
Reiva berguling-guling di tempat tidurnya berharap rasa kantuk menyerangnya. Entah kenapa gadis itu malam ini tidak bisa memejamkan mata barang sejenak.
Merasa bosan, gadis itu mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada kakak kembarnya.
[To: Es Reihan]
[Sudah tidur?]
Send.
Tidak lama kemudian ponselnya bergetar dan terlihat sebuah pesan masuk di ponselnya.
Drrtt
[Aku tidak bisa tidur. Mau berburu?]
Seketika mata Reiva berbinar senang saat melihat respon kakak kembarnya. Ya, Reihan memang suka berburu makhluk untuk menguji nyali yang berujung berkelahi dengan sekumpulan geng motor yang mencari gara-gara dengannya.
Reiva sendiri tidak bisa melihat mahkluk, namun gadis itu bisa merasakan hawa keberadaan makhluk. Namun semenjak memakan permen Miana, gadis itu bisa melihat makhluk dan melihat masa lalunya.
[Tentu saja. Tolong pastikan kak Andra tidak gentayangan di luar.]
Send.
Reiva segera bersiap mengganti piyama dengan kaos hitam dipadukan dengan celana baggy hitam panjang hingga mencapai mata kaki, tidak lupa dengan sepatu kets bewarna senada.
Rambut panjangnya dia kuncir kuda dan tidak lupa mengambil sebuah jam tangan hitam yang baru dibelinya serta ponselnya.
"Hihihi... Saatnya berburu." Kikik nya sambil memadamkan lampu kamarnya dan menyusun bantal dan guling dengan sedemikian rupa agar sang kakak tidak curiga.
♦♦♦
Reihan menatap pemandangan kota melalui jendela apartemennya dengan pikiran melayang entah kemana. Tiba-tiba handphone nya bergetar dan terlihat sebuah pesan masuk.
[From: Reiva Sableng]
[Sudah tidur]
Saat Reihan hendak membalas pesan saudari kembarnya, sekelebat bayangan melintas di hadapannya. Bayangan itu memperlihatkan dirinya dan sang adik akan berhadapan dengan sesosok makhluk anak kecil.
__ADS_1
[Aku tidak bisa tidur. Mau berburu?]
Send.
Reihan memang bisa melihat keberadaan makhluk sebelum tinggal di apartemen Hunter dan memakan permen Miana. Semenjak dirinya dan Reiva memakan permen itu, dirinya bisa melihat masa lalu makhluk yang dia jumpai dan kekuatannya sedikit meningkat. Apa lagi setelah kepalanya terbentur batu, dirinya bisa melihat sekelebat bayangan kejadian yang akan datang serta penciuman dan pendengaran nya menjadi lebih tajam.
Drrt
[Tentu saja. Tolong pastikan kak Andra tidak bergentayangan di luar.]
Reihan meletakan handphone nya dan mengganti pakaiannya. Pemuda itu mengenakan kaos hitam polos dan celana jogger hitam panjang dipadukan dengan sepatu kets hitam.
Setelah selesai pemuda itu membuat kamuflase dengan bantal guling yang diatur sedemikian rupa seolah-olah dirinya sedang tidur. Setelah demikian pemuda itu mengambil handphone nya dan mematikan lampu kamarnya.
Reihan keluar mengendap-endap memastikan Andra sudah tidur dengan nyenyak. Setelah merasa aman pemuda itu mengetuk pintu kamar Reiva dengan ketukan pelan sebanyak 2x.
Tak berapa lama Reiva membuka pintu kamarnya dan terlihat Reihan mengintai sekitar. Reiva keluar kamar dan menutup pintu kamarnya dengan pelan lalu berkata, "Kita akan berburu kemana, Kak?"
"Lorong lantai 5 kamar 328. Buruan sebelum Andra bangun." Bisik Reihan yang direspon dengan gumanan Reiva. Mereka berdua mengendap-endap keluar dari unit apartement dan menutup pintu apartemen mereka dengan pelan. Setelah tiba di luar apartemen mereka segera mengambil langkah seribu menuju tangga darurat.
Mereka tidak mengetahui bahwa Andra melihat kelakuan kedua adik kembarnya. Pemuda itu hanya bisa menghembuskan nafas dan berguman, "Kemana mereka malam-malam begini?"
♦♦♦♦
Sepasang remaja kembar tengah menelusuri lorong lantai 5. Lampu remang-remang di lorong memberi suasana mencekam tidak membuat sepasang remaja ini takut.
Apartemen Hunter memiliki bangunan berbentuk U dan memiliki 70 kamar hunian setiap lantainya, namun karena rumor yang beredar masih sedikit orang yang tinggal di apartemen ini.
Mereka merasa seseorang mengikutinya saat tiba di lantai 5. "Kak, aku merasa seseorang mengikuti kita." Reiva berujar sambil melirik sekitar.
"Mungkin penghuni lantai ini. Sudahlah jangan dibawa serius." Ucap Reihan santai sambil menyusuri lorong remang-remang lantai 5.
Sebuah tangan kekar menepuk pundak kedua remaja itu membuat mereka menghentikan langkah nya. Dengan gerakan patah-patah mereka berdua menoleh kebelakang dan melihat seorang pemuda tampan memasang senyum iblis di wajahnya dengan background hitam disertai petir yang menyambar.
'Glek'
"Adik-adikku sayang mau kemana malam-malam begini?" Tanya pemuda itu yang tak lain Andra dengan aura hitam menguar ditubuhnya. Pemuda itu diam-diam membuntuti kedua adiknya saat mereka berdua berhasil menyelinap keluar.
"K–kami mau jalan–jalan kak. Hehehe...." Sahut Reiva cengengesan dan menyenggol Reihan agar pemuda itu bisa membantunya.
__ADS_1
"Selamat malam, nyonya." Ucap Reihan dengan hormat. Andra sontak menoleh kebelakang, namun pemuda itu tidak menjumpai siapapun.
'Kesempatan.' Batin mereka dan segera mengambil langkah seribu tanpa menimbulkan bunyi gesekan di lantai.
Begitu Andra berbalik hendak menyeret Reiva, pemuda itu tidak melihat sosok kedua adik kembarnya. Seketika kepalanya berkedut kesal dengan tingkah kedua adiknya.
"Dasar adik kembar lucknut!" Teriakan Andra yang penuh kekesalan bergema di lorong itu.
♦♦♦
Sepasang remaja berlari sambil tertawa cekikikan karena berhasil mengelabui sang kakak. Mereka berhenti sejenak dan mengatur nafas yang tersengal.
"Hahaha.... Aku tak menyangka jika kak Andra mudah di kelabui." Ucap Reihan sambil memegang perutnya yang sakit akibat menahan tawa.
"Dia seperti bapak-bapak kolot saja. Jika dia ingin ikut bilang saja dengan baik-baik." Sahut Reiva sambil cekikikan.
"Yosh! Saatnya kita berburu. Apa perlu kita memanggil Miana?" Tanya Reihan sambil menatap saudarinya.
"Nanti saja, kucing itu mungkin lagi 'me time.' Aku tidak mau dia mengomel dan mencuri cemilan kesayangan ku karena waktunya terganggu." Sahut Reiva kesal saat mengingat pergumulannya dengan Miana karena mencuri cemilan kesayangannya.
"Lalu bagaimana caranya kita ke dalam?" Tanya Reihan saat menyadari pintu unit itu terkunci.
"Kau meragukanku?" Reiva bertanya balik kepada kakak kembarnya. Untuk urusan membobol pintu Reiva adalah ahlinya.
"Tidak. Sebaiknya kita bergerak cepat sebelum kak Andra tiba disini." Ujar Reihan sambil mengawasi situasi. Dengan lihai gadis itu mengutak-atik lubang kunci menggunakan kawat sepanjang 3 cm yang selalu dibawanya.
Hingga terdengar bunyi 'cklek' pertanda kunci pintu itu berhasil dibobol. Dengan segera sepasang remaja kembar itu menyelinap memasuki unit 328 dan memeriksa kamar itu.
Terlihat ruangan kosong nan gelap berukuran cukup luas yang dipenuhi debu lumayan tebal, pertanda sudah lama tidak ada yang menempatinya.
Sepasang remaja kembar segera mengeluarkan ponselnya masing-masing dan menghidupkan senter guna membantu pengelihatan akibat minimnya penerangan di unit 328. Mereka tidak menghidupkan lampu ruangan ini mengingat malam mendekati larut dan mereka tidak ingin membuat kehebohan.
Sepasang remaja kembar menutup hidungnya guna menghalau debu yang masuk ke saluran pernafasan mereka. Sesekali terdengar suara bersin yang menggema di ruangan luas nan berdebu itu.
"Sial, debunya tebal sekali." Gerutu Reiva sambil menggosok hidungnya yang gatal dan berair.
"Sepertinya unit ini sudah lama tidak ada yang menempati." Sambung Reihan sambil menelusuri sekitar hingga pandangan mereka terpaku pada sebuah dinding yang terlihat berbeda.
Tiba-tiba terdengar tawa cekikikan khas anak-anak yang membuat siapapun merinding ketakutan sebelum akhirnya tawa itu berubah menjadi tangis pilu yang menyayat hati membuat sepasang remaja itu waspada.
__ADS_1