Apa Itu Cinta

Apa Itu Cinta
143


__ADS_3

sebelumnya terimakasih banyak sudah mau mampir disini juga untuk semua like&komen


"Happy Reading"


***


 


Sementara itu Elis sendirian diKoridor memutuskan untuk menikmati waktu senggangnya di Balkon menikmati pemandangan dari lantai empat itu.


 


Dalam lamunannya, ia teringat kejadian masalalu dimana dirinya dihianati oleh sahabatnya sendiri, suaminya berselingkuh dengan sahabat yg ia percayai suguh membuat hancur rumahtangga yang baru dibina seumur jagung itu.


 


Setelah bercerai Elis baru tahu bahwa dirinya hamil, namun sakit hati yang teramat dalam membuatnya mengambil keputusan untuk membesarkan anak itu sendirian dan itu berhasil sekarang anak itu sudah berusia tiga tahun, Elis berharap putranya harus menjadi orang sukses dan berpendidikan tinggi, jangan seperti dirinya yang hanya lulusan SD.


Menyadari ada suara langkah kaki yang mendekat, Elis segera menyeka air mata yang menetes pertanda rindu pada putranya itu.


 


"Hayoo ngelamunin apa kayaknya seru banget"


sergap Ira sambil memegang kedua bahu Elis.


"Kamu tuh ya untung aku gak kagetan, coba kalo kaget terus jatuh kebawah, modar aing ."


Omel Elis setengah guyon dengan bahasa sunda yang kasar itu, Irapun paham dengan kebiasaan teman kerjanya ini.


"Iya sorry ceu."


Merekapun jadi tertawa bersama. Itulah mereka sering menggunakan bahasa isyarat, jarang mengobrol hanya berbicara yang penting-penting saja sebenarnya Ira aslinya cerewet tapi menyesuaikan diri dengan Elis yang agak tertutup dia agak selektif memilih kawan bahkan diantara 11 OB, hanya Ira gadis periang itu yang bisa mendekati Elis.


"sudah-sudah ,ayo siap-siap sebentar lagi kita sibuk "


ucap Elis.


Seketika suasana berubah menjadi serius, merekapun bubar kembali bekerja dengan kesibukan masing-masing.


Karena ini jam istirahat untuk para staff dan para OB malah sibuk,ada yang disuruh beli makanan dikantin,ada yang request dibuatkan mie rebus atau berbagai jenis minuman yang disediakan kantor.


Tak terkecuali Ira, saat itu ia sedang menyeduh nescafe kental dengan krimer ekstra kesukaan pak Yosi staff bagian keuangan. Kemudian cepat mengantarkannya karena masih mengantri pak Robin dengan selera berbeda meminta es teh manis, permintaannya itu merepotkan bagi Ira karena lemari es hanya ada dilantai dua harus menggunakan lift untuk mengambilnya.


 


"Semangat....!"


ucapnya dengan lantang,


jika ada orang disana mungkin akan dikira Ira sudah gila ngoceh sendirian.


 


Hiruk pikuk Kantor begitulah sampai tak terasa waktu menunjukan pukul16.00, yang artinya finish jam kerja .

__ADS_1


Kebahagiaan untuk Elis dan Ira


" yeay" dalam batin mereka.


 


"Go,,,go, ,,shoping"


teriak Ira gadis periang yang polos.


"suuuuut"


sambil mengacungkan telunjuk dibibirnya tegas Elis


"kenapa si Ceu kan gak ada yang lembur hari ini"


sungut Ira merengut.


Elis malah terkekeh dengan ekspresi rekan nya itu, Ira jadi tersenyum malu.


 


Waktu terus berlalu, bulan sabit pun telah menampakkan dirinya pertanda mereka Ira dan Elis harus mengakhiri perburuan belanjanya, entah berapa Toko yang telah mereka lewati karena belanjaan yang mereka beli tidaklah sedikit, dan buru-buru pulang setelah semua barang yang diburu telah mereka dapatkan.


Sesampainya di Mes mereka merapikan belanjaan dan memasukannya kedalam kopor masing-masing, Elis merasa lelah hari ini dan segera terlelap setelai selesai membersihkan diri.


Sedang Ira masih memegang ponsel, mengetik SMS untuk sebuah jawaban yang ditunggu Ramon.


 


"143,


Lalu dipencetnya tombol ok tak lama laporan terkirimpun masuk .


 


Ramon dikediamannya sudah terlelap namun terbangun oleh nada dering ponselnya, ternyata sebuah SMS masuk. Setelah mengetahui itu dari gadisnya Ramon tersenyum dan segera membaca isi pesan itu,


Spontan Ramon menelpon Ira


 


"Halo" sapa nya


"Halo juga, lagi ngapain" jawab Ira


"Tadi saya sudah tidur sayang dan bangun gara-gara kamu, maapkan saya sudah punya niatan buruk sama kamu, sungguh saya jadi malu. Dengan keegoisan saya ini mungkin bisa merusak masa depanmu, baru kali ini saya ketemu gadis kayak kamu saya serius denganmu, nanti saya akan menyusul kamu ke Indonesia dan melamarmu."


ujar Ramon.


"Serius? .Kutunggu kesungguhanmu di kampung halamanku."


Sahut safhira lalu Ramonpun menjawab.


"Saya pernah ke Jakarta,dari sana ke kampungmu berapa lama?"

__ADS_1


Bla...bla...bla...


obrolan mereka semakin serius menjurus kepada perkenalan keluarga masing-masing sepertinya mereka sungguh-sungguh ingin ke pelaminan.


 


Waktu terus berlalu tanpa terasa waktu perpisahan Ramon dan Safhira hanya tinggal beberapa saat lagi karena sudah saatnya untuk boarding fast.


Tapi kali ini meskipun keyakinan Ira melarang ia tak peduli menyalami tangan Ramon untuk yang pertama dan yang terakhir sebab akan berpisah jauh namun eskalator memisahkan jari jemari mereka perlahan-lahan sampai terpisah tak terpaut lagi. Dari lantai atas Ramon berteriak


"143 "


yang artinya I love you itu kebiasaan mereka selama berpacaran dengan ungkapan cinta sandi, Ira melayangkan senyum pahit yang terakhir untuk kekasihnya itu.


"143 juga"


jawabnya dari lantai bawah sambil melambaikan tangannya.


Langkah mereka saling menjauhi tapi tatapan mereka masih saling beradu sampai akhirnya menghilang terbawa oleh arus yang berlawanan.


Didalam pesawat Ira meneteskan air mata antara bahagia dan sedih, akan berjumpa dengan keluarganya tapi berpisah dengan prianya.


" Selamat tinggal Ramon ...


Selamat tinggal Jordania...


Aku meninggalkan negara itu sekaligus kekasihku "


dalam batinnya.


Pesawat akan segera landing. Dari jendela pesawat terlihat hijau dimana-mana dan bau khas sejuk bau Indonesia. Ira menghirup nafas dalam-dalam setelah berada dibandara Soekarno Hatta baginya serasa mimpi dapat kembali ke Negaranya.


 


Sudah lama Ira miss kontak mungkin sudah setahun kurang lebih tak ada kabar dari keluarganya sehingga tanpa jemputan Iraberangkat menuju Sukabumi seorang diri.


 


Betapa terkejutnya Ira membaca tulisan "Rumah ini akan dijual" di depan rumahnya itu. Rumah masa kecilnya dimana ia tumbuh disana .


"Apa yang sebenarnya terjadi."


gumamnya, sambil melangkah keluar gerbang rumah itu dan berharap mendapat penjelasan dari siapapun yang ditemuinya.


Kebetulan pak Udin salah satu tetangganya sedang lewat depan rumah itu, melihat Ira dan barang bawaannya pria paruh baya berkumis tebal itu menghentikan langkahnya dan menghampiri gadis yang sepertinya ia kenal itu.


 


"Eh Neng Ira, apa kabar ?"


tanyanya. Serasa doanya terkabul segera Ira menjawab,


"Alhamdulillah Mang sehat, tapi ini rumah kira-kira mang tahu kenapa mau dijual terus pada kemana keluarga saya?"


"Maap Neng kurang tahu setahu amang rumah ini akan dijual, kan pak Cecep yang menjual rumah ini ke pemilik baru tapi tidak betah setelah membeli dan mau di jual lagi. Kalau untuk informasi yang lengkap silahkan neng Ira tanyakan saja sama pak RT beliau sangat tahu detilnya perihal jual beli dan kemana saja pak Cecep sekeluarga tinggal."

__ADS_1


Mang Udin menjelaskan, Irapun mengucapkan terima kasih pada lelaki paruh baya itu dan berlalu menuju rumah pak RT yang tidak jauh dari rumahnya hanya terhalang beberapa rumah saja.


 


__ADS_2