
"Kalian sudah mengecek semua perlengkapan yang diperlukan?" Tanya Andra saat melihat kedua adiknya menenteng sebuah tas.
"Sudah/Hn." Jawab mereka bersamaan lalu saling mendelik satu sama lain.
"Reihan, jaga Reiva. Jangan biarkan orang asing mendekati nya." Titah Andra sambil melayangkan tatapan tajam yang membuat Reihan menghela nafas pasrah. Andra merasa firasat buruk menghampiri nya.
"Siapa juga yang mau mendekati gadis galak sepertinya? Kalaupun ada aku hanya bisa berdoa dalam hati agar orang itu selamat menuju akhirat nanti." Perkataan Reihan sukses membuat Reiva berkedut kesal.
"Aku tidak galak, kak!" Seru Reiva kesal yang berhasil membuat kedua laki-laki itu terkekeh.
"Sudah-sudah. Sebaiknya kalian segera berangkat. Nanti kalian bisa terlambat." Lerai Andra saat melihat kedua adik kembarnya mulai adu mulut.
"Baik kak. Kami berangkat." Pamit Reiva sambil melambaikan tangannya dan segera berjalan ke arah Dirga yang menunggu tidak jauh darinya.
Mereka berempat lebih suka berjalan kaki bahkan berlari menuju sekolahnya yang berjarak tiga puluh menit dari apartemen mereka.
"Siapa yang tiba paling belakang, dia yang mentraktir." Ucap Reiva sambil berlari, membuat dua pemuda yang berjalan disampingnya saling pandang dan berlari menyusul Reiva yang telah berlari jauh di depannya.
"Tunggu Reiva!! Kau curang!!" Teriak Dirga sambil berlari.
"Ahaha! Ayo kejar!" Teriak Reiva dari kejauhan sambil menjulurkan lidahnya. Seperti itulah pagi mereka yang diwarnai dengan canda tawa membuat orang-orang yang melihatnya geleng-geleng kepala. Hingga gerbang sekolah terlihat beberapa meter membuat Reiva memelankan larinya.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Reihan dan Dirga membuat Reiva berdecak kesal. Mereka berhenti beberapa meter di depan Reiva.
"Yes, kali ini kami yang menang!" Seru Dirga dengan bahagia membuat Reiva mengerucutkan bibirnya sebal. Reiva segera menyusul mereka dan berjalan bersama menuju sekolah.
"Baik, aku akan mentraktir kalian nanti." Ucap Reiva namun pandangannya menatap ke arah lain.
"Ada apa?" Tanya Reihan begitu menyadari tatapan kembarannya. Pemuda itu ikut menatap ke arah pandangan Reiva. Terlihat dua orang pemuda dan seorang wanita pucat pasi memasuki gerbang sekolah.
"Kau melihat wanita itu?" Tanya Reiva penasaran.
"Sepertinya dia sesosok roh. Entahlah." Jawab Reihan. "Tapi aku tidak merasakan bahaya apapun." Lanjutnya lagi.
"Tolong jangan membicarakan hantu pagi-pagi begini. Aku benci hantu." Rengek Dirga sambil memeluk dirinya sendiri dan memasang ekspresi ketakutan.
"Kak, kenapa orang penakut suka penasaran dengan hantu. Tetapi begitu ketemu dengan hantu malah berlari terbirit-birit ketakutan. 'Kyaaa.... Tolong aku~ Aku takut sekali...'" Ucap Reiva dengan nada mengejek yang berhasil membuat Dirga menggeram kesal.
__ADS_1
"Aku bukan penakut, hanya kaget saja." Elak Dirga sambil membuang muka.
"Aku tidak bilang kau penakut. Aku hanya bilang orang penakut. Apa jangan-jangan kau termasuk orang penakut?" Goda Reiva yang berhasil membuat Dirga diam tidak bisa berkata-kata.
"Sudah, Rei. Lihat wajahnya memerah." Reihan berusaha melerai kembarannya sebelum berhasil membuat Dirga tergeletak pingsan karena malu.
Begitu mereka tiba di gerbang sekolah, mereka melihat Nayra menunggu sambil sesekali melirik jam tangannya. Begitu gadis itu melihat mereka,Nayra segera berjalan menghampiri Reiva dkk.Mereka segera menuju papan pengumuman untuk melihat pengundian nomor bus yang akan mereka naiki. Beruntung mereka satu bus sehingga mereka tidak bosan di perjalanan nanti.
⚛️⚛️⚛️
Beberapa bus membawa siswa SMA Swasta kota G menuju sebuah perbukitan yang terletak di perbatasan kota G dan kota F dengan waktu tempuh tiga jam dari sekolah mereka.
Perjalanan di isi dengan canda tawa serta obrolan seru dari siswa sehingga mereka tidak kebosanan dalam bus.
Suasana mendadak sunyi saat bus mulai menaiki sebuah tanjakan, terlihat para siswa terperangah takjub saat melihat pemandangan kota G dari sana.
"Pemandangannya indah sekali." Ucap siswa A dengan takjub.
"Hu'um. Aku belum pernah melihat pemandangan seperti ini." Sambung siswa B sambil menatap pemandangan yang tersaji dihadapannya dengan pandangan berbinar.
"Ini pertama kalinya aku pergi ke area ini." Tiba-tiba Nayra berkata sambil meliruk kearah jendela.
"Kau benar. Aku juga pertama kali pergi ke daerah sini. Biasanya aku dan dua kakakku hanya sibuk mengusir hantu." Jawab Reiva sambil ikut melihat pemandangan disekitarnya.
"Apa kau tidak merasa jenuh?" Tanya Nayra sambil menatap Reiva yang hanya dibalas dengan senyuman.
"Jenuh, iya. Tapi begitulah. Kadang kami ingin normal seperti yang lainnya, dimana kami bebas menikmati waktu tanpa kemunculan mereka yang tiba-tiba." Bukan Reiva yang menjawab, tetapi Reihan. Dia sendiri duduk di depan dua gadis itu bersama Dirga.
Tanpa mereka sadari, tiga orang gadis memandang mereka dengan benci. Tangannya mengepal erat menahan emosinya yang memuncak.
Ya, dia adalah Vidya dan dua temannya, Tanaya dan Anjani. Mereka iri dengan Reiva dan Nayra karena bisa dekat dengan Dirga dan Reihan.
Ketiga gadis itu di kenal sebagai ratu bully sejak duduk dibangku SMP kelas tiga. Tidak terhitung berapa gadis yang menjadi korbannya, tidak peduli jika gadis itu merupakan saudara atau istri dari laki-laki incarannya.
Sudah tidak terhitung berapa rumah tangga orang hancur karena mereka. Mereka hanya mengejar pria tampan dengan dompet tebal, tidak peduli mereka telah memiliki istri .
Mereka bertiga memikirkan rencana untuk mempermalukan dua gadis yang tengah berbincang-bincang sambil tertawa di perkemahan nanti.
__ADS_1
♦♦♦
Rean tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju daerah perbukitan tempat Nayra dan teman-temannya mengadakan kemah. Dia khawatir akan sesuatu hal yang terjadi besok malam.
Tempat yang akan Nayra dan teman-temannya tuju adalah sebuah perbukitan yang terkenal dengan keangkerannya.
Lokasi itu berdekatan dengan sebuah makam kuno. Berdasarkan cerita yang beredar, makam itu merupakan makam seorang wanita yang meninggal karena di bully oleh sekelompok siswa karena iri dengan kecantikannya.
Satu mitos yang beredar disini adalah, tidak diperbolehkan berteriak dengan suara melengking, berbicara kasar dan berbuat senonoh.
Rean merasa sesuatu akan terjadi, firasatnya buruk sejak kemarin malam.
♦♦♦
Miana menghentikan permainan bola rajutnya saat sebuah aura hitam tiba-tiba melintas dihadapannya. Telinga kucingnya mendadak tegak sambil sesekali bergerak-gerak lucu.
"Firasat ku tidak enak. Aku harap dua iblis itu baik-baik saja." Guman Miana sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Tapi sepertinya salah satu diantara mereka akan mengalami bahaya, aku harus siap-siap jika terjadi sesuatu dengan mereka." Lanjutnya lagi sambil kembali memainkan bola rajut nya.
♦♦♦
Bus yang membawa siswa itu akhirnya sampai di lokasi saat jam menunjukkan pukul satu siang. Mereka semua segera turun dan berbaris berdasarkan kelas di dampingi oleh wali kelas masing-masing.
"Karena kita akan mengadakan kemah sehari dua malam, kita bermalam disini." Ucap salah satu panitia sambil menunjuk ke sebuah villa yang berdiri disana. Villa berukuran luas dan mewah terlihat begitu terawat dengan banyak kamar berjejer disana.
"Bukankah kita akan berkemah?" Celetuk salah satu siswa yang hanya dibalas dengan tawa mengejek.
"Ini khusus untuk kami, anak orang kaya. Orang miskin sepertimu sebaiknya dirikan tenda sana!" Celetuk Vidya sinis.
"Sudah-sudah! Kalian bebas mau mendirikan tenda atau tinggal di villa, terserah kalian!" Lerai guru itu.
"Sebaiknya kita dirikan tenda, aku merasa ada yang aneh dengan villa itu." Ucap Nayra tiba-tiba sambil berbisik.
"Aku setuju." Balas Reiva sambil berbisik. "Siapa yang ingin membuat tenda, ikut aku!" Ucap Reiva seraya mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda disusul oleh seluruh siswa kelas G, termasuk Xiander dan Justin.
"Aku merasa akan terjadi hal aneh di villa itu." Guman Xiander sambil mendirikan tenda.
__ADS_1