
Mereka segera memasang sikap waspada dan mengamati sekelilingnya, hingga sebuah cairan kental bewarna merah menyerupai darah menetes mengenai lengan Reiva.
Reiva mengendus aroma itu yang ternyata adalah darah, lalu memberi isyarat pada Reihan. Reihan yang mengerti isyarat dari Reiva pun mengangguk, mereka berdua memutuskan mendongakkan kepalanya dan...
'Baaa'
"Kyaaa!"
Reiva yang belum terbiasa melihat hantu secara refleks berteriak kaget dan memeluk saudara kembarnya. Sedangkan Reihan yang telah terbiasa melihat penampakan memasang wajah datar walau dalam hati pemuda itu sedikit terkejut.
Terlihat hantu anak kecil dengan luka menganga di kepalanya. Darahnya masih menetes melalui luka yang terbuka, memperlihatkan daging yang mulai membusuk dengan hiasan belatung yang bergeliat manja membuat Reiva meringis jijik.
"Hihihi... Kakak, mau bermain bersamaku..?" Lirih hantu itu lalu menghilang. Reiva dan Reihan segera mengarahkan cahaya ponselnya guna mencari kemunculan hantu anak kecil tersebut.
Suara tawa anak kecil menggema di penjuru ruangan. Suhu ruangan sekitar menurun drastis membuat mereka merinding.
"Reiva, panggil Miana!" Titah Reihan kepada saudaranya.
'Poft'
"Ada apa memanggilku?" Tanya Miana yang tumben muncul dengan 'normal', biasanya pemuda kucing itu selalu muncul dengan menggunakan sheet mask yang dia dapat entah dari mana.
"Maaf mengganggu, tapi aku membutuhkan bantuanmu untuk mencari hantu anak kecil." Ucap Reiva dengan tatapan memohon yang berhasil membuat Miana tak berkutik.
"Haaahhh.... Disini memang ada hantu anak kecil. Dia tidak menyadari bahwa dirinya telah meninggal dan menjadi hantu." Jelas Miana panjang lebar membuat hantu anak kecil itu meraung marah.
Seketika suhu udara terasa berat, membuat Reihan dan Reiva kesusahan bernafas. Tiba-tiba cahaya ponsel mereka berkedip sebelum akhirnya padam membuat suasanan bertambah mencekam.
"Aku tidak mati!! Aku masih hidup!!" Raung sosok itu dengan marah, segera sosok itu menyerang mereka dengan membabi buta.
Dengan sigap mereka bertiga bertarung melawan sosok hantu anak kecil itu. Miana menganalisa pertarungan hantu itu sebelum memutuskan membantu sepasang remaja kembar yang tampak kewalahan.
Terlihat kuku runcing bewarna hitam hendak mencakar Reiva, namun dengan sigap Miana berdiri di hadapan gadis itu dan menahannya dengan cakarnya.
Tangan Miana berubah menjadi tangan kucing berukuran besar. Dengan sigap pemuda kucing itu mendorong hantu anak kecil itu sekuat tenaga hingga akhirnya mereka berdua sama-sama terpental akibat kekuatan mereka yang begitu kuat.
Hantu anak kecil itu menabrak dinding hingga menimbulkan retakan, sementara Miana terdorong mundur sebelum akhirnya ditahan oleh Rei kembar.
__ADS_1
"Kau tidak apa?" Tanya Reiva dengan cemas yang akhirnya menjadi sebuah penyesalan.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Aku ini tampan dan kuat lho." Jawabnya dengan percaya diri.
Reihan mendengus mendengar jawaban Miana yang selalu narsis, "Idiihh... Aku menyesal sempat khawatir denganmu." Sungut Reiva kesal.
"Oh, tadi kau mencemaskan diriku yang tampan ini? Aku terharu ada manusia yang sangat khawatir denganku." Sahutnya pongah membuat Reiva berkedut kesal.
"Sudahlah. Sebaiknya kita hampiri dia. Aura gelapnya sudah berkurang jauh." Usul Reihan yang di respon dengan anggukan oleh dua spesies berbeda di sebelahnya.
Hantu anak kecil itu berusaha bangkit, namun luka yang di deritanya cukup parah membuatnya menangis sedih.
"Aku ingin menunggu ayah dan ibuku... Mereka bilang akan menjemputku disini, hiks...hiks..." Isaknya lirih sambil menatap sepasang remaja manusia dengan tatapan sedih.
Tanpa sengaja tatapan mereka bersibobrok dengan hantu anak kecil itu dan melihat masa lalunya.
Anak kecil laki-laki itu dulunya adalah penghuni apartemen ini bersama kedua orang tuanya, hingga suatu hari mereka memutuskan pergi berlibur. Naas mobil mereka mengalami kecelakaan hebat yang membuat mereka tewas seketika.
Setelah melihat masa lalu hantu anak kecil itu, mereka merasa sedih karena anak itu tidak mengetahui dirinya yang telah meninggal dan masih menunggu kedua orang tuanya.
"Miana, apa kau bisa memanggil roh orang tua anak ini? Kasihan dia telah lama menanti kedua orang tuanya." Pinta Reihan yang membuat Miana merapalkan segel tangan dan sebuah mantra.
"Memanggil: Roh orangtua dari anak ini, datanglah!" Teriaknya sambil menghentakkan kedua tangannya. Seketika muncul cahaya terang dan terlihat sosok pria dan wanita berpakaian serba putih turun dari langit.
"Dasar anak nakal! Kemana saja kau berkeliaran?!" Ucap sosok wanita itu yang berhasil membuat hantu anak kecil menangis keras. Perlahan hantu itu berubah menjadi roh dengan pakaian serba putih, wajahnya tidak mengerikan seperti tadi.
"Kami sudah menunggumu disana. Jangan berkeliaran tidak jelas seperti ini lagi, ya." Nasehat sosok wanita itu dengan keibuan.
Sosok anak kecil itu mengangguk dan menatap Rei bersaudara dan Miana bergantian. "Kakak, terimakasih. Maafkan aku karena merepotkan kalian." Ucap sosok anak kecil itu penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa. Setidaknya kau telah bertemu dengan keluargamu. Jangan berkeliaran lagi, ya." Sahut Reiva dengan tulus yang dibalas dengan anggukan oleh hantu anak kecil itu.
"Maafkan anak kami. Dia memang nakal." Ucap sosok pria dengan penyesalan.
"Tidak apa, Paman. Sekarang kalian bisa berkumpul lagi. Selamat beristirahat diatas sana." Ucap Reihan. Segera tiga sosok itu memudar dan perlahan menghilang, membaur dengan udara sebelum akhirnya hilang tanpa bekas.
"Syukurlah kita berhasil mengusir hantu itu. Sebaliknya kita pulang." Reihan sambil melangkah keluar disusul oleh Miana dan Reiva.
__ADS_1
Begitu mereka tiba di luar, seseorang menarik telinga Reihan hingga membuat pemuda itu mengaduh. Setelah melihat sang pelaku yang tak lain adalah Andra, Reihan hanya bisa cengengesan, Miana segera menghilang, dan Reiva mengendap-endap keluar sambil mengunci pintu yang telah dia bobol dan saat hendak kabur meninggalkan sang kakak, suara dingin Andra menahan langkahnya.
"Adikku sayang, mau kemana mengendap-endap begitu, hmmm?"
'Glek'
"Ahahaha... Kak Andra... Emm... Kami tadi habis berburu hantu." Sahut Reiva sambil cengengesan.
"Pulang!" Seru Andra dengan background badai petir yang menari-nari, seakan-akan menyambar apapun dibawah sana.
"Iya, kak. Sekarang kami pulang." Sahut Reihan sambil menghempaskan tangan Andra yang setia menjewer telinganya.
Dengan patuh mereka berdua segera mengikuti Andra yang berjalan di depannya, hingga akhirnya mereka melihat tangga yang menuju lantai atas.
Tanpa sepengetahuan Andra, duo Rei itu segera menuju tangga tersebut, meninggalkan Andra seorang diri menuju lift yang terletak beberapa meter di depan sana.
♦♦♦♦
Pintu apartemen terbuka, terlihat Andra memasang wajah kusut saat mengetahui kedua adiknya tidak mengikuti nya. Namun kekesalannya menguap saat melihat sepasang remaja kembar saling berpelukan dengan Miana sebagai barikadenya.
Di depannya terdapat berbagai jenis makanan dan cemilan yang isinya masih banyak, terlihat pemuda kucing itu memandang Andra dengan tatapan minta tolong.
"Kalau kalian takut, kenapa menonton film horor, sih?" Gerutu Andra sambil mengganti siaran televisi yang membuat sepasang remaja kembar itu protes tidak terima.
"Kenapa dimatiin sih, Kak. Lagi seru-serunya tuh." Protes Reiva sambil mengembungkan pipinya membuat tangan Andra gatal ingin menjewer pipi sang adik.
"Sudah malam, sebaiknya kalian tidur." Titah Andra. Sepasang remaja kembar itu saling menoleh sebelum tertawa nista, segera mereka beranjak dari sofa dan mendorong Andra menuju kamarnya.
"Hei, hei, kalian berdua! Cepet tidur!" Seru Andra sambil berusaha berontak, namun sayangnya dia kalah jumlah dan kelelahan.
"Kakakku yang bawel, sebaiknya kau tidur duluan. Selamat malam."
'Blam!'
Pintu tertutup sempurna tepat di depan wajah Andra, membuat pemuda itu menghembuskan nafas kasar.
"Dasar adik lucknut!!" Teriakan Andra yang penuh kekesalan menggema di unit 448, memecah keheningan malam yang indah di kota G.
__ADS_1