Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Gila!


__ADS_3

Reiva memandang Dirga dengan nafsu membunuh, membuat pria tampan itu merinding ketakutan. Sorak sorai teman sekelasnya bergemuruh memberi semangat.


"Nyahahaha... Sekarang cuma tinggal kita berdua." Ucap Reiva sambil mendrible bola basket. Dirga hanya tertawa gugup saat mendengar pantulan bola yang dilakukan oleh Reiva seperti melodi kematiannya.


"Aku mohon jangan keras-keras." Cicit Dirga dengan pandangan laksana anak kucing teraniaya membuat nafsu membunuh semakin menguar dari tubuh Reiva. Dengan santainya gadis itu memantulkan bola basket dan ...


'Bangg!!'


'Wuussshhh'


Reiva melakukan bounce pass dengan kekuatan penuh membuat Dirga terseret mundur beberapa langkah. Pemuda tampan bersurai cokelat itu hanya bisa memaki dalam hatinya, 'Sial, tenaganya kuat sekali. Apa dia itu perempuan jadi-jadian?'


Semua teman sekelas mereka hanya bergidik ngeri melihat kekuatan Reiva yang seperti badak. Mereka hanya bisa menatap Dirga dengan pandangan kasihan.


"Ahahaha... Sekarang giliranku, ya." Ujar Dirga sambil tertawa canggung. Dalam hati pemuda itu merencanakan balas dendam kepada Reiva.


Dirga mengambil kesempatan saat Reiva lengah dan melakukan bounce pass. Naas karena di sengaja atau tidak, lemparan bola basket dengan sukses mengenai kepala Reiva yang berhasil membuat gadis itu mengeluarkan hawa hitam pekat di sekujur tubuhnya.


"Kau sengaja ya meleparkan bola ke arah kepalaku?" Tanya Reiva sambil menatap Dirga dengan nafsu membunuh membuat pemuda itu bergidik ngeri.


"Ampuni aku... Aku tidak sengaja." Dirga hanya bisa memohon ampun mengingat tempramen Reiva yang sedikit bobrok.


'Dirga, semoga kau tenang di alam sana.' Batin Reihan sambil tertawa nista dalam hatinya. 'Aku akan membawakan segulung kain kafan untuk persahabatan kita.'


"Baiklah! Terima ini!!" Seru Reiva sambil melakukan bounce pass dengan kekuatan penuhnya. Terdengar teriakan Dirga yang menyayat hati disusul dengan bunyi gedebuk keras.


♦♦♦


"Kau itu kejam sekali..." Lirih Dirga sambil mengusap sebelah wajahnya yang lebam akibat ciuman bola basket.


"Ahahaa... Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat." Sahut Reiva tanpa merasa bersalah atau apapun itu. Mereka berempat berjalan santai menuju kantin untuk mengisi perut yang kelaparan.


Setelah memesan makanan dan mencari tempat duduk, Nayra angkat suara membuat ketiganya menoleh, "Aku dengar akan ada perkemahan yang dilakukan pada malam tahun baru nanti."


"Sudah menjadi tradisi sekolah ini mengadakan perkemahan untuk siswa kelas X." Reihan menambahkan.

__ADS_1


"Dan besok adalah malam tahun baru." Ucap Nayra sambil menerawang. "Aku dengar lokasinya berada di pinggir hutan." Lanjutnya lagi.


Sepasang remaja kembar tersebut merasakan bandul anting mereka bergoyang pelan. Mereka saling pandang sejenak dan mengangguk.


"Sepertinya akan ada nyawa yang melayang." Perkataan Dirga sukses membuat mereka menatapnya dengan dahi mengernyit.


"Di forum pemburu makhluk ku ada yang membuat postingan tentang perkemahan sekolah ini. Dia bilang akan ada siswa yang hilang setiap tahunnya." Dirga menoleh kesekitarnya dan berbisik, "Sudah ada 2 siswa yang hilang disekolah ini sejak 2 tahun lalu. Dari yang ku dengar, pihak sekolah enggan mencari siswa yang hilang tersebut. Aku tidak tahu kenapa, yang pasti kita akan menyelidiki kasus ini."


"Kami akan ikut." Ucap Reihan dan Reiva berbarengan lalu mereka saling melemparkan tatapan tajam sebelum membuang muka ke sembarang arah membuat Nayra dan Dirga terkekeh.


Setelah selesai makan, mereka segera mengganti seragam olahraga di ruang ganti. Ketika Nayra dan Reiva keluar dari ruang ganti, mereka di hadang oleh Vidya dan dua temannya.


"Lihatlah anak pembawa sial ini." Ujarnya dengan nada angkuh sambil berkacak pinggang. Dua temannya hanya bisa tertawa meremehkan.


"Oh, rupanya dia bersama si culun. Menjijikan." Sahut Tanaya sambil tertawa mengejek membuat Reiva memutar matanya malas.


"Ada apa?" Tanya Reiva malas. Dia tidak ingin waktunya terbuang sia-sia.


"Kau bertanya ada apa? Jauhi Dirga dan Reihan! Mereka milikku!" Ucap Vidya sambil mendorong bahu Reiva.


"Kau–" Ucapan Tanaya terhenti saat Reiva memotong pembicaraannya.


"Apa? Aku salah bicara ya. Walaupun kalian pacar kak Reihan, tapi aku tidak akan membiarkan kalian mendekati kakakku. Dan aku tidak sudi mempunyai ipar ular seperti kalian." Cerca Reiva sambil melayangkan tatapan tajamnya.


"Nay, kita pergi. Disini ada tiga ular berbisa." Ucapnya sambil menyeret Nayra, meninggalkan Vidya dan antek-antek nya yang tersulut emosi.


"Awas kau Reiva!!" Teriak Vidya yang hanya mendapat respon jari tengah oleh Reiva.


♦♦♦


Reihan dan Dirga keluar dari ruang ganti dan saat berjalan menuju kelasnya, 2 orang siswa mencegatnya. Terlihat aura aneh pada salah satu siswa tersebut.


"Ada masalah apa?" Tanya Reihan malas sambil menatap siswa itu dengan pandangan menilai.


"Aku peringatkan kalian untuk menjauhi Reiva." Ucapnya penuh penekanan pada Reihan.

__ADS_1


"Kenapa aku harus menjauhi adik kembarku? Seharusnya kau yang menjauhi adikku." Ucap Reihan santai sambil mengorek telinganya yang terasa gatal.


Siswa dengan name tag Xiander Oliver menggeram marah mendengar ucapan Reihan. Perkataan Dirga sukses membuat mereka tertampar malu, "Aku heran kenapa kau menyuruh Reihan menjauhi saudarinya sendiri. Kau itu cuma orang asing dan kami tidak pernah melihat mu dekat dengan Reiva. Jadi kau itu apanya Reiva, sih?"


"Aku hanya menyampaikan pesan seseorang." Xiander berkata dengan datar.


"Sudahlah, Ga. Sebaiknya kita menemui Reiva. Aku khawatir adikku akan menguras uang bulananku jika kita tidak menghampiri nya." Ucap Reihan sambil menekan kata adik. Dengan sengaja Reihan menabrakkan bahunya pada Xiander dengan kencang dan segera beranjak meninggalkan mereka.


Dirga hanya menepuk-nepuk bahu Xiander dengan kencang, membuat pemuda itu mendelik garang. "Sebaiknya katakan pada orang yang menyuruh mu untuk berfikir dulu sebelum berkata. Kau itu hanya orang asing yang tidak mengetahui apapun mengenai Rei kembar." Lalu Dirga segera beranjak menyusul Reihan yang sudah berjalan jauh di depan.


Xiander yang merasa emosi segera meninju tembok yang berada di sampingnya guna meluapkan emosi yang sejak tadi di tahannya.


"Sial! Mereka selalu menggertak ku!" Emosi Xiander meluap saat mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.


♦♦♦


"Mereka benar-benar sinting! Bagaimana mungkin aku bisa jauh dari kak Reihan? Kami sudah bersama dari orok hingga sekarang." Gerutu Reiva kesal. Nayra hanya diam mendengarkan gerutuan sahabat nya.


"Mungkin mereka hanya iri saja. Jangan dipikirkan." Ucap Nayra mencoba menenangkan Reiva, namun bukannya tenang Reiva malah mencak-mencak, "Seharusnya mereka pakai otak! Apa mereka tidak lihat kami ini kembar?! Oh, Tuhan... Mereka benar-benar sudah buta! Mata mereka hanyalah sebuah rongga tidak berguna!" Makian Reiva membuat beberapa siswa yang berada di lorong menatap mereka dengan aneh membuat Nayra merasa bersalah dan meminta maaf.


"Reiva, sudahlah. Banyak siswa yang memandangmu dengan aneh." Nayra menegur Reiva yang masih setia mengumpat. Dan benar saja, Reiva menoleh ke sekitarnya dan melihat beberapa siswa menatapnya dengan heran.


"Apa?!" Serunya kesal membuat siswa itu menatap ke sembarang arah, takut-takut mereka nanti menjadi sasaran amukan Reiva.


"Aku tidak habis fikir kenapa mereka menyuruhku untuk menjauhi kakak ku? Apa otak mereka berfungsi?" Maki nya dengan nada yang sedikit melunak.


"Dasar! Apakah otaknya itu hanya pajangan?! Reiva itu adik kembarku, sialan!" Sebuah makian terdengar di ujung lorong membuat Reiva dan Nayra menghentikan langkahnya. Suara itu sangat familiar di telinga kedua gadis itu.


"Ada apa dengan kak Reihan?" Tanya Reiva pada Nayra yang hanya di respon dengan gelengan. Hingga akhirnya mereka melihat Reihan muncul dengan aura membunuh yang menguar dari tubuhnya, membuat beberapa siswa spontan menghindar memberi jalan. Takut-takut mereka menjadi sasaran amukan Reihan.


"Jangan-jangan dia mengalami hal yang sama denganmu, mungkin." Tebak Nayra tepat sasaran membuat Reiva terdiam.


Mereka menatap Reihan yang berjalan dengan langkah panjang menuju taman belakang sekolah dan di belakangnya terlihat Dirga yang mengejar pemuda itu sambil sesekali mencoba menenangkannya.


"Rei, sudahlah. Mereka hanya orang bodoh yang tidak punya otak. Tidak ada saudara yang rela berpisah, apalagi kalian kembar."

__ADS_1


Perkataan Dirga sukses membuat emosinya mereda sedikit. Reihan menghentikan langkahnya dan menatap Dirga sejenak sebelum kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.


__ADS_2