
Miana memperhatikan Tanasaka dengan seksama dan bertanya dengan nada bingung, "Apa yang kau lakukan disini? Ingin bertelur?" Tidak lupa memasang ekspresi mengejeknya.
"Berterimakasihlah pada manusia rendahan itu. Dengan melanggar pantangan disini aku akhirnya bisa bebas, hahaha...!" Ujar Tanasaka sambil tertawa terbahak bahak.
"Oh? Bukannya mereka ada di villa itu?" Tanyanya polos sambil menunjuk ke sebuah villa, dimana terdapat beberapa siswa yang memandang mereka dengan ketakutan.
"Mereka lebih baik dari manusia yang berada di sana. Lagipula manusia disini sangat spesial. Khukhukhu..." Tawa Tanasaka sambil melirik siswa kelas G dan dua pria dewasa yang berada di sana yang menatap mereka dengan siaga.
"Lagipula kau menggangguku, kucing sialan!" Raungnya marah seraya mengibaskan ekornya ke arah Miana. Dengan sigap Miana menghindari serangan Tanasaka dan berlari menuju hutan.
"Tangkap aku kalau bisa, ular jelek!" Seru Miana dengan nada mengejek membuat Tanasaka mendesis marah dan berlari menyusul Miana.
♦♦♦
Andra memeriksa kondisi kedua adiknya lalu menatap dua pria dewasa yang berada disana.
"Apa kalian wali kelas dari adik kembarku?" Tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Ya, benar. Kami wali kelas XG. Rencananya malam ini kami akan memilih pengurus kelas." Tutur Eiji sambil menyulut sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya.
"Mereka akan sadar beberapa saat lagi. Kalau begitu aku permisi." Ucap Andra dengan sopan dan keluar dari tenda tempat Rei kembar berada diikuti oleh beberapa siswa yang masih sadar dan dua pria dewasa yang berada disana.
"Kalian harus waspada karena ular itu bisa saja menyerang kapanpun." Lalu Andra berlari memasuki hutan yang berada tak jauh dari tempat perkemahan.
"Mereka terlihat berbeda dengan orang kaya lainnya." Celetuk salah satu siswa menatap kepergian Andra.
Tanpa mereka sadari, dua remaja kembar membuka mata mereka dengan perlahan lalu menatap disekitarnya. Mereka saling tatap dan mengangguk lalu segera berlari keluar, mengagetkan mereka yang berjaga diluar.
"Hei kalian!! Tunggu!!" Sayangnya teriakan mereka tidak dihiraukan oleh dua remaja kembar tersebut. Mereka berlari dengan kecepatan tinggi memasuki hutan yang berada tak jauh dari sana.
"Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin masuk ke sana mengganggu pertarungan mereka, kan?" Tanya salah satu siswa dengan bingung.
"Kita berjaga disini saja. Jika mereka tidak keluar dalam waktu sejam, kita harus mencarinya." Ucap Jonathan cemas.
"Semoga mereka selamat." Guman mereka cemas.
♦♦♦
Miana dan Tanasaka saling melempar tendangan, pukulan dan serangan. Sesekali menghindari kibasan Tanasaka yang mengarah padanya.
__ADS_1
Andra tiba disana disususl oleh dua remaja kembar tersebut. Terlihat Miana yang mulai kewalahan menghadapi serangan Tanasaka.
"Kenapa kalian mengikuti ku? Seharusnya kalian tetap ditenda." Seru Andra.
"Kami baik-baik saja, Kak. Kami ingin membantu Miana." Jawab mereka kompak membuat Andra mendengus sebal.
"Apa segitu saja kemampuanmu, kucing kecil? Kenapa kau tidak menunjukkan dirimu yang sesungguhnya pada tuanmu?" Tanasaka memancing emosi Miana.
"Apa kau takut mereka akan mengkhianatimu lalu berakhir menjadi kucing yang menyedihkan, haahh?" Ejek Tanasaka lagi.
Sontak mereka bertiga menatap Tanasaka dengan bingung.
"Diam kau!" Seru Miana menahan kesal.
"Oh, sepertinya pemilikmu ada disini. Bagaimana jika mereka melihat wujud aslimu? Apakah dia membencimu seperti kucing hitam itu. Aku tak sabar melihatnya."
"Kami tidak akan meninggalkan Miana, bagaimanapun sosok aslinya." Ucap Reihan tegas.
"Benar, bagi kami dia adalah sahabat kami." Sambung Reiva membuat Miana menoleh.
"Benarkah? Aku tidak percaya dengan perkataan kalian." Lanjutnya sambil mengibaskan ekornya. Mereka dengan cepat menghindari kibasan ekor Tanasaka yang mampu membuat lubang sebesar 1 meter dengan kedalaman 1 meter.
'Blarrr'
Miana menggeram marah. Perlahan tubuhnya di selimuti aura bewarna jingga keemasan dan semakin membesar. Tubuh Miana berubah menjadi kucing dengan kobaran api emas setinggi 3 meter dengan ekor 9 yang melambai-lambai. Kucing raksasa itu menggeram marah dengan suara berat serta hidungnya mengeluarkan asap panas.
"Akhirnya kau menunjukkan jati dirimu, kucing kecil! HAHAHA. ...!" Tawa Tanasaka menggelegar.
Sontak mereka bertiga kaget dengan perubahan Miana. Mereka memandang Miana tanpa berkedip karena tajub.
Kucing emas berekor sembilan merupakan kucing terkuat diantara siluman kucing lainnya. Mereka hidup berpisah dan tidak diketahui keberadaan nya. Hanya orang-orang terpilih yang bisa bertemu dengan sembilan siluman kucing berekor. Namun apabila mereka dikhianati oleh orang yang dipercayainya maka siluman kucing itu berubah menjadi kucing jalanan yang tak terurus.
Mereka tidak mudah mempercayai siapapun mengingat kucing berekor satu telah musnah akibat dikhianati oleh tuannya.
Miana yang kini berwujud kucing berekor sembilan menerjang Tanasaka dengan membabi buta. Mereka bertarung dengan sengit. Tiba-tiba ekor Tanasaka tidak bisa digerakkan karena alat yang ditempelkan oleh Agra mulai beraksi.
Ya, alat itu adalah sebuah jarum berisi racun yang mematikan. Tanpa diduga Miana menghembuskan api emas dan menembakkan kearah Tanasaka.
'Duarr' 'Blaarr'
__ADS_1
Tanasaka ambruk dengan nafas terputus-putus. Dengan sisa kekuatannya, dia berkata dengan lirih, "Kau... Berhasil mengalahkanku... Tapi raja iblis akan bangkit... Untuk mengalahkannya... Kumpulkan kristal yang berasal dari siluman yang telah kalian kalahkan dan temukan siluman kucing berekor lainnya... Hanya itu yang bisa aku katakan... Terimakasih telah membebaskan ku..." Lalu Tanasaka berubah menjadi abu dan hilang ditiup angin.
Miana menatap mereka bertiga dengan pandangan cemas. Dia takut mereka mengkhianati nya.
"Miana, terimakasih telah menolong kami." Ujar Reihan tulus.
"Jangan tinggalkan kami, Miana. Tetaplah menjadi Miana yang selama ini kami kenal. Kami menyayangimu." Ucap Reiva lalu tak sadarkan diri. Reihan segera menghampiri kembaran bar barnya dan menggendongnya dengan bridal style.
Perlahan tubuh Miana berubah menjadi manusia dengan telinga kucing. Andra menghampiri Miana dan memberikan topi baseball yang digunakannya tadi yang terjatuh saat Miana berlari menuju hutan.
"Terimakasih telah melindungi adikku." Ujar Andra sambil menepuk-nepuk pundak Miana.
"Ku kira kalian takut padaku." Ucap Miana tertunduk.
"Kau sudah kuanggap sebagai temanku juga." Ujar Andra tulus. "Ayo kita kembali."
Mereka segera meninggalkan tempat yang telah hancur itu.
Beberapa saat kemudian Rean tiba disana dan melihat tempat itu telah hancur.
"Sepertinya aku terlambat. Syukurlah mereka selamat." Guman Rean lalu pergi dari sana.
♦♦♦
Fajar telah datang, sang rembulan telah menyelesaikan tugasnya. Seberkas sinar matahari pagi menerobos melalui gunung memberikan kehangatan pada penghuni bumi. Terlihat Reihan menggendong Reiva yang pingsan bersama Andra dan Miana keluar dari hutan dengan penampilan acak-acakan. Sekelompok siswa memandang kedatangan mereka dengan cemas.
"Syukurlah kalian baik-baik saja. Bagaimana dengan Reiva?" Tanya Jonathan.
"Dia hanya pingsan. Kami akan membawanya ke rumah sakit." Tutur Andra sopan.
"Baiklah kalau begitu."
"Kami ikut." Seru Devano menatap mereka dengan tajam. "Karena kita sekelas, tidak ada salahnya mengantar teman sekelas kami."
Mereka mengangguk setuju. Andra menatap mereka untuk mencari kebohongan, namun tidak terdapat jejak kebohongan disana.
"Baiklah. Kalian boleh ikut."
"Aku sudah mengemas barang mereka." Seru Dirga sambil menunjuk perlengkapan Reihan dan Reiva.
__ADS_1
"Dan kami telah membongkar tenda." Ucap salah satu siswa sambil merapikan bekas tenda yang berdiri semalam.
"Kalau begitu kita pergi sekarang."