Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Tragedi


__ADS_3

Suara pertengkaran membuat telinga Miana berdiri tegak. Pemuda kucing itu mengendus bau yang di kenalnya.


"Sepertinya ada opera sabun dadakan." Guman pemuda kucing itu. Dengan perlahan Miana membuka tutup selokan berukir aneh dan melihat disekelilingnya.Terlihat Andra tengah berdebat dengan seorang perempuan berbaju ketat kurang bahan.


Tanpa sepengetahuan siapapun Miana berubah menjadi kucing anggora bewarna jingga lalu keluar perlahan dari balik tutup selokan dan bersembunyi disemak-semak.


Gadis itu adalah Litha, perempuan berpakaian minim yang ketat sangat terobsesi dengan Andra, pemuda yang terlihat sederhana namun cerdas.


Litha tidak tau jika Andra mengetahui tujuan gadis itu. Ya, Litha mendekatinya karena ingin menang taruhan dengan teman-temannya yang secara tidak langsung didengar oleh Andra.


Berbagai cara telah dilakukan oleh gadis itu, bahkan dia melarang Andra bergaul dengan teman-temannya yang membuat pemuda itu risih.


Seperti hari ini, Litha yang saat itu melihat Andra pulang sendirian seperti biasa, ngotot ingin mengikuti pemuda itu menuju apartemen Hunter. Andra yang sangat kesal dengan Litha sengaja mengacuhkan gadis itu dan berjalan dengan langkah lebar.


"Kau sengaja meninggalkanku demi mereka?" Pekik Litha tidak terima membuat Andra mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Aku tidak menyuruhmu untuk mengikuti ku, kau sendiri lah yang terus membuntuti ku." Balas Andra dengan dingin yang berhasil membuat gadis itu terdiam.


"Dan kau juga menjauhkanku dari teman-temanku." Lanjut nya lagi dengan tenang dan menatap tajam gadis itu.


"Tapi mereka tak pantas bersamamu." Sahutnya dengan enteng tanpa rasa bersalah gadis itu tidak melihat sekelebat emosi yang terpancar di mata Andra.


"Siapa kau yang berani mengatur ku?" Tanyanya dingin yang berhasil membuat gadis itu terdiam. "Ingat, kau itu bukan siapa-siapa ku dan kita tidak saling kenal. Seharusnya kau tau batasanmu." Lanjutnya dengan nada dingin membuat Litha bungkam seketika.


"Aku pertama kali melihat kakak seperti ini." Bisik Reihan yang didengar oleh 2 temannya.


"Dan kakak terlihat mengerikan." Imbuh Reiva tanpa mengalihkan pandangannya.


Andra berbalik dan melihat kedua adik dan temannya menatapnya dengan penasaran. Beruntung apartemen ini sepi karena sebagian besar gedung ini masih kosong dan penghuninya sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga mereka tidak menjadi bahan tontonan.


"Maaf atas ketidaknyamanannya." Ucap Andra dengan rasa bersalah.


"Tidak apa kak. Kami tak mendengar apapun, benarkan teman-teman." Ucap Dirga sambil meminta persetujuan dari Rei bersaudara dan Nayra.


"Benar. Kami tidak mendengar apapun." Sahut Reiva mengiyakan.


"Apa karena 2 ****** itu?" Tanya Litha emosi sambil menunjuk Reiva dan Nayra yang langsung mendapat tatapan tajam dari Andra dan Reihan.

__ADS_1


Andra sangat menyayangi Reiva dan dia tidak menyukai seseorang menghina adik perempuan satu-satunya.


"Pasti karena mereka, kan? Aku akan membuatmu menderita karena telah menolakku!" Pekik Litha dengan emosi dan langsung berlari menerjang Nayra yang berada tak jauh darinya.


Reiva dengan sigap menahan serangan dadakan tersebut dan mendorong Litha hingga jatuh tersungkur. Seperti sebuah kebetulan, tepat disebelahnya terdapat sebuah batu berukuran cukup besar dan Litha langsung mengambil batu itu lalu melemparkan kearah Reiva.


Reihan yang berada di sebelah Reiva dengan sigap menghalau batu itu dan langsung menghantam kepala pemuda itu dengan keras.


'Bught' 'Brukh'


"Reihan/Kak Rei" Pekik mereka saat melihat Reihan tak sadarkan diri . Darah segar mengalir cukup deras di kepala pemuda itu membuat mereka panik. Reiva berusaha menekan pendarahan di kepala Reihan dan menyuruh Nayra menelpon ambulance.


"Kau sudah keterlaluan!" Teriak Andra emosi. Litha tersenyum sinis lalu mengambil sebuah pisau lipat yang selalu dibawanya dan berlari menghampiri Andra.


Dengan cepat Dirga mendorong Andra dan pisau itu menancap sempurna di perut Dirga.


'Jleb'


"Ukh..." Rintih Dirga saat Litha mencabut pisau yang telah berlumuran darah. Dirga ambruk tak sadarkan diri.


"Tidak!"


"Dasar pembunuh." Ucap Andra penuh penekanan. "Kau sudah menghina dan membunuh adikku." Lanjut Andra dengan penuh kebencian.


Seketika tangan Litha yang berlumuran darah gemetaran dan menjatuhkan pisau lipat yang telah berlumuran darah.


........ ......... ........


Mereka kini berada di depan ruang operasi. Terlihat orang tua Dirga menangis tersedu-sedu meratapi nasib anak mereka. Keluarga Dirga tergolong keluarga yang berkecukupan. Ayahnya merupakan pegawai kantoran dan ibunya merupakan seorang pelayan di sebuah restoran.


Keadaan Andra dan Reiva tak jauh berbeda, saudara dan temannya bersimbah darah tepat dihadapannya. Nayra sendiri masih shock atas kejadian tadi.


Sedangkan Litha? Gadis itu tengah menangis dipelukan ayah dan ibunya yang saat ini berusaha menenangkan nya, "Kau tidak salah, nak." Guman wanita paruh baya dengan make up tebal dan perhiasan berceceran ditubuhnya.


Lampu di ruang operasi telah padam, seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan pakaian bedah.


"Keluarga pasien Reihan Kusuma ?" Tanya sang dokter yang langsung disambut oleh Andra dan Reiva.

__ADS_1


"Kami saudaranya." Jawab mereka bersamaan.


"Pasien telah melewati masa kritis. Untuk sementara akan dipindahkan ke ICU karena benturan kepalanya cukup keras yang menyebabkan gegar otak."


"Lakukan, dok." Sahut Ardani yang baru saja sampai dengan seragam detektif.


"B–baik, Nyonya." Jawab dokter itu dengan gugup yang langsung dibalas dengan pelototan tajam seolah berkata, 'Jangan-panggil-aku-Nyonya.'


"Lalu bagaimana dengan putra kami, dok?" Tanya ayah Dirga.


"Untung lukanya tidak mengenai organ tubuhnya. Saat ini beliau baik-baik saja dan akan dipindahkan ke ruang rawat." Jelas sang dokter.


"Lakukan apa yang perlu dilakukan. Berikan mereka perawatan terbaik." Perintah Ardani.


"Baik."


"Apa yang terjadi?" Tanya Ardani kepada kedua anaknya.


"Pembunuh itu," Andra menunjuk Litha yang tengah menangis di pelukan ibunya dan melanjutkan. "Membuntuti ku hingga sampai di apartemen dan menyerang Reiva dengan batu, sayangnya Reihan menghalanginya dan batu itu mengenai kepalanya. Lalu dia hendak menyerangku dengan pisau lipat namun Dirga menghalangiku dengan menjadikan dirinya tameng." Jelas Andra tanpa kebohongan.


"Apa yang dikatakan kak Andra benar, bi." Nayra membenarkan.


"Bohong! Anakku tidak bersalah!" Ucap Ibu Litha sambil memeluk anaknya yang masih terisak.


"Ibu bisa mengeceknya di CCTV apartemen dan jalanan yang berada di sekitarnya." Jelas Andra dengan tenang.


"Aku akan membayarmu jika kau tak membawa kasus ini ke pengadilan." Ucap ayah Litha dengan sombong sambil melemparkan sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang.


"Aku hanya meminta keadilan untuk anak kami. Kami menolak uang dari orang tua pembunuh sepertimu." Maki ayah Dirga dengan dingin.


"Kalian hanya orang miskin, bodoh lagi. Apa uang segitu kurang?" Maki ibu Litha tidak terima.


"Tante, ini rumah sakit. Tolong jangan ribut." Nayra memperingati ibu Litha yang siap meledak.


"Berapa pun Anda membayarnya, itu tidak akan mengubah apapun. Nyawa anak kami nyaris melayang karena kalian tidak bisa mendidik putri kalian dengan benar." Sindir ibu Dirga yang berhasil membuat keluarga Litha emosi.


"Jawaban yang bijak tante. Se amplop uang tidak mampu merubah keadaan yang menimpa saudara dan teman kami." Jawab Andra datar dan dingin.

__ADS_1


"Sudah miskin, sombong lagi." Ejek ayah Litha sambil meludah jijik. "Kalian hanya orang rendahan mana bisa membayar biaya rumah sakit ini." Lanjutnya lagi dengan merendahkan.


Tak berapa lama beberapa perawat mendorong dua brankar yang membawa tubuh lemah Dirga dan Reihan ke ruangan masing-masing untuk mendapatkan perawatan. Tak mau mendengarkan keributan para orang tua, Reiva, Andra dan Nayra segera mengikuti perawat yang membawa tubuh lemah saudara dan teman mereka.


__ADS_2