
Ardani yang baru selesai mengurus administrasi rumah sakit tidak sengaja berpapasan dengan seorang dokter laki-laki muda dengan luka robek di wajahnya sambil membopong seorang gadis yang tidak sadarkan diri dengan tergesa-gesa.
Ardani mengenal gadis itu yang tak lain Reiva dan menyusul mereka menuju ruang rawat. Ardani menerobos masuk begitu saja saat melihat putrinya di periksa oleh dokter itu.
Matanya terbelakak kaget saat dokter laki-laki itu menyingkap pakaian putrinya, memperlihatkan perut dengan memar biru keunguan sebesar telapak kaki laki-laki dewasa.
"Bagaimana keadaan putri saya, dok?" Tanya Ardani cemas sambil menatap Reiva yang belum sadar.
"Untunglah tendangan tuan itu tidak menyebabkan cedera serius. Hanya memar pada perut dan trauma saja." Jelas sang dokter yang disambut dengan helaan nafas lega.
"Kenapa bisa seperti ini? Bisa Anda jelaskan?" Tanya Ardani dengan tatapan menuntut. Dokter muda itu menceritakan kejadian tadi yang membuat Ardani geram.
Dokter itu segera undur diri meninggalkan sepasang ibu dan anak diruangan itu.
Ardani memandang sendu putrinya yang terbaring tak sadarkan diri. Dengan lembut wanita paruh baya itu mengusap kepala anaknya.
Ardani memperhatikan lebam di perut Reiva yang pingsan, matanya terbelalak kaget saat melihat sejumput asap hitam yang keluar di perut putrinya.
"I–ini."
Dengan sigap Ardani merapalkan segel tangan dan beberapa mantra yang sulit diucapkan. Hingga akhirnya asap itu musnah dan lebam di perut Reiva menghilang.
'Deg'
Ardani tersentak kaget saat merasakan aura hitam pekat yang berasal dari ICU tempat Reihan dirawat.
"Ini buruk! Aku harus kesana." Ardani segera meninggalkan Reiva yang masih tidak sadarkan diri.
........... ........... ............
"Rupanya dia anakmu, ya. .. Sayang sekali." Tiba-tiba suara Litha terdengar melengking tinggi dan aura disekitarnya lebih terasa mencekam.
Tepat disaat bersamaan ayah Dirga keluar dari ruang rawat anaknya. Litha yang melihat itu menoleh dan menatap mereka dengan tajam.
"Aku gagal mendapatkan 2 gadis itu gara-gara 2 bocah pengganggu itu. Sayangnya nyawa mereka selamat." Litha mendengus sebal.
Mereka semua kebingungan, kecuali Andra, Kelvin dan Nayra yang langsung bersiaga. Tiba-tiba terdengar tawa melengking yang membuat bulu kuduk merinding.
Setelah tawa itu menghilang, kedua orang tua Litha menjadi diam dan memandang mereka dengan tatapan kosong. Asap hitam keluar dari tubuh Litha, lama kelamaan asap itu berubah pekat yang menyebabkan gadis itu tergeletak pingsan.
__ADS_1
Asap itu membentuk sesosok wanita hitam pekat dengan mata putih pucat. Sosok itu tertawa dengan nada yang menyeramkan, "Hiihiihiihii...... "
"Siapa kau?" Tanya Andra sambil memegang gagang pedang sucinya.
Pedang suci Andra tidak bisa dilihat oleh siapapun, kecuali orang yang memiliki indra ke-6 atau orang spesial.
"Kau tidak perlu tau siapa aku, karena sebentar lagi kalian akan mati!" Pekik makhluk itu sambil merentangkan tangannya.
Kesepuluh jarinya mengeluarkan benang hitam yang menancap di tubuh orang tua Litha dan mengendalikannya bak boneka.
"Khu khu khu... Manusia ini sangat berguna. Tapi sayangnya kau–" Tunjuknya pada Andra dengan kesal, "Tidak bisa aku kendalikan. Benar-benar membuat rencana ku gagal."
Andra ingat saat Litha ingin menerjang teman dan adiknya, dia tidak bisa bergerak sedikitpun. Ternyata dia ditahan oleh makhluk yang mengendalikan Litha.
Dengan lihai makhluk asap itu menyerang Andra menggunakan tubuh orang tua Litha, Andra dengan sigap mengeluarkan pedang sucinya dan menangkis serangan mereka.
"Andra, biar ayah yang menahan mereka! Sebaiknya kau serang makhluk itu!" Seru Kelvin sambil menyerang orang tua Litha yang dikendalikan.
"Baik, yah."
Dengan kecepatan di atas manusia normal, Andra meluncur menebas makhluk asap itu dengan pedang sucinya.
'Wusshhh'
"Baiklah." Sahut Andra.
Mendengar seruan Nayra, seketika makhluk asap itu menggeram marah dan menggerakkan boneka ibu Litha ke arah Nayra.
Dengan sigap ayah Dirga menahan serangan boneka ibu Litha namun ayah Dirga terpental hingga menubruk tembok dan tak sadarkan diri.
Boneka ibu Litha segera menghampiri Nayra, namun Alex melayangkan tendangan hingga boneka ibu Litha terhempas membentur tembok.
'Bruakh'
"Maaf, aku tak bermaksud kasar dengan menendangmu." Ucap Alex santai.
"Tendanganmu lumayan juga." Cibir Kelvin sambil menghalau serangan ayah Litha. Sedangkan Andra merapalkan beberapa segel tangan dan mantra, terlihat pedang sucinya mengeluarkan cahaya putih terang.
Andra melesat dengan kecepatan tinggi, dan menebas punggung makhluk itu. Namun tubuhnya kembali beregenerasi dengan cepat.
__ADS_1
Andra terus menyerang makhluk itu tanpa henti, menyebabkan makhluk itu kehilangan konsentrasi pada 2 tubuh manusia bonekanya.
"Dasar manusia sialan!!" Pekik makhluk itu sambil menerjang Alex dan Kelvin secara membabi buta membuat kedua pria paruh baya itu sedikit kewalahan.
Hingga akhirnya makhluk itu melepaskan tubuh kedua orang tua Litha karena tidak bisa fokus dan berusaha menyerang Andra, namun sebuah serangan membuatnya kaget.
"Satu lagi manusia yang mengganggu ku. Aku akan membunuh kalian semua!" Pekik makhluk asap itu dengan marah. Tangannya mengeluarkan asap hitam yang begitu pekat.
"Jangan hirup asapnya!" Teriak Ardani memperingatkan. "Asapnya mengandung racun yang mematikan." Lanjutnya lagi. Dengan segera mereka menahan nafas menggunakan lengan mereka masing-masing.
"Kau benar sekali, asap ku ini sangat beracun." Kekeh makhluk itu sambil menatap mereka dengan pandangan membunuh.
"Kelvin, Alex! Singkirkan kedua orang itu!“ Titah Ardani . Kelvin dan Alex dengan cepat menyingkirkan tubuh tak sadar milik kedua orang tua Litha menjauh dari sana.
Ardani merapalkan beberapa segel tangan disertai dengan mantra yang sulit lalu dengan cepat Ardani menyerang makhluk itu di ikuti oleh Andra sambil menahan nafas.
Mereka bertarung dengan seimbang dan cukup lama hingga akhirnya sepasang ibu dan anak berhasil memusnakan makhluk itu.
"Pedang suci: Angin pemusnah!" Teriak Ardani dan Andra bersamaan lalu menyerang makhluk itu bersamaan.
"Gyaaaaaaa!!" Teriak makhluk itu dengan suara yang mengerikan hingga akhirnya tubuh makhlu itu musnah menjadi serpihan cahaya.
"Ukh... Apa yang terjadi?" Lirih Litha yang baru sadar dari pingsannya dan melihat ke sekelilingnya yang tampak asing dan berantakan. "Ini, dimana?" Tanyanya entah pada siapa. Begitu melihat kedua orang tuanya tergeletak pingsan, Litha segera menghampiri kedua orang tuanya, "Ayah! ibu! Kalian kenapa?"
"Mereka hanya pingsan." Jawab Nayra.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Litha kebingungan dan menatap mereka dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Kau tidak mengingatnya?" Tanya Andra yang di respon dengan gelengan oleh Litha. "Aku hanya ingat saat masuk ke toilet dan terkunci setelah itu aku tidak mengingat apapun." Jawab Litha jujur.
Andra pun mulai menceritakan semuanya yang membuat Litha bersedih. "Maafkan aku, hiks... hiks... Aku mohon maafkan aku..." Tangis Litha dengan penyesalan.
"Tidak apa-apa nak. Kami tahu kau tidak sadar." Jawab Kelvin tenang.
Tak lama ayah Dirga dan kedua orang tua Litha tersadar dari pingsannya dan terlihat linglung.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" Tanya mereka beruntun.
Setelah mendengar penjelasan dari Andra dan Kelvin, orang tua Litha meminta maaf secara langsung pada Dirga dan orang tuanya dan memberikan uang kompensasi atas luka yang di derita oleh Dirga.
__ADS_1
"Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian yang menimpa anak kalian." Ucap ayah Litha denga tulus.
"Tidak apa, om. Aku harap kalian tidak di ganggu lagi oleh makhluk." Ucap Dirga yang langsung mendapat teguran dari ibunya.