Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Bangkitnya Raja Ular dan Sebuah Rahasia


__ADS_3

Angin berhembus cukup kencang menebarkan aroma melati bercampur amisnya darah. Suasana malam ini terasa begitu mencekam ditambah teriakan histeris siswa yang kesurupan saling bersahutan membuat bulu kuduk berdiri.


Dirga yang sedikit penakut memeluk lengan Reihan yang langsung saja ditepis oleh pemuda berkaca mata tebal tersebut. Seketika pemuda berambut cokelat itu memonyongkan bibirnya.


"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, bodoh! Aku masih normal." Geram Reihan sebal sambil menjauh dari Dirga yang merentangkan tangannya seperti minta dipeluk.


"Jangan memelukku." Ujar Nayra dingin seakan tau isi fikiran Dirga. Dia tidak mau mendapatkan kesialan saat melihat pemuda itu hendak memeluknya.


Terpaksa Dirga berdiri sambil memeluk dirinya sendiri untuk mengurangi ketakutannya. Sedangkan Justin menatap sekitarnya dengan cemas.


Reiva, Reihan dan Xiander langsung mewaspadai disekitar mereka. Seketika udara terasa sedikit berat dan lebih mencekam.


Seorang guru laki-laki menghampiri seorang siswi yang tengah berteriak histeris. Guru itu menampar siswi tersebut karena mengira siswi itu pura-pura kesurupan.


Hal yang tak terduga pun terjadi, siswi itu terdiam sejenak diikuti siswa yang kesurupan lainnya dan siswi itu menatap sang guru dengan tatapan tajam dengan pupil mata bewarna merah pekat.


"Kyaaaaaaahhhhh" Siswi itu berteriak histeris di susul oleh siswa-siswi yang kesurupan tadi. Siswi itu menarik tangan sang guru dengan mudah seakan melemparkan sebongkah batu dan melemparkannya kesamping sejauh lima meter.


'Buagh' 'Jleb'


Guru itu tewas seketika dengan kepala tertancap pada sebuah tonggak kayu. Sontak mereka yang masih sadar merinding ketakutan melihat kejadian itu. Bahkan beberapa diantara mereka menangis histeris melihat kejadian mengerikan itu.


Beberapa diantara mereka mual-mual bahkan pingsan seketika membuat para siswa semakin panik.


♦♦♦


'Kraakk' 'DUARR!'


Terdengar suara retakan disusul bunyi ledakan yang cukup kuat di sebuah makam yang terletak di sebuah hutan kecil di puncak bukit. Terlihat asap hitam pekat mengepul dari bekas malam itu.


Asap itu perlahan menghilang dan terlihat sesosok pria tampan dengan rambut bewarna hitam kelam sepanjang pinggang. Mata kuning dengan iris vertikal dibingkai alis tegas dengan sebuah hiasan mahkota dikepalanya.


Tubuhnya dilapisi pakaian khas kerajaan bewarna hitam dengan bordiran ular bewarna emas. Namun bagian bawah tubuhnya menyerupai ular.


"HAHAHA! AKHIRNYA AKU BEBAS! HAHAHA!" Seru sosok itu dengan tawa yang menggelegar. Namun dia memperhatikan disekelilingnya dan memicingkan matanya.


"Rupanya ini jaman modern." Lalu dia memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam. Sontak siluman ular itu terlonjak kkaget kemudian memasang senyum miring.

__ADS_1


"Khukhukhu... Aroma manis ini berasal dari sana. Seorang indigo spesial dan dua pemilik dari seekor siluman kucing." Lalu dia menjilati bibirnya dan menyeringai. "Sepertinya ini menarik."


Sosok itu akhirnya merayap turun menuju tempat dimana para siswa berada. Meninggalkan puncak bukit yang hancur akibat ledakan itu.


"Siapa kau? Kau tidak bisa pergi dari sini begitu saja!" Tiba-tiba Clara muncul tepat di hadapan makhluk itu membuat manusia ular itu menghentikan perjalanannya.


"Heh, dasar roh gentayangan! Aku tidak ada urusan denganmu! Kau tidak berhak tau siapa aku." Serunya sinis.


"Apa peduli ku, manusia jadi-jadian!" Ejek Clara sengit sambil menatap tajam siluman ular itu.


"Beraninya kau menghina raja dari bangsa ular, hah!" Nada siluman itu naik satu oktaf seraya mengibaskan ekornya untuk menyerang Clara karena terpancing emosi.


Clara yang tubuhnya transparan hanya tertawa mengejek karena serangan siluman itu hanya menembus tubuhnya.


Tak kurang akal, siluman ular menyemburkan asap hitam kehijauan yang beracun ke arah Clara.


Clara langsung menghilang begitu saja dari hadapan siluman ular itu tepat asap hitam kehijauan itu berjarak lima sentimeter dari tubuhnya. Siluman ular itu tertawa terbahak-bahak mengira Clara keracunan, namun saat asap beracun nya menghilang, dia tidak menemukan Clara dimanapun membuatnya meraung marah karena merasa harga dirinya direndahkan oleh sesosok roh gentayangan.


"DASAR SETAN SIALAN!!"


♦♦♦


"Bisa diam, nggak? Aku sudah ngebut nih." Balas Andra tidak terima, tidak lupa sambil menunjuk jarum spedoometer yang menunjuk angka 80km/jam sambil mendelik Miana dengan tajam lalu kembali menatap jalanan. Beruntung jalanan sedikit lenggang sehingga Andra bisa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Jika kita teleportasi, mungkin kita sudah sampai dari tadi." Gerutu Miana sebal yang berhasil membuat Andra jengkel. Entah sudah berapa kali sejak beberapa menit lalu Miana mengucapkan kata-kata itu.


"Diam atau aku menurunkanmu disini." Ancam Andra yang berhasil membuat Miana menutup mulutnya. Entah mengapa Miana terlihat seperti perempuan yang ngambek pada pacarnya karena keinginannya tidak di penuhi.


"Ku harap kalian baik-baik saja." Batin mereka bersamaan sambil menatap jalan yang lenggang dengan tatapan cemas.


♦♦♦


Sementara di area perkemahan.


Perlahan keadaan mulai kondusif, siswa yang kesurupan massal perlahan kehilangan kesadaran dan tergeletak begitu saja.


"Anak-anak, tolong evakuasi teman kalian!" Titah Jonathan dengan tenang. Segera mereka menggotong siswa itu menuju villa dan membaringkan di kamar mereka.

__ADS_1


"Kalian kelas sampah seharusnya tidak ikut masuk kedalam villa!" Seru Tanya sambil melenggang pergi ke dalam dengan angkuh membuat sang ketua kelas G menggeram marah.


"Teman-teman, kita ke tenda!" Teriak sang ketua kelas sambil berjalan kearah tenda disusul oleh siswa lainnya.


Jonathan dan Eiji segera menyusul siswa asuhannya setelah selesai mengevakuasi murid yang pingsan.


Sang ketua kelas, Devano Agastya menggerutu kesal dengan sikap Tanaya yang sangat angkuh. Devano menendang sebuah kerikil dengan asal untuk mengurangi emosinya. Hingga tanpa sadar mereka telah tiba di tenda dan berkumpul disana.


Kelas G terdiri dari 30 siswa, sepuluh perempuan dan sisanya laki-laki. Mereka merupakan sekumpulan siswa hasil 'penyaringan' sekolah yang mementingkan kedudukan, kepopuleran, serta kekuasaan orang tua siswa.


Mereka adalah siswa-siswi yang cerdas penerima beasiswa yang dipertahankan oleh kepala sekolah.


"Sepertinya hari ini menjadi hari yang panjang." Keluh Dirga sambil menghela nafas. Suasana di tenda mereka tidak terlalu mencekam, karena terletak diluar area perkemahan.


"Dan seperti yang ku duga, pasti ada yang melanggar peraturan di daerah ini." Tiba-tiba Eiji dan Jonathan memasuki tenda tempat berkumpulnya kelas G dan ikut bergabung disana.


"Apa Bapak tau siapa pelakunya?" Tanya Nitani penasaran yang hanya direspon dengan gelengan.


Mereka terlihat sibuk menyelami fikiran masing-masing sebelum akhirnya Xiander angkat suara, "Sepertinya mereka yang tidak ikut tadi merupakan pelakunya. Bahkan salah seorang siswi yang kesurupan tadi penampilannya terlihat acak-acakan seperti habis dibully." Lalu menatap dia guru muda di hadapannya dengan tajam dan menuntut. "Kenapa kalian tidak menegur mereka?"


"Kalian tau kenapa kami malas menegur mereka?" Jonathan bertanya balik sambil menatap siswa didiknya yang menatap mereka berdua dengan tatapan menuntut.


"Yaahhh... Mau bagaimana lagi. Sebenarnya ini informasi rahasia yang tidak boleh diketahui oleh para siswa." Keluh Eiji sambil bersedekap malas membuat mereka menatapnya penasaran.


"Kau saja yang cerita, aku malas." Eiji melemparkan tanggung jawabnya pada Jonathan, membuat pria itu menghela nafas dengan kelakuan Eiji.


"Apa boleh buat." Lalu menatap siswa didiknya dengan serius. "Aku harap kalian bisa menjaga rahasia ini dengan baik." Para siswa saling tatap satu sama lain dan mengangguk serius, "Kami bisa menjaga rahasia ini." Sahut Devano tegas diiringi anggukan dari siswa lainnya. Jonathan kembali melanjutkan ceritanya,


"Mereka pantas menerimanya. Karena mereka merupakan dalang dari kematian rekan kami." Ucap Jonathan dingin.


"Kami kehilangan beberapa rekan dan keluarga kami karena mereka siswa kesayangan wakil kepala sekolah dan pendukungnya. Bahkan beberapa siswa yang menjabat sebagai OSIS menghilang dan ditemukan tak bernyawa beberapa hari kemudian karena telah menyinggung siswa kesayangan mereka." Eiji menimpali sambil menunduk sedih.


"Kami juga ingin mengumpulkan bukti-bukti untuk menggulingkan wakil kepala sekolah dan guru-guru yang tidak bertanggung jawab sebagai pendidik. Sudah cukup selama ini siswa penerima beasiswa dan siswa yang berprestasi dikeluarkan paksa dan menjual bangku sekolah dengan harga tinggi serta meminta sogokan dari wali murid." Jelas Jonathan panjang lebar.


"Apalagi salah satu dari angkatan kalian merupakan anak dari menteri pendidikan. Aku tidak ingin mendapat masalah sebelum masalah ini tuntas."


Sebuah seringai terbit diwajah siswa kelas XG membuat Jonathan dan Eiji menyesal menceritakannya.

__ADS_1


"Kami tau apa yang harus kami lakukan."


__ADS_2