Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Andra Kencan?


__ADS_3

Pagi ini Reiva dan Reihan duduk dengan malas di tangga penghubung lantai 6 dan 7. Sesekali mereka berdua menguap bosan.


"Kalian sepertinya tidak bersemangat untuk hidup." Ucap Miana yang muncul entah dari mana dan langsung duduk di sebelah Reiva.


"Kami bosan, hoaaamm..." Reihan menguap malas, sesekali kepalanya terantuk-antuk. Dengan entengnya pemuda itu bersandar pada bahu kembarannya.


"Kenapa kalian tidak berburu hantu saja?" Tanya Miana asal.


"Memangnya ada hantu keluar di siang bolong begini?" Tanya Reiva sewot yang hanya dibalas cengiran bodoh oleh Miana.


"Aku lupa." Sahut Miana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dirga muncul dari arah lift. Pemuda itu mengenakan kaos putih polos dengan celana jogger cream panjang serta memakai sepatu putih. Dirga berdiri dengan pandangan bingung menatap Miana bersama sepasang remaja yang saling bersandar, "Maaf, apa kalian melihat Reihan dan Reiva?" Pertanyaan Dirga sontak mengalihkan pandangan tiga pasang mata yang duduk malas di tangga.


"Ada apa?" Tanya Miana dengan nada malas.


"Apa kau mendadak amnesia?" Sinis Reiva yang membuat dahi Dirga berkerut. "Yang kau cari ada dihadapanmu." Jelas Miana sambil menujuk sepasang remaja kembar yang saling menyandar disampingnya.


"Benarkah? Tapi seingatku mereka memakai kacamata dan rambut disisir rapi." Dirga menatap Rei kembar dengan pandangan tak percaya.


"Kalau tidak percaya, ya sudah." Reihan menjawab dengan malas lalu pemuda itu dengan santai tiduran di pangkuan Reiva. Sedangkan gadis itu menyenderkan kepalanya dibahu Miana.


Dirga memperhatikan mereka dengan seksama dan baru menyadarinya. "Kau benar. Terlihat jelas bekas garis gagang kacamatanya. Tumben kalian tidak berpenampilan seperti biasa." Celetuk Dirga penasaran.


"Aku kehabisan gel rambut dan hari ini kami malas memakai kacamata. Toh hari ini kita libur."


Saat ini Reiva menggunakan baju santai bewarna ungu gelap dengan celana hitam pendek sepaha dilengkapi sepatu kets bewarna navy. Kali ini dia menggerai rambut hitam keunguannya dan tidak memakai kacamata yang biasa dipakainya.


Reihan mengenakan pakaian santai bewarna biru tua dengan celana jogger bewarna hitam, sepatu kets abu-abu serta rambut hitam kebiruanya yang biasa ditata rapi kini sengaja dibiarkan acak-acakkan. Reihan juga tidak mengenakan kacamata badaknya.


"Pagi, semua." Sapa Nayra yang baru muncul dari tangga sambil menggendong Rean yang berwujud kucing anggora hitam. Gadis itu mengenakan dress bewarna cream selutut dan sepatu flat senada dengan warna pakaiannya. Rambutnya dia ikat dengan ekor kuda.


Nayra segera menghampiri Reiva yang masih asyik bersandar di bahu Miana.


"Nayra, kau datang juga?" Tanya Reiva sambil menguap yang hanya dibalas dengan gumanan oleh Nayra. Seketika pandangan Reiva mengarah pada kucing anggota hitam di pelukan Nayra.


"Wahh.... Kucingnya lucu sekali." Pekik Reiva dengan mata berbinar. Kucing itu mendesis marah, memamerkan gigi mungil nan runcing miliknya saat tangan Reiva terjulur hendak merampas kucing itu dari pangkuan Nayra.


"Maaf, tapi dia tidak suka disentuh orang lain." Jelas Nayra merasa tidak enak sambil mengelus kucing itu.

__ADS_1


"Kita sudah memiliki seekor kucing pengabul permohonan, Rei. Kau tidak perlu merebut kucing orang." Sahut Reihan yang berhasil membuat Miana kesal.


"Aku bukan kucing pengabul permohonan." Sungut Miana kesal yang hanya dibalas dengan gelak tawa.


Pandangan Mana dan Rean bertemu, mereka berdua melempar pandangan menilai sebelum mengalihkan pandangan menatap ke arah lain.


"Dia..." Batin mereka bersamaan.


......... ......... ..........


"Mereka seenaknya saja menyuruhku membeli makanan." Gerutu Reiva dongkol. Nayra yang berjalan disampingnya hanya diam mendengarkan.


"Kenapa bukan mereka saja yang berbelanja.. Dasar kembaran sialan.." Geramnya lagi.


Nayra mengedarkan pandangannya ke sekitar taman dan melihat seorang pemuda yang dikenalnya tengah duduk di sebuah cafe.


"Reiva, bukannya itu kakakmu?" Nayra mencolek baju Reiva yang tengah menggerutu sebal.


"Kak Andra? Dimana?" Tanya Reiva sambil memandang di sekitarnya mencari sosok sang kakak.


"Disana." Tunjuk Nayra ke sebuah cafe di seberang jalan. "Ayo kita hampiri." Seru Reiva bersemangat namun ditahan oleh Nayra.


"Mungkin dia lagi kencan. Sebaiknya kita segera pulang sebelum ketiga laki-laki itu mengomel." Ucap Reiva. Mereka segera melanjutkan perjalanan menuju apartemen mereka.


........... ............ ...........


"Kalian lama sekali." Protes Reihan kepada kembarannya.


"Kalau kau tidak terima, kau saja yang pergi." Sembur Reiva kesal sambil menyerahkan kantong belanjaan ke arah Reihan.


Reihan menerimanya dan ketiga laki-laki itu mengecek belanjaannya.


"Ini tidak seperti pesanan kami." Dirga ikut memanas-manasi keadaan. Dengan kesal Reiva merebut kantong belanjaan yang ada di tangan Reihan dan berkata, "Kalau kalian protes aku akan dengan senang hati membuang makanan ini."


"Jangan!" Seru ketiganya kompak. Mereka segera mengambil pesanan mereka.


Saat ini mereka berada di taman Apartemen Hunter menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Suasana hari ini cukup sepi karena masih sedikit orang yang berada di apartemen ini.


"Akhir-akhir ini kak Andra jarang berkumpul ya." Keluh Reihan.

__ADS_1


"Biasanya dia selalu ikut nimbrung dengan kita." Imbuh Dirga.


Nayra dan Reiva saling pandang dan mengangguk sebelum akhirnya Nayra berkata, "Tadi aku melihat kak Andra berada di cafe dekat minimarket bersama seorang gadis."


"Benarkah?" Tanya Miana sambil memakan keripik nya.


"Benar. Kami melihatnya sendiri." Sahut Reiva dan anggukan dari Nayra.


"Hohoho.... Apakah kak Andra punya kekasih? Aku jadi penasaran." Seringai jahil terbit di wajah Reihan.


Reiva menoyor kepala kembaran laki-laki nya, "Jangan mulai deh, Kak."


"Tidak sopan menoyor kepala kakakmu. Ingat, aku ini lebih tua 5 menit darimu" Tegur Reihan sambil menjitak kepala Reiva.


"Mereka mulai lagi." Miana menghela nafas bosan melihat pertengkaran sepasang remaja kembar di hadapannya.


Nayra tersenyum kikuk melihat pertengkaran tak bermutu saudara kembar di hadapannya sambil mengelus Rean yang mendengkur di pangkuannya.


"Apa saudara kembar memang seperti itu?" Tanya Dirga entah pada siapa.


"Entahlah. Nanti akan selesai jika mereka lelah."


............ ............ .........


"Kalian lihat itu?" Tunjuk Vidya kepada dua temannya saat melihat empat sekawan itu yang tak lain Nayra, Reihan, Reiva dan Dirga tengah makan siang bersama di cafetaria sekolah.


"Mereka menjengkelkan sekali." Geram Tanaya saat melihat Reihan mengacak rambut Reiva.


"Bagaimana kalau kita memberi mereka sedikit pelajaran?" Anjani memberi usul yang langsung mendapatkan tatapan penjelasan oleh Vidya dan Tanaya.


"Caranya?" Tanya Vidya dan Tanaya serempak. Anjani membisikkan sesuatu di telinga mereka.


............. ........... ..........


"Bukankah dia gadis yang waktu ini?" Guman seorang laki-laki saat melihat Reiva makan siang dengan kepala yang diacak-acak oleh Reihan.


"Kau menyukainya?" Tanya salah satu temannya.


"Tidak. Tapi lumayan jika kita bermain sedikit dengan mereka. Aku tidak menyukai 2 laki-laki itu. " Ucapnya sinis sambil menunjuk Reihan dan Dirga.

__ADS_1


"Kita mulai setelah ulangan tengah semester ini berakhir." Lanjut siswa laki-laki itu sambil melangkahkan kakinya menjauhi cafetaria disusul oleh rekannya.


__ADS_2