Apartemen Hunter: The Begin!

Apartemen Hunter: The Begin!
Xiander dan Reihan


__ADS_3

"Apa kau sudah gila?! Bagaimana bisa kau menyuruh saudara kembar itu berpisah?!" Justin akhirnya angkat suara. Pemuda itu tak habis fikir dengan ucapan gila yang dilontarkan oleh Xiander.


"Asal kau tau, saudara kembar itu tidak dapat dipisahkan." Lanjutnya lagi membuat Xiander menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Sebaiknya kau diam. Aku tak butuh pendapatmu." Ucap Xiander dengan penuh penekanan membuat Justin menghela nafas berat.


"Terserah. Aku sudah memperingatkan mu." Lalu Justin segera pergi meninggalkan Xiander menuju kelasnya.


Mendengar ucapan Justin membuat Xiander merenung dan kembali meninju tembok yang tak bersalah di hadapannya.


"Sialan!"


♦♦♦


Reiva pulang bersama Dirga, karena Reihan dan Nayra mengikuti ekstrakurikuler di sekolahnya.


Keheningan tercipta diantara mereka membuat Dirga tidak nyaman dan memutuskan untuk bertanya, "Kau kenapa?"


"Kenapa apanya?" Tanya Reiva dengan kebingungan sambil menatap pemuda bersurai cokelat disebelahnya.


"Raut wajahmu terlihat begitu tertekan. Bagaimana kalau kita beli es krim lalu duduk disana." Ujar Dirga seraya menunjuk sebuah penjual es krim yang berdekatan dengan taman.


Seketika raut wajah berbinar terbit diwajah Reiva, dengan semangat gadis itu berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, "Tolong bayarkan, ya."


"Apa boleh buat." Guman Dirga pelan sambil menyusul Reiva yang telah berjalan jauh di depannya menghampiri seorang penjual es krim keliling.


Mereka berdua duduk di sebuah bangku taman menikmati semilir angin sore sambil memakan es krim. Keheningan tercipta di antara mereka karena sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Reiva yang sibuk mengamati sekitar dan Dirga sibuk dengan ponsel nya. Bisik-bisik terdengar di sekitar mereka dan tatapan yang aneh yang mengarah pada Dirga dan Reiva.


"Kasihan ya, gadis yang menjadi pacarnya."


"Kalau aku jadi dia, aku sudah meninggalkannya."


"Gadis itu terlihat cupu. Pantas pacarnya melirik gadis lain."

__ADS_1


Mendengar bisik-bisik tersebut membuat mereka saling menoleh. Manik merah dan ungu saling menelisik satu sama lain. Mereka sama-sama saling memperhatikan dengan pandangan menilai.


"Aku dengan gadis jadi-jadian ini? Ogah! Walaupun dia terlihat cantik, aku seperti berkencan dengan Reihan versi perempuan." Batin Dirga sambil membayangkan dirinya duduk manis bersama Reihan dengan suasana romantis membuatnya bergidik ngeri. Hei, dia masih normal dan masih menyukai lawan jenis.


"Aku dengan laki-laki mirip perempuan ini? Heh, semut pun akan tertawa terpingkal-pingkal jika itu sampai terjadi." Batin Reiva sambil mencemooh. "Ku akui dia cukup tampan. Aku dengan senang hati akan menumbalkannya jika bertemu dengan hantu nanti, nyahahaha." Batinnya sambil tertawa setan.


"Apa kita terlihat sedang berkencan?" Tanya Reiva yang berhasil membuat Dirga mengalihkan pandangannya.


"Abaikan saja. Kalaupun aku berkencan denganmu, mungkin aku sedang sial." Sahut Dirga asal yang membuat Reiva berkedut.


Reiva yang kesal mendengar jawaban Dirga langsung menyambar kerah baju pemuda itu dan memasukkan es krim batangan yang masih tersisa setengah ke punggung Dirga, membuat pemuda tampan itu menjerit histeris dan refleks membuang es krimnya. Sensasi dingin yang mendadak menyerang punggungnya menyebabkan Dirga tersentak kaget dan mengigil geli.


"Hei!! Apa yang kau lakukan!!" Teriak Dirga kesal sambil mencoba mengeluarkan es krim di punggungnya. Gadis itu berlalu tanpa menghiraukan teriakan pemuda itu.


Teriakan Dirga sontak membuat beberapa pengunjung menoleh kearahnya dan menatapnya dengan aneh. Namun pemuda itu tidak menghiraukannya.


"Oh, tidak. Punggung dan seragam lengket." Gerutu Dirga sambil menyusul Reiva yang telah berjalan cukup jauh di depannya.


♦♦♦


Xiander tengah memikirkan perkataan yang di ucapkan oleh Justin. Perkataan pemuda itu ada benarnya juga, tidak ada saudara yang dapat dipisahkan apalagi mereka adalah saudara kembar. Insting dan perasaan mereka terikat kuat walaupun mereka berjauhan.


Xiander Oliver atau Xiander Oliver Diratmaja merupakan seorang pemuda yang berasal dari keluarga Diratmaja yang cukup terpandang di kota G, namun kehidupannya terbilang sangat buruk. Pemuda tampan dengan rambut hitam legam ini di anak tirikan oleh keluarganya karena sesuatu hal.


Ya, Xiander adalah anak indigo. Tidak ada yang mengetahui tentang kemampuannya, kecuali keluarga Diratmaja dan mereka menganggap kemampuan Xiander adalah sebuah kutukan.


Xiander diam-diam mengamati sepasang remaja kembar dan sahabatnya sejak pertama kali menginjakkan kakinya di sekolah swasta ini. Pemuda tampan itu sangat ingin dekat dengan mereka, namun karena egonya tinggi dan sering di tindas semasa kecilnya membuatnya mewaspadai dan mencurigai siapapun.


Xiander melihat Reiva dan Dirga saling bertatapan sebelum akhirnya gadis itu memasukkan es krim batangan ke punggung Dirga dan berjalan menjauhi pemuda berambut cokelat tersebut.


Diam-diam pemuda itu mengikuti Dirga dan Reiva dengan jarak aman agar tidak diketahui oleh mereka. Biarlah orang lain mengatakannya penguntit. Intinya Xiander ingin mengetahui kehidupan Reiva dan orang terdekatnya. Pemuda itu melihat Reiva dan Dirga memasuki apartemen Hunter, membuatnya mengernyitkan alisnya.


"Jadi, mereka tinggal disini?" Gumannya sambil menatap bangunan berlantai 15 yang berdiri kokoh dihadapannya.


"Kau sedang apa?" Terdengar suara pemuda menyapa pendengarannya. Xiander berbalik dan melihat Reihan berdiri di belakangnya dengan sebelah ransel tersampir di bahunya.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku hanya lewat sini. " Jawab Xiander datar sambil menatap pemuda itu.


"Oh." Hanya itu yang terlontar dari mulut Reihan membuat Xiander mengangkat alisnya sebelah.


"Ku pikir kau membuntuti adik kembarku." Sahutnya tepat sasaran membuat Xiander menegang. Namun dengan cepat Xiander menguasai dirinya.


Pemuda itu menatap bangunan apartemen yang berdiri kokoh di hadapannya dengan pandangan menilai membuat Reihan mengangkat sebelah alisnya. Reihan masih kesal dengan Xiander yang seenak jidatnya menyuruh Reihan menjauhi kembaran sekaligus adiknya sendiri.


Xiander pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun membuat Reihan mengendikkan bahunya acuh dan segera memasuki apartemennya. Sebentar lagi sang surya menuju ke peraduannya dan Andra akan mengomel seperti ibu-ibu apabila dia terlambat pulang.


♦♦♦


Terlihat seorang pria terbujur kaku dengan tubuh bersimba darah. Disekeliling pria itu terlihat kerumunan orang tanpa ada niat menolong ataupun memanggil bantuan.


Seorang wanita berpakaian seksi menghampiri pria yang telah terbujur kaku sambil menangis penuh penyesalan dan memeluknya. Di belakang wanita itu terlihat seorang pria berpakaian mahal menyunggingkan senyum mengejek.


"Walaupun kau menangis sampai mati, dia tidak akan hidup kembali. Nikmatilah penyesalanmu." Sarkas pria itu yang berhasil membuat wanita itu menangis meraung-raung.


'Cklek'


"Aku pulang."


Reihan memasuki unit 448 dan melihat sang kakak yang asik menonton sinetron favoritnya, kepalanya bersandar di pangkuan Reiva yang tengah asik menonton sebuah anime di handphonenya dan telinganya disumpal dengan earphone.


Reiva sendiri bersandar di bahu Miana yang tengah asik memakan cemilan sambil membaca sebuah novel, telinga kucingnya bergerak lucu mengabaikan tangisan histeris berasal dari televisi yang berada di hadapannya.


"Selamat datang. " Balas Andra tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi.


"Hn." Jawabnya cuek sambil melangkah menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.


"Endingnya sudah jelas." Komentar Miana tanpa mengalihkan pandangannya dari novel ditangannya.


Andra hanya bisa tertawa canggung mendengar komentar dari Miana. Untuk selera film dirinya memang payah.


Reihan melongokkan kepala dari kamarnya dan berkata, "Kau tidak tau saja. Kak Andra memang payah untuk urusan perfilman." Lalu menutup pintu kamarnya kembali.

__ADS_1


Mendengar komentar dari dua makhluk yang berada disekitarnya membuat Andra tertawa kaku dan mendelik Miana yang kini tertawa mengejek.


"Diamlah, kucing oren." Gerutu Andra kesal.


__ADS_2