Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Kesurupan Massal


__ADS_3

Mendengar perkataan absurd Reiva membuat Xiander dan Justin melongo. Gadis yang terlihat culun ini rupanya memiliki selera aneh.


Xiander ingat bagaimana hebohnya gadis itu saat menemukan sebuah lubang sedalam satu meter yang lebarnya seukuran kepala orang dewasa. Dengan semangat Reiva mengobok-obok lubang itu yang ternyata sarang seekor landak.


"Dia itu Reihan versi perempuan. Ingat, jangan mencari masalah dengannya atau Reihan membawakan segulung kafan kerumah sakit." Bisik Dirga pelan .


Xiander hanya bisa menganggukkan kepalanya patah-patah. Bagaimana nasib laki-laki yang menjadi pacar gadis itu nanti? Dia hanya berdoa Reiva tidak tertarik padanya.


"Jika kau berharap menjadi kekasih adikku, aku dengan senang hati menyewa kamar mayat khusus untukmu." Reihan berbisik lirih membuat Xiander dan Justin meneguk ludahnya kasar.


"Bukan karena aku dan kakakku menghajarmu, tapi dulu dia pernah membuat mantan kekasihnya masuk rumah sakit karena ketahuan selingkuh."


Sontak tiga laki-laki itu merinding mendengar penuturan Reihan.


Reihan merasa dua laki-laki ini memiliki aura yang baik, tidak ada aura buruk yang berasal dari kedua orang ini jadi dia menerima keputusan Reiva menjadi kelompoknya.


Namun pemuda itu merasa sebuah firasat buruk, bandul antingnya bergoyang hebat hingga putus, Reihan mengambil bandul anting yang jatuh dan menatapnya dengan pandangan menerawang.


"Sepertinya ada sesuatu yang berbahaya."


♦♦♦


Miana tengah rebahan sambil menonton sebuah siaran televisi. Sontak telinga kucingnya berdiri tegak dan bergerak liar, wajahnya berubah serius.


"Sepertinya mereka akan menghadapi roh jahat yang sangat kuat." Guman Miana lalu membuat segel tangan dan menggumamkan sebuah mantra.


"Cermin pelacak! Muncullah!"


Lalu pemuda kucing itu menghentakkan tangannya di dinding. Muncullah sebuah cermin yang memperlihatkan Rei kembar dan sekitarnya.


Matanya membulat kaget saat melihat sebuah bandul anting di telapak tangan Reihan. Bandul itu berasal dari anting yang diberikan olehnya.


"Tidak mungkin. Dia tidak mungkin bangkit lagi, kan? Sial, manusia itu membuat masalah disana." Gerutu Miana kesal dan meninju tembok yang berada di dekatnya.


"Kekuatanku yang sekarang belum pulih seluruhnya. Aku tidak bisa membayangkan mereka dalam masalah yang dibuat oleh manusia serakah."


Miana bolak-balik seperti setrika sambil memasang pose berfikir.


"Aku harus memberitahu Andra sekarang."


'Poft'


Miana segera meninggalkan ruangannya dan segera menghampiri Andra yang tengah bersantai dikamarnya. Kemunculan Miana yang mendadak membuat pemuda itu nyaris terjungkal.

__ADS_1


"Bisakah kau tidak muncul mendadak?" Umpat Andra kesal.


"Aku butuh bantuanmu." Miana menceritakan apa yang dilihatnya.


Sontak Andra buru-buru bersiap lalu menyambar kunci mobilnya, namun dicegat oleh Miana dengan tatapan memohon.


"Kau bisa pergi kesana dengan teleportasi."


"Aku khawatir kedua adikku kenapa-kenapa. Untuk jaga-jaga saja jikalau mereka terluka, namun jika kita teleportasi akan membuat kecurigaan dengan kemunculan kita yang tiba-tiba." Jelas Andra masuk akal.


Miana terdiam dan berfikir bahwa apa yang Andra ucapkan ada benarnya juga. Dia juga tidak mau kedua remaja kembar itu mendapatkan masalah nantinya.


"Aku ikut denganmu, ya~" Pinta Miana dengan tatapan memohon yang sukses membuat Andra tak berdaya.


"Baiklah. Mungkin mereka memerlukan bantuanmu." Andra lalu mengambil topi baseball berwarna hitam dan menyerahkan pada Miana yang disambut dengan raut kebingungan di wajah pemuda kucing itu.


Seakan paham dengan tatapan Miana, Andra berkata, "Pakai itu untuk menyembunyikan telingamu."


Miana segera memakai topi itu dan mereka berdua segera keluar dari apartemen. Mereka menuju tempat parkir yang terletak dibelakang gedung dan menuju ke sebuah mobil Avanza hitam yang terparkir disana lalu masuk kedalamnya.


Setelah menghidupkan mobil dan memasang sabuk pengaman, Andra segera mengemudikannya dengan kecepatan tinggi menuju jalan raya.


♦♦♦


"Reiva, bandul antingku putus." Ucap Reihan sambil memperlihatkan bandul antingnya.


"Bandul antingku bergerak sangat cepat, Kak. Telingaku sakit." Bisik Reiva lirih sambil menunjukkan telinganya yang mulai memerah dan bandul antingnya bergerak dengan sangat cepat.


Mereka melanjutkan makan malam dengan cemas. Setelah selesai mereka Dirga menunjukkan smartphone nya.


"Kalian pernah dengar mitos ini? Katanya di sekitar sini ada makam kuno. Aku dengar makam itu memiliki cerita yang berbeda."


Sontak mereka bertiga berkerumun mendekati Dirga membuat Xiander dan Justin penasaran.


"Boleh kami ikut?" Tanya Justin ragu-ragu.


"Tentu saja." Jawab Dirga disertai dengan anggukan tiga orang lainnya.


"Kalian pernah dengar cerita tentang makam kuno?"


"Menurut cerita yang beredar, itu merupakan makam seorang wanita yang meninggal dan arwahnya menjadi penunggu sebuah bukit." Jawab Justin dengan tatapan bingung dan memutuskan untuk bertanya, "Ada apa?"


"Benar. Tapi tidak benar juga." Xiander menyela tanpa menghiraukan pertanyaan Justin. "Ada makam kuno yang berada di bukit ini. Makam itu dulu adalah makam seorang kakek tua yang sangat hebat dan berjaya pada masanya. Makam itu terletak di sekitar bukit perbatasan..."

__ADS_1


".... Dan makam itu terletak di sekitar bukit ini." Sambung Nayra yang direspon dengan anggukan.


"Mitos yang beredar disini, seperti yang disampaikan oleh para guru tadi dan apa yang disampaikan oleh roh kakakku, bukit ini memiliki aura negatif yang sangat besar, seratus tahun yang lalu ada siluman kucing dan manusia kucing bertarung bersama untuk melawan raja siluman. Raja siluman itu berhasil dikalahkan dan disegel oleh mereka dengan jumlah korban jiwa yang banyak berjatuhan dari manusia kucing.


"Hanya tersisa beberapa orang dari manusia kucing yang bertahan pada masa itu bersama sembilan siluman kucing lainnya." Cerita Xiander panjang lebar.


"Wah... Kau tau banyak sekali." Puji Dirga dengan pandangan berbinar.


"Kakekku yang menceritakan kisah itu padaku."


"Satu lagi, aroma melati bercampur dengan aroma amis darah merupakan pertanda hancurnya segel raja siluman. Dengan melanggar pantangan itu, maka dipastikan raja siluman akan bangun dari tidur panjangnya." Jelas Xiander panjang lebar.


"Aku pertama kalinya melihatmu bicara panjang lebar begini. Aku pikir kau itu pintu kulkas berjalan." Ledek Justin yang langsung mendapatkan deathglare dari Xiander membuat pemuda itu diam seketika.


Tanpa mereka ketahui, beberapa orang menatap mereka dengan pandangan tidak suka.


♦♦♦


"Jadi bagaimana kita bermain dengan mereka?" Tanya Sean sambil menatap kelompok Rei kembar dengan tatapan tidak suka dari jendela gudang villa.


"Hancurkan persahabatan mereka. Aku tidak menyukai orang-orang culun berbeasiswa bersekolah di sekolah elit kita." Jawab Vidya dengan senyum smirk. Lalu menatap seorang siswi yang meringkuk tidak sadarkan diri di hadapan mereka.


Penampilan siswi itu sangat memperihatinkan, luka lebam menghiasi wajah dan tubuhnya basah kuyup. Rambut siswi itu terlihat berceceran akibat dipotong asal oleh Anjani dan Tanaya.


Tiba-tiba terdengar suara melengking menggema dari tempat mereka, terlihat siswi itu bangkit dengan pandangan kosong dan menatap mereka sambil berteriak histeris bernada tinggi.


Suasana mendadak terasa mengcengkam diiringi aroma melati dan amis darah yang berbau semakin pekat. Hingga hal yang tidak diinginkan pun terjadi, siswi mendorong Vidya hingga terjungkal dan melesat keluar menabrak pintu yang terkunci rapat hingga jebol.


Mereka yang berada disana sontak terpaku dengan tubuh gemetar, lalu suara teriakan melengking terdengar bersahut-sahutan diluar villa.


Sean membuka pintu gudang villa itu dan melihat nyaris semua penghuni villa berteriak histeris. Dia menghampiri seorang siswi dan mengguncang tubuhnya bermaksud membuat nya sadar.


Naas pemuda itu terlempar beberapa meter hingga membentur tanah dengan keras. Tiba-tiba terdengar suara kakek-kakek bergema yang berasal entah darimana. "Manusia tidak tau adab! Kalian telah melanggar pantangan yang berlaku disini!"


♦♦♦


Malam terasa mencekam dan aroma melati bercampur amisnya darah tercium semakin pekat yang dapat dicium oleh semua orang.


Suara teriakan terdengar dari area villa dan bersahut-sahutan. Sontak mereka yang berada di sana segera berdiri dan waspada.


"Manusia tidak beradab! Kalian telah melanggar pantangan yang berlaku disini!"


Suara kakek-kakek terdengar menggema membuat mereka yang berada disana terpaku. Beberapa diantara mereka bahkan pucat pasi.

__ADS_1


__ADS_2