
"Oke kalo begitu. Kutunggu SMS atau telepon dari Kau ."
Ujar Pria itu. Kemudian Ira berlalu meninggalkannya karena sibuk melayani pelanggan yang lain.
Sebenarnya Ira hanya memberi harapan palsu saja semacam penolakan secara halus karena ia tidak bisa menolak secara terang-terangan.
Keesokan harinya, seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa Mamih dan beserta seluruh keluarga akan pergi menghadiri acara pernikahan keponakannya pada Pagi hari dan Sekembalinya dari acara tersebut akan pergi berbelanja ke Tanah Abang .
"Ra Kami semua mau berangkat. Kamu mau ikut?"
Tanya Mami kepada Ira.
Iamalah melongo bingung tidak langsung menjawab pertanyaanya itu.
"Gimana Ra ikut nggak?"
Tanya Mami sekali lagi. Kemudian ia menjawab setelah berpikir sejenak.
"Nggak ah Mih. Ira mau main ke tempat Ceu Elis aja ."
"Ow ya sudah kalo gitu ini kunci cadangannya, tapi jangan lama-lama Kita masih mau ke Tanah Abang nanti ,"
"Ok Mih. Ira gak bakalan lama kok, paling bentaran aja."
Mamih menyerahkan kunci cadangan kepadanya kemudian berlalu.
Itu semua baru rencananya bahkan ia belum menghubungi temannya itu. Ia belum tahu pasti apakah Elis ada dikontrakan atau sedang keluar.
Untuk memastikannya ia segera menelpon Elis. Tapi jawabanya malah nomor yang anda tuju sedang sibuk tut...tut...
Ira mencoba sampai tiga kali berturut-turut, tetapi masih jawaban yang sama.
Akhirnya Ia memutuskan untuk tetap pergi walau tidak tahu akan bisa bertemu dengannya atau tidak.
Sesaat kemudian Mereka semua pergi kecuali Pale.
"Kamu nggak berangkat?"
Tanya Ira kepada Pale yang terlihat siap berkendara dengan Motor CB kesayangannya itu.
"Lagi males aja, lagian ntar siang masuk shif dua. Mbak sendiri kelihatan udah cantik mau pergi kemana?"
Tanya Pale pada Safhira yang saat itu mengenakan gamis biru langit polos senada dengan hijab, sepatu beserta tas selempangannya juga. Ia berpikir kalau gadis itu penggemar warna biru langit karena semua yang dikenakan warnanya persis sama. Lagipula ia tak mengerti apakah ini disebut dengan style ataukah norak.
sungguh Pale tak mengerti sama sekali tentang pemikiran mahluk indah yang disebut dengan wanita. Bahkan selama ini ia cuek pada setiap gadis yang mengejarnya. Karena kesenangannya hanya berkumpul dengan teman - temannya dan merasa kalau Wanita itu mahluk yang Rese dan sulit dimengerti apalagi dipahami setelah mencoba berhubungan dengan benerapa gadis, itupun tak pernah berlangsung lama.
__ADS_1
Irapun segera menjawab.
"Aku mau maen ke teman lamaku, "
"Dimana?"
" Cipayung. Deket polsek"
"Kuantar deh pulang pergi. Lagian aku lagi free . Asal jangan lama-lama soalnya masih harus kerja nanti siang"
"Beneran?makasih ya udah mau nganter."
Pale tidak menjawab pertanyaan Ira lagi kemudian tersenyum sambil mengangkat jempolnya dan menyerahkan sebuah helm untuk Ira.
Setelah dipasang ternyata susah sekali Ia menyerah dan mengeluh kepada pale.
"Gimana nih susah banget"
Pale segera membantu memasangkan helmnya.
"Cewek manja"
gumamnya.
Selidik Ira memandang tajam kedua bola mata Pale
"Nggak ngomong apa-apa. Kamu salah denger kali Mbak, Ayo ."
Pale mencoba mengelak dan mencoba mengalihkan perhatian Ira dengan segera mengajaknya duduk di jok belakang.
Safhira menurut begitu saja dengan ajakan Pale. Kemudian melaju ke Tempat yang dimaksudkan.
Kini Mereka sudah berada tepat didepan Kontrakan Elis.
Lagi-lagi Ira meminta bantuan Pale untuk melepaskan helm yang tak bisa ia lepas.
Elis yang kebetulan sedang di depan kontrakan, jadi salah paham dengan apa yang sedang ia lihat sekarang.
Ia segera menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan kedua tamunya itu untuk segera masuk ke dalam.
Setelah Ira dan pale duduk. Ia segera menyuguhkan makanan ringan dan Nescafe dengan kremer yang melimpah untuk Ira. Ternyata Elis tidak lupa dengan selera temannya itu. Sedang Pale disuguhi kopi hitam seingatnya itu seleranya.
"Diminum kopinya Le, dan Lu Ra sekarang agak kurusan, kenapa?"
"Masa sih? mungkin ia Ceu. Pakaianku memang kerasa agak sedikit longgar dari biasanya."
__ADS_1
Jawab Ira sambil menikmati sepotong kue coklat kemudian menyeruput kopi nya.
"Masuk TMII yuk Ra, dari sini ada jalan nerobos masuk jadi gak usah capek-capek beli tiket."
Ajak elis kepada mereka. Sontak Ira da pale langsung saling berkontak mata seolah sedang berbicara bahasa mata. Ira menatapnya Lekat-lekat seperti mencari sebuah jawaban disana. Pale pun mengerti kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Ira tersenyum manis menerima sebuah kode tanda persetujuan darinya kemudian segera menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Elis.
"Iya Ceu Kita mau."
Tanpa berganti pakaian ia percayadiri dengan pakaian yang di kenakan .
Sekali lahi Ira merasa prihatin dengan gaya hidup Elis yang jauh berubah. Tidak lagi seperti dulu, padahal Ira sangat menyukai kebiasaanya berpuasa sunah senin dan kamis. Berpakaian syar'i dengan baik dan benar.
Sungguh ia menyayangkan akan perubahan Elis yang hanya didasari sejumlah uang.
Demi uang rela menghianati keyakinannya. Ira yakin kalau sebenarnya Elis masih ada keinginan untuk kembali seperti dulu, namun seberapa besar Ira tak tahu, hati orang tidak ada yang bisa membaca.
Sepanjang perjalanan melewati jalan setapak ia memperhatikan semua pergerakan Elis dan menyimpulkan kalau sifat temannya itu masih sama seperti dulu yang membedakan hanyalah gaya berpakaiannya yang menjadi lebih kepada mengumbar auratnya itu.
Menurut pemikirannya Wanita yang cerdas adalah wanita yang bisa menghargai dirinya sendiri dengan menutup aurat dengan baik dan benar. Walau belum sepenuhnya ia jalankan tapi ada sedikit bukti nyata.
Sesampainya mereka di ujung jalan ada bongkahan tembok yang gerowong sehingga memungkinkan menjadi akses untuk masuk ke dalam TMII .
Elis melintasi gerowong itu terlebih dahulu kemudian disusul oleh kedua tamunya.
"Ayo Ikuti gue. Ini jalan nerobos masuk, cuma warga lokal yang biasanya pake jalan ini."
Mereka terlihat sangat sumringah memandangi pemandangan sekitar yang didominasi pepohonan rindang disepanjang jalan yang mereka lalui. Kemudian mereka memutuskan untuk berhenti ditepi Danau, lalududuk di bawah pohon caringin besar yang dangat rindang .
Semuanya menukmati pemandangan yang menyejukkan itu tanpa ada Seorangpun yang bersuara untuk bebetapa saat.
Sampai akhirnya Ira kembali kepada keinginannya untuk menggali rahasia hati Elis.
Safhira segera memberi kode kepada pale untuk pergi meninggalkan mereka. Pale pun segera menangkap signal dari Ira dan mengerti apa yang harus dilalukan.
"Permisi. Aku mau berkeliling sebentar"
Ira dan Elis segera mengangguk. Kemudian Pale berlalu.
Kesempatan ini Ira gunakan untuk memberondong pertanyaan-pertanyaan pribadi mengenai Elis.
"Ceu, apa Lu betah kerja di bar? apa gak mau ganti haluan kerja yang lain?"
Tanya Ira sambil menatapnya lekat-lekat menanti jawaban disana.
__ADS_1