
"Salam buat Cathy dan Tiger. Maap kalo pergi tanpa permisi, tapi Ira janji mih bakal sering-sering menghubungi lewat telpon dan main kesini kalau ada kesempatan. Sekali lagi Ira minta maap sama kalian semua dan terimakasih banyak kalo selama ini sudah diperlakukan dengan sangat baik."
Mamih tidak dapat berkata- kata lagi dan hanya mengangguk, mengiyakan apa yang Ira ucapkan.
Sebuah kopor berwarna coklat dan tas besar berwarna hitam sudah diletakkan didepan pintu. Sang tamu berpamitan kepada tuan rumah untuk menjemput putrinya. Seketika suasana menjadi haru ketika tamu dan karyawati kesayangannya melangkahkan kaki dari rumah itu, tapi apa boleh buat bahkan ajakan tuan rumah untuk mengantarpun ditolak. Mereka hanya bisa menatap gusar kepergian tamunya itu.
"Udahlah mah gak usah sedih, mungkin sekarang Ira belum menerima lamaran kita tapi Pale akan berusaha mengambil hatinya dengan sering berkunjung,"
"Emang Ira bilang mau pindah kemana?"
tanya mamih dengan antusias kepada anak sulungnya itu, karena Ira tidak bilang kepadanya perihal alamat kepindahannya.
"Gak tahu mah. Gak bilang juga, tapi kan Pale udah simpan nomor Safhira"
"Kirain sesuatu, kalo cuma nomornya sih Mamah juga punya sayang"
Jawab mamih sambil mengacak-acak rambut Pale yang klimis itu.
Pale terlihat manyun. Bibirnya bak kerucut saja saat itu, karena kesal rambut yang telah ditata rapih dengan susah payah malah dengan mudah diacak-acak begitu saja.
Sementara Cecep membawa Safhira dengan menaiki sebuah agkutan umum merah dan minta turun di depan Masjid At-tin.
Pak supir segera menurunkan mereka tepat depan Masjid At-tin. Safhira terkesima dengan keindahan Masjid yang terbentang megah dihadapannya itu, padahal Safhira hanya memandang dari jarak lima meter, menyusuri jalan aspal yang khusus sampai ke area pewayangan barulah setelah melewati pewayangan mereka sampai di kompleks pemulung yang kumuh dan bau itu.
DEG,,,
Mendadak hati Ira terasa sakit bagai disayat-sayat sembilu setelah melihat dari depan pintu kondisi kontrakan Ayahnya yang sangat memprihatinkan. Sangat kotor dan jorok.
Tanpa menunggu Cecep untuk mempersilahkan masuk, Ira segera masuk dan menggusur kasur kapuk yang telanjang tanpa berbalurkan sprei, kemudian membeberkan tikar tepat dipinggiran jalan komplek itu dan meletakkan kasur tadi diatas tikar yang telah ia gelar itu.
Dikebutnya kasur yang terlihat berdebu itu sampai udara disekitar menjadi penuh debu bahkan ia sendiri ikut bersin-bersin.
Dalam batin ia menggerutu apakah seorang pria bisa hidup dengan jorok? Ya Allah berikanlah hamba kesabaran untuk menjalani semua ini.
__ADS_1
Setelah merasa kasurnya agak bersih Ira kembali masuk ke kontrakan yang lebih pantas disebut gubug derita, karena sungguh siapapun yang melihat pasti akan sedih dengan susunan triplek yang tidak karuan yang menjadi dinding kamar, bahkan tak ada jendela sebagai ventilasi udara.
Ia ingin pinsan tapi untuk sementara waktu ia tak ingin berdebat dan berusaha menerima keadaan.
Ira masih terus membersihkan ruangan itu termasuk mengelap TV yang layarnya begitu buram dipenuhi oleh debu termasuk dash boardnya begitu penuh dengan sidik jari yang berminyak. Ia sangat jijik dan segera mengelapnya.
Ia segera mengumpulkan bekas gelas kotor yang berserakan disetiap penjuru ruangan dan mengelap meja hitam yang juga kotor karena jejak minuman lalu segera mencuci semua yang telah ia kumpulkan, kemudian membalik kasur yang sedang dijemur dan lagi-lagi ia bersin karena debu yang bertebaran akibat kebutan yang ia ciptakan.
Setelah cahaya matahari meredup diangkatnya kasur tersebut kemudian memasangkan sprei bercorak bunga-bunga yang kebetulan ada di dalam kopornya.
Kegiatannya itu membuatnya lupa kalau ia telah melewatkan jam makan siangnya. Baru tersadar setelah gubug itu lebih bersih dan mulai lemas karena energi yang terkuras habis.
Melihat putrinya yang kelelahan Cecep segera pergi membeli dua bungkus nasi beserta lauknya dan dua botol air mineral berisi lima ratus mili liter.
Mereka memanjatkan doa, lalu segera menghabisi hidangan yang ada dihadapannya. Setelah merasa kenyang Cecep mulai menyalakan teko listrik yang berisi sedikit air untuk dua buah gelas. Yang rencananya akan digunakan untuk membuat kopi.
"Galon kosongnya kenapa dibiarin kosong?"
tanya Ira kepada ayahnya
"Ya udah biar Ira yang pergi."
Irapun segera berlalu menuju depot isi ulang yang di maksudkan dengan membawa galon kosong.
Setelah melewati ujung komplek pemulung barulah menyambung ke perumahan biasa. Ia menyusuri blok yang masih satu arah itu, hingga sampai diujung jalan barulah terlihat depot isi ulang yang dimaksud, ternyata memang agak jauh dari gubug yang ia tinggali.
"Bang bisa tolong dianterin ke kompleks pemulung yang di ujung sana?"
tanyanya sambil menunjuk ke ujung jalan yang masih jauh terlihat itu.
"Siap. Dari rumah pak RT rumahmu sebelah mana?"
Ira terdiam sejenak, karena baru tiba disini hari ini tak kenal siapa pula Pak RT.
__ADS_1
"Saya baru datang hari ini bang, maap belum kenal sama pak RT."
Jawabnya sambil memperhatikan Pria tinggi kurus berkulit gelap dan rambutnya yang kribo diikat bak roker itu kira-kira seusia dengan kakak angkatnya sedang membersihkan galon milik Ira lalu mengisinya.
"Ya sudah kalau begitu saya bonceng kamu sekalian."
Merekapun segera berlalu menuju tempat Ira. Sesampainya disana pria itu membawa masuk galonnya pelanggan dan memberikan kupon gratis yang tertera sebuah nomor disana.
"Dek simpan nomor abang biar kalo habis segera abang antar, tapi bukan nomor bos yang tertera di kupon."
Ira mengerti dan segera mengambil ponselnya bersiap untuk menyimpan nomor pria itu.
"Siapa nama abang?nomornya?"
tanya Ira kepada Pria itu dengan agak tidak sabar ingin segera memencet tombol-tombol dari ponsel yang ia genggam itu.
"08xxxxxx, simpan saja atas nama abang ganteng."
Pria itu bergurau cekikikan melihat ekspresi pelanggannya yang mulai terlihat kesal.
"Becanda dek. ketik aja bang Rizal ganteng."
Irapun segera memberikan sejumlah uang kepada abang narsis itu, dan pria itu segera berlalu setelah memberikan uang kembalian.
Ira menggeleng-gelengkan kepalanya karena masih heran dengan kelakuan Rizal yang agak narsis itu.
"Gak apalah narsis yang penting dianterin nyampe sini gratis, udah gitu murah lagi."
Gumam Ira sambil menyeruput susu jahe yang sudah dibuatkan ayahnya itu. Cecep tahu kalau putrinya tidak terbiasa dengan kopi.
Saat mereka sedang asyik menonton acara TV ponsel Ira tiba-tiba berdering. Ia segera memencet tombol ok tanpa melihat dulu layar ponselnya.
"Hallo, Assalammualaikum."
__ADS_1
"Waalaikum salam Ra, gimana kabar lu? ini kak Ayu yang kerja dilantai dua."