Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Keributan di Rumah Sakit


__ADS_3

Miana melihat semua kejadian itu dalam wujud kucingnya. Dia tidak bisa menolong karena tidak ingin identitasnya diketahui banyak orang.


Diam-diam Miana memalsukan keadaan Reihan, seolah-olah pemuda itu mengalami cedera serius walaupun sebenarnya kepala pemuda itu baik-baik saja dan Reihan hanya pingsan.


"Maafkan aku karena tidak bisa menolong kalian." Guman Miana merasa bersalah.


"Setelah kalian melewati rintangan ini, kalian akan memiliki sesuatu yang di luar nalar."


........ ........ ........


Kelvin berjalan di lorong rumah sakit saat Andra menelponnya. Raut gelap terlihat di wajahnya yang masih tampan.


Di belakangnya Alex membututinya sambil berharap agar sahabatnya tidak mengamuk mengingat tempramen nya sangat tidak bisa di tebak.


Kelvin terkenal memiliki tempramen yang sangat buruk bila mendengar seseorang menyakiti keluarga nya walau hanya seujung rambut. Sudah menjadi rahasia umum jika pria paruh baya tersebut terkenal kejam dan dingin.


Saat mereka menginjakan kaki didepan ruang rawat Dirga yang berdekatan dengan ICU, mereka melihat sebuah pemandangan yang membuatnya mendidih, dimana kedua anaknya direndahkan oleh salah satu keluarga manager perusahaan cabangnya. Kelvin memutuskan mendengarkan pembicaraan mereka sebelum turun tangan langsung.


......... ........... ........


Litha yang melihat kepergian Andra memutuskan untuk menyusul nya. Tanpa tau malu gadis itu memeluk lengan Andra membuat pemuda itu menepis nya dengan kasar.


Litha menjatuhkan dirinya dengan sengaja dan berpura-pura menangis, membuat kedua orang tua Litha geram.


"Apa yang kau lakukan pada putriku?" Pekik ibu Litha tak terima. Wanita paruh baya tersebut menghampiri Litha dengan tergopoh-gopoh dan membantunya berdiri.


"Dia mendorong ku, bu. Hiks... hiks..."


"Seorang pembunuh yang tak tahu malu. Kau bahkan mencelakai sahabatku dan sekarang kau juga membuat adikku serta temannya sekarat. Menjijikkan." Ucap Andra dengan dingin lalu segera menyusul perawat yang membawa tubuh lemah adiknya.


Beruntung ruangan Dirga dan Reihan bersebelahan. Mereka bertiga menatap sendu Reihan yang tak sadarkan diri melalui kaca pembatas.


"Paman, bibi boleh kami melihat Dirga?" Tanya Reiva dengan sopan. Saat melihat orang tua Dirga hendak masuk ke ruangan tempat Dirga dirawat.


"Kalian temannya Dirga ya? Dia sering menceritakan tentang kalian. " Ujar ibu Dirga dengan nada ramah dan mengijinkan mereka melihat Dirga yang terbaring lemah.


"Hai... " Sapa Dirga dengan lemah. Tangannya tertancap infus dan kantong darah.


"Kau sudah sadar, nak? Bagaimana keadaanmu?" Tanya ibu Dirga dengan khawatir.

__ADS_1


"A-air..." Lirih Dirga lemah. Dengan sigap sang ibu menyerahkan sebotol air minum dan membantu Dirga minum.


"Maafkan kami... Gara-gara kami kau jadi seperti ini." Cicit Nayra dengan penyesalan.


"Bukan salah kalian. Bagaimana dengan Reihan?" Tanya Dirga penasaran.


"Dia mengalami cedera kepala yang cukup serius." Jawab Reiva sendu.


"Sebaiknya kau beristirahat. Kami keluar dulu." Pamit Reiva.


"Sering-seringlah mengunjungi ku ya. Jangan lupa bawakan aku makanan enak." Seru Dirga yang langsung mendapatkan teguran dari sang ibu.


........ .......... .........


Begitu Nayra dan Reiva keluar dari ruang rawat Dirga, terdengar suara tamparan nyaring yang bergema di lorong rumah sakit. Mereka melihat Andra di tampar cukup keras oleh ibu Litha dan ayah Litha menendang Andra hingga jatuh tersungkur.


Beruntung tidak ada seorang dokter maupun perawat yang melintas disana sehingga tidak menyebabkan kerumunan.


"Kakak!" Pekik Reiva spontan dan langsung menghampiri Andra. Terlihat sudut bibir Andra robek dan mengeluarkan darah.


"Kak, kau tidak apa?" Tanya Reiva khawatir dan memandang tajam Litha dan ibunya.


"Gadis miskin sepertimu bernyali juga." Cemooh ibu Litha dengan tajam dan mendorong Reiva hingga jatuh tersungkur.


Nayra hendak menghampiri Reiva namun matanya tak sengaja menangkap sosok Kelvin dan ayahnya. Namun kedua pria itu memberi isyarat agar Nayra tidak membertahukan keberadaan mereka.


Nayra menurut dan segera menghampiri Reiva yang meringis kesakitan. "Kau tak apa, Rei?" Tanya Nayra khawatir dan membantunya berdiri.


"Aku tak apa. Tenaga badut itu cukup kuat." Bisik Reiva.


Ayah Litha hendak menendang Andra yang masih meringkuk kesakitan namun segera dihalangi oleh Nayra.


"Minggir kau, ****** kecil! Akan ku berikan pelajaran pada pemuda tak tahu diri itu!" Bentak ayah Litha sambil mendorong kasar tubuh Nayra hingga gadis itu tersungkur.


"Tuan jangan membuat keributan. Ini rumah sakit." Seorang dokter jaga laki-laki mencoba melerai pertengkaran tersebut namun ayah Litha memukul dokter itu hingga tersungkur.


"Siapa kau yang berani menghalangi ku? Kerjakan tugasmu dan jangan ikut campur!" Bentak ayah Litha.


"Kau berani-beraninya menolak putri ku demi 2 ****** kecil ini!" Ucap ayah Litha sambil melayangkan tendangan kearah Andra, tanpa di duga Reiva berdiri tepat di depan Andra, hingga sebuah tendangan sangat kuat mengenai perut gadis itu dengan telak. Membuat Reiva tersungkur pingsan seketika.

__ADS_1


"Reiva!" Pekik Andra dan Nayra. Dokter itu segera mengecek keadaan Reiva dan memberikan gadis itu pertolongan pertama.


"Tolong rawat sahabat ku." Lirih Nayra sambil menatap dokter laki-laki itu dengan tatapan memohon. Dengan sigap sang dokter membopong Reiva yang tak sadarkan diri.


"Ada apa ini." Terdengar suara bariton dengan nada dingin membuat semua orang yang berada disana bergidik ngeri. Mereka melihat Alex dan Kelvin berjalan mendekati kerumunan kecil yang diciptakan oleh keluarga Litha. Dengan pongahnya ayah Litha menghampiri Kelvin yang menahan emosi.


"Aku sedang memberikan orang miskin ini pelajaran, Tuan. Dia telah berani menolak putriku demi 2 ****** kecil ini."


Alex segera menghampiri Nayra yang duduk bersimpuh sambil menahan emosi, melihat hal itu keluarga Litha tersenyum dengan sombong mengira Alex akan menghajar Nayra.


"Kau tak apa?" Ucap Alex sambil membantu Nayra berdiri.


"Aku tak apa, yah. Tapi teman ku, hiks..." Tangis Nayra akhirnya pecah. Dengan sigap Alex menenangkan putrinya.


"Semua baik-baik saja." Ucap Alex menenangkan Nayra yang masih terisak.


"Lihat, ternyata kau menyukai wanita simpanan orang lain." Ejek ibu Litha sinis tanpa menyadari ucapan yang dilontarkannya menjadi boomerang untuk keluarganya.


Kelvin memandang keluarga Litha sejenak dan menghampiri Andra yang terduduk sedih meratapi nasib kedua adik kembarnya.


"Tuan, beri dia pelajaran untuk tidak menyukai simpanan orang lain. Masih kecil sudah menyukai simpana orang." Ucap ayah Litha dengan angkuh.


"Kau menolak ku demi 2 ****** itu? Sungguh tidak pantas." Sinis Litha dengan senyum mengejek yang terukir diwajahnya.


Kelvin berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Andra dan menepuk bahu pemuda itu dengan pelan. Pria paruh baya itu membantu Andra berdiri.


"Dimana Reihan?" Tanya Kelvin yang langsung diantar oleh Andra dengan tertatih.


Kelvin melihat putranya terbaring lemah di ICU dari balik kaca transparan. Tangannya mengepal erat menahan emosi yang siap meledak.


Litha dan keluarganya menatap mereka dengan heran karena tidak sesuai dengan yang mereka prediksi. "Kau sudah membantu ayah selama ini, nak. Ayah tidak menyalahkanmu." Ucap Kelvin penuh wibawa sambil menepuk-nepuk bahu Andra.


"Haahh~ Bocah tengik itu~" Kelvin memijit pelipisnya pusing mengingat tingkah kedua anak kembar mereka yang terbilang nekat.


"Aku harap Reiva dan Reihan tidak menyumpahimu, Yah." Kekeh Andra sambil meringis menahan sakit.


"Duo tengik itu masih tidak sadar." Sahut Kelvin cuek. Entah kenapa Kelvin dan dua adik kembarnya tidak pernah akur.


"Merebut simpanan orang saja bangga." Celetuk Litha sinis yang didengar oleh Kelvin dan Alex.

__ADS_1


"Dia putriku. Ada masalah?" Tanya Alex dengan dingin membuat Litha tidak percaya.


__ADS_2