
Hujan deras mengguyur kota G pagi ini. Di kelas XB terlihat pak Jonathan berdiri di depan kelas sambil menatap anak didiknya.
"Minggu depan kalian akan menghadapi ulangan akhir semester. Persiapkan diri kalian." Ucap Jonathan sambil menatap siswa didiknya.
"Baik, pak."
"Kalau begitu sampai jumpa besok." Jonathan segera melenggang pergi meninggalkan kelas XB.
........ ........ ......
Bel istirahat berbunyi nyaring dan para siswa berhamburan keluar kelas menuju cafetaria sekolah.
Dirga yang kelaparan segera menyeret Reihan menuju cafetaria sekolah, disusul oleh Reiva dan Nayra yang sama-sama kelaparan. Lebih tepatnya Reiva menyeret Nayra.
"Bi, pesan mie ayam seporsi plus bakso ya! Minumnya teh hangat!" Dirga menaikkan suaranya seoktaf.
"Kau tidak memesan untuk kami?" Tanya Reihan kesal.
Dirga cengengesan dan menatap Rei bersaudara serta Nayra yang berdiri di belakangnya. "Aku lupa." Ucapnya tanpa dosa.
"Bibi, kami juga mau mie ayam dan minumnya teh hangat saja." Reihan mengeraskan suaranya. Pemuda tampan itu mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk.
"Kita duduk disana saja." Ucap Reiva saat melihat sebuah meja kosong berisi kursi untuk 4 orang. Reihan segera berjalan kesana bersama Nayra dan Reiva. Sebelum berlalu Reihan berkata, "Bawakan pesanan kami juga." Yang berhasil membuat Dirga mengerut sebal.
Dirga membawa sebuah nampan berisi 4 porsi mie ayam dan minuman mereka masing-masing lalu mengembalikan nampan tersebut.
................. ............
Vidya dan antek-antek nya melihat Dirga makan bersama Reihan dan 2 orang gadis. Dengan gaya centil, gadis itu berjalan santai mendekati Dirga di ikuti oleh ketiga temannya.
Vidya duduk disamping Dirga dan memeluk lengan pemuda itu. Kedua temannya memandang Reihan dengan mata berbinar.
"Hai, Dirga~ Di ulang tahunmu nanti kau mengundangku, kan~?" Mendadak Dirga merasa mual saat hidungnya mencium bau parfum Vidya yang begitu menyengat.
"Tidak. Aku tidak mengundang siapapun kecuali sahabatku." Jawab Dirga sambil berusaha keras menelan makanannya.
"Kau jahat sekali." Vidya merengek lalu menatap Reiva dan Nayra dengan tatapan benci, "Apa karena dua ****** ini?" Ucapnya sambil menunjuk Reiva dan Nayra yang makan dengan tenang.
Belum sempat Dirga menjawab, Reihan mengeluarkan aura dingin membuat suhu disekitar mereka turun drastis. "Kau menyebut kembaran perempuan ku ******? Lalu kau sendiri apa?" Tanyanya dengan nada dingin.
"Dia kembaranmu? Tidak mungkin!" Sentak Vidya tak percaya. Mereka memperhatikan wajah Reiva dan Reihan dengan seksama. Terlihat fitur wajah mereka begitu mirip namun karena gender mereka berbeda dan ditambah dengan mereka yang memakai kacamata setebal pantat badak, persamaan mereka tak terlihat begitu mencolok.
Vidya menahan malu sekaligus kesal dan berkata dengan nada sinis, "Apa kau mengundang si pembawa sial ini? Ku harap acara ulang tahunmu tidak berantakan besok!"
"Apa yang kau katakan?! Nayra tidak seburuk yang kau katakan!" Ucap Reiva berapi-api, membuat beberapa siswa menoleh mendengar perkataan Reiva.
__ADS_1
"Memang benar seperti itu, kan?"
Siswa yang penasaran segera berkerumun menyaksikan perdebatan Vidya dan Reiva.
Reihan segera menenangkan Reiva yang siap meledak ledak dengan mengusap punggungnya. Merasa situasi semakin memanas Dirga segera angkat suara, "Selama kami berteman dengan Nayra, kami baik-baik saja. Jika memang dia seperti yang kau ucapkan, seharusnya kami mengalami kesialan saat bersamanya."
Nayra segera berdiri dan pergi dari sana. Terlihat seringai kemenangan di wajah Vidya.
"Nay! Kau mau kemana?!" Namun gadis itu telah menghilang dari pandangan mereka.
.............. ............
Nayra berlari tak tentu arah sambil menangis. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Ucapan Vidya terngiang-ngiang di kepalanya.
Karena tidak memperhatikan sekitarnya, di kejauhan terlihat sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi.
Kemunculan Nayra yang mendadak membuat supir mobil kaget. Supir tersebut membunyikan klaksonnya dan berteriak, "Hei!! Awas!"
Mendengar suara klakson mobil, Nayra tersentak kaget dan menyadari bahwa dirinya telah berada di tengah jalan.
'Brakk!'
Sepersekian detik sebelum tertabrak, Rean muncul entah darimana dan mendekap Nayra yang terpaku lalu menghilang.
"Aneh. Sepertinya tadi aku telah menabraknya." Guman sopir itu dan kembali masuk ke mobilnya untuk melanjutkan perjalan dengan kecepatan sedang.
............ ......... ........
"Kau tak apa?"
"Aku baik."
Saat ini Nayra dan Rean tengah berada di sebuah taman.
"Kenapa kau berlari seperti itu? Bagaimana jika kau tertabrak mobil tadi?" Tanya Rean cemas sambil menatap Nayra yang kembali sedih.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Lain kali jangan gegabah seperti itu."
"Aku.... Dibenci teman-temanku." Nayra mulai bercerita. "Mereka bilang aku pembawa kutukan. Karena itu aku–" Ucapan Nayra terpotong saat jari telunjuk Rean berada di bibirnya.
"Jangan dipikirkan. Kau tak seperti apa yang mereka katakan. Mereka hanya iri denganmu. Kau sangat cantik dan spesial." Ujar Rean lembut dan segera menjauhkan telunjuknya dari bibir Nayra.
"Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang." Tanpa aba-aba Rean menggendong Nayra dengan bridal style dan berlari dengan kecepatan tinggi.
Nayra reflek mengalungkan lengannya pada leher Rean. Rean membawa gadis itu berlari melompati atap perumahan dan melompat cukup tinggi. Nayra terpesona dengan pemandangan malam, dengan bulan bersinar terang ditemani taburan bintang yang berkelip indah sebelum akhirnya tiba di jendela kamar Nayra.
__ADS_1
"Kita sudah sampai." Ucap Rean sambil menurunkan Nayra dari gendongannya. Pemuda itu melihat wajah gadis itu lebih ceria sekarang.
"Terimakasih. Aku merasa lebih baik sekarang."
"Sampai jumpa." Rean segera menghilang di gelapnya malam.
Tanpa mereka sadari, sesosok bermata kuning memperhatikan interaksi mereka berdua.
"Khu.. khu.. khu.."
.......... ......... .......
Sesosok manusia ular muncul di hadapan Rean, membuat pemuda tampan itu tersentak kaget.
"Seekor manusia kucing jatuh cinta kepada seorang manusia, menarik. Sshhh..." Ucap sosok manusia setengah ular.
"Apa maumu?" Tanyanya penuh curiga.
"Sshhh.... Tentu saja manusia itu. Sshhh... Dia memiliki aura yang spesial." Ucap sosok itu sambil menjulurkan lidahnya yang bbercabang, lalu sosok itu mengulang di gelapnya malam.
........ ...... .....
Nayra sedang belajar dengan buku yang berserakan dimejanya. Suara ketukan jendela mengalihkan perhatiannya membuat konsentrasi nya buyar seketika. Nayra segera bergegas menuju jendela dan membukanya.
"Apa ada yang menemui mu tadi?" Tanya Rean dengan cemas.
"Tidak. Ada apa?"
"Tidak ada. Kalau begitu jangan biarkan siapapun masuk. Sampai nanti." Rean segera pergi dari sana meninggalkan Nayra yang kebingungan.
Nayra segera menutup jendela dan menguncinya rapat-rapat tanpa menyadari seseorang memperhatikan nya dari kejauhan.
........ ......... ......
"Hei, apa kau pernah mendengar tentang manusia kucing?" Tanya Dirga yang duduk disebelah Reiva. Pembicaraan mereka didengar oleh Nayra yang duduk dibelakangnya.
"Manusia kucing?"
"Iya. Menurut rumor yang beredar, mereka sangat kuat melebihi manusia pada umumnya. Mereka berubah menjadi kucing saat berusia 18-25 tahun. Jika mereka menemukan orang yang merawatnya dengan tulus dan penuh cinta, mereka akan membalasnya dengan kesetiaan." Jelasnya panjang lebar.
"Ada yang mengatakan, penampilan mereka sama seperti bulu kucingnya. Bahkan mereka memiliki kalung bewarna merah berisi nama mereka."
Perkataan Dirga membuat Nayra mengingat tentang pemuda itu dan kucingnya. Saat pertama kali menemukan Rean, terdapat sebuah kalung bewarna merah berisi nama di lehernya.
'Jangan-jangan...'
__ADS_1