Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Pantangan yang Dilanggar


__ADS_3

Di beberapa kamar villa yang terletak di sebuah bukit, terdengar suara erangan aneh bersahut-sahutan menggema di lorong villa itu. Terlihat beberapa pasangan tengah berhubungan intim, namun masalahnya mereka bukan pasangan suami istri. Beberapa diantaranya adalah pasangan selingkuh, mirisnya lagi dua diantaranya merupakan guru-murid, terlihat dari pakaian yang berceceran di lantai.


Mereka telah melanggar pantangan yang berlaku di bukit itu, mereka tidak menyadari sebuah bencana yang meneror mereka seumur hidupnya. Sebuah nyawa melayang malam ini dan menjadi mimpi buruk yang sulit dilupakan.


♦♦♦


Rei kembar, Nayra dan Dirga terlonjak kaget mendengar pekikan sosok itu. Nyaris saja Reiva terjungkal saking kagetnya.


"Bisakah kau tidak mengagetkan kami." Kesal Dirga sambil menatap tajam sosok itu.


"Kau bisa melihatku?" Tanya sosok itu dengan mata berbinar. Dia segera melayang mendekati Dirga yang masih menatapnya tajam.


"Tentu saja. Memangnya kenapa?"


"Dia itu arwah penasaran. Dia belum bisa kembali jika urusannya belum selesai." Nayra angkat suara membuat Dirga pucat seketika.


Reihan dan Reiva menatap sosok itu. Merasa ada yang memperhatikan sosok itu menoleh ke arah Rei kembar dan tatapan mereka bersibobrok, membuat Rei kembar mengetahui masa lalu sosok itu.


Dia adalah Clara Andani, kakak kandung Xiander yang meninggal karena melindungi Xiander dari amukan sang ayah berkat hasutan ibu tiri dan saudari tirinya.


Dia masih ingin bersama Xiander sampai pemuda itu menemukan sahabat yang mau menerima dirinya apa adanya.


"Kau kakaknya Xiander ya?" Tanya Reiva memastikan. Sosok itu hanya mengangguk.


"Kalian harus waspada. Sebuah pantangan baru saja dilanggar. Aku melihat beberapa orang opok-opokan di kamar villa, diantara mereka ada seorang siswa yang opok-opokan bersama seorang guru." Tutur Clara panjang lebar dengan wajah merah.


"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Dirga mulai panik.


"Kalian harus kembali ke tenda dan bersikaplah seperti biasanya agar tidak ada yang curiga." Jelas Clara.


"Terimakasih kak atas peringatannya. Lain kali jangan asal gentayangan dan melihat adegan mesum." Gerutu Xiander yang hanya dibalas dengan merotasikan matanya.


"Justin! Kita kembali!" Seru Xiander saat melihat pemuda itu telah selesai membersihkan ayam hutan buruan mereka. Xiander segera mengambil ikan yang telah dibersihkan dan berlalu begitu saja.


Clara tersenyum saat melihat punggung sang adik menjauh bersama teman-temannya, namun matanya kaget saat melihat kakinya mulai transparan.

__ADS_1


"Sepertinya aku bisa pergi sebentar lagi. Xiander, semoga mereka menjadi sahabatmu." Ucap Clara tersenyum tulus. Clara segera menghilang entah kemana.


♦♦♦


Di lain tempat, beberapa saat sebelumnya.


Rean yang berwujud manusia menyusuri sebuah bukit yang berdekatan dengan tempat berkemah. Dia merasakan sebuah aura gelap merembes keluar dari suatu tempat.


Samar-samar pemuda yang memiliki pendengaran tajam itu mendengar suara aneh yang bersahut-sahutan yang membuatnya mual.


"Dasar tidak tau malu." Makinya sambil menyusuri bukit itu.


Namun pemuda itu melihat Nayra di kejauhan. Gadis itu tengah mengintip seekor ayam hutan bersama Reihan dan Justin.


Dengan segera pemuda itu memanjat sebuah pohon besar nan rimbun yang berada tak jauh dari tempatnya dan bersembunyi disana. Dia memperhatikan Nayra dari kejauhan dengan seulas senyum terpatri di wajahnya.


Namun senyumnya luntur saat melihat Reiva dengan bar-barnya mengejar seekor landak yang berlari menuju kearah Nayra berdiri. Landak itu menembakkan duri tajamnya kearah Reiva. Namun gadis itu dengan gesit menghindari duri dan mengambil sebuah batu berukuran cukup besar yang terletak disamping kakinya. Dia ingin menolong Nayra yang panik tapi dia tidak ingin disebut penguntit.


Dia memperhatikan kelompok itu dikejauhan sambil bergidik ngeri melihat kebrutalan Reiva memburu seekor landak. Dia meringis membayangkan dirinya adalah seekor kucing imut yang berada dipelukan gadis ganas itu.


Namun saat pemuda itu menoleh ke sisi barat bukit, terlihat aura hitam pekat keluar dari celah tanah. Sepertinya itu sebuah makam kuno.


"Sepertinya bahaya tidak bisa dihindari. Ku harap kalian baik-baik saja." Guman Rean lalu segera menghilang dari sana.


♦♦♦


Hari sudah malam dan mereka telah selesai memasak hasil buruan mereka. Kini tiap-tiap kelompok berbaris rapi memamerkan hasil masakan kepada guru yang menjadi juri makanan.


Beberapa menatap makanan buatan kelompok Rei bersaudara dengan tatapan remeh, mereka mengira rasa makanan itu sangat tidak layak.


"Sekarang saatnya penilaian hasil masakan. Yang dinilai adalah kerjasama, rasa dan kealamian makanan. Jadi silahkan letakan hasil masakan kalian."


Seluruh siswa berjalan mendekati meja yang disediakan oleh para guru dan meletakannya disana. Saat tiba giliran kelompok Rei kembar, Vidya dan kelompoknya datang dengan seringai meremehkan.


"Sepertinya makanan kalian baunya amis. Siapa juga yang mau makan makanan primitif seperti itu." Ucap Vidya dengan nada mengejek sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


Hampir semua orang tertawa mendengar perkataan Vidya.


"Kau tau apa tentang alam? Yang kau tau cuma merendahkan orang saja." Balas Reiva acuh yang sukses membuat Vidya menggeram marah.


Reiva dan kelompoknya mengabaikan mereka dan meletakkan makanan buatan mereka lalu kembali berbaris. Saat semua siswa telah selesai para guru segera mencicipi makanan yang tersaji diatas meja.


Para guru hanya berekspresi biasa saja, karena makanan yang disajikan itu sudah biasa mereka makan. Namun begitu melihat makanan kelompok Rei bersaudara, dahi mereka berkerut.


"Sate landak, sop ayam hutan, tumis keong dan sayur pakis, ikan sungai panggang?" Beo salah satu guru dengan pandangan jijik.


"Heh, rasanya bisa membuat mual." Celetuk salah satu siswa dengan nada yang meremehkan, namun diabaikan oleh kelompok Rei kembar.


"Karena mereka adalah hewan yang hidup dialam. Jadi habitat dan makanan mereka alami, hanya buah-buahan dan serangga." Sahut Reihan tenang.


"Apa namanya tidak enak? Harusnya tadi aku mencari sarang babi hutan dan membuat sate babi hutan itung-itung kita akan berolahraga." Reiva berujar dengan tenang sambil memakan sate landak dengan dramatis. Sontak tatapan tajam dari kelima temannya mengarah kearahnya.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku salah bicara, ya? Xiander, sate buatanmu sangat enak." Ucap Reiva sambil memasang wajah polos yang sukses mendapatkan jitakan sayang dari Dirga.


"Tentu saja, bodoh! Kau nyaris membuat kami serangan jantung dengan tingkahmu itu!" Umpat Dirga kesal.


"Kau nyaris saja menjadikan ku sasaran lempar jika saja lemparan mu tidak akurat." Ucap Nayra dengan nada dingin. Reiva hanya bisa tertawa kikuk.


Mendengar sate itu memiliki rasa yang enak, Jonathan dan Eiji mengambil sebuah piring dan mengambil masakan kelompok Rei kembar lalu mencicipinya dengan ragu.


"Tidak ada rasa amis, dan ini benar-benar enak." Puji Eiji sambil mengunyah sate landak.


"Ini pertama kalinya aku memakan makanan dari hewan liar. Rasanya sangat khas." Ucap Jonathan sambil menyeruput kuah sop ayam hutan dengan mata berbinar.


Mendengar perkataan dua guru itu membuat beberapa guru mengernyitkan dahi. Apakah seenak itu?


Dirundung rasa penasaran membuat mereka mencicipi makanan buatan kelompok Rei kembar dengan raut jijik. Begitu menyapa indra pengecap mereka, seketika mata mereka membulat dan memakan makanan buatan kelompok Rei kembar dengan lahap.


"Halah, makanan primitif apa bagusnya." Ejek Tanaya dengan raut tidak terima. Dia geram dengan Reiva entah apa masalahnya pada gadis yang terlihat culun itu.


Terlihat beberapa kelompok menatap Rei kembar dan kelompoknya dengan tatapan tidak terima. Sesuatu yang berdarah akan terjadi malam ini.

__ADS_1


__ADS_2