AYAH SAMBUNG

AYAH SAMBUNG
Bab 37 - PERNIKAHAN


__ADS_3

Tiga bulan kemudian,


Pagi itu, matahari sedang cerah-cerahnya. Seperti sepasang pria dan wanita yang tengah berdebar menanti saat bertemu di hadapan penghulu karena hari ini adalah hari pernikahan mereka, Divine dan Elen.


Elen, kebaya putih melekat indah di tubuhnya. Ia tak henti-henti merapalkan doa untuk mengusir rasa gugup yang sedari tadi melanda juga degup jantung yang mulai tak terkontrol karena perasaan senang, bahagia sekaligus cemas menjadi satu.


"Elen, kamu cantik. Ayo keluar, yang lain sudah menunggu di ballroom hotel." Keyra dengan setia menemani sahabatnya, dari Elen di make over oleh MUA hingga keluar menemui calon suaminya dan keluarga dimana acara pernikahan mereka akan digelar.


"Aku gugup sekali, Key!" Meski bukan pernikahan pertama, tapi ini pertama kalinya Elen merasa perasaan dan hatinya tak karuan. Menikah lagi dengan harapan bahagia, mungkin seperti itu.


"Ayolah, Elen! Kamu harus percaya diri, ini adalah hari terbaikmu dan Divine. Kalian akan menjadi pasangan paling bahagia," ujar Keyra menyemangati.


"Hm, iya."


"Aku masih tak menyangka, kalau Divine itu adalah Dave. Laki-laki yang kamu taksir dalam diam waktu kita SMA. Kok wajahnya beda ya?" ujar Keyra.


"Aku juga gak tau, tapi dari segi sikap memang sama! Dingin di luar," gumam Elen.


"Ck! Dingin apanya? Aku gak percaya, berani taruhan?" tantang Keyra.


Elen hanya tersenyum simpul.


Divine memang dingin, seperti kulkas kala pertama kali Elen menjadi sekertarisnya. Bahkan laki-laki itu memiliki gengsi yang sangat tinggi, hingga membuat Elen berulang kali menepuk dada agar sabar menghadapi boss seperti Divine.


Tak disangka, laki-laki itu sebentar lagi akan menjadi suaminya. Ayah untuk anaknya, Satria.


"Ayo, kasian yang lain sudah lama nunggu!" ajak Keyra.


Elen mengangguk, tak berselang lama Satria masuk dengan diantar oleh Ratna.


"Biarkan Satria ikut mengantarmu sayang," ujar Ratna.


Elen tersenyum sumrungah menatap Satria yang nampak keren dengan setelan jass anak kecil.


"Momy cantik sekali, Ayah pasti suka!" pujian manis itu terlontar dari bibir putranya, Elen mengusap kepala Satria dengan lembut.


"Pinter banget sekarang ya," ujar Elen.

__ADS_1


"Ayo gandeng Momy-mu bertemu pangeran berkuda putih!" ujar Keyra kepada Satria, membuat Elen semakin merona malu.


"Siap, Mom!"


Dengan langkah perlahan Elen keluar, tangan kiri digandeng Satria sementara di sisi kanan di gandeng oleh Keyra.


Menuju ballroom hotel yang menjadi tempat berlangsungnya pernikahan mereka.


Begitu sampai, pandangan Elen langsung bertemu dengan Divine. Laki-laki itu melempar senyum manis ke arahnya seolah berkata 'siap' akan semuanya.


Setelah dipastikan pengantin duduk bersisihan. Penghulu pun memulai acara ijab qobulnya. Dengan lancar dan satu tarikan nafas, Divine berhasil.


Ucapan sah para saksi menjadi pertanda sahnya pernikahan mereka dimata hukum dan agama.


Lalu disusul tangis haru biru Elen saat memohon restu kepada orang tua. Baik orang tua Elen maupun Divine, tersenyum bahagia dan dengan senang hati merestui pernikahan mereka.


"Kakek minta maaf, bahkan hingga hari pernikahan kalian. Kakek masih begitu egois dan keras kepala," ucap Djaja dengan nada rendah.


Elen dan Divine hanya bisa mengangguk.


"Semoga kalian diberkahi bahagia selamanya," sambung Djaja lagi. Disaat yang sama sebuah helikopter terbang mengintari hotel. Peter, putra semata wayang Alexan pulang khusus untuk hadir di acara pernikahan sang sepupu.


Elen mengerutkan kening tak mengerti, akan tetapi hal itu tak berlangsung lama karena Alexan memberitahu Divine dan Elen siapa Peter sebenarnya.


"Aku datang khusus, Ayah kenapa mengabariku mendadak!" gerutu Peter, tapi dengan tangan memeluk Alexan untuk melepas rindu.


"Elen, dia adikmu. Dan Peter, kau tentu sudah tahu dari Ayah bukan?"


"Paman, apakah aku bermimpi? Kenapa adikku tampan sekali," puji Elen.


"Elen, aku tak suka kamu memuji laki-laki lain," gerutu Divine dengan senyum bercanda.


"Astaga!" Alexan dan Peter sontak terbahak.


"Kakak bersiaplah menghadapi keposesif-an suamimu!" cibir Peter diiringi tawa kecil.


"Bukan masalah, aku masih bisa mengatasinya," jawab Elen dengan senyum.

__ADS_1


"Aku mau ke Satria dulu," pamit Divine, memberikan ruang untuk Elen dan Peter.


"Sepertinya suamimu benar-benar menyayangi Satria," puji Alexan.


"Ya paman, aku merasa sangat beruntung karena hal itu!"


"Peter, mendekatlah ke Mamamu! Ayah akan bicara berdua dengan kakakmu!"


Peter mengangguk, ia menghampiri Mayra yang belum menyadari kehadirannya.


"Ada apa Paman?"


"Tidak apa-apa, hanya... Mantan suamimu akan bebas hari ini, apakah dia tahu kamu menikah dengan Divine?"


"Bebas? Bukankah harusnya tiga tahun?"


"Kakek Divine yang menjamin itu semua. Paman hanya berharap, kebebasan mantan suamimu tak berpengaruh apapun pada pernikahan kalian. Karena yang Paman tahu, mantan suamimu sangat kasar!"


"Paman tenang saja, aku dan Divine sudah menemui Mas Bram sebelumnya!"


Alexan bernapas lega.


"Satria jangan minta gendong terus ya? sini duduk sama Momy!"


"Tapi Mom, aku mau sama Ayah!"


"Sudahlah Elen, lagian aku juga gak keberatan kok. Jangankan gendong Satria, gendong kamu pun aku kuat!" goda Divine.


"Bisa bisanya kamu, Div!" Elen hanya bisa menghela napas menanggapi Divine. Lalu pandangannya teralih pada Keyra dan Rafael yang menghampirinya.


"Selamat ya kalian, ditunggu video unboxingnya!" ucap Rafael yang langsung mendapat cubitan dari Keyra.


"Div, jaga sahabatku baik-baik! Kalau kamu nyakitin dia, aku bakal lakuin hal yang sama," ancam Keyra.


"Hah?" sontak Divine dan Rafael saling tatap.


"Hahahaha..." Elen dan Keyra tertawa kompak.

__ADS_1


Pernikahan Elen dan Divine berjalan lancar meski beberapa keluarga Divine tak turut hadir. William dan istri sedang mengurus kebebasan Noah dan Bram.


Meski begitu, Kebahagiaan mereka terasa sempurna sebab telah mengantongi restu dari orang-orang tersayang.


__ADS_2