolah barulah Ia bisa menyambung istirahatnya sampai tengah hari.
Akantetapi ini weekend pertama Ira setelah beberapa hari bekerja di kedai sida mampir itu.
Pagi itu Cathy masih malas-malasan, setelah Sallat subuh lanjut tidur lagi.
Melihat Cathy yang masih lugu itu Ira menjadi terkenang akan masa Sekolah dulu. Ia masih teringat saat dirinya masih Sekolah kelas tujuh.
Kala itu Safhira masih sangat tomboy dengan rambut menyerupai anak laki-laki bahkan belum berhijab. Ira mulai berhijab setelah kelas sembilan.
Waktu dimana Safhira masuk ke kelas tujuh C, dimana disana berkumpul anak-anak dengan kecerdasan Rata-rata, untung saja Safhira tidak harus masuk ke kelas F, dimana Guru sering absen mengajar dikelas itu. Adapun Guru yang keluar setelah mengajar dari kelas F pasti memegang dahinya.
OMG banget lah, kelas terkacau sepanjang sejarah di SMP percontohan itu.
Sampai-sampai kepala sekolah harus turun tangan untuk mendisiplinkan mereka semua, sungguh luar biasa.
Tapi apa boleh buat Sahabat Ira yang bernama Wulan berada di kelas F otomatis temannya itu sangat tidak mengerti pelajaran bahkan untuk mengerjakan PR dikerjakan disekolah menjiplak jawaban temannya, padahal jawaban temannya itu asal-asalan saja, sehingga sama-sama mendapat nilai buruk, kelas F memang terkenal dengan rekor Remedial terbanyak bahkan hampir semua murid dikelas itu.
Tapi Safhira tetap menjaga persahabatan tanpa mempermasalahkan perbedaan nilai prestasi Akademis, seperti biasa Mereka berangkat dan pulang Sekolah bersama-sama karena memang Rumah Mereka berdekatan.
Pagi-pagi Ira sudah menghampiri Rumah Wulan untuk berangkat kesekolah bersama-sama.
Wulan memang sangat lamban. Ira takut sekali kesiangan karena Wulan belum mandi saat dimana dirinya sudah rapi dan siap untuk berangkat.
Pagi itu Ira memutuskan untuk berangkat sendiri tanpa Wulan, takut kesiangan terlebih SMP tempat Ia bersekolah sungguh disiplinnya sangat ketat, mungkin karena dijadikan percontohan oleh Sekolah lain.
"Lan Aku berangkat duluan ya takut kesiangan"
__ADS_1
"Sebenernya Aku pengen kita berangkat barengan, tapi ya udahlah daripada kamu dihukum gara-gara Aku gak apa-apa kamu pergi duluan. Aku mau mandi dulu." Tuturnya sambil berlalu meninggalkan Ira.
Irapun segera pergi dari Rumah itu.
Saat baru keluar dari Gang sempit yang menuju ke Jalan Poros ia melihat Kakak kelas. Tepatnya kelas sembilan, berada didepannya hanya beberapa langkah darinya.
Ia segera mempercepat langkahnya untuk menyusul Derlan.
"Kak Derlan.tunggu!"
sergahnya dengan nafas terengah -engah, Derlan yang mendengar namanya disebut seketika menghentikan langkahnya dan menoleh kearah dimana suara itu berasal.
"Oh kamu Ra. Tumben sendirian?biasanya bareng sama Wulan"
"Kemarin Aku dihukum sit up gara-gara nungguin Dia buat berangkat bareng, eh malah kesiangan, hari ini kutinggalin aja daripada kena hukum lagi"
"Oh ya udah kalo gitu mulai besok Kakak yang bakal nyamperin kamu duluan, biar kita berangkat bareng lagi"
"OK kakak"
Sepanjang perjalanan tidak banyak yang dibicarakan, mengingat Derlan itu Orang yang pendiam. Mungkin karena kakinya yang sedikit agak leter O itu sering dijadikan bahan lelucon oleh beberapa Murid di Sekolah.
Tapi nilai plus yang dimiliki Derlan adalah kecerdasan dan ketampanannya. Ia dinobatkan sebagai murid teladan karena nilainya paling tinggi dan populer dikalangan para siswi walau kakinya sedikit agak leter O tapi memiliki postur badan yang tinggi dan menjabat sebagai ketua Osis.
Setelah sampai disekolah Mereka berpencar ke kelas masing-masing.
Sesampainya dikelas ia dihebohkan oleh ulah teman sebangkunya yang sedang membacakan sepucuk surat cinta di depan kelas.
"Kau bagaikan bunga yang sedang mekar bla...bla...bla..."
yang diakhiri dengan" I love you"
Dari Riky untuk Safhira."
Ira yang tidak mengerti apa-apa itu merasa sangat risih dengan sorak-sorai seluruh murid yang ada di kelas itu yang ditujukan kepadanya.
__ADS_1
Setelah selesai membacakan surat. Hanifah memberikan sepucuk surat cinta itu kepada Ira sambil tersenyum, tapi Ira menolaknya karena malu.
"Apaan sih Fah "
tolak Ira sambil menampik surat yang dipegang Hanifah itu, tapi ia tak kehabisan akal dan memasukan surat tersebut kedalam tas milik Ira.
"Ini Aku masukin kedalem tas mu buat kenang-kenangan, siapa tahu Kamu penasaran sama tulisan tangan Riky. Tuh liat dia lagi ngeliati kamu"
Safhirapun menoleh ke arah Riky. Saat pandangan mereka beradu ternyata Riky malah malu untuk mengangkat wajahnya yang memerah dan terus menunduk sampai Ira berpaling kemudian. Karena Sang Guru sudah tiba untuk segera memulai aktifitas belajar mengajar dikelas itu.
Ya itu surat Cinta pertama yang Safhira dapat, tapi untuk ungkapan Cinta ada dua nama laki-laki yang mendahului Riky. Yaitu saat Ia berada di kelas tiga dan lima saat masih di bangku SD dulu.
Lucu memang ekspresi Ira saat SD dulu. Ia malah menangis karena mendengar ungkapan cinta dari anak laki-laki yang memang menjadi teman bermainnya itu. Baginya ungkapan cinta itu seperti hinaan yang dapat membuatnya kehilangan muka dihadapan teman-teman yang lain.
Gadis tomboy yang nenawan memang. Bagaimana tidak walaupun masih kelas tujuh dan badannya pendek. Ia unggul dibidang Olah Raga atletik &basket. Saat ada kejuaraan ia pasti terpilih untuk menjadi perwakilan sekolah.
Surat cinta itu tidak membuat Ira bergeming. Ia acuh tanpa jawaban.
Daat itu Ira memang belum merasakan bagaimana rasanya Jatuh cinta.
Ira tersadar dari lamunannya saat Cathy memanggilnya.
"Mbak nanti jam delapan anter aku belanja pakaian ya pilihin pakaian yang cocok buatku. Nanti aku yang traktir semuanya. Mbak gak usah ngeluarin duit deh dijamin."
Rengeknya bak balita meminta sepotong biskuit, sambil menggandeng lengan Ira.
"OK, Mbak juga sekali-kali butuh refreshing"
Sesampainya di Mall ,mereka memilih-milih pakaian yang sesuai dengan selera mereka masing-masing namun setelah sekian lama hanya menemukan beberapa potong saja yang cocok.
Mereka sampai tak tahu berapa lama waktu yang terbuang hanya untuk memilih beberapa potong pakaian hingga perut mereka keroncongan dan kaki mereka mulai kelelahan karena keluar masuk beberapa Toko mencari sesuatu yang cocok dengan selera mereka.
Akhirnya Cathy mengajak Ira ke stand makanan.
"Mbak Aku ingin makan bakso"
__ADS_1