Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Perkara Kucing


__ADS_3

Setelah seminggu menjalani perawatan di rumah sakit, Dirga dan Reihan akhirnya pulang menuju apartemen tempat mereka tinggal.


Mereka bertiga turun dari bus di stasiun dekat apartemen bersama penumpang lainnya. Dirga meregangkan tangannya sambil menghirup nafas dalam-dalam, "Ahh... Aku merindukan udara segar. Terlalu lama di rumah sakit membuatku nyaris mati."


"Kau benar sekali." Reihan melangkahkan kakinya meninggalkan stasiun disusul oleh Reiva dan Dirga. "Sepertinya aku melupakan sesuatu." Ucap Reihan menghentikan langkahnya sambil mengingat sesuatu, membuat Reiva dan Dirga ikut menghentikan langkah mereka.


"Kau melupakan sesuatu di rumah sakit?" Tanya Dirga.


"Bukan, tetapi apa ya?" Reihan memasang pose berfikir sambil berusaha mengingat-ngingat.


"Mungkinkah, Miana?" Mendengar perkataan Reiva, mereka saling pandang sejenak dan segera berlari menuju apartemen Hunter.


Mereka memasuki area apartemen dengan tergesa-gesa, sesaat mata mereka tertuju pada sesosok kucing oranye yang duduk diatas tutup selokan bermotif aneh yang menatap mereka dengan pandangan errr... rindu?


"Kucing itu sangat cantik." Ucap Reiva gemas sambil berlari mendekati kucing itu, saat tangannya terjulur hendak menggendong kucing oranye itu, Tiba-tiba...


'Poft'


Kucing itu berubah menjadi sesosok pemuda bersurai pirang dengan mata biru yang indah, tak lain adalah Miana.


"Akhirnya kalian kembali." Ucap Miana senang sambil tersenyum tulus.


Mereka bertiga melongo tak percaya melihat hal aneh yang terjadi di hadapan mereka.


"K–kau Miana?" Tanya Reihan memastikan setelah pulih dari aksi bengong nya.


"Iya, ini aku. Apa kalian tidak mengenaliku lagi?" Tanya Miana dengan nada yang dibuat sedih, "Aku merindukan kalian, apa kalian tidak merindukanku?" Miana berkata dengan mata berkaca-kaca sambil merentangkan tangannya.


"Kami merindukanmu..." Sontak mereka bertiga berlari dan memeluk Miana dengan erat, mereka melepas rindu pada pemuda kucing itu.


Persahabatan mereka begitu tulus, sudah hampir 6 bulan mereka menjalani susah senang bersama. Mereka telah menganggap Miana sebagai bagian dari keluarga mereka. Setelah puas melepas rindu, mereka bergegas menuju unit apartemen masing-masing sambil berbincang-bincang melepas kerinduan.


♦♦♦

__ADS_1


Evan tengah bersandar malas di kursi nya sambil mengemut permen lolipop, disebelahnya terlihat Rean tertidur begitu pulsanya dengan menggulung tubuh mungil berbulunya di sofa.


Sebuah ide muncul di kepala Evan yang tengah dilanda kebosanan, dengan jahil pemuda itu mengagetkan Rean yang berwujud kucing anggora hitam itu. Kucing malang itu tersentak kaget dan meninggalkan mimpi indahnya dengan terpaksa.


Rean menatap Evan dengan tajam. Kucing itu duduk di atas sofa sambil mengeong jika di artikan, 'Bedebah! Kau mengganggu tidurku!’


Evan dengan santai mengeluarkan permen lolipop yang di emutnya lalu menyodokkan permen lolipop itu ke mulut kucing anggora hitam dan berkata, "Puss, hari ini aku bosan. Mengganggumu sebentar tidak apa-apa, kan?"


Evan terus menyodokkan permen lolipop nya hingga mengenai gigi runcing nan mungil milik sang kucing. Rean hanya bisa menatap tajam pemuda itu yang malah menyalah artikan tatapannya. Pemuda itu malah gemas sendiri dengan tatapan tajam sang kucing yang dianggapnya lucu. Merasa kesal dengan ulah Evan, Rean merubah dirinya menjadi manusia yang berhasil membuat Evan kaget dan terjungkal. Rean yang kesal menatap tajam pemuda itu dan mengambil permen lolipop di tangan pemuda itu dan menjejalkan ke mulut Evan.


"Aku tidak menyukai permen bekasmu. Jadi jauhkan permen itu dari wajahku atau kamarmu akan penuh dengan bangkai tikus." Ucap Rean sambil merubah wujud menjadi kucing kembali lalu segera pergi meninggalkan Evan yang masih terbengong-bengong mencerna kejadian barusan yang menimpanya.


"Yang barusan itu... apa?" Gumannya sambil menatap kepergian sang kucing.


♦♦♦


Reiva tengah asyik menatap pemandangan kota malam di balkon kamarnya. Terlihat pemandangan malam Kota G yang dihiasi kerlap kerlip cahaya lampu dari kejauhan yang terlihat seperti taburan bintang.


Tangan gadis itu memegang segelas coklat panas dan sesekali menyesap nya.


'Poft'


"Pemandangan kota yang indah, ya." Ucap Reiva tanpa menoleh. Miana segera menuju ranjang Reiva dan duduk disana sambil menepuk-nepuk sheet masknya.


"Hmmmmhhhh.... Sheet mask ini sangat menyegarkan... Kau mau mencobanya?" Tawar Miana sambil melepas sheet mask di wajahnya. Reiva menoleh dan menggeleng, "Tidak usah. Untukmu saja karena kau sudah tua." Ejek Reiva yang sukses membuat pemuda kucing itu berkedut kesal.


"Tapi aku masih muda dan tampan. Dan aku juga kuat loh." Ucap Miana tak terima.


"Kau melihat cermin di meja rias ku, kan? Coba bercermin disana." Ucap Reiva dengan sebelah tangan melambai-lambai pertanda mengusir. Miana mencebikkan bibirnya kesal dengan tingkah gadis itu.


"Maksudmu aku ini jelek, begitu?" Tanya Miana ketus sambil melepas sheet mask yang menempel di wajahnya. Reiva hanya mengendikkan bahu tak acuh dan berkata dengan santainya, "Aku tidak bilang begitu."


Miana menggeram kesal dan bergegas pergi dari sana.

__ADS_1


'Poft'


"Dasar kucing oren. Mudah sekali sentimen." Cibir Reiva sambil menyesap coklat nya yang mulai mendingin. Gadis itu menegaknya hingga tandas dan segera menuju dapur sambil membawa gelas bekas minumannya.


Gadis itu mencuci gelasnya dan meletakkan dalam rak. Sebuah suara aneh terdengar dari dalam kulkas membuat gadis itu curiga dan berjalan mengendap-endap mendekati kulkas itu dengan langkah tanpa suara.


Perlahan-lahan Reiva membuka kulkas itu dan apa yang dilihatnya membuat gadis itu berkedut kesal. Terlihat seekor kucing anggora oren tengah berpesta dengan cemilan kesayangannya. Seketika Reiva menenteng leher kucing oren itu dan merebut cemilan kesayangannya.


Kucing itu mengeratkan cakaran dan gigitannya pada bungkus cemilan itu seolah enggan melepaskannya. Terjadi keributan antara Reiva dan kucing oren itu.


"Lepaskan cemilan kesayanganku!!" Seru Reiva sambil menarik bungkus cemilannya. Namun sang kucing enggan bergeming dan memperkuat cakaran serta gigitannya di bungkus cemilan itu sambil menggeram.


Reihan dan Andra mendengar keributan itu segera bergegas ke dapur. Begitu sampai disana kedua laki-laki itu melihat Reiva yang tengah ribut dengan seekor kucing oren hanya demi sebuah cemilan. Kedua laki-laki itu sweat drop melihat kelakuan sang adik perempuannya.


'Yang benar saja?'' Batin mereka berdua sambil geleng-geleng kepala. Mereka berdua dengan tanpa dosa menonton sang adik yang tengah sibuk bergulat dengan si oren.


Merasa akan kalah, kucing oren itu memperlihatkan wujud aslinya yang tak lain adalah Miana. Dengan sekali tarikan Miana berhasil merebut cemilan itu dan membuat Reiva tersungkur ke depan. Miana berkata dengan nada tanpa dosa, "Terimakasih cemilannya. Aku pergi dulu."


'Poft'


Miana segera menghilang dalam kepulan asap, meninggalkan Reiva yang tengah berkedut kesal. "Sudahlah, aku tidak lapar." Ketus Reiva seraya bangkit dari posisi tidak elitnya.


"Bukannya cemilanmu masih ada banyak?" Tanya Andra sambil menuju kulkas yang masih terbuka dan mengambil sebuah minuman kaleng.


"Tapi itu cemilan kesayanganku kak..." Rengek Reiva tak terima.


"Sudahlah, sebaiknya kau tidur. Hari sudah hampir larut malam." Tegur Andra sambil berlalu menuju kamarnya yang di susul oleh Reihan dan Reiva.


"Baik kak, selamat malam." Gadis itu menurut, dia tidak mau mendengarkan ceramah panjang lebar dari Andra malam-malam. Bisa-bisa gadis itu tidak bisa tidur karena Andra kebablasan berceramah hingga pagi.


"Selamat malam." Jawab Andra dan Reihan bersamaan, tidak lupa mereka memadamkan lampu di dapur dan ruang tamu.


Mereka segera menuju kamar masing-masing dan memadamkan lampu kamar mereka. Setelah itu mereka melemparkan diri ke tempat tidur dan perlahan menuju alam mimpi.

__ADS_1


♦♦♦


__ADS_2