
Reiva tersadar dari pingsannya, gadis itu melihat Andra dan Nayra yang menatapnya dengan cemas.
"Kakak? Apa yang terjadi? Kenapa aku berada disini?" Tanyanya beruntun membuat sang kakak terkekeh.
"Tanya nya satu-satu. Kakak bingung mau menjawab yang mana." Sahut Andra terkekeh. "Apa yang terjadi?" Reiva mengulangi pertanyaannya yang dijawab langsung oleh Nayra.
"Kau tadi pingsan karena tendangan dari ayah Litha. Untunglah kau tak apa." Lalu Nayra dan Andra menceritakan segalanya secara bergantian.
Setelah mendengar cerita mereka, Reiva mangut-mangut dengan memasang pose berfikir nya, lalu segera bangkit dari ranjang rumah sakit.
"Kak, Nay, antar aku melihat Dirga dan kak Reihan." Pinta Reiva sambil menatap mereka dengan pandangan mata memelas andalannya.
........ ......... .......
Reihan tersadar dan mendapati dirinya berasa di sebuah ruangan dengan bau obat-obatan, tidak lupa tubuhnya dipenuhi dengan alat penunjang kehidupan di badannya.
Seorang dokter jaga melihatnya tersadar segera melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya dokter itu di tengah pemeriksaan nya. "Apa ada yang sakit atau semacamnya?"
"Aku baik, dok. Tidak ada yang sakit." Jawab Reihan sambil mencoba mendudukkan diri di bantu oleh dokter jaga itu dan melepas alat bantu penunjang kehidupan yang menempel di tubuh Reihan.
"Setelah ini Anda akan dipindahkan menuju ruang rawat biasa." Ucap dokter itu yang hanya direspon dengan gumanan.
"Dok, aku meminta sesuatu padamu." Lalu Reihan membisikkan sesuatu pada sang dokter dengan tanduk iblis imajiner muncul di kepalanya.
........... .......... .........
Dirga yang tertidur merasakan hawa dingin menyerang tubuhnya dan sebuah tangan berkuku panjang meraba wajah tampannya. Karena merasa terganggu, pemuda itu membuka matanya dan kaget dengan sesuatu yang berada di atas tubuhnya.
Sesosok wanita berwajah hancur yang mempertontonkan tulang tengkorak yang dilapisi daging busuk, mata yang nyaris keluar dari rongga mata yang dipenuhi dengan belatung membuat pemuda itu berteriak histeris.
"Gyaaaaaaa!!!"
Makhluk itu menyeringai memperlihatkan rongga mulut yang berwarna hitam dipenuhi belatung dan mengeluarkan bau busuk. Saking takutnya Dirga pingsan seketika.
Makhluk itu menghilang saat mendengar beberapa langkah kaki yang berlari menuju ruangan itu, meninggalkan Dirga yang pingsan dengan mulut berbusa.
__ADS_1
........... .......... ..........
Andra, Reiva dan Nayra menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat Dirga dirawat. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Dirga dan hawa dingin mencekam membuat mereka bergegas menghampiri nya.
Mereka bertiga segera berlari menuju ruat rawat Dirga, saat sampai disana mereka melihat pemuda itu pingsan dengan mulut berbusa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Nayra saat melihat keadaan Dirga.
"Sepertinya ada sesosok hantu menghampirinya. Tadi aku merasa aura mencekam yang berasal dari sini." Jelas Andra.
Mereka memutuskan menunggu Dirga kembali sadar. "Aku ingin membeli minuman dulu." Pamit Reiva kepada Andra dan Nayra. Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Reiva segera keluar meninggalkan ruangan Dirga.
Begitu Reiva kembali, pemuda itu tersadar dan melihat disekelilingnya dengan panik membuat mereka bertiga menatapnya dengan heran.
"Kenapa kau ketakutan begitu?" Tanya Reiva mewakili ketiganya.
"Ta–tadi aku melihat sesosok hantu di atas tubuhku, hii~" Ucap Dirga sambil bergidik ngeri sambil membayangkan sosok tadi.
"Sepertinya dia menyukaimu, benarkan Kak?" Ujar Reiva sambil tersenyum jahil dan meminta persetujuan dari sang kakak, alhasil sebuah tarikan mendarat manis di telinganya.
"Teman mu lagi kesakitan dan kau ingin menjahili nya?" Ucap Andra tenang sambil mendelik, sedangkan Reiva hanya cengengesan.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Nayra tanpa memperdulikan sepasang kakak adik yang tengah cekcok.
"Wah, kau perhatian sekali. Aku jadi terharu." Goda Dirga sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Nayra mendengus sebal. Gadis itu menyesal telah bertanya pada Dirga.
"Karena itulah aku malas menanyakan keadaannya." Celetuk Reiva sambil mengusap telinganya yang terasa panas akibat jeweran Andra.
Pintu ruang rawat Dirga terbuka, terlihat ayah dan ibu Dirga memasuki ruang rawat itu sambil menenteng sebuah tas belanja.
Mereka berbincang sejenak dan berpamitan menuju ruang ICU, meninggalkan Dirga beserta keluarganya.
Saat mereka tiba di ruang ICU, mereka melihat dokter dan beberapa perawat mendorong brankar dengan Reihan terbaring terbungkus selimut hingga menutupi kepalanya.
Andra berdiri kaku saat dokter membawa tubuh Reihan melewati mereka, pemuda itu merasa dunianya hancur saat melihat tubuh Reihan kaku tak bernyawa.
Reiva memincingkan matanya untuk memperhatikan tubuh kembarannya lalu berkata, "Kak Andra, kenapa kau menangisi setan itu? Dia masih hidup." Sambil berlalu menyusul dokter yang membawa brankar kembarannya.
__ADS_1
"Apa kau yakin?" Tanya Nayra sambil menahan air matanya yang nyaris keluar.
"Kenapa tidak? Dia memang seperti itu." Sahutnya sambil berjalan menjauhi mereka.
Nayra segera menyusul Reiva diikuti oleh Andra yang berjalan lemas dibelakangnya.
Reiva melihat dokter itu membawa tubuh Reihan masuk menuju ruang inap. Gadis itu menyusul masuk diikuti oleh Nayra dan Andra. "Kenapa tidak membawanya ke ruang mayat, dok? Bukankah dia sudah 'meninggal'?" Celetuk Reiva sambil menekan kata meninggal, membuat sang dokter gugup.
"Ah, kau benar dik. Ahaha..." Dokter itu tertawa canggung membuat Reiva curiga dan menghampiri tubuh Reihan. Tanpa aba-aba gadis itu membuka selimut yang menutup wajah Reihan dan mendekatkan wajahnya ke arah pemuda itu, hingga berjarak beberapa inchi dari wajah pemuda itu. Reiva menahan nafas dan merasakan nafas saudaranya berhembus sangat pelan.
Gadis itu memeriksa denyut jadi pemuda itu dan menyeringai setan.
"Ah, dia sudah meninggal. Tolong suntik kan formalin sebanyak-banyaknya, dok. Aku ingin dia diawetkan agar aku bisa menyiksanya, khukhukhu..." Ucap Reiva sambil tertawa setan membuat orang yang berada disekitar ruangan itu bergidik ngeri.
"Apa maksudmu?" Tanya Andra tidak mengerti.
"Bukannya kak Reihan sudah meninggal? Jadi aku meminta dokter untuk menyuntikkan formalin sebanyak-banyaknya agar aku bisa menyiksanya jika kesal." Jawab Reiva tanpa dosa.
Reihan membuka matanya seketika dan menatap tajam sang kembaran perempuannya dan kebetulan dilihat oleh Reiva, "Wah... Dia hidup kembali. Untung aku tidak menangisinya keras-keras." Celetuk Reiva tanpa dosa membuat Reihan berdenyut kesal.
Mendengar perkataan Reiva sontak Nayra dan Andra menoleh ke arah Reihan yang melotot ke arah Reiva. Seketika Andra merasa menyesal telah menangisi adik setannya.
"Dasar adik lucknut." Andra hanya bisa dalam hati.
......... ......... ........
Miana menguap bosan di kamarnya. Sesekali pemuda itu mengunjungi unit apartemen 448 untuk melihat keadaan Reihan.
"Mereka belum kembali, ya?" Tanya Miana pada dirinya. "Seharusnya Reihan sudah sadar karena lukanya tidak mengancam nyawanya." Miana tampak berfikir sebentar sambil mengingat sesuatu.
"Aku baru ingat kalau gadis itu dirasuki makhluk asap. Aku harap mereka baik-baik saja." Lalu Miana menghilang dalam kepulan asap.
Seminggu telah berlalu begitu cepat, terlihat Miana rebahan diatas kasur milik nya sambil menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong.
"Apa mereka telah melupakanku? Aku merindukan mereka." Gumannya sedih. Telinga kucingnya mendadak tegak saat hidungnya mencium bau manusia yang telah menjadi sahabatnya.
"Syukurlah mereka baik-baik saja." Lalu Miana segera keluar dengan wujud kucing oranye yang cantik.
__ADS_1