
Reiva merasa tubuhnya cukup berat, dengan perlahan gadis itu membuka matanya dan melihat dua buah tangan dan kaki yang melingkar manis di tubuhnya.
Reiva melihat kedua kakaknya memeluk dirinya layaknya sebuah bantal guling. Dengan pelan gadis itu melepaskan diri lalu beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan.
Reiva membuka kulkas hendak mengambil beberapa bahan makanan untuk sarapan, namun matanya terbelalak kaget saat melihat isi kulkasnya berkurang setengah.
"Kemana perginya persediaan makanan dan stok minuman yang baru beli kemarin?" Guman Reiva sambil berfikir.
.............. ............... .......
Di Lain Tempat
Di sebuah ruang tamu minimalis berukuran luas terlihat seorang pemuda bersurai pirang dengan telinga kucing tengah duduk dengan angkuh di sebuah sofa single dengan senyum penuh kemenangan terukir diwajahnya. Di depannya terdapat beberapa bungkus makanan dan beberapa minuman berukuran besar tertata rapi di mejanya.
Yup, dia adalah Miana yang baru saja berhasil mencuri persediaan makanan Reiva. Pemuda itu tertawa jahat sambil menyembunyikan hasil curiannya di sebuah laci meja.
"Lumayan stok selama seminggu." Ucap Miana sambil tertawa nista.
Namun tawanya berhenti saat hidungnya mencium sesuatu.
"Gawat, aku harus memberitahu mereka nanti." Lalu Miana segera mengambil sekotak susu berukuran besar dan meminumnya hingga tandas.
............. .......... ...........
Dirga melihat Reiva yang berjalan dengan wajah tertekuk. Pemuda itu menoleh kearah Reihan yang dibalas dengan mengendikkan bahu pertanda tidak tahu apapun.
Dirga menoleh ke arah Nayra, namun gadis itu hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak tau. Dirga yang penasaran memutuskan untuk bertanya, "Kau kenapa Rei? Pagi-pagi wajahmu kusut seperti kurang di setrika." Yang hanya di respon dengan dengusan kasar.
"Persediaan makanan dan beberapa stok minuman ku hilang di kulkas. Entah siapa yang mengambilnya." Jawabnya kesal.
"Bukannya semalam Miana meminum sekotak susu sendirian? Dia mendapatkannya dari mana?" Tanya Reihan sedikit curiga.
"Benar juga. Apa jangan-jangan.... " Reiva dan Reihan menghentikan langkah kaki mereka dan saling pandang, lalu Reiva menggeran marah, "Dasar Miana!!"
................ ................... ..........
'Poft'
Miana muncul bertepatan dengan ketiga remaja itu menginjakan kaki di taman apartemen. Mereka pulang lebih awal karena saat ini mereka tengah ulangan tengah semester. Tanpa basa basi Miana memberitahu mereka, "Aura di unit 289 terasa semakin menyeramkan, apa kita perlu memeriksanya sekarang?"
__ADS_1
"Sekarang masih siang, mana ada hantu siang bolong begini." cibir Reiva yang bergegas menuju lantai 3 unit 289.
"Reiva, tunggu!!" Panggil Reihan dan Dirga, kedua laki-laki itu menyusul Reiva yang telah menghilang di dalam gedung.
"Sepertinya dia marah." Guman Miana lalu pemuda kucing itu menghilang dalam kepulan asap.
'Poft.'
........... ........... ............
Ketiga remaja itu menyusuri lorong lantai 3 apartemen. Suasana sepi membuat lorong ini terasa sedikit seram, hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang terpantul di lantai memecah sepinya lorong lantai 3.
"Aku heran kenapa lantai 3 di kosongkan? Ini membuatku merinding." Ucap Dirga heran sambil memeluk dirinya sendiri.
’Poft'
"Hwaaa!!! Miana kau mengagetkan ku!!" Seru Dirga kaget saat Miana muncul tepat di depan Dirga yang membuat pemuda itu nyaris terjengkang.
"Hehe, aku sengaja. Lantai 3 tidak ada yang menempati karena gedung ini baru selesai di renovasi." Jelas Miana sambil mengingat sesuatu. "Oh, aku baru ingat. Ada seseorang yang tinggal sendirian di unit 289, tapi dia meninggalkan tempat ini beberapa hari yang lalu. Katanya di ganggu makhluk." kata Miana panjang lebar.
Tepat setelah berkata demikian, entah dari mana datang angin berhembus cukup kencang, lampu berkedip-kedip memberi kesan horor serta suasana terasa sangat senyap.
Mereka melihat di sekeliling dengan waspada, Miana dan Dirga segera bersembunyi di balik punggung Reihan karena ketakutan.
Suara tangisan itu menggema di lorong lantai 3, tanpa sengaja Dirga melihat sesosok wanita berbaju merah di jendela apartemen unit 289.
"Gyaaa!! Apa itu?!" Pekiknya dengan keras. Sontak kedua remaja kembar tak identik menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Dirga dan terlihat sesosok wanita dengan leher tersayat dan kepala yang dipenuhi dengan darah kering. Seketika bau amis darah terciun menyengat di koridor itu.
"Hii hiihiihiihi....." Sosok itu tertawa melengking tinggi lalu menghilang dari pandangan mereka. Miana mengedus-endus keberadaan makhluk itu menoleh ke belakang.
'Baaa'
Makhluk itu muncul di belakang Miana, membuat pemuda kucing itu berteriak kaget dan terjengkang membuat Dirga dan Rei bersaudara menoleh ke belakang. Sosok itu menghilang tiba-tiba dan tanpa di duga sosok itu muncul tepat di hadapan Dirga dan langsung mencekik leher pemuda itu hingga kakinya tidak menapak lantai.
"Ukh... Lep–askan aku..." Lirih Dirga sambil meronta-ronta mencoba melepaskan diri, namun usahanya sia-sia karena sosok itu tidak bergeming.
Reihan mencoba menyerang sosok itu dengan melemparkan kartu mantra dan merapal segel tangan, "Makhluk jahat yang mengganggu manusia, dengan ijin Tuhan aku mengusir mu dari dunia ini." Perlahan muncul sebuah simbol transparan yang membuat sosok itu berteriak kesakitan dan melepaskan cekikan di leher Dirga yang membuat pemuda itu jatuh tersungkur.
Reiva segera menghampiri Dirga yang terbatuk batuk hebat akibat kekurangan oksigen.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Reiva sambil menepuk-nepuk punggung pemuda itu.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Dirga sambil mengatur nafasnya. Setelah merasa normal pemuda itu mencoba berdiri.
"Gyaaaaa!!!" Teriakan melengking dari sosok berbaju merah itu menggema di lorong lantai 3 membuat siapapun bergidik ngeri. "Miana, tolong bantu kak Reihan menahan makhluk itu, aku akan ke kamar 289 untuk mencari petunjuk." Ucap Reiva sambil menyeret Dirga.
"Baiklah. Kalian sebaiknya cepat kesana!" Seru Miana, kemudian pemuda kucing itu merapalkan sebuah mantra yang langsung ditujukan ke arah makhluk itu.
Mereka berdua segera memasuki unit apartemen 289, "Pintunya terkunci." ucap Dirga sambil mencoba membuka pintu kamar itu, Reiva segera mengambil jepit rambut kecilnya dan mengutak atik lubang kunci itu.
'Cklek'
"Berhasil!" Pekik mereka berdua. Tanpa membuang waktu, Reiva dan Dirga segera memasuki kamar tersebut. Terlihat sebuah ruangan kosong yang luas dengan 3 kamar tidur yang kosong. Tepat di tengah-tengah ruangan mereka melihat sepetak keramik lantai yang terpasang tidak teratur.
"Kenapa keramik nya terpasang tidak rata seperti ini?" Tanya Dirga entah pada siapa.
"Maksudmu?" Tanya Reiva penasaran.
Dirga menjelaskan, "Coba perhatikan deretan keramik ini. Mereka terlihat rapi dan presisi walaupun dipasang secara acak sekaligus." Dirga menunjuk keramik yang berada dibawah mereka dan menunjuk sebuah keramik yang berada di tengah ruangan.
"Kau benar, lalu?"
"Coba kau lihat keramik di tengah ruangan itu." Tunjuk Dirga ke arah keramik yang terletak di tengah ruangan. "Keramik itu terlihat berantakan." ucap Reiva.
Mereka berdua segera mendekati lantai di tengah ruangan itu dan memperhatikan dengan seksama.
"Sepertinya ada sesuatu yang terkubur di lantai ini. Semennya terlihat baru."
Suara teriakan Miana dan Reihan terdengar dari luar membuat Reiva dan Dirga menoleh.
Tepat di hadapan mereka berdiri sosok wanita berbaju merah yang menatapnya dengan penuh amarah.
Dirga ketakutan dan segera bersembunyi di balik tubuh Reiva.
"Kami tidak tau kenapa kau begitu marah. Kami hanya ingin menolongmu." Ucap Reiva dengan tegas.
"Tolong aku...." Akhirnya sosok itu membuka suara setelah sekian lama terdiam. Aura yang dipancarkan tidak mencekam seperti tadi.
"Tolong temukan tubuhku..."
__ADS_1