Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Melawan Raja Tanasaka


__ADS_3

"Engga salah, tuh?" Tanya Reiva dengan mencemooh sambil melemaskan kesepuluh jemarinya. "Soalnya malam ini aku lapar dan kebetulan aku ingin makan sate ular."


"Sayangnya yang muncul hanya pria jadi-jadian." Sungut nya kesal membuat Reihan ingin menjitak kepala kembaran perempuannya. Pemuda berharap jika gadis di sampingnya bukan kembarannya mengingat mulut gadis itu suka ngawur kemana-mana, namun apa boleh buat.


"Mari bermain!" Seru Reiva sambil melesat maju meninggalkan Reihan yang sibuk mengamati gerak gerik pria ular itu. "Tunggu Reiva!" Sayangnya Reiva sudah berasa jauh di depannya membuat pemuda itu dengan terpaksa menyusul kembarannya.


Reihan dan Reiva berlari dengan kecepatan tinggi menuju manusia ular itu dengan zig-zag untuk mengecoh pria ular itu sambil melomoat tinggi-tinggi dan berpencar untuk mempermudah melancarkan serangan.


Reihan mengeluarkan pedang sucinya dan menebas pria ular itu.


'Trank'


Pria ular itu berhasil menahan pedang Reihan dan melemparkan pemuda itu, namun kulitnya mengeluarkan asap hitam akibat terkena aura dari pedang suci milik Reihan.


Reihan berhasil mendarat dengan selamat, sedangkan Reiva melayangkan tinjunya ke arah raja ular itu. Pria ular itu menyadari kedatangan Reiva dan segera menghindar, membuat gadis itu meninju pohon yang berada tepat dihadapannya.


'Braaakkk'


'Kratak'


'Brukhh'


Pohon itu tumbang seketika membuat orang-orang yang menyaksikannya merinding ngeri. Reiva segera berlari mendekati Reihan dan berkata, "Serangan ku meleset, Kak. Apa kau ada ide? "


"Kali ini jangan lengah." Reihan meliriknya sekilas lalu kembali menatap pria ular itu.


"Oke."


"Khukhukhu... Kalian hebat juga." Ucap ular itu dengan nada meremehkan. "Bagaimana dengan serangan ku? Apa kalian bisa menghindar?"


Lalu ular itu mengibaskan ekornya ke arah dua kembar itu secara membabi buta menyebabkan beberapa pohon tumbang disekitarnya. Dengan lincah kedua kembar itu menghindar. Mereka melompat dan bersalto diudara kearah yang berbeda.


"Sial! Gerakannya cepat sekali." Gerutu Reiva sambil melompat kesana-sini guna menghindari serangan pria ular tersebut.


♦♦♦


"Siapa sebenarnya mereka?" Tanya Devano yang sedikit kagum dengan kemampuan dua kembar itu lalu menoleh kearah Dirga dan Nayra yang menatap mereka dengan cemas.


"Kalian berdua dari kelas B, kan? Apa kalian tau sesuatu?" Tanya Devano dengan tatapan menyelidik.


"Mereka sahabat kami sekaligus pengusir hantu." Jelas Dirga menatap kearah Devano.


"Mereka anak dari keluarga Pradana yang mendapat misi di sekolah kita." Lanjut Nayra dengan jujur membuat mereka melongo tak percaya, kecuali Jonathan. Karena pemuda itu suruhan dari Kelvin langsung.

__ADS_1


Siapa yang tidak mengenal keluarga Pradana? Istrinya merupakan detektif ternama dengan kekuatan spiritual yang tinggi, ketiga anaknya adalah pengusir hantu dan roh jahat yang handal dan sang kepala keluarga adalah pebisnis yang terkenal kejam dan tak berperasaan.


Namun mereka jarang menampilkan diri didepan publik. Hanya sang asisten saja yang sering menggantikannya.


"Jangan bocorkan rahasia ini atau kita akan kena masalah." Seru Jonathan dengan nada mengancam, tidak lupa memasang wajah horor andalannya untuk mempermanis suasana membuat para siswa mengangguk patuh dengan gerakan patah-patah sambil menonton dua remaja kembar yang sibuk bertarung.


♦♦♦


Reiva menghindari kibasan ekor ular itu dan berhasil menangkapnya. Senyum bahagia terbit diwajah cantiknya membuat Reihan mendapatkan firasat buruk.


"Astaga, aku harus menghindar." Gumannya lalu segera melompat menjauh.


"Akhirnya aku menangkapmu." Seru Reiva dengan mata berbinar silau, tidak lupa hati dan glitter sebagai backgroundnya.


Raja ular itu merasakan firasat buruk, "Apa yang kau lakukan? Lepaskan–" Belum selesai bicara, pria itu merasa tubuhnya tertarik dan berputar.


Ya, Reiva memutar tubuh ular itu sambil tertawa bahagia membuat Reihan menghela nafas lelah dengan tingkah absurd kembaran perempuannya.


"Lepaskan aku, bocah sialan!" Teriak raja ular sambil menahan rasa pusing yang mendera kepalanya.


Reiva dengan semangat memutar tubuh pria ular itu dengan kecepatan tinggi, bahkan sesekali membenturkan tubuhnya pada pepohonan, menyebabkan beberapa pohon tumbang disekitarnya.


Lalu Reiva melemparkan tubuh pria ular itu hingga terlempar cukup jauh dan mendarat di semak yang berada puluhan meter dari area perkemahan.


'Grusak' 'Brukh'


Setelah beberapa saat, rasa pusing yang menderanya telah reda. Pria itu merayap menuju area perkemahan dengan aura hitam disekitarnya.


Pria itu melihat dua remaja kembar berjalan menuju tempat teman mereka berkumpul. Dengan geram pria ular itu berkata, "Mengesankan. Pemanasan nya membuatku bersemangat setelah ratusan tahun. Sekarang saatnya serius."


Seketika aroma melati bercampur amisnya darah menguar dari tubuh pria itu, udara terasa berat dengan radius dua puluh meter sehingga membuat mereka susah bernafas. Bahkan beberapa siswa biasa pingsan seketika karena tidak kuat menahan aura pria ular tersebut.


"Sial, auranya kuat sekali." Guman Reihan sambil berusaha berdiri. Namun sebuah kibasan melayang kearahnya membuat Reihan terpental beberapa meter.


'Duakh'


'Bruakh'


"Kakak! /Reihan!" Pekik Reiva, Nayra dan Dirga bersamaan. Reiva menatap kakak kembarnya dengan cemas.


"Jangan lengah, kucing kecil. Sekarang giliranmu, khukhukhu... " Serunya sambil melayangkan kibasan andalannya membiat gadis itu terpental.


"Reiva!" Seru mereka bersamaan. Namun mereka semua panik saat melihat raja ular itu merayap kearah mereka.

__ADS_1


"Khukhukhu... Seorang indigo yang tidak terasah ada disini. Sangat disayangkan kemampuanmu itu tidak berguna." Ucapnya meremehkan sambil menunjuk ke arah Nayra yang berdiri ketakutan.


Dirga yang memiliki indra ke enam melihat beberapa sosok tak kasat mata mulai mengerubungi Nayra dan dirinya. Mereka berdua berusaha mengabaikan sosok itu dan menatap tajam pria ular itu.


"Hoo, kau berani menantangku, gadis kecil? Sayang sekali hidupmu akan berakhir!" Serunya sambil mengibaskan ekornya. Segera Dirga yang berada di dekatnya menarik tangan Nayra dan menghindar.


Semua yang berada disana juga tidak tinggal diam. Mereka mengalihkan perhatian ular itu dan segera berlari menghindari kibasan ekor pria ular tersebut.


"Dasar rendahan! Beraninya kalian menghalangi ku!!! Aku adalah Tanasaka, Raja siluman ular yang perkasa!!" Raungnya marah.


"Kami tidak akan membiarkan kau menyakiti teman kami!" Seru mereka serentak dan melempari apapun yang berada di dekat sana.


Reiva segera bangkit dan berlari menerjang ke arah pria ular itu dan meninju nya dengan keras, menyebabkan pria ular itu terlempar beberapa meter jauhnya lalu Reiva tergeletak pingsan. Seketika aura berat menghilang begitu saja membuat mereka bernafas lega.


Dengan panik mereka membopong tubuh pingsan Rei kembar itu dan membawanya ke tenda.


Tiba-tiba Tanasaka meraung kesakitan, dia melihat sesuatu menempel di ekornya yang kini mulai mengelupas.


"Rupanya alatku bekerja dengan baik." Ujar Agra sambil tersenyum licik dibalik semak-semak.


Agra segera meninggalkan tempat itu dan berguman, "Aku tidak suka bertarung. Setidaknya dengan alat itu membuat raja ular melemah."


♦♦♦


Andra tiba di area perkemahan dan segera memarkirkan mobilnya. Miana dan Andra melepas sabuk pengaman lalu bergegas keluar dari mobil saat merasakan aura membunuh yang memancar dengan pekat.


"Astaga! Kita harus cepat!" Seru Miana sambil memegang tangan Andra dan segera menghilang dalam kepulan asap.


'Poft'


"REI! " Seru Andra cemas saat melihat kedua adiknya tergeletak pingsan dengan penampilan yang acak-acakan.


"Mereka baik-baik saja." Sahut Nayra .


"Apa yang terjadi?" Tanya Miana penasaran.


"Tadi ada sesosok manusia setengah ular menyerang kami. Kalau tidak salah namanya Tanasaka." Ujar Justin menjelaskan.


"Kalian siapa?" Tanya Eiji dengan tatapan menyelidik, dia tidak mau terjadi apa-apa pada dua muridnya.


"Aku Andra Kusuma, kakak dari Reihan dan Reiva. Dan dia Miana, asisten sekaligus temanku." Sahut Andra tenang. Miana hendak protes namun melihat tatapan tajam Andra membuatnya diam.


Suara teriakan Tanasaka membuat mereka menoleh. Segera Miana mencari asal suara itu disusul oleh Andra.

__ADS_1


"Lama tidak bertemu, Tanasaka."


"Kau!! Kucing sialan!!" Geram Tanasaka saat melihat Miana yang berdiri dengan tatapan mengejek kearah nya.


__ADS_2