Apa Itu Cinta

Apa Itu Cinta
Monas


__ADS_3

Sementara itu didalam Truk Safhira tidak kunjung tidur. Ia mungkin harus berterima kasih kepada ayah tercintanya itu, karena mendapat perlakuan khusus untuk tidur ditempat yang lebih privasi walau hanya di dalam sebuah kendaraan.


Pikirannya masih tertuju kepada ayah dan keluarga Warsito yang nyaman-nyaman saja hidup sebagai Tunawisma.


Sementara menurut Ira semua itu keliru. Hidup seperti Gelandangan, walau sebenarnya mereka mampu untuk hidup yang lebih nyaman.


Apakah seputus asa itu seorang Pria yang ditinggalkan oleh Wanita yang dicintainya. Menjadi berpikiran tidak sehat, lantas kehilangan semangat hidup.


Ira tidak bisa menerima semuanya. Ia harus memberi perhatian dan mengayomi ayahnya yang seperti tidak peduli lagi pada kehidupan. Kasihan Bima yang kena imbasnya padahal ia masih sangat belia, lagipula langkahnya masih sangat panjang untuk menuju kesuksesan.


Ia harus berbicara besok karena semua harus clear karena ia harus memastikan semuanya jelas.


Ia sudah memejamkan mata tapi belum juga bisa bermimpi dan malah teringat pada ponselnya yang berada di dalam tas, lalu segera merogohnya siapa tahu ada kabar dari seseorang yang penting. Iapun melihat layar ponsel yang didalamnya terdapat dua panggilan tak terjawab dari Doni dan dua SMS dari Cathy yang berisi ajakan untuk segera kembali besok dan ia segera membalasnya.


"Udah nyampe belum Mbak?"


" Cepet balik ya Mami repot tuh."


"Maap dek. Mbak masih ada urusan yang harus diselesaikan disini, masih harus menginap."


Setelah masuk laporan terkirim, ia menaruh kembali ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi Doni besok saja, karena sudah malam. Tak pantas untuk seorang gadis menghubungi seorang pemuda pada malam yang telah larut. Ia takut dikira gadis tak bermoral.


Waktu terus berlalu sampai tak terasa Fajar telah menyingsing. Ira yang merasa bangun kesiangan itu segera bergegas turun dari Truk menuju Mushala sekalian membawa perlengkapan mandi dan pakaian ganti.


Setelah selesai Sallat ia membeli empat bungkus nasi uduk untuk sarapan dirinya, Cecep, Bima, dan Drajat.


Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang terlihat sangat indah, menyejukkan mata dengan pepohonan hijau yang rindang serta hempasan angin yang menggugurkan dedaunan.

__ADS_1


Kini disana-sini berserakan dedaunan. Pertanda petugas kebersihan belum datang untuk menyapunya, karena kemarin tempat itu sangat bersih dan asri ditengah carut-marut Ibu Kota.


Di depan gerbang kini sudah rapi kembali. Tak terlihat ada Orang yang sedang tidur ditengah jalanan aspal.


Ira sempat berpikir kalau cuaca tiba- tiba berubah menjadi mendung dan turun hujan. Dimana Mereka akan tidur dan berteduh? sementara untuk menuju warung ataupun Mushala memerlukan waktu.


Terlihat kini Cecep, Bima, dan Drajat sedang ngopi di Area parkiran. Irapun segera menghampiri mereka dan segera membagikan nasi uduk yang masih hangat itu.


Sebelum menyentuh nasi uduk miliknya, Ira membeli air mineral terlebih dahulu untuk mereka termasuk dirinya.


Setelah selesai makan Ira membahas apa yang mengganjal dihatinya saat itu.


"Yah. Kita ngontrak saja ya, kalo disini mahal cari tempat lain yang lebih terjangkau gak apa-apa, ketimbang begini terus kalo turun hujan gimana? lagian kalo sering begini ayah sama Bima bisa sakit. Kalo Ayah udah nemuin kontrakan, Ira mau kok ngurusin kalian dan keluar dari kerjaan sekarang. Nanti cari kerjaan yang deket sama kontrakan aja. Gimana?"


"Ayah ada sodara deket TMII tapi pas belakang Mesjid At-tin. Nanti Ayah kesana barangkali ada kontrakan kosong, itu juga makan waktu Ra. Lu jangan dulu berenti nanti kalo ayah udah dapet tempatnya baru ayah jemput lu, bentar lagi siap-siap aja nanti biar Drajat yang anter ke Halte. Sekarang masih pagi lu jalan-jalan aja dulu sama Bima ngeliat-liat Monas."


Ira jadi malas berebut tempat, lalu menggandeng Bima melihat-lihat pedagang kaki lima yang berjejer menjajakan barang dagangannya masing-masing. Selain itu pedagang minuman asongan yang silih berganti menawarkan dagangannya.


"Kamu mau apa Bim?"


Ia memberikan penawaran kepada Bima untuk sekedar menyenangkan hati adiknya itu, tapi Bima malah menggelengkan kepala.


"Bima gak mau spa-apa Teh, lagian masih kenyang sama segelas susu ditambah nasi uduk yang Eteh bawain tadi"


"Kan banyak yang jualan mainan"


"Daripada mainan, Bima lebih suka mentahnya aja."

__ADS_1


Ira terkejut dengan jawaban dari Bima, seperti bocah yang dewasa sebelum waktunya. Apakah lingkungan ataukah keadaan yang membuatnya jadi materialistis seperti itu? tidak seperti anak-anak sebaya pada umumnya yang terlihat senang bermain-main dengan mainannya.


Entah semua ini adalah caranya mendidik anak-anaknya ataukah keegoisannya. Ira sungguh tak bisa menebak jalan pikiran ayahnya itu.


Seperti yang sudah disepakati. Drajat sudah siap untuk mengantarnya. Irapun berpamitan dan menyalimi Cecep lalu Bima, tak lupa ia menyelipkan sejumlah uang ke dalam saku celana adik kesayangannya.


"Hati-hati di jalan."


Ucap Cecep.


Ira hanya mengangguk lalu menaiki Truk. kemudian Drajatpun segera memegang kendali meninggalkan tempat itu sedang Ira mulai melihat kesedihan yang mulai tersirat diwajah ayahnya dari balik kaca Mobil.


Ia mengerti kalau syahnya itu membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Kalau bukan dari anak-anaknya siapa lagi yang akan peduli dan merawatnya di usia yang sudah lanjut itu.


Untunglah ayahnya itu menurut pada ucapannya untuk segera mencari kontrakan agar menjalani hidup yang lebih sehat dan normal.


Ira sudah mengantisipasi segala resiko yang akan ia hadapi nanti dengan menyiapkan mentalnya terlebih dahulu akan segala kemungkinan terburuk dimasa yang akan datang. Ia harus siap dengan segala kekurangan dan keterbatasan.


Mengapa di usia senjanya malah sampai pada titik ini. Saat segalanya tak ia miliki lagi. Masa pensiun yang dramatis, tapi ia masih bisa tersenyum dihadapan anak-anaknya. Menyembunyikan segala lara dan asa.


Tapi mata adalah jendela hati.


Sepasang mata yang menyiratkan berbagai lara dan kesedihan tak dapat ditutupi oleh apapun.


Setelah perjalanan yang melelahkan itu akhirnya ia sampai juga di Rumah Bos tepat jam sebelas siang.


"Assalammualaikum."

__ADS_1


Ucapnya saat tiba di depan pintu lalu langsung masuk kedalam tanpa menunggu jawaban. Sepi tak ada orang satupun. Kemudian ia terus berjalan menuju dapur. Barulah ia menemukan penghuni Rumah itu. Terlihat Mami sedang mencuci ayam dan bebek.


__ADS_2