Apa Itu Cinta

Apa Itu Cinta
Cabe-cabean


__ADS_3

"Oh kak Ayu, sehat kak. Kakak sendiri gimana kabarnya? kok bisa tahu nomor Ira?"


"Kabar kakak sehat Ra. Kakak tahu nomormu dari Elis. Kamu sekarang dimana Ra? kak Ayu lagi di bekasi nih."


"Aku di Jakarta Timur kak. Tepatnya belakang pewayangan."


"Gak tahu kak Ayu Ra daerah sana, nanti tak tanya sama temen dulu. Kakak kerja disini kamu kalo ada waktu mainlah kesini."


"Pasti kak. Aku memang lagi butuh kerjaan, SMS in aja alamatnya insyaAllah besok Ira kesana."


"Nanti kalo mau brangkat bilang ya biar kak Ayu siap-siap jemput kamu. Udah dulu ya Ra kakak dipanggil bos."


TuuuT,,,


Sambungan telpon terputus begitu saja. Ira berpikir mungkin temannya itu sedang bekerja.


Sepertinya Tuhan menyayanginya karena saat sedang sulit ada saja teman lama yang mungkin tidak dapat berjumpa lagi malah tiba-tiba menghubunginya dan mengajak untuk bertemu. Apakah ini yang disebut dengan takdir???


Setelah posisi Matahari digantikan oleh Rembulan barulah Safhira menyadari akan ketiadaan Bima.


"Yah. Bima kemana?"


"Masih di Priuk. Besok palingan diantar kesininya."


Setelah mendengar penuturan ayahnya, barulah ia merasa lega kemudian terlelap tidur.


Sementara Cecep masih saja menonton acara TV yang disukainya. Kebiasaan begadang yang sulit dihilangkan.


Saat fajar menyingsing Ira sudah selesai mencuci pakaian, bahkan sudah dijemur rapi. Sedang ayahnya masih terpejam. Entah kapan tepatnya mulai tertidur? Ira sendiri tidak menyadarinya. Ia sungguh prihatin dengan kondisi ayahnya yang seperti orang yang kehilangan semangat hidup.


Ia telah berjanji kepada Ayu untuk datang ke Bekasi hari ini. Rencananya ia akan pergi setelah menyiapkan sarapan dan membuatkan secangkir kopi untuk ayahnya.


Setelah menaruh sarapan di atas meja hitam itu ia segera menyalakan teko listrik yang sudah diisi kira-kira lima ratus mili air. Sambil menunggu dua cangkir ia persiapkan kemudian diisinya dengan kopi hitam untuk ayahnya dan kopi yang mengandung kremer untuk ia sendiri. Cecep tidak mengetahui perubahan selera putrinya sekembali dari Kerajaan Yordania.


Tak lama uap mengepul dari dalam teko. Pertanda airnya telah panas dan mendidih pula. Ia menuang air yang baru mendidih itu kedalam cangkir yang telah disiapkan tadi.


Ira mulai menikmati sarapan lontong sayur sambil menatap kopi panas yang tak sabar ingin diseruputnya. Dengan cepat ia mengunyah sarapannya dan alhasil sarapanya ludes dengan sekejap. Artinya ia bisa segera menyambar kopi yang sejak tadi menantinya di meja hitam itu.

__ADS_1


Setelah cangkirnya benar-benar kosong dihabiskannya, ia terpaksa membangunkan Cecep untuk berpamitan menuju Bekasi.


"Yah. Ira pamit dulu mau ke tempat temen di Bekasi."


Cecep mengangguk dan perpesan kepada putrinya itu agar berhati-hati dalam perjalanan. Ira segera berlalu setelah menyalami ayahnya itu.


Sesuai instruksi dari Ayu ia menunggu tepat didepan sebuah Apotik yang disampingnya ada sebuah Gang dan disampingnya lagi terdapat Rumah makan Padang. Ira jadi lapar setelah mondar-mandir dan mengetahui didekat tempatnya berdiri ada Rumah makann Padang.


Tak lama wanita cantik yang tampangnya kebulean itu muncul dan langsung menggandeng Ira ke Rumah makan Padang. Ira mengembangkan senyuman karena temannya itu mengerti akan selera makannya.


"Kakak lapar nih Ra. Ayo kita makan disini. Kamu pesen apa?"


tanya Ayu sambil memilih tempat paling depan, tapi Ira tidak setuju dan menyeret kawannya itu ketempat paling pojok dan paling belakang. Ayu menurut saja dengan temannya yang Dominan satu ini.


"Gua mau pesen rendang dan minumnya cola ya."


Tutur Ira dengan songongnya. Maklum Ia tak sungkan kepada Ayu karena memang mereka sering bertengkar mulut layaknya kakak adik tapi tetap dalam batasan. Itu terbukti dari hubungan mereka yang dekat tak pernah ada permusuhan.


Pesananpun disajikan dengan kilat di atas meja yang mereka pilih. Ira menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan selera temannya itu.


Lele goreng dan es teh manis yang dipesannya itu lama-lama membuatnya cekikikan.


Ira masih cengengesan dan tidak merespon Ayu sama sekali. Ayu keheranan dan mulai mengeluarkan cermin kecil dari sakunya karena saat itu ia tidak membawa tas. Ia bercermin dan tidak ada yang salah dengan penampilannya yang full makeup itu.


Ira baru berhenti setelah menyadari bahwa sejak tadi pelayan resto itu memperhatikan gerak-gerik Ayu.


Siapa yang tak tertarik dengan wanita cantik nan semampai itu. Ira menyikut pinggang Ayu dan mengerlingkan matanya kearah pelayan tadi. Ayu segera mengikuti arah pandangan Ira.


Dan benar saja Pelayan pria yang berkumis itu mengedipkan sebelah matanya kepada Ayu. Seketika wajah temannya itu memerah dan menunduk. Kemudian berbisik kepada Ira.


"Gimana menurutmu Ra?"


"Kasih aja nomor ponsel lu kalo nanti dia minta, tapi itu juga kalo di geratisin makan disini"


Turur Ira nyeleneh. Begitulah perilakunya kalau sedang bersama Ayu. Pecicilan tak karuan.


Benar saja, biaya makan saat itu dodiskon lima puluh persen. Mau tidak mau Ayu memberikan nomor ponsel yang dipinta pria itu karena memang sudah terlanjur diberi diskon.

__ADS_1


Mereka berjalan menyusuri Gang.


"Ini tempat kerjaku Ra"


Kata Ayu menunjuk pada sebuah bangunan yang terlihat sepi dan dipagar tinggi itu.


"Tapi kontrakanku masih jauh Ra. Dari ujung gang masih harus masuk ke perumahan. Udah gitu berada di blok yang paling ujung juga."


Ira mengangguk saja tanpa komentar, toh ia terbiasa dengan berjalan kaki.


Saat Ayu akan berbicara lagi tiba-tiba seorang pengendara motor menghentikan laju kendaraannya dan menawarkan untuk mengantarkan kami.


"Ayo gue antar ke kontrakanmu Yu"


ucap pria itu. Memanggilnya dengan akrab sepertinya memang sudah saling mengenal.


"Gimana Ra?"


Ayu malah balik bertanya untuk menanyakan pendapat Ira.


"Nggak usah. Makasih."


Jawab Ira karena ia malu kalau harus berboncengan double. Takut akan cemoohan orang yang nantinya mengira kalau dirinya cabe-cabean.


Kecewa dengan keputusan Ira, pria yang bernama Bono itu setengah memaksa dengan menarik lengan Ayu.


"Kenapa Ra?"


"Malu lah kak kalo harus boncengan rame-rame. Nanti dikira cabe-cabean."


Mendengar alasan Ira, Bono tak menyerah. Malah memanggil temannya yang sama-sama berkendara seperti dirinya.


Karena usaha keras Bono untuk memanggil kawannya. Maka Ira sudah tak dapat alasan lagi untuk menolak ajakan pria itu.


Alhasil sekejap saja sudah sampai ditempat tujuan.


Untuk berterimakasih Ayu mempersilahkan kedua pengendara motor itu masuk ke kontrakan. Merekapun duduk manis di Ruangan depan dan Ayu segera menyalakan kipas angin di ruangan itu karena memang cuacanya sangat panas sehingga membuat keringat cepat bercucuran.

__ADS_1


Sementara Ira dituntunnya menuju dapur untuk membantunya membuatkan kopi untuk kedua tamu asingnya itu.


__ADS_2