Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Agra Ber cosplay


__ADS_3

Clara muncul tiba-tiba bertepatan dengan Rean yang hendak mendarat di sebuah ranting pohon. Karena kemunculannya mendadak dan tidak siap, Rean terjerembab mencium tanah dengan mesra dari atas pohon.


Mendengar suara gedebuk nyaring membuat Clara mengalihkan pandangannya dan mendapati Rean yang nyungsep di tengah semak-semak.


"Pfffttt.... Kau baik-baik saja?" Tanya Clara sambil menahan tawa saat melihat pose elit Rean.


Rean bangkit dari acara nyungsep nya dan memandang Clara dengan tatapan membunuh. "Bisakah kau tidak muncul mendadak? Kau mengulur waktuku!" Makinya kesal.


"Maafkan aku. Aku baru saja menghindari semburan asap beracun dari ular jejadian." Ucapnya merasa bersalah. Dia kaget saat mengetahui sesuatu. "Ehh, kau bisa melihatku?"


"Kau itu hanya roh gentayangan yang suka mengagetkan orang." Sinis Rean yang sukses membuat Clara down mendadak.


"Benar, aku memang hantu gentayangan, hikss..." Ujar Clara sambil menangis bombay membuat Rean memutar matanya malas.


"Tadi kau bilang ular jejadian? Maksudmu?" Rean mengalihkan topik pembicaraan. Dia malas berurusan dengan hantu walaupun dia sendiri bisa melihatnya.


"Di atas sana ada seekor manusia dengan tubuh ular. Dia menyerangku tadi." Jelas Clara sambil menunjuk puncak bukit yang membuat Rean cemas.


"Tidak mungkin." Lirih Rean lalu melesat pergi meninggalkan Clara yang kebingungan.


"Hei!!" Namun sayangnya teriakan Clara tidak digubris karena pemuda itu telah melompati pepohonan dengan cepat membuat gadis itu kesal.


"Setidaknya beritau aku ada apa." Gerutunya kesal sambil menatap punggung Rean yang semakin mengecil sebelum menghilang diantara pepohonan. Clara hanya mengendikkan bahunya acuh lalu segera menghilang dari sana.


♦♦♦


Vidya dan kedua sahabatnya menangis ketakutan. Mereka tidak menyangka perbuatan mereka bisa mengakibatkan hal mengerikan ini.


"Ini semua karena siswi itu!" Makinya tidak terima. "Jika saja dia mau menyerahkan ayahnya, semuanya tidak akan terjadi!"


"Tenangkan dirimu, Vidya! Untuk saat ini kita perlu menenangkan diri di situasi yang sulit. Kita tidak mau, kan nyawa kita melayang?" Tutur Anjani sambil menaikkan nadanya yang sukses membuatnya terdiam.


"Bukannya ada pantangan yang harus dipatuhi? Kenapa kau melanggarnya tadi? Jika saja kau bisa menahan diri, semuanya tidak akan terjadi!" Seru Tanaya kesal membuat Anjani naik darah.


"Tanaya!" Bentak Anjani dan menatap gadis itu dengan tajam.


"Apa! Benar kan?! Coba pikir, Anjani. Apa ada seorang anak yang rela ayahnya bersama wanita lain, hah?! Cukup sudah aku melihat tingkah laku yang memalukan itu! Aku malu!" Akhirnya Tanaya mengeluarkan unek-unek nya dan membuat Vidya menggeram kesal.


"Kau tidak tau terimakasih, Tanaya! Aku sudah mau menerimamu sebagai teman kalau kau lupa!" Nada Vidya naik satu oktaf karena terpancing emosi.

__ADS_1


"Jika bukan karena kau mengancamku, aku juga tidak ingin berteman dengan kalian!" Seru Tanaya sengit membuat mereka berdua membulatkan mata.


Jika sampai Tanaya memutuskan pertemanan, maka rahasia mereka akan terbongkar. Vidya tidak ingin itu terjadi segera meminta maaf. "Maafkan aku, Tan. Aku tau aku salah. Tolong jangan marah lagi." Ucap Vidya sambil menyenggol Anjani dan mengedipkan matanya. Anjani yang paham mengikuti apa yang dilakukan oleh Vidya.


"Aku juga meminta maaf. Karena situasi sulit ini kau menjadi tertekan dan mudah emosi."


Selama ini Tanaya mengikuti mereka dengan terpaksa karena ancaman yang diberikan oleh Anjani yang merupakan putri dari menteri pendidikan. Dengan memamerkan kekuasaan ayahnya, dia berhasil menjadikan Tanaya sebagai temannya. Ralat, babu mereka.


"Kalau begitu aku mau kekamar dulu." Pamit Tanaya menahan kesal seraya meninggalkan mereka. Dia bergegas pergi ke kamarnya dan membanting dirinya di ranjang empuk bewarna cream.


Dia menatap langit-langit kamarnya, merenungkan sikapnya yang selama ini saat bersama Anjani dan Vidya yang hanya sibuk berbelanja menghamburkan uang dan mencari laki-laki tampan, tidak peduli dia pria paruh baya atau bukan. Tanaya lelah menjadi pesuruh Vidya dan Anjani, dia ingin bebas seperti teman-teman yang lain menikmati kehidupan yang bebas.


Perlahan Tanaya terlelap menuju alam mimpi, mengabaikan suasana mencekam yang terjadi diluar sana.


♦♦♦


Agra muncul tepat dihadapan raja ular itu dengan memunggunginya. Raja ular itu mendadak menghentikan perjalanannya karena kaget dengan kemunculan Agra yang membuatnya mendesis marah.


"Dasar bayi manusia kucing! Beraninya kau menghalangi jalanku!" Sentak ular itu dengan marah.


"Dari mana asal suara itu, ya?" Tanya Agra pada dirinya sendiri sambil mengorek telinganya dengan jari kelingking lalu meniupnya dengan santai membuat raja ular itu emosi karena merasa diabaikan.


Agra celingak celinguk mencari suara itu disekitarnya lalu menoleh kebelakang, dia melihat seorang laki-laki tampan dengan tubuh bagian bawahnya menyerupai ular. Ide jahil tiba-tiba menari-nari dipikiran Agra. Pemuda itu segera mendekati raja ular itu dengan ber cosplay menjadi banci dadakan.


"Hai tampan... Mau kemana?" Tanya Agra dengan gemulai dan nada yang dibuat selembut mungkin seperti bencong di lampu merah yang sukses membuat raja ular itu mengernyitkan dahinya.


"Bukan urusan mu, kucing liar!" Makinya kasar, dia merasa harga diri sebagai laki-laki ternodai dengan perilaku Agra.


"Jangan gitu dong, uuhhh~" Agra berjalan dengan gemulai mendekati ular itu sambil tersenyum manis. Mungkin bisa membuat laki-laki normal merinding disko atau memuntahkan pelangi.


"Yang penting percobaan alatku sukses. Semoga Rean tidak melihatku yang memalukan ini." Batinnya meringis dalam hati.


"Jangan halangi aku!" Geramnya saat Agra berjarak tiga meter dihadapannya. Diam-diam Agra merogoh saku jaketnya mengambil sesuatu tanpa sepengetahuan sang raja ular.


"Jangan galak gitu dong, Om... Takut nih~" Tanpa diduga raja ular mengibaskan ekornya membuat Agra tersentak kaget dan menghindar kesamping raja ular itu. Pemuda itu melemparkan sesuatu berukuran kecil dan menancap sempurna di ekornya.


Namun sebuah kibasan mengenainya dengan telak membuat Agra terlempar beberapa meter dan menabrak pohon dengan keras.


'Uhuk' 'Uhuk'

__ADS_1


Agra terbatuk dengan memuntahkan seteguk darah segar di bibirnya. Sebuah senyum miring terukir diwajah tampannya dan Agra pura-pura pingsan.


"Heh, dasar lemah!" Sinis ular itu. Setelah memastikan Agra tidak bergerak,raja ular itu melanjutkan perjalanannya tanpa mengetahui sesuatu menempel di ekornya.


Beberapa saat kemudian Rean tiba disana dan melihat Agra yang tergeletak dengan noda darah dipakaiannya. Dengan panik Rean mendekati sang kakak dan mengguncang tubuhnya.


"Kakak, apa yang terjadi? Apa kau sudah mati? Jika ini nafas terakhirmu tolong katakan sesuatu!" Racau Rean sambil mengguncang tubuh sang kakak dengan kencang membuat nya terbatuk.


"Hentikan, bodoh! Kau mendoakan aku agar cepat mati, hah!" Maki Agra kesal dan menjitak kepala Rean dengan lembut.


'Pletak'


"Aduh! Jadi kau tidak mati? Kenapa kau payah sekali sih?" Tanya Rean polos sambil mengusap kepalanya yang nyut-nyutan.


"Aku hanya pura-pura pingsan,adik sialan. Oho! Aku telah berhasil menempelkan alat ciptaan ku pada siluman ular itu, nyahahah...." Agra tertawa bahagia mengingat hal tadi. "Aduduh, kibasan ekornya lumayan kuat sih." Ringisnya saat mencoba untuk berdiri.


Agra segera bangun dengan dipapah oleh Rean. Mereka berdua segera menyusul siluman ular itu menuju ke perkemahan.


"Dia menuju villa yang ada disana." Ucap Agra saat mengingat arah perginya ular itu.


"Disana ada siswa swasta kota G yang melakukan perkemahan. Oh tidak! Nayra dalam bahaya!" Seru Rean panik dan melepaskan rangkulan sang kakak, menyebabkan Agra terjungkal. Rean segera melompati pepohonan meninggalkan Agra yang mengamuk.


"DASAR BOCAH TENGIK!!"


Seketika burung-burung yang bertengger disekitarnya terbang berhamburan guna mencari tempat aman untuk beristirahat.


♦♦♦


Malam semakin larut dan suasana terasa lebih mencekam. Seketika Reihan dan Reiva berdiri dan keluar dari tenda karena merasa aura kuat mendekati tenda mereka.


Melihat hal itu Eiji, Jonathan dan siswa lainnya ikut keluar karena penasaran. Namun mereka terbelalak kaget melihat sosok di hadapan mereka.


Terlihat seorang pria tampan dengan rambut hitam panjang menggunakan pakaian kerajaan yang mewah, namun bagian tubuhnya terlihat seperti ular. Aura kuat memancar dari pria ular itu.


"Akhirnya kalian keluar juga, khukhukhu..."


"Siapa kau?" Tanya Reihan


"Kau tidak perlu tau siapa aku, karena kau–" Ucapannya terhenti sejenak. Dia menjilati bibirnya dengan lidah panjang dan bercabang. "Akan menjadi santapan ku!" Raungnya dan segera menerjang dua kembar itu.

__ADS_1


"Kalian cepat menyingkir! Ini bahaya!" Seru Nayra sambil berlari ke tempat aman diikuti oleh yang lainnya.


__ADS_2