Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Turun Kelas


__ADS_3

Beberapa hari berlalu begitu cepat, saat ini mereka telah kembali bersekolah setelah libur semester.


Dirga dkk memasuki halaman sekolah dengan langkah santai, terlihat para siswa ramai berlalu lalang di koridor sekolah. Mereka melihat sebuah kerumunan di depan papan pengumuman membuat 4 sahabat ini penasaran dan mendekati kerumunan itu.


Namun saat mereka tiba di kerumunan itu, beberapa siswa memandang Dirga dkk dengan tatapan mengejek membuat mereka bingung.


"Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" Tanya Dirga dengan heran. "Mungkin aku terlihat tampan, ya?" Sambungnya lagi dengan percaya diri yang berhasil mendapatkan toyoran dari Reihan.


"Tampan jika dilihat dari belakang." Sahut Reiva cuek. Mereka bergegas menuju papan pengumuman untuk melihat hasil ulangan mereka.


"Maksudmu aku tidak tampan, begitu?" Seru Dirga lesu, "Aku tidak bilang begitu. " Sanggah Reiva. Pemuda itu menoleh kearah Nayra seolah meminta persetujuan dan berkata, "Nay, menurutmu aku ini tampan, kan?"


Nayra menatap pemuda itu sejenak dengan pandangan menilai dan berkata, "Menurutku kau terlihat biasa saja," yang berhasil membuat pemuda itu mendadak lemas.


"Maksudmu aku tidak tampan?" Tanya Dirga tertunduk lesu.


"Aku tidak bilang begitu." Ucap Nayra merasa bersalah.


Mereka tiba di papan pengumuman untuk melihat daftar nilai mereka. Namun mereka berempat mengernyit heran saat melihat tingkat kelas mereka.


"Kelas G? Kenapa bisa jauh sekali..." Guman Reihan sambil berfikir.


"Padahal aku sudah belajar sangat keras." Dirga mengeluh sambil tertunduk lesu.


Nayra hanya diam mendengar keluhan Dirga dan memperhatikan perbandingan nilai rata-rata kelas, dan pandangan gadis itu menangkap sebuah kejanggalan.


"Ada yang aneh." Guman Nayra sambil menganalisis nilai antar tingkatan tersebut, namun suara Reiva mengalihkan perhatiannya.


"Ada apa, Nay? Ayo kita mencari kelas kita." Reiva segera menyeret Nayra dan bergegas menuju kelas mereka.


Saat mereka berjalan menuju kelas, bisik-bisik terdengar di sepanjang lorong. Mereka mengabaikan bisikan itu dan terus melangkahkan kakinya menuju ruang kelas mereka.


"Ku dengar mereka dulu siswa kelas B, apakah mereka mengalami penurunan kelas karena tidak memberi wali kelas mereka atau kepala sekolah hadiah?" Bisik siswa A.

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal ku kira mereka siswa kaya, ternyata siswa miskin." Bisik siswa B meremehkan.


Ya, sekolah swasta ini rata-rata dipenuhi oleh siswa kaya. Hanya beberapa siswa yang bisa masuk dengan jalur beasiswa dan prestasi seperti Dirga.


Dirga tertunduk mendengar bisikan para siswa itu. Entah mengapa pemuda itu merasa insecure mengingat keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan.


Reihan yang melihat Dirga murung segera menghiburnya, "Jangan hiraukan mereka. Anggap saja mereka itu sekumpulan anjing yang menggonggong."


"Tapi mereka benar, penghasilan orang tua ku tidak sama seperti kalian." Ucap Dirga lirih.


"Untuk apa kau membandingkan penghasilan keluargamu dengan mereka? Setidaknya orang tuamu bekerja dengan giat dan jujur daripada sebagai koruptor. Dan mereka selalu ada untukmu. " Ucap Reva santai.


"Tapi–" Ucapan Dirga terhenti saat Nayra angkat suara, "Mereka benar. Setidaknya kau harus bersyukur memiliki orang tua yang masih sanggup membiayai kebutuhan sekolah dan kebutuhan sehari-hari dengan kerja keras mereka sendiri. Jangan hiraukan omongan mereka. " Ujar Nayra sambil tersenyum ke arah Dirga.


Mendengar ucapan 3 temannya membuat Dirga terharu. Pemuda itu bersyukur memiliki teman yang begitu peduli dengannya tanpa memandang status sosial.


♦♦♦


Kediaman Nayra


"Bagaimana hasil pembagian kelasmu, Nak?" Tanya Alex sambil menatap kedua anaknya yang tengah bersantai di ruang tamu sekaligus ruang keluarga.


"Aku mendapat kelas B, yah. Aku tidak bisa mendapat kelas A sesuai harapan ayah." Jawab Evan menunduk.


"Kelas kami mengalami penurunan peringkat, yah. Tapi ada yang aneh." Jawab Nayra menunduk sambil mengelus Rean yang berada di pangkuannya.


"Aneh bagaimana?" Tanya Alex penasaran. Pria itu dengan sabar menunggu jawaban putrinya.


"Nilai kelas kami lebih tinggi daripada kelas lainnya, namun peringkat kelasnya justru menurun dan kami sekelas dengan siswa penerima beasiswa yang menempati kelas terakhir." Jawab Nayra tanpa menghentikan elusan pada sang kucing.


"Tidak apa, nak. Ayah tidak menuntutmu untuk mendapatkan kelas terbaik, yang penting kalian sudah berusaha." Jawab Alex dengan bijak membuat Evan mengernyit bingung.


"Ayah tadi salah makan, ya? Tumben mau berbicara pada kami dan hari ini ayah tumben berkata bijak." Ucapan Evan yang sukses membuat Alex tertawa canggung.

__ADS_1


"Sepertinya begitu." Nayra menimpali ucapan Evan yang sukses membuat Alex menghembuskan nafas.


'Sudah ku duga hasilnya seperti ini... Sayang maafkan aku~ Aku telah mengabaikan mereka selama ini, hiks....' Tangis batin Alex saat mendengar perkataan kedua anaknya.


Sejak kematian istri tercintanya, Alex hanya sibuk dengan pekerjaan dan jarang memperhatikan kedua anaknya yang membutuhkan kasih sayang darinya.


Hingga perkataan Kelvin beberapa waktu lalu membuatnya kembali tersadar, bahwa pria itu masih memiliki anak yang sangat membutuhkan dirinya.


♦♦♦


Kediaman Dirga


Rangga Sanjaya, ayah dari Dirga tengah memandang nilai milik putra semata wayangnya sambil mengerutkan dahinya dalam-dalam.


"Kenapa nilaimu bagus namun peringkat kelasmu anjlok? Dari kelas B ke kelas G, yang benar saja." Sungut ayah Dirga sambil menahan emosi.


"Sudah sayang, jangan marahi Dirga. Setidaknya dia telah berusaha keras untuk mempertahankan beasiswa nya." Ucap Diantari, ibu dari Dirga yang saat ini berusaha menenangkan emosi suaminya.


"Maafkan aku, Yah jika nilaku membuatmu marah," ucap Dirga menunduk sedih, "Aku sudah berusaha belajar dengan keras, tetapi dari yang ku dengar dari siswa tadi, kita harus memberikan wali kelas atau kepala sekolah sebuah hadiah yang bisa membuatnya berkesan agar nilai kami selalu terbaik dan mendapatkan kelas terbaik. Tapi wali kelas kami tidak mau menerima apapun dari kami ataupun orang tua murid. Aku tidak tahu jika tidak memberi kepala sekolah hadiah bisa menyebabkan kami berada di kelas terakhir." Jelas Dirga panjang lebar.


Mendengar perkataan Dirga sepasang suami istri itu terdiam, memang penghasilan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah anaknya. Namun memberikan para guru atau kepala sekolah hadiah dalam bentuk apapun demi kehendak mereka bukanlah gayanya. Itu sama saja dengan menyogok agar anaknya tetap bodoh namun berada di kelas terbaik.


"Aku tidak tau jika menyekolahkan kau di sekolah itu harus mengeluarkan uang banyak untuk membuatmu tetap bertahan. Maafkan kami yang terlalu menuntutmu." Sesal Rangga membuat Dirga sontak menatap wajah sang ayah.


"Aku tidak apa, yah. Setidaknya kalian telah bekerja keras untukku. Aku tidak ingin membebani kalian dengan meminta sejumlah uang untuk memberi hadiah yang di berikan kepada kepala sekolah." Sahut Dirga sambil menenangkan ayahnya.


♦♦♦♦


Malam semakin larut membuat suasana di apartemen Hunter terasa mencekam. Seorang pria paruh baya tengah berkeliling sambil membawa sebuah senter membantu memberikan pencahayaan di lorong apartemen yang remang-remang.


"Kenapa suasana malam ini terasa menyeramkan, ya?" Tanyanya entah pada siapa lalu melanjutkan perjalanannya.


Tepat setelah pria tadi pergi, sebuah ruangan mendadak mengeluarkan aura dingin nan mencekam. Samar-samar terlihat bayangan seorang anak kecil dengan usia sekitar 5 tahunan.

__ADS_1


Jika di perhatikan dengan seksama, terlihat luka lebam disekujur tubuhnya dan darah yang mengalir deras di kepalanya.


Suara tangisan anak-anak yang meyayat hati terdengar bergema di lorong itu, membuat siapapun bergidik ngeri jika mendengarnya.


__ADS_2