
Mereka telah selesai membangun tenda saat matahari sudah miring ke barat. Sebentar lagi senja akan datang dan mereka harus segera mencari bahan makanan.
"Kenapa kau tidak ikut dengan mereka?" Tanya seorang siswa bernama Nitani Ariani penasaran. Gadis manis dengan rambut sebahu bewarna hitam kecokelatan itu mendekati Reiva yang sibuk memasang patok tenda. Dia tahu jika Nayra, Reiva dan Reihan berasal dari keluarga kaya melihat dari tas dan sepatu yang mereka pakai, tetapi tidak ikut masuk ke dalam villa.
Mendengar pertanyaan Nitani, Reiva mendongak menatap gadis itu sambil mengingat sesuatu. "Bukannya mereka bilang kalau ini acara perkemahan? Jadi aku ingin berkemah disini. Mereka tidak bilang menginap dalam villa, kan?" Ucap Reiva santai sambil melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Gadis itu segera berdiri dan menepuk tangannya yang sedikit berdebu.
"Lagipula, aku malas mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk dua malam. Apalagi..." Reiva mendekati gadis itu dan membisikkan sesuatu, "Ada rumor yang beredar bahwa villa itu berhantu." Lalu menjaga jarak dari Nitani.
"Ayo kita segera berkumpul dengan yang lainnya." Ucap Reiva sambil meninggalkan Nitani yang pucat mendadak.
♦♦♦
Semua siswa kelas X berbaris di depan villa berdasarkan kelas baru mereka. Tepat saat kelas G berkumpul, semua mata memandang mereka dengan mencemooh dan mengejek.
Kelas G terkenal dengan kelas buangan yang dipenuhi berandalan penerima beasiswa. Seringkali para guru malas berurusan dengan kelas G sejak kepala sekolah dan guru-guru lama dipindahkan secara paksa.
Kelas A, terkenal dengan anak dari para pejabat kota, anak pemilik pengusaha kaya raya dan anak dewan yang dinilai cerdas, kelas yang menjadi incaran para guru untuk menjadi wali kelasnya .
Kelas B berisi anak pejabat dan dewan yang dinilai biasa saja bahkan beberapa anak pengusaha kaya juga ada dikelas ini.
Kelas C berisi anak dari para artis, pengacara, desainer maupun arsitek ternama yang memiliki prestasi akademik maupun non akademik.
Kelas D hanya berisi anak-anak pengusaha yang kaya, namun berprestasi dalam non akademik.
Kelas E di isi oleh anak yang orang tuanya bekerja sebagai militer.
Kelas F merupakan kelas yang berisi anak-anak yang orangtuanya menjabat sebagai manager maupun orang penting sebuah perusahaan dan kelas G merupakan kelas terakhir dimana para berandalan maupun penerima beasiswa menempati kelas itu.
Kesenjangan ekonomi merupakan hal yang biasa terjadi di sekolah itu sejak beberapa tahun lalu. Tidak ayal sekolah ini terkenal dengan sekolah elit termahal di kota G.
"Ehem! Semua sudah berkumpul?" Tanya seorang guru yang berdiri didepan kerumunan siswa, matanya menyusuri para siswa yang hadir. Dia adalah guru olahraga bernama Eiji Pratama, berusia sekitar 28 tahun yang memiliki paras tampan, rambut cokelat kehitaman dengan mata cokelat madu dibingkai alis tajam. Dia merupakan salah satu guru yang tidak menyukai wakil kepala sekolah serta jajarannya.
"Sudaah Paaakk!" Jawab para siswa serentak.
"Baik, sebelum acara dimulai, saya akan mengingatkan mitos yang berlaku disini. Saya harap kalian menghargai kepercayaan masyarakat sekitar sini." Eiji menjeda sejenak mengambil nafas lalu melanjutkan, "Kalian dilarang berteriak dengan suara melengking tinggi, berkata kasar, membully dan melakukan hal yang tidak senonoh. Paham semua?!"
"Paham!!" Jawab para murid serentak.
"Heh, kenapa masih percaya dengan tahayul kuno seperti itu?" Gerutu Vidya yang didengar oleh semua orang, namun mereka mengabaikan nya.
__ADS_1
Mereka berdoa bersama, meminta ijin kepada penunggu bukit perbatasan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Setelah selesai Eiji segera memberi pengumuman.
"Baik, untuk acara hari ini, kita akan membuat makan malam terunik dengan memanfaatkan alam sekitar. Buat team beranggotakan enam orang. Saya beri waktu sepuluh menit!" Titah Eiji dengan tegas.
Seketika terjadi keributan saat para siswa mencari orang-orang yang cocok sebagai kelompoknya. Reihan segera memegang kerah belakang Reiva agar saudara kembarnya tidak dirampas yang berhasil membuat gadis itu kesal. Dirga segera menyambar lengan Nayra dan Reihan. Dia tidak mau berkelompok dengan orang menyusahkan.
Mata mereka dengan jeli menilai tiap orang yang akan menjadi kelompoknya.
"Kita tinggal dua orang lagi." Ucap Nayra mengamati sekitar, berharap menemukan orang yang cocok untuk menjadi kelompoknya.
Seketika mata mereka bersibobrok dengan Xiander dan Justin. Terlihat dua pemuda itu hanya diam ditempat tanpa ada yang mengerubungi mereka.
"Sepertinya dia cocok menjadi kelompok kita." Ujar Reiva sambil berusaha berjalan mendekati dua pemuda itu karena kerah belakangnya masih digenggam Reihan. Dengan terpaksa Reihan dan Dirga menyusul Reiva sambil menyeret Nayra yang pasrah.
"Kalian mau bergabung di kelompok kami?" Tanya Reiva dengan mata berbinar penuh harap begitu dekat dengan Xiander dan Justin berada yang sukses membuat Reihan ingin memukul kepala kembaran perempuannya.
Namun bisik-bisik terdengar disekitar mereka membuat empat sekawan itu mengernyitkan dahinya.
"Mereka mendekati orang aneh itu? Sayang sekali."
"Pembawa sial dan anak aneh sangat cocok dengan dua culun dan si miskin itu. Hahaha!"
'Sreett' 'Buagh'
Reihan yang merasa dirinya terbang sejenak dan mendadak berbaring ditanah dengan rasa sakit yang menyerang tubuhnya kaget. Pemuda itu mengaduh kesakitan dan menatap kembaran perempuannya dengan tajam. "Adududuh... Kenapa kau membanting ku, Reiva?!"
Suara gedebuk terdengar begitu nyaring membuat mereka terperangah tak percaya, apalagi Dirga dan Nayra. Dia tidak pernah melihat Reiva berkelahi sebelumnya.
"Refleks, kak. Refleks. Tadi kau juga mencekik leherku." Jawab Reiva santai yang sukses membuat Reihan berkedut kesal.
"Harusnya kau memberitahu ku, bukan membanting ku." Maki Reihan yang hanya dibalas dengan dengusan kesal. Pemuda itu segera duduk dan menatap kembarannya dengan kesal.
"Kau yang harusnya melepaskan kerah bajuku, memangnya aku ini kucing, hah?" Sungut Reiva kesal sambil meninggalkan Reihan yang duduk di tanah.
"Apa lihat-lihat?!" Bentak Reihan sambil melotot tajam dan mengeluarkan hawa membunuh saat menyadari semua orang memandanginya. Sontak mereka mengalihkan perhatiannya karena takut dengan hawa yang dikeluarkan oleh pemuda yang terlihat culun itu.
Dirga dan Nayra segera menghampiri Reihan yang berdiri sambil menepuk-nepuk belakang celananya yang kotor.
"Kau tak apa?" Tanya mereka kompak. Mereka saling tatap kemudian terkikik bersamaan.
__ADS_1
"Tidak apa. Aku hanya khawatir pada orang yang menjadi pacar Reiva. Aku hanya bisa berdoa agar orang itu selamat menuju akhirat." Cibirnya kesal. Sepasang saudara kembar itu saling melotot kemudian membuang muka ke arah yang berbeda, mengabaikan tatapan heran dari orang-orang disekitarnya.
♦♦♦
Setelah berkumpul dengan kelompoknya, mereka segera berpencar mencari bahan makanan memasuki hutan dan ladang warga sekitar.
Kelompok Rei bersaudara memasuki sebuah ladang milik warga. Sesekali mereka bertemu dan menyapa dengan beberapa warga yang beraktivitas di sana dengan ramah.
"Kita akan memasak apa untuk malam nanti?" Tanya Dirga sambil melihat pemandangan disekitarnya.
"Steak landak atau sate rusa. Sepertinya enak." Sahut Reiva asal yang membuat Reihan ingin menggeplak kepala saudarinya.
"Tapi lebih enak jika Kak Reihan yang menangkapnya. Bukan begitu, Kak?" Reiva menatap Reihan sambil menaik turunkan alisnya, tidak lupa memasang wajah memelasnya membuat Reihan berdecak kesal.
"Jangan aneh-aneh, deh. Aku tidak membawa peralatan berburu. Apalagi aku sudah kebal dengan tatapanmu itu." Sungut Reihan sambil membuang muka.
"Kak Andra saja tidak bisa menolak pesonaku. Sayang sekali aku bersama es batu." Kesal Reiva sambil mengembungkan pipinya.
"Kalian berdua jangan bertengkar." Nayra berusaha melerai remaja kembar tersebut. Telinganya sudah panas mendengar pertengkaran keduanya sejak tadi.
"Sebaiknya kita segera mencari bahan makanan sebelum matahari terbenam." Ucap Justin yang kini angkat suara.
♦♦♦
Sebentar lagi matahari terbenam, kelompok Rei tiba paling akhir dengan membawa beberapa ekor ayam hutan, ikan, keong sungai, seekor landak yang telah dibersihkan dan pakis. Pakaian mereka terlihat kotor karena tanah dan lumpur.
Para siswa dan guru menatap kelompok itu dengan heran, pasalnya semua kelompok kecuali kelompok Rei bersaudara hanya pergi menuju pasar terdekat untuk membeli bahan makanan.
Mereka berenam segera membagi tugas agar kegiatan mereka cepat selesai. Namun samar-samar mereka mencium bau wangi bunga melati bercampur amis darah.
Sontak mereka berlima mengedus-endus layaknya seekor anjing. Mereka saling tatap sebelum Xiander angkat suara.
"Kalian mencium bau ini?" Tanya pemuda itu sambil melirik sekitar.
"Iya, benar. Tapi aroma ini tercium samar. Sepertinya ada sesuatu." Balas Nayra.
"Mungkin bau darah babi hutan." Celetuk Justin santai sambil membuat api.
"Ada rumor yang mengatakan apabila kita mencium aroma melati dan amis darah, pertanda ada sebuah pantangan yang dilanggar. Di forum pemburu hantu ku banyak yang membicarakan nya." Ucap Dirga sambil menunjukkan ponsel nya.
__ADS_1
Sepasang Rei saling tatap, bandul anting mereka bergoyang cukup kuat bertepatan muncul sesosok wanita di samping Xiander. Sosok itu berseru panik, "Gawat! Pantangan telah dilanggar! Kalian harus waspada!"