
Keluarga besar sang Ayah menyambutnya di rumah. Namun, sesuatu yang semakin membuat Divine kesal berada disana.
Noah, meski tanpa Cassandra di sisinya cukup membuat Divine tak siap. Kepercayaan dirinya terkikis seiring melihat tubuh tegap itu menatap ke arahnya dengan senyum. Meski Divine tahu, Noah sikapnya cukup baik, tapi Divine diam-diam memupuk kebencian kepada sepupunya.
"Mau langsung ke kamar?" tawar Rafael, ia tahu apa yang membuat Divine semakin muram begitu sampai di rumah.
"Tidak, cukup jauhkan aku dari jangkauan Noah!" titahnya.
Rafael mengangguk.
"Divine, aku senang kau sudah pulih. Kami semua khawatir!" ujar Noah, tampak senyum tersungging di bibirnya semakin membuat Divine muak.
"Terima kasih perhatiannya, aku masih perlu banyak istirahat!"
"Divine, setidaknya tinggal sebentar. Noah sudah menyempatkan waktunya untuk menyambutmu!" Djaja, sang kakek sedikit meninggikan suaranya.
"Ayah, sudah jangan marah! Noah bisa mengobrol dengan kami. Divine benar, dia perlu banyak istirahat." Wijaya mencoba menengahi, ia tak ingin sang anak semakin murung mendengar ucapan kakeknya yang sedari dulu lebih mengistimewakan Noah.
"Kakek, sudah! Tak apa, Divine belum pulih kakinya, biar dia istirahat!" ujar Noah, berusaha meredam Djaja.
Namun, dimata Divine. Sikap Noah yang seperti itu semakin membuatnya muak dan kesal, karena sudah dipastikan Djaja akan semakin memujinya melebihi apapun.
"Sedari kecil, bahkan kakek selalu memuji Noah di hadapanku. Kalau bukan karena mereka masih dalam ikatan 'keluarga', akutak ingin lagi berurusan dengan Noah,batin Divine.
"Baiklah," ucap Djaja dingin.
Rafael mendorong kursi roda Divine sampai kamar tamu. Sementara kakinya belum pulih, Divine akan tinggal di kamar yang terletak di lantai bawah.
"Divine, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Rafael saat hanya ada mereka berdua, jauh dari jangkauan keluarga Divine.
"Soal apa?"
Rafael menghela napas, "soal Elen, apa kamu menyukainya?"
Divine tanpa ragu menggeleng.
"Div, aku tau kamu tertarik dengannya. Berhentilah kekanakan, mulailah menjadi laki-laki sejati dari sekarang! Aku tak akan menghalangimu, justru aku adalah orang pertama yang akan mendukungmu!" tegas Rafael.
__ADS_1
"Aku tidak punya alasan untuk tidak menyukainya. Dia gesit, tangguh dan kokoh. Sama halnya dengan Satria, dia anak yang baik, tapi dibalik wajah polosnya menyimpan banyak luka. Setiap kali melihatnya, aku merasa seperti melihat diriku yang dulu. Hanya, aku lebih beruntung darinya," gumam Divine tanpa sadar.
Rafael terdiam beberapa saat, mencoba menelaah perkataan Divine hingga berfikir apakah lebih baik ia mundur?
Memutuskan mengalah, bukan berarti kalah. Hanya, ia merasa sosok yang dibutuhkan Elen ada pada Divine, bukan dirinya! Ia memang menyayangi Satria, tapi hanya sebatas rasa sayang dan belum sedalam Divine.
Meskipun, tak tahu pasti apakah Elen akan memulai kembali hubungan atau bertahan dengan statusnya saat ini.
Hari-hari berikutnya, Elen semakin disibukkan pekerjaan kantor. Terlebih, posisi Divine digantikan langsung oleh Wijaya. Namun, sangat beruntung karena ia akhirnya memiliki ruang kerjanya sendiri, tak lagi satu ruangan dengan CEO. Meski, sampai sekarang belum mengerti alasan kenapa Divine belum kembali bekerja, semua orang menutup mulutnya rapat-rapat termasuk Rafael.
"Rafael, sebenarnya alasan Divine tak lagi bekerja karena apa?" tanyanya yang sudah tak lagi bisa membendung rasa penasaran. Kemarin-kemarin ia masih bertahan dan kekeh tak ingin tahu. Namun, akhir-akhir ini bayangan wajah Divine yang langsung melajukan mobilnya kencang pasca penolakannya terus mengusik.
"Tidak apa, Elen. Dia hanya ingin menikmati hidupnya," bohong Rafael. Ia tak ingin menghancurkan kepercayaan diri Divine yang terkikis dengan kejujurannya.
"Benarkah, apa itu semua karenaku?" tanyanya lagi.
"Bukan, oh ya. Wijaya Group akan mengirim gajinya setiap tanggal lima. Kamu sudah mengurus ATM untuk menerima gaji kan?" tanya Rafael.
Elen mengangguk.
"Besok, bolehkah aku izin? Aku harus segera menyelesaikan urusanku dengan Bram." Elen menunduk, ia takut tak mendapatkan izin dari Rafael.
"Boleh, aku akan bilang pada Om Wijaya!"
"Terima kasih, kamu sudah banyak membantuku!" Elen tersenyum manis, ini pertama kalinya Rafael melihat senyum itu. Andai Divine diposisinya, sudah dipastikan gunung es itu akan segera mencair.
***
"Elen, kau sungguh berbeda hari ini. Apa sudah berhasil mendapatkan laki-laki kaya?" sapa Bram setelah sidang perceraiannya usai. Semua berjalan lancar tanpa kendala dan hal itu yang membuat Elen lega sebab hak asuh Satria jatuh kepadanya.
"Bukan urusanmu, Mas. Mau aku dapat laki kaya atau miskin yang pasti dia nanti akan jauh lebih baik dari kamu," ujar Elen masih dengan nada rendah.
"Baguslah, baik-baik jaga Satria!" pesan Bram.
Entah kenapa ada yang janggal dari ucapan mantan suaminya itu. Jika biasanya Bram akan kasar dan frontal, hari ini dia bisa bersikap layaknya manusia yang punya hati, pikir Elen.
"Hm." Elen hanya membalas singkat, mengabaikan tatapan Bram yang entah hari ini sangat beda.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan!" sapaan terakhir Bram membuat Elen tertegun sepertian menit bahkan tak lagi melanjutkan langkahnya.
Bagaimanapun, Bram pernah menjadi suaminya meski bukan suami yang baik.
Tak lagi menjawab, apalagi menoleh. Elen terus melangkah ke depan meninggalkan pengadilan yang menjadi saksi putus hubungannya dengan Bram, ayah Satria.
"Bagaimana?" tanya Keyra yang menunggu Elen di luar, sahabatnya itu bahkan rela menunggu sampai sidang selesai dengan duduk tak jelas di warung seberang jalan.
"Done!" jawab Elen, ia langsung mendapat pelukan syukur dari Keyra.
"Seneng banget?" Elen merasa heran, pasalnya ia melihat Keyra sangat antusias menanti perceraiannya.
"Seneng. Tapi bukan berarti aku sahabat yang gak ada perasaan ya? aku seneng sekaligus lega akhirnya kamu bisa bebas, gak lagi menderita dengan si breng sek itu," seru Keyra.
"Makasih ya, Key! Kamu sahabat terbaikku." Elen dan Keyra berpelukan.
"Karena kamu libur, kita jemput Satria yuk? Ajak dia jalan-jalan!" ujar Keyra.
"Ah iya, boleh deh. Ayo!"
Mereka naik taksi untuk sampai di sekolah Satria mengingat jarak pengadilan ke sekolah Satria cukup jauh.
"Tapi nanti kita masih nunggu, kan ini belum jamnya pulang," ujar Keyra sembari melihat jam dipergelangan tangannya.
"Tak masalah."
Dua wanita sebaya itu turun di ujung jalan, perlu jalan kaki sekitar dua ratus meter untuk sampai di sekolah Satria. Hingga keduanya sudah berada di depan gerbang bercat hijau TK dan SD PELITA HARAPAN, Elen tersenyum senang. Nampak Satria dan teman-temannya sedang bermain di depan kelas.
"Elen lihat El, Bukanya dia boss kamu!" tunjuk Keyra pada seseorang yang tengah memperhatikan anak-anak dari jarak jauh, duduk di atas kursi rodanya.
"Siapa?" Elen mengerutkan kening, saat matanya mengkuti pergerakan telunjuk Keyra, Elen mematung seperkian detik.
"Pak Divine!" gumamnya terkejut, ia melihat Divine duduk di atas kursi roda, dan bersama wanita paruh baya di belakannya.
Pikiran Elen berkecamuk, puluhan pertanyaan menyerbu otaknya memaksa berfikir. Apa selama ini Divine tak ada ke kantor karena keadaannya? Apa kakinya bermasalah? Apakah dia baik-baik saja? Apa dia bersikap dingin waktu itu karena kakinya? Tapi bukankah sedari pertama mereka bertemu, Divine memang sudah dingin?
Elen semakin terdiam, saat pandangan laki-laki itu sedikitpun tak lepas dari aktivitas anaknya, Satria.
__ADS_1