Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Kamar 289


__ADS_3

Sepasang remaja kembar tak identik menghentikan acara makan mereka saat bandul anting mereka bergoyang pelan, membuat Dirga dan Nayra menatapnya heran.


"Ada apa Rei?" Tanya Nayra yang dibalas dengan tatapan ingin tau dari Dirga.


Sepasang remaja kembar itu teringat dengan ucapan Miana saat menyerahkan anting itu. "Jika kalian ingin memanggilku, sentuh bandul anting kalian. Jika bandul nya bergoyang pelan pertanda ada orang yang ingin berbuat jahat padamu, jika bandul nya bergoyang cukup kencang, ada roh jahat yang mengincarmu."


"Sepertinya ada yang ingin mencari masalah dengan kita." Jawab Reihan. "Tapi siapa?" Batin mereka lalu melanjutkan acara makannya yang tertunda.


.......... . ............ ...........


Dirga dan Rei bersaudara melihat 3 orang ibu-ibu paruh baya berkumpul di lorong apartemen saat mereka hendak memasuki Apartemen Hunter. Tanpa sengaja mereka mendengar pembicaraan ibu-ibu itu, "Semalam ada yang aneh di lorong lantai 3, terutama unit 289." Kata seorang ibu-ibu berdaster merah muda yang mencolok.


"Aneh kenapa?" Tanya ibu-ibu lainnya dengan penasaran.


"Semalam aku tak sengaja lewat sana. Aku mendengar suara perempuan menangis. Saat aku mencari asal suara tangisan itu, suara itu terdengar jelas di kamar 289. Ketika aku mengetuk pintu kamar itu, suaranya menghilang." Ibu itu mulai bercerita.


"Kamar itu sudah kosong beberapa hari yang lalu. Entah kenapa pemilik kamar itu pindah begitu saja." Jelas pria paruh baya yang ikut nimbrung.


"Pak penjaga tau?" Tanya mereka kaget dengan kedatangan penjaga apartemen itu.


"Iya, saat itu aku melihatnya pergi tergesa-gesa. Tidak seperti biasanya." Jelas penjaga paruh baya itu.


Dirga dan Rei bersaudara segera melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan sekumpulan ibu-ibu yang masih bergosip.


"Sepertinya ada hal yang menarik nanti malam." Ucap Reiva dengan semangat. "Kalian mau ikut?" Tanyanya sambil menoleh dua laki-laki yang berada di sampingnya.


"Aku ikut. Kalau kau sendiri?" Tanya Reihan kepada Dirga.


"Tidak. Ibuku akan mengamuk jika aku tidak dirumah." Jawab Dirga dengan tidak enak. Sebenarnya Dirga ingin ikut, namun mengingat tempramen ibunya membuatnya menciut.


"Ya sudah. Kalau begitu kami akan menyelidikinya nanti." Jawab Reiva dengan antusias.


........ ......... .........


Dan disinilah sepasang remaja kembar tak identik berdiri di depan kamar 289 sambil mengamati sekitar. Suasana petang yang sedikit mencekam yang menambah suana sedikit horor.


"Kau merasakan sesuatu?" Tanya Reihan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


"Tidak. Apa kita perlu memanggil Miana? Kucing itu bisa merasakan aura negatif." Usul Reiva.

__ADS_1


"Baiklah." Reihan segera menyentuh bandul antingnya.


'Poft'


Miana muncul hanya menggunakan boxer bewarna pink dengan kepala penuh dengan busa dan mata yang terpejam. Melihat pemandangan didepannya sontak Reihan buru-buru menutup mata Reiva.


"Dududu. . . Hmmm?" Tangan Miana meraba-raba sekitarnya, merasa tidak menemukan apa yang dia cari, pemuda kucing itu membuka matanya dan menyadari


dirinya tidak berada di kamar mandi. Miana menoleh dan mendapati Reihan yang menutup mata Reiva, pemuda kucing itu menatap mereka dengan tajam.


"Hei!! Bisakah aku mandi dengan benar?! Kenapa kalian memanggilku disaat yang tidak tepat?! " Maki Miana kesal karena acara mandinya di ganggu.


"Seleramu bagus juga." ucap Reihan sambil menahan tawa.


Reiva menyingkirkan tangan saudara kembarnya, dan sontak memasang wajah mengejek saat melihat Miana menggunakan boxer pink. Ya BOXER PINK!! "Kami tidak tau jika kau sedang mandi. Sekarang kau bisa kembali dan lanjutkan mandimu. Pffftt....." ucap Reiva sambil menahan tawa.


Miana segera menghilang saat mendengar suara langkah kaki sedang mendekat. Reihan dan Reiva segera memutuskan menyelidiki nya nanti karena saat ini mereka kelaparan. Mereka segera pergi sambil tertawa terbahak-bahak.


.............. .............. ..........


Malam semakin larut dan mencengkam tidak menyurutkan kedua remaja kembar untuk menyelidiki kamar 289. Mereka memperhatikan suasana disekitar kamar


"Auranya terlalu kuat." Ucap Reiva, "Bagaimana menurutmu, kak?" Tanya gadis itu lagi.


'Poft'


Miana muncul dengan mulut yang sibuk mengunyah makanan, tangan kanannya berisi sebuah burger dan tangan kirinya berisi sekotak susu berukuran 200ml yang didapat entah dari mana.


"Kalian memanggilku di waktu yang tidak tepat." Gerutu Miana sambil menjejalkan burger nya dengan kasar dan menenggak habis susu kotaknya.


"Kau saja yang malas." Balas Reiva sengit.


"Sudahlah kalian berdua," Reihan segera menengahi Reiva dan Miana yang hendak berdebat. "Maaf mengganggu mu, tapi bisakah kau memeriksa kamar ini?" Tanya Reihan sambil menunjuk sebuah unit apartemen di belakangnya.


Miana segera mengendus dan tersentak kaget dengan aura yang berada di sekitar mereka. "Kita segera pergi dari sini. Terlalu berbahaya." Miana segera memegang tangan Reihan dan Reiva dan menghilang dari sana.


Tepat setelah mereka menghilang, suasana berubah mencekam. Lampu di koridor berkedip-kedip menambah kesan horor di lantai 3 tepat di depan unit 289


Terlihat sesosok wanita bergaun merah berdiri di balik pintu unit 289 dengan tubuh yang dipenuhi luka dan darah. Terdengar suara tangis yang memilukan berasal dari unit apartemen itu.

__ADS_1


Sosok itu berdiri menatap kosong pintu yang berada di hadapannya, suara tangis yang membuat bulu kuduk merinding terdengar menggema di penjuru lorong itu.


Sosok itu akhirnya menghilang dan lampu lorong pun kembali normal menyinari lorong lantai tiga dengan cahaya listrik dan sinar bulan yang menyinari apartemen yang penuh misteri ini.


......... ............ ...........


"Kenapa kau membawa kami pergi?" Tanya Reiva penasaran.


Saat ini mereka berada di kamar Reiva. Miana segera duduk di ranjang dengan sebelah kaki yang dilipat.


"Auranya berbahaya dan sangat pekat. Kita tidak bisa melawannya pada hari ini." Jelas Miana. Pemuda kucing itu melanjutkan, "Dia korban pembunuhan beberapa hari yang lalu. Entah kenapa arwahnya masih bergentayangan disini. Aku jadi takut. Hiiiii...." Miana bergidik ketakutan sambil memeluk dirinya.


"Dasar kucing penakut." Ejek Reiva yang hanya dibalas denga pelototan oleh Miana.


"Aku bukan kucing penakut. Hanya saja aura kemarahannya sangat pekat." Miana mencari alasan untuk mengelak.


"Bilang saja kau takut."


"Aku tidak takut."


"Kucing penakut."


"Aku bukan kucing penakut." Sengit Miana kesal lalu pemuda kucing itu segera pergi dari sana.


"Heh, dia kabur," cibir Reiva lalu gadis itu menoleh kearah saudara kembarnya dengan tatapan memelas.


Reihan merasa firasat buruk saat melihat tatapan Reiva, "Kenapa kau memandangku seperti itu?" Tanya Reihan pura-pura tidak tau.


"Kak, temani aku tidur malam ini, ya?" Pinta Reiva dengan tampang anak kucing yang teraniaya membuat Reihan tidak dapat mengelak.


"Baiklah." Jawabnya pasrah. Dengan segera Reiva melompat ke tempat tidur dan Reihan memadamkan lampu kamar Reiva lalu merebahkan diri disamping saudara kembarnya.


............. ............. ...........


Andra memasuki apartemen nya, suasana sunyi menyambut kedatangannya.Ruang tamu masih terang membuatnya mengernyit heran.


"Kemana 2 iblis itu?" Tanya nya entah pada siapa. Andra segera mengecek kamar Reihan, namun kamar itu gelap dan penghuninya tidak ada disana.


Andra menutup kamar Reihan dan segera mengecek kamar adik perempuan satu-satunya. "Awas saja kalau mereka tidak ada," geram pemuda itu.

__ADS_1


Saat membuka pintu kamar Reiva, terlihat kedua adik kembarnya tidur saling berpelukan, membuat Andra menghela nafas lega.


Andra segera memasuki kamar Reiva dan tidak lupa mengunci pintunya. Dengan langkah pelan pemuda itu mendekati kedua adiknya yang sudah tidur pulas dan ikut merebahkan diri di sebelah Reiva dan perlahan terlelap.


__ADS_2