
Reihan memandang lantai dengan tatapan kosong. Fikirannya melayang saat mengingat kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.
Dia tidak menyangka manusia kucing yang menjadi sahabatnya merupakan siluman kucing emas berekor sembilan, siluman kucing berekor yang terkuat diantara siluman kucing lainnya.
Pemuda berambut hitam kebiruan dengan mata merah itu menahan emosi yang berkecamuk di hatinya. Senang karena Miana baik-baik saja dan masih mau berteman dengannya dan sedih karena pemuda kucing itu masih tidak muncul sejak seminggu lalu.
Sedangkan Reiva hanya menatap kosong langit-langit ruang tamu, kepalanya bersandar di bahu kembaran laki-laki nya sambil memikirkan kemana perginya pemuda kucing itu. Selama seminggu dirinya merasa kesepian karena tidak ada teman bertengkar.
"Sepertinya kalian merasa kesepian." Celetuk Andra sambil membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan.
Langsung saja Reiva menyambar minuman dan meneguknya hingga tandas. "Tidak ada Miana hidupku terasa sepi." Ujar Reiva lesu sambil ngemil cemilan kesayangannya.
"Kalian selalu heboh dimanapun dan kapanpun. Doakan saja agar dia lekas pulih." Ujar Andra menenangkan.
Sedangkan di tempat lain.
Terlihat seorang pemuda berambut pirang dengan telinga kucing duduk bersila dengan mata terpejam, menyembunyikan mata birunya yang menenangkan.
Sesekali telinga kucingnya bergerak lucu. Perlahan Miana membuak matanya menampilkan mata birunya yang indah.
"Sepertinya mereka merindukanku. Hihihi... Saatnya membuat mereka kaget." Gumannya sambil tersenyum licik.
♦♦♦
"Selamat pagi semua." Sapa Jonathan menatap anak didiknya dengan tatapan ramah.
"Pagi, Pak!" Seru siswa kelas G dengan ramah. Penampilan mereka semua sama, berkacamata setebal pantat badak, rambut klimis untuk laki-laki dan untuk perempuan rambut mereka di kepang dua atau diikat ekor kuda.
"Seperti yang kalian tau, mulai semester ini saya dan Eiji akan menjadi wali kelas kalian. Mohon kerjasamanya."
"Dan untuk pemilihan ketua kelas kita perlu melakukan pemungutan suara." Seru Eiji sambil mengambil sebuah kertas berukuran kecil dan membaginya kebelakang.
Setelah selesai pemilihan pengurus kelas, Eiji memberi instruksi kepada siswa didiknya. Pria berambut ungu dengan mata hitam itu berkata dengan lirih, "Ku harap kalian tidak membocorkan apa yang kami ceritakan waktu itu... Tidak apa kami kehilangan pekerjaan demi sebuah kebenaran, tapi kami mencemaskan nyawa kalian."
"Anda tenang saja, Pak. Lagipula kami telah memikirkan rencana untuk mereka." Ujar salah satu siswa di kelas itu dan dibalas dengan anggukan yang lainnya.
Kelas G terdiri dari beberapa siswa kelas campuran. Setengah dari mereka merupakan siswa kelas G dan sisanya merupakan kelas campuran yang memiliki nilai tinggi.
Semenjak kejadian beberapa waktu lalu, mereka mulai saling mengakrabkan diri dan mereka ternyata merupakan orang-orang memiliki kemampuan khusus.
Dua pria dewasa itu hanya bisa menghela nafas mereka dengan pasrah. Sedikit penyesalan terselip dihatinya saat menceritakan masalah yang terjadi di sekolah elit itu.
"Baiklah, kami percaya pada kalian." Lirih mereka berdua yang hanya dibalas dengan seringaian. Entah apa yang direncanakan oleh siswa kelas G.
♦♦♦
Sang mentari telah selesai dengan tugasnya dan beranjak menuju peraduannya. Di sebuah unit apartemen unit 448,terlihat seorang gadis berjalan santai menuju kulkas untuk mencari minuman. Begitu membuka kulkasnya sontak matanya terbelalak kaget. Pasalnya semua cemilan dan minuman kalengnya menghilang begitu saja.
Langsung saja teriakan gadis itu menggelegar di unit 448,menyebabkan dua laki-laki yang berada disana menghampiri nya dengan tergesa-gesa.
"KAKAAAAKKK!!! STOK MAKANAN KITA MENGHILAANNGGG!!!"
Sementara di lain tempat.
__ADS_1
Terlihat seorang pemuda berambut pirang dengan telinga kucing tersenyum bahagia. Di hadapannya terdapat beberapa minuman kaleng dan cemilan hasil rampasan nya.
"Energiku terkuras habis karena pertarungan seminggu lalu. Saatnya mengisi energi. Selamat makan." Ucapnya sambil tertawa senang.
"Setelah ini aku akan menemui mereka. Kira-kira bagaimana reaksi mereka ya?" Guman Miana di sela-sela makannya sambil memasang pose berfikir.
♦♦♦
Reiva, Dirga dan Reihan pulang bersama menuju Apartemen Hunter. Namun langkah mereka berhenti saat melihat Xiander berdiri didepan gedung apartemen dengan beberapa barang disekitarnya.
Di hadapan Xiander terlihat sepasang pria dan wanita paruh baya menatap Xiander dengan pandangan menghina serta seorang gadis berkisaran 15 tahun menatapnya dengan pandangan mengejek.
"Jangan pernah berfikir untuk pulang kerumah, anak sialan!" Bentak pria paruh baya tersebut.
Bentakan pria paruh baya itu didengar oleh mereka bertiga membuat Dirga tidak tega.
"Xiander?! Kau tinggal disini juga?!" Seru Dirga tiba-tiba membuat pasangan paruh baya beserta gadis remaja itu menoleh kearah nya dengan tatapan menghina.
Xiander mendengar seseorang meneriakinya segera menoleh dan melihat dua remaja kembar dan Dirga berlari kecil menghampiri nya.
"Ya, aku akan tinggal disini." Jawabnya datar.
"Aku tidak menyangka orang aneh sepertimu memiliki teman." Ucap gadis itu dengan nada mengejek.
Sontak mereka menoleh kearah gadis itu dengan tatapan bingung. Orang aneh katanya? Senyum iblis terbit diwajah Reiva.
"Oh, ya? Bagaimana denganmu? Omong-omong di belakangmu ada seorang wanita dengan wajah hancur. Sepertinya dia ingin mencakarmu." Ucap Reiva tanpa beban membuat gadis itu berteriak ketakutan.
"Kau tinggal di unit mana?" Tanya Reihan yang ternyata telah mengangkut beberapa barang milik Xiander bersama Dirga.
"Wah~ Kita bertetangga. Nanti aku mampir ke unitmu, ya?" Ujar Reiva sambil mengangkut 2 dus milik Xiander.
"Biar aku saja." Ucap Xiander datar, namun mereka bertiga mengabaikannya dan melangkah memasuki gedung apartemen mereka. Mengabaikan keberadaan pasangan paruh baya dan gadis remaja yang memandang kesal kearah mereka karena merasa diabaikan.
Mau tidak mau Xiander menyusulnya dengan membawa sebuah box miliknya. Hatinya menghangat karena mereka bertiga mau berteman dengannya.
"Ayo cepat!"
♦♦♦
Seekor kucing anggota oranye tengah bertapa diatas tutup selokan bermotif unik. Matanya terbuka memperlihatkan mata biru indahnya saat melihat empat orang memasuki halaman apartemen.
"Sepertinya ada pendatang baru." Guman kucing itu sambil menatap mereka dengan intens.
"Wah, ada kucing." Pekik Reiva sambil meletakkan barang bawaannya. Tanpa basa basi Reiva mencubit tengkuk kucing itu dan meletakkannya diatas box lalu mengangkutnya kembali membuat kucing itu menatapnya tajam.
"Jangan asal memungut kucing, Rei!" Seru Reihan sebal saat mengingat kemiripan kucing itu dengan wujud kucing oranye Miana.
"Tapi dia lucu, Kak." Lalu menyusul ketiganya yang telah berada dilift sambil mengembungkan pipinya kesal.
"Aku berharap dia tidak masuk kulkas dan mencuri cemilanmu."
"Sudahlah kalian berdua." Dirga mencoba melerai dua remaja kembar tersebut.
__ADS_1
Xiander hanya tersenyum melihat interaksi mereka. Namun tiba-tiba muncul Clara yang tubuhnya kini telah transparan.
"Terimakasih telah menjadi teman adikku. Aku merasa lega sekarang." Ucapnya tersenyum tulus membuat mereka bertiga tersenyum tulus.
"Kakak akan pergi?"
"Iya. Waktuku telah habis." Jawab Clara dengan senyum tulus. "Aku titip adikku pada kalian."
"Tentu, serahkan pada kami." Ucap Dirga dengan senyum tulus.
Perlahan tubuh Clara memudar dan menghilang menjadi serpihan cahaya. Tepat saat itu pintu lift telah terbuka, mereka berempat segera menuju unit 444 sambil berbincang-bincang.
Kucing oranye itu mengeong dan segera turun lalu masuk menuju unit 448. Mereka mengabaikan kucing itu dan masuk menuju unit 444 dan meletakkan barang Xiander.
"Terimakasih telah membantu." Ucap Xiander dengan tulus.
"Jangan sungkan. Kau boleh berkunjung ke unit apartemen kami. Kami ada di unit 448." Ucap Reihan.
"Dan aku berada di unit 566. Kita bisa bermain game bersama atau berburu hantu." Ucap Dirga sambil merangkul Xiander.
"Baiklah."
"Kami pergi dulu. Sampai jumpa nanti." Mereka bertiga segera meninggalkan Xiander yang sedang membereskan barang-barangnya tanpa menyadari seorang pemuda dengan telinga kucing menatap gerak geriknya.
♦♦♦
Nayra menyusuri lorong rumah sakit bersama Evan. Tiba-tiba seorang pemuda berparas tampan dengan rambut hitam dan mata cokelat menghampiri nya dan menatap Evan dengan pandangan tak suka.
"Kau Nayra, kan?"
"Kau siapa?" Tanya Nayra dingin.
"Aku Sean. Aku ingin melihat keadaan sahabat mu." Ucap Sean pura-pura sedih. Namun sayangnya Nayra mengetahui isi pikiran pemuda itu.
"Evan, kau duluan saja." Ucapnya pada sang adik.
"Baiklah Kak, tapi kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku." Lalu Evan berlalu begitu saja.
"Ikut aku." Ucap Nayra sambil melangkahkan kakinya disusul oleh Sean.
Siapa yang tidak mengenal Sean Wiranata? Dia adalah putra dari pasangan dewan kota yang suka berganti wanita seperti mengganti pakaian. Tidak peduli jika wanita itu telah bersuami atau tidak.
Dan sayangnya Nayra mengetahui tujuan pemuda itu, dan mengajaknya kesuatu tempat.
Sepanjang perjalanan Sean memandang Nayra dengan penuh nafsu tanpa mengetahui lorong yang mereka lalui jarang dilewati orang.
Hingga mereka tiba di depan sebuah ruangan yang sepi. "Kita sudah sampai. Reiva ada didalam." Jawabnya dengan nada dingin yang berhasil menyadarkan lamunan Sean.
"A-ah, baiklah." Ucapnya gugup dan nyelonong masuk begitu saja tanpa memperhatikan ruangan yang dimasukinya.
Nayra segera berlalu begitu saja, meninggalkan Sean diruangan itu sendirian.
Sean yang berada disana melihat beberapa tubuh yang ditutup kain kafan. Menyadari kejanggalan tempat itu segera saja pemuda itu berlari keluar dan melihat kamar ruangan itu yang ternyata RUANG MAYAT.
__ADS_1
"Sial! Dia mengerjaiku!" Geramnya kesal merutuki kebodohannya.