
"Ayo"
Cathy menggandeng Ira ke Stand bakso dan memesan dua porsi plus jus alpukat dan strowberry.
"Bakso disini enak ya mbak. Kapan-kapan kita mampir kesini lagi"
"Boleh"
Jawab Ira tersenyum pada Cathy seperti ia tersenyum kepada Sakti dan Bima. Senyum penuh kasih sayang senyum yang penuh makna kepada saudara sedarah.
Ya. Safhira merindukan adik-adiknya. Ayahnya, keluarganya di Sukabumi.
Tapi yang ia takutkan adalah jika keluarga dari Ibunya bahkan Ibunya sendiri sudah tidak menyayangi dirinya tidak menginginkannya lagi bagaimana?
Safhira ingin bertemu dengan Ibunya tapi enggan karena kecewa. Ia tak ingin merasakan sakit ketika Ibunya bersama dengan lelaki lain selain
Ayahnya.
Sungguh untuk membayangkannya saja sudah tak sanggup bahkan air matapun menetes tanpa permisi menahan perih yang teramat dalam.
Orang yang selama ini ia samakan dengan Malaikat bisa berubah menjadi Iblis yang kejam.
Tapi mau bagaimanapun ia orang yang sudah melahirkan dan membesarkannya. Terlebih menurut keyakinannya Surga ditelapak kaki Ibu.
Safhira harus berbesar hati menerima kenyataan. Menerima takdirnya yang sepahit empedu.
Tapi hatinya belum kuat untuk menampung serpihan hatinya yang telah hancur seakan Bumi menelannya dan meluluhlantahkan semua sampai tak tersisa.
Masih adakah serpihan hati yang tersisa ?
Entah sampai kapan Safhira bisa menemukan serpihan hati yang telah hilang itu.
"Mbak kenapa nangis?"
Tanya Cathy karena memang seperti orang yang sedang susah hati bahkan berkaca-kaca.
Saat ini emosinya sedang memuncak rasanya akan meledak dan akhirnya ia tak dapat membendungnya lalu menangis tersedu-sedu.
"Mbak cerita aja jangan dipendem nanti jadi penyakit"
Hibur Cathy kepada Ira untuk memancing semua keluh kesah dan masalah hidupnya itu.
Tapi Ira malah semakin membatu.
Cathy yang menyayangi Ira ikut terbawa oleh arus aura sedih yang mengalir. Kemudian oa memeluk Ira da menangis bersama tanpa peduli akan keramaian dan lalu lalang pada saat itu.
__ADS_1
Lama Ira menangis. Cathy pun sadar dia harus segera menenanggan Ira, akhirnya ia meraih jus alpukat kesukaan Ira dan meminumkannya .
sesaat kemudian Emosi Ira perlahan
-lahan mulai stabil dan kembali normal.
Setelah dirasa aman terkendali mereka segera pergi dari tempat itu dan kembali kerumah.
Sekembalinya kerumah Ira segera merebahkan dirinya. Merasakan sedikit pening dan memijati pelipis dahinya sendiri. Mungkin efek dari menangis tadi.
Cathy yang masih merasa iba pada Safhira kemudian menghampiri.
"Sini kubantu pijatin."
Kemudian langsung memijat tanpa menunggu jawaban dari Ira.
"Makasih ya cat. Mbak jadi enakan nih. Kamu pinter mijit"
Ira jadi terharu. Mungkin begini rasanya kalau punya adik perempuan. Ada yang perhatian dan siap membantu kapan saja saat dibutuhkan. Bahkan bisa menjadi tempat untuk berkeluh kesah, walau pengalaman hidupnya dibawahnya setidaknya kalau punya adik Perempuan semua persoalan menjadi lebih sederhana.
Ya. Hanya kalau. Bahkan pada realita kedua adiknya laki-laki semua, sungguh disayangkan keluhnya.
Sementara itu Cecep dan Bima sedang berada ditempat anak angkatnya. Drajat.
Bambang Sudrajat nama lengkapnya.
Rarah bukanlah istri pertama Cecep yang betarti saat itu statusnya sudah duda.
Istri pertamanya bernama Mariana
Setelah sepuluh tahun berumahtangga mereka tak kunjung dikaruniai seorang anak.
Cecep memang Alkoholik. Peminum kelas berat. Bagaimana tidak ia minum minuman keras itu bak meminum air putih, karena mengkonsumsinya setiap hari. Oleh karena itu Cecep menerima kalau dirinyalah yang mandul. Dirinya yang menyebabkan Rumah terasa sepi tanda ada suara tangisan bayi. Tanpa ada tawa canda dan suara anak kecil berlarian. Sungguh Cecep merasa bersalah pada istri yang dicintainya itu.
Hingga suatu hari ada keluarga miskin yang memiliki lima orang snak datang kepadanya dengan membawa anak bungsunya yang rewel merengek terus tiada henti. Mungkin dikarenakan kelaparan karena jangankan untuk membeli susu bahkan untuk sekedar kebutuhan mengisi lambung, Keluarga itu sering mengikat perutnya.
"Maap sebelumnya sudah mengganggu ketenteraman di kediaman anda pak Cecep"
Wanita berumur hampir empat puluh tahunan itu segera berlutut dihadapan Cecep. Bagaimana tidak ia adalah Juragan Tanah sekaligus pebisnis yang handal memiliki banyak aset dan properti. semua terlihat dari Megahnya dekorasi dan banyaknya perabotan antik di Rumah itu.
Disetiap sudut ruangan terlihat Guci kuno yang antik bahkan lukisan-lukisan mengagumkan terpajang disana-sini. Ditambah perabot
Kuno yang dipajang dengan rapi dan elegan menambah kemewahan kediamannya itu. Siapapun yang masuk ke Rumah itu pasti berpikir hal yang sama kalau Tuan Rumah sangat menyukai Seni.
Tapi semua itu tidak ada artinya tanpa kehadiran Seorang anak.
__ADS_1
Begitulah kehidupan. Di balik kebahagiaan pasti terselip kesedihan begitupun sebaliknya. Di balik kesedihan akan terselip kebahagiaan.
Tidak akan ada kebahagiaan yang hakiki.
Semuanya silih berganti termasuk roda-roda kehidupan yang memutar nasib Manusia kadang ada diatas kadang ada di bawah.
Semuanya hanya titipan Sang Pencipta kapanpun Ia menginginkan maka semua akan kembali padaNya.
Kita berasal dariNya dan akan kembali padaNya .
Dunia ini hanya sekedar tempat persinggahan saja tak ada yang kekal.
Entah darimana datangnya wanita itu. Cecep sungguh tidak mengenalnya sama sekali.
"Sudah ...sudah...,
berdiri Bu jangan seperti ini mari silahkan duduk "
Cecep tidak sombong dengan apa yang ia miliki bahkan terkenal Dermawan dan baik hati, karena tak segan-segan menolong siapapun yang memerlukan bantuannya.
Iapun memerintahkan pelayan setianya mbok Ros, untuk segera memanggil istrinya yang sedang berada di ruangan atas dan membuatkan minuman untuk Tamunya itu.
Setelah mereka sama-sama duduk Cecepun bertanya.
"Ada hal apa yang membuat Anda datang kemari?"
"Sebenarnya Saya malu untuk mengatakannya. Tapi ini mendesak sekali biarlah Saya kehilangan muka yang penting anak saya hidup sejahtera,"
"Maksud Anda bagaimana?"
"Maksud saya jika Tuan berkenan mengadopsi anak saya ini Drajat. Keluarga kami akan sangat terbantu, terlebih Kami tidak mampu untuk membelikan susu untuknya. Bahkan sesuap nasipun susah kami dapatkan. Saya kuatir kalau bayi ini akan meninggal karena kekurangan Nutrisi"
wanita itu menangis kemudian bersujud di kaki Cecep sambil memangku bayi laki-lakinya itu.
"Saya mohon Tuan"
Cecep segera membantu Wanita itu untuk kembali duduk dan meraih Drajat dalam gendongannya. Seketika perasaan hangat dan sayang muncul setelah ia melihat wajah mungil si kecil. Tangan dan kaki yang sangat kecil. Sungguh menggemaskan, "inikah perasaan seorang Ayah"batinnya.
"Tidak perlu memohon seperti itu, kebetulan Rumah ini sangat sepi sudah sepuluh tahun tak kunjung hadir Seorang anak. Kami sangat menantikan tangisan seorang Bayi.
Tentu saja Saya akan menjadikannya sebagai anak angkat dan memberinya kehidupan yang layak."
Tak lama kemudian Mariana muncul dan terheran-heran melihat suaminya yang sedang memangku bayi. Prasangka buruk mulai terbesit dipikirannya apakah suaminya berselingkuh? tidak mungkin, bukankah Suaminya itu mandul?
tapi kami memang belum melakukan tes atau pemeriksaan apapun. Apa sebenarnya ia sendiri yang mandul?
__ADS_1
ia terus membatin. Sampai akhirnya berucap.
"Ada apa ini Bang?"