Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Live Opera


__ADS_3

Beberapa pihak penyidik dan kepolisian memadati unit 289. Mereka membongkar beberapa keramik yang terlihat tidak beraturan.


Di temukan sebuah jasad wanita yang terkubur dibawah cor semen yang ditutup dengan keramik. Di duga jasad itu tewas terbunuh beberapa hari yang lalu.


"Terimakasih telah menolongku. Aku minta maaf telah menyakiti kalian tadi." Ucap sosok itu yang kini berwujud wanita cantik yang transparan.


"Tidak apa-apa. Sekarang kau bisa beristirahat dengan tenang." Ucap Reiva tulus.


"Terimakasih dan selamat tinggal." Perlahan sosok itu menghilang.


"Kerja bagus anak-anak." Puji Ardani pada tiga remaja yang berdiri di lorong lantai 3.


"Kenapa kalian tidak membuat sebuah club misteri? Kalian juga bisa mendapat bonus dan rekomendasi dari kepolisian karena membantu kami." Ucap seorang Inspektur kepolisian yang bernama Abimayu. Inspektur itu menghampiri ketiga remaja yang sedang memperhatikan proses penyidikan.


Mereka bertiga saling pandang hingga akhirnya Reihan angkat suara, "Beri kami waktu untuk memikirkannya."


"Baiklah. Tapi jika kalian butuh bantuan, kalian bisa menghubungiku. " Ucap Inspektur Abimayu sambil menyerahkan kartu nama yang diterima langsung oleh Dirga.


"Baik, inspektur." Jawab mereka serempak.


........... ........... ...........


Ulangan akhir semester telah usai dan para siswa diliburkan karena hari ini para guru tengah mengadakan rapat dengan kepala sekolah.


Wakil kepala sekolah mengambil sebuah kertas yang berisi rangkuman nilai seluruh siswa di sekolah swasta tersebut lalu berkata, "Kelas XB memiliki nilai yang terbaik di antara kelas X lainnya, namun..." perkataannya terhenti saat wali kelas XB menyela ucapannya, "Itu murni hasil kerja keras mereka, pak." Jawab sang wali kelas yang langsung mendapat pandangan jijik dan mencemooh dari hampir semua peserta rapat, termasuk sang wakil kepala sekolah.


"Aku tidak peduli dengan kerja keras mereka." Sergah sang wakil kepala sekolah dengan tajam. "Sekolah ini adalah sekolah ternama, kau tau apa yang ku maksud bukan?" Sang wakil kepala sekolah memandang Jonathan dengan pandangan merendahkan. "Baiklah rapat hari ini selesai. Dan untuk kelas X, beberapa siswa kelas B akan menjadi kelas G beserta siswa lainnya yang tertera disana. Sekian." Lanjut nya lalu segera keluar dari ruang rapat disusul oleh hampir semua wali kelas, meninggalkan Jonathan yang mengempalkan tangannya dibawah meja.


Seorang guru datang menghampiri Jonathan dan menepuk pundaknya, "Ku akui jika kelasmu sangat pintar, tetapi tidak merubah jika siswa berprestasi akan dikeluarkan oleh kepala sekolah. Bersiaplah jika kau dan anak didikmu akan dikeluarkan." Ucap guru itu dengan nada mengejek lalu bergegas pergi.


"Akan aku bongkar kebusukan kalian." Geram Jonathan dengan emosi.

__ADS_1


Salah satu hal yang tidak diketahui oleh publik dan menjadi rahasia umum di kalangan para guru adalah, Wakil Kepala Sekolah baru sering kali mengeluarkan siswa berprestasi dan menjual bangku kosong dengan harga tinggi.


Bahkan uang pendaftaran sekolah swasta ini terbilang sangat mahal jika dibandingkan dengan sekolah negeri maupun sekolah swasta lainnya. Hanya siswa yang mendapat beasiswa mampu memasuki sekolah ini, itupun diseleksi dengan ketat.


Banyak para guru ingin melaporkan tindakan tersebut termasuk Jonathan, namun beberapa guru dipecat oleh kepala sekolah secara tidak elit dan mengganti guru tersebut dengan guru baru yang tidak profesional.


Karena tidak ingin kehilangan profesi dan masih ingin mengabdi karena kontrak mereka belum selesai untuk pindah tugas, mereka memilih diam dan tidak peduli walaupun mereka sangat tidak menyukai tindakan kepala sekolah baru tersebut.


Selain melakukan korupsi, wakil kepala sekolah baru itu sering melecehkan para guru wanita muda dan beberapa siswi senior. Mereka tidak berani melaporkan wakil kepala sekolah itu ke pihak berwajib karena kepala sekolah itu tidak segan-segan membunuh mereka.


Pernah ada seorang guru dan beberapa murid memergoki aksi asusila kepala sekolah itu, sayangnya nyawa mereka melayang keesokan harinya.


Beberapa guru yang menentang perbuatan gila sang kepala sekolah dan beberapa oknum guru yang terlibat menyusun rencana untuk mencari bukti secara diam-diam, berharap wakil kepala sekolah dan oknum guru yang meresahkan itu segera di tangkap.


.......... ......... ..........


"Kalian sudah melihat pengumuman grup sekolah kita?" Tanya Dirga sambil melirik tiga temannya. Saat ini mereka berada di taman apartemen Hunter menikmati hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi di siang hari yang cerah.


"Aku heran kenapa kelas kita diturunkan sejauh ini." Ucap Nayra sambil berfikir.


"Siapa perempuan itu?" Batin mereka bersamaan.


"Kalian disini rupanya." Ucap Andra ramah, lalu menghampiri ke empat remaja yang berada disana, raut wajahnya terlihat lega saat melihat mereka.


Perempuan itu terlihat kesal saat Andra berbicara ramah dengan 2 laki-laki serta menatap Reiva dan Nayra dengan cemburu yang dilihat langsung oleh keempat remaja tersebut.


Reihan dan Reiva saling tatap dan melemparkan kode yang hanya dipahami oleh mereka saja. Sekelebat ide jahil melintas di otak mereka yang dapat ditangkap oleh Andra.


"Aku tak menyangka kau membawa pacar, pfftt..." Ucap Dirga sambil menahan tawa .


"Benar, dia bahkan cemburu padaku, Reiva dan Nayra. Kenal saja tidak." Sindir Reihan yang membuat wajah perempuan itu menggelap.

__ADS_1


"Dia bukan pacarku." Kata Andra dengan tegas, membuat perempuan itu merengek. "Tapi aku menyukaimu." Sengit perempuan itu tak terima.


"Nay, apa kau bawa cemilan? Sepertinya opera sabun akan dimulai." Celetuk Reiva santai sambil menonton perdebatan Andra dan perempuan itu.


"Aku lupa membawa cemilan." Sahut Nayra santai sambil ikut menonton opera sabun dadakan.


......... ......... .........


Kelvin menggebrak mejanya dengan keras saat mendengar laporan dari salah satu anak buahnya yang berdiri di hadapannya. "Apa kau bilang?! Mereka menurunkan posisi kelas kedua anakku?!"


"Maafkan aku, tuan." Cicit pria muda itu dengan ketakutan. Kelvin menghembuskan nafas berat dan mengontrol emosinya yang sempat meledak.


"Bukan hanya kedua anakmu saja. Tapi semua teman-temannya mengalami hal yang serupa." Alex mencoba menenangkan Kelvin, takut-takut pria paruh baya itu kembali mengamuk.


Pradana Corp merupakan salah satu donatur sekolah swasta tempat kedua anak kembarnya bersekolah. Mereka menyuruh kedua anaknya berpenampilan culun agar dia bisa leluasa memata-matai kepala sekolah dan oknum guru yang menjabat disana.


Hampir setiap 6 bulan sekali kepala sekolah itu meminta dana beasiswa dengan nominal cukup besar dan Kelvin sedikit curiga akan perihal ini.


Biasanya dana beasiswa berlaku setiap ajaran penerimaan siswa baru. Dan ini baru pertengahan semester, yang berarti baru 6 bulan dari tahun ajaran sekolah.


"Aku akan menyuruh bocah tengik itu menyelidikinya nanti." Lalu dia melihat ke arah anak buahnya yang masih tertunduk ketakutan.


"Tapi kau sudah menjadi wali kelas yang baik, Jonathan." Ya, pria muda itu adalah Jonathan, salah satu anak buah Kelvin yang telah menjadi guru selama dua tahun, tepat saat kepala sekolah baru tersebut mulai menjabat.


"Terimakasih, tuan."


"Tidak perlu seperti itu. Aku ada tugas untuk kalian. Aku harap kalian mau bekerjasama."


"Maksudmu kau melibatkan kedua anakmu dan putri ku?" Ucap Alex tak percaya.


"Jangan lupa temannya juga." Imbuh Kelvin sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Apa tuan yakin?" Tanya Jonathan ragu.


"Aku percaya dengan bocah-bocah tengik itu." Jawab Kelvin dengan santai membuat kedua pria yang berada disana menghela nafas.


__ADS_2