
Setelah merasa semuanya ok, Pale segera melangkahkan kakinya menuju Ruang Tamu.
Ini tidak seperti biasa dimana ruangan itu terasa pengap dengan kepulan asap rokok yang berasal dari sulutan tamu spesialnya itu.
Pale yang mengamati gaya merokok Cecep, merasa kalau itu sangat keren.
Setidaknya begitulah menurut pemikirannya.
Ia menghampiri tamunya itu dan menyalaminya.
"Ini Pale, yang saya maksudkan pak Cecep, "
ungkap Mami bos, memperkenalkan anak sulungnya itu lalu menyeretnya untuk duduk disampingnya.
"Wah ganteng dan rapi."
Puji Cecep sekedar untuk membuat senang Tuan Rumah. Pale jadi tersipu dan mulai menyisir kembali rambutnya dengan jemarinya.
"Kerja dimana nak? sepertinya sudah rapi sekali, apa kerja siang?"
Cecep menimpali lagi. Kemudian dengan bangga seraya menegakkan kepala Pale menjawab pertanyaan tamunya itu.
"Iya Om. Saya bekerja di Pabrik tekstil Ciracas, sekarang sedang shift dua, karena masih karyawan baru, masih honorer Om. Kemungkinan ada pergantian shift nanti."
Cecep kembali menyesap rokoknya itu kemudian membuang abunya kedalam asbak kayu berukirkan Naga itu.
"Bagus Pale, kau masih muda tapi sudah memiliki pekerjaan. Kerja yang rajin, teliti dan hati-hati supaya langgeng dan segera diangkat menjadi Karyawan tetap,"
"Aaamiin Om. Terimakasih atas nasehatnya."
Kemudian Mami bos menyikut pelan kearah pinggang Papi bos sebagai kode untuk segera menyampaikan maksud mereka untuk meminta Ira menjadi menantu dirumah itu.
Ehem,,,ehem,,,
mendadak semua mata tertuju pada deheman Papi bos yang sedang mengatur napas dan berpikir. Mencari-cari kata-kata yang tepat untuk diutarakan kepada calon besannya itu karena pernikahan bukanlah permainan.
__ADS_1
Dengan setengah gugup akhirnya Papi bos mengutarakan maksudnya.
"Maap sebelumnya pak Cecep kami kurang sopan, seharusnya kami mengatakan ini sambil membawa hantaran ke kediaman bapak. Tapi karena kami sudah tidak sabar dan memang sudah sangat lama ingin mengutarakan maksud kami karena Ira sampai sekarang masih belum memberi jawaban. Maksud kami sebenarnya adalah untuk meminta Safhira menjadi istri dari Pale jika pak Cecep berkenan."
Seketika Pale tertunduk malu dan mukanya menjadi memerah. Sedangkan Cecep masih tenang saja menyesap rokok yang hampir habis itu, tak lama kemudian ia mematikan rokoknya didalam asbak.
"Kalo saya pribadi sih tergantung Safhira saya kembalikan semuanya pada anak-anak. Toh yang menjalani kan mereka."
Jawab Cecep dengan bijaksana, semua tergambar dari ekspresi mukanya yang tenang.
Dengan jawaban yang Cecep utarakan mereka semua mengerti kalau Tamunya itu sangat menyayangi putrinya.
"Ngomong-ngomong dari tadi saya belum melihat Safhira,?"
Tanya Cecep, kemudian pandangannya menyelidik ke seluruh penjuru ruangan tersebut.
Mami bos mengerti akan maksud Tamunya itu dan segera berlalu menuju kamar tempat dimana Safhira masih tertidur lelap. Iapun segera membangunkan gadis itu dengan lembut. Usahanya itu berhasil dan Irapun lamat-lamat membuka sepasang matanya lalu langsung duduk setelah menyadari siapa yang telah membangunkan dirinya.
"Maap Mih."
Ucapnya merasa bersalah karena telat bangun. Mamih tidak menunjukkan ekspresi marah malah rersenyum dan membelai rambut Ira.
Ira kaget dengan apa yang dikatakan Mamih. Ia lupa bahwa kemarin sudah mengirimkan alamat lengkap kediaman bosnya itu lewat SMS.
Tapi ia tak mengira kalau ayahnya akan datang menjemputnya hari ini tanpa pemberitahuan sebelumnya pula.
Ira mulai menggigit jari karena belum mengatakan perihal ayahnya yang akan datang karena untuk membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
"Ada apa Ra?"
tanya Mami yang melihat kecemasan di raut wajah gadis yang ia sayangi itu. Mau tidak mau ia harus mengatakannya sekarang karena sudah tak ada waktu lagi.
"Sebenarnya kedatangan ayah hari ini untuk menjemput Ira mih. Maap ya ngedadak kayak gini ngomongnya, tapi memang gak ada pemberitahuan dulu sebelumnya dari beliau mih."
Turur Ira sambil meninggalkan tempat tidur menuju lemari pakaian dan mulai memasukkan barang-barang miliknya kedalam tas.
__ADS_1
Mami kecewa dan tidak berkata-kata lagi, lalumeninggalkan tempat itu kemudian berjalan dengan gontai menuju ruang tamu. Ia kembali duduk disamping suaminya dengan ekspresi kecewa tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Cecep yang melihat air muka yang masam dari tuan rumah membuatnya merasa tidak nyaman seperti ada ganjalan, untuk mencairkan suasana Cecep kembali membuka mulutnya.
"Ngomong-ngomong kamu lulusan apa pale?"
"Saya lulusan STM Om,"
"Hebat. Kamu bisa masuk pabrik dengan pendidikan minimal, berbeda dengan Safhira, sulit baginya untuk diterima kerja diPabrik dalam lingkup Ibukota ini."
Sekali lagi merendah untuk meninggi yang Cecep maksudkan dari pembicaraannya dengan tuan rumah.
"Coba aja Om Ira ngelamar di Pabrik industri makanan khongguan kayaknya disana sedang membuka lowongan."
Tanpa sadar Pale keceplosan karena terpancing oleh perkataan tamunya.
Setelah itu menutup mulutnya dengan jemarinya sambil mengumpat dirinya sendiri dalam hati bodoh,,,
Tentu saja Cecep berhasil karena buruannya telah masuk perangkap.
Sedang pemilik rumah tambah jengkel dengan kebodohan yang dilakukan anak sulungnya itu.
Muka mamih merah padam kemudian berlalu meninggalkan ruangan tersebut tanpa permisi. Mamih meneteskan air mata dan mulai sesenggukan di kamarnya. Ditatapnya kaca meja rias dan ia bisa melihat pantulan wajahnya yang sangat jelek dalam keadaannya sekarang.
Ia segera menghapus air matanya dan segera meraih sejumlah uang yang ada di dalam laci untuk diberikan kepada calon menantu yang tak menganggapnya. Namun perasaan yang terlanjur terjalin tidak merubah rasa sayangnya kepada Ira. Tetap saja ia ingin berbuat sesuatu yang menyenangkan hati Ira dengan memberikan sejumlah uang untuk yang terakhir kalinya, karena mungkin besok sudah tidak bisa berjumpa lagi.
Mamih pergi meninggalkan kamarnya menuju tempat dimana Ira berada yang saat itu masih sibuk mengemas barang- barangnya. Ia menghampiri Ira lalu memeluknya mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"Maapin Mamih kalau udah maksain kehendak sama kamu."
Ucapnya sambil menyerahkan sejumlah uang yang telah ia siapkan sedari tadi itu. Ira menolak untuk menerimanya mengingat semua kebaikan penghuni rumah kepadanya.
"Nggak Mih, Ira malu kalo harus terus-terusan menerima kebaikan semua sedang Ira sendiri gak bisa bales kebaikan kalian, sekali lagi Ira minta maap yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang sudah Ira perbuat."
Ira berucap dengan getaran karena menahan air mata yang ingin keluar ia menggigit bibirnya sendiri tak ingin terlihat jelek di depan mamih.
__ADS_1
"Mamih udah anggap kamu kayak anak kandung, tolong terima ini kalo memang kamu menganggap mamih sebagai ibu kandungmu sendiri."
Ucap mamih sembari memasukkan sejumlah uang tersebut kedalam saku gamis yang saat ini dipakai Safhira. Ia tidak dapat menolak lagi setelah mendengar apa yang diucapkan Mamih dan air mata mulai menetes tanpa permisi mengaliri kedua pipinya.