
Sepeninggal Elen, Suasana di rumah orang tuanya mendadak hening. Ratna langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Bukan kamarnya dan Roy, melainkan kamar Elen.
"Hiks, Elen maafkan Ibu! Maafkan Ibumu yang jahat ini." Ratna menangis dalam diam.
Menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan, tubuhnya yang kurus tertuduk lemas di lantai. Sejak Elen remaja ia sudah bersikap buruk, bukan tanpa alasan Ratna melakukannya, ia hanya berharap Elen menjadi orang yang kuat di luar sana.
Lebih dari itu, Ratna ingin agar keluarga Shain mencari putrinya. Ratna tahu, sebelum meninggal, Shain Arkan sang kakek sudah memerintahkan seseorang untuk menelisik kehidupan bahkan mengawasi setiap aktivitasnya.
"Yang dibenci keluarga Shain itu Roy, bukan kamu sayang! Kamu harus mendapatkan hakmu sebagai cucu keluarga Shain!" gumamnya.
Ingatannya menerawang jauh ke masa muda. Demi menikah dengan Roy, ia bahkan dilempar keluar dari keluarga besarnya.
Kini Ratna merasakan sendiri, kehidupan seperti apa saat ia menikah dengan Roy. Laki-laki pemabuk dan hobi judi, tapi satu hal yang membuat ia bertahan dengan pria itu, Roy sangat menyayanginya melebihi apapun.
Mengusap wajahnya kasar, ia segera menghampiri Roy yang masih termenung di ruang tamu.
"Ayo tidur," ajak Ratna.
"Hm, ya!"
"Ratna, apa kau mencintaiku?" tanya Roy saat tubuh mereka sudah sama-sama terbaring di kasur.
"Hm, hya!"
"Berarti kau bodoh!"
"Memang, sudah lama aku bodoh! Bahkan tak bisa berlaku baik pada anakku sendiri," ujar Ratna dengan nada pelan.
"Benar-benar kita ini sepasang manusia bodoh!" bisik Roy mengubah posisinya memeluk Ratna.
"Tuan Alexan, akhir-akhir ini adik anda dan suaminya semakin keterlaluan. Apa tak sebaiknya kita menjemput Nona Elen?"
"Ck! Lakukan sesuai yang ku perintahkan, pagi-pagi buta kau jemputlah mereka dari rumah kecil itu dan bawa kemari! Aku sendiri yang akan menikahkan ponakanku dengan kekasihnya. Ratna dan pria sampah itu, bahkan meminta bayaran lima puluh juta hanya untuk menikahkan putrinya, keterlaluan sekali!" maki Alexan di sambungan telepon setelah mendengar penjelasan dari orang kepercayaannya.
Brakkk!
Alexan menggebrak meja karena kesal.
"Ada apa?" Mayra yang mendengar sang suami marah-marah pun menghampiri.
"Bukan masalah besar, hanya aku mau membawa anak Ratna ke rumah ini. Apa kamu keberatan?" tanya Alexan.
"Tidak, bukankah itu kabar bagus!"
"Ya, Ratna dan suaminya sudah menyia-nyiakan ponakan kita!"
"Itu bukan salah Ratna, tapi salah Papamu, Mas! Bukankah dari awal Papa tidak pernah menganggap anak Ratna sebagai garis keturunan keluarga Shain?"
__ADS_1
"Papa hanya... Ah sudahlah, sulit menjelaskannya! Begini saja, kita duduk dulu!" pinta Alexan.
"Hanya apa?"
"Kamu tau Roy kan? Dia penjudi dan pemabuk," ujar Alexan menjelaskan.
"Hm, tapi dia sangat menyayangi Ratna!"
"Apakah kita akan cukup hidup hanya dengan rasa sayang? Berpikirlah realistis Mayra, diluar sana banyak Janda yang cerai karena suaminya pengangguran!"
"Hm," singkat Mayra.
"Papa bersikap seperti itu juga demi Roy dan Ratna, beliau ingin melihat sejauh mana tanggung jawabnya sebagai laki-laki dan juga menantu. Dan hya..."
"Sudahlah, Mas. Intinya, kalian semua salah!" kesal Mayra. Ia berlalu ke kamar meninggalkan Alexan di ruang kerja.
'Ratna, rencana kalian sudah berhasil. Setelah Mas Alexan membawa anak kalian kesini, pergilah sejauh mungkin!' pesan Mayra.
'Tidak, aku harus menikahkan Elen lebih dulu, aku ayahnya! Hanya itu yang ingin aku lakukan sebelum aku menghilang dari pandangan anakku, aku sudah membuat hati dan hidupnya porak-poranda.'
'Hm baiklah.'
Setelah selesai berkabar, ia segera menghapus pesan agar tidak ketahuan oleh Alexan. Mayra tau selama ini adik iparnya selalu berusaha agar anaknya mendapatkan hak di keluarga Shain.
***
"Div, sampai kapan kamu akan disini?"
"Sampai kamu mau membagi sedikit saja beban pundakmu padaku. Elen, aku mau kamu jujur hal apa saja yang sudah kamu alami selama ini, kenapa orang tuamu seperti itu?" tanya Divine.
Menghela napas panjang, ia sudah berusaha menguatkan hati untuk tak menangis sedari tadi di hadapan Divine. Namun, yang terjadi laki-laki itu sama sekali tak mau pulang!
"Tidak ada!"
"Divine membingkai wajah Elen agar wanita itu tak lagi menunduk, "wajahmu berbohong! Aku melihatnya, Elen. Apalagi yang kamu ragukan? Bisakah kita tidak sekaku ini atau paling tidak kamu cerita sedikit saja!"
Telapak tangan Divine mengendur seiring tubuh Elen yang mulai bergetar. Sejurus kemudian, wanita itu menitikkan air mata dengan bibir masih kelu tanpa sepatah kata.
Sakit, mungkin seperti itu yang dirasakan Elen. Divine bisa melihatnya, Divine bisa merasakan sakit yang Elen rasakan. Hanya saja, ia tak tahu apa saja yang telah dialami wanita terkasihnya.
"Aku malu, benar-benar malu sama kamu! Hiks, aku..." kembali menunduk, isaknya semakin keras. Divine hanya bisa merengkuhnya dalam peluk, mengusap surai hitam itu dengan lembut dan membiarkan tangis Elen pecah membasahi bajunya.
"Mulai sekarang, bagi semuanya denganku! Kamu dan Satria, aku mencintai kalian! Aku mencintaimu Elen!"
Deg.
Elen mereda, tangannya terangkat membalas pelukan Divine. Ia menemukan ketenangan hatinya disana, di pelukan seorang Divine.
__ADS_1
Apakah ini yang dinamakan cinta? Tanyanya dalam hati, ia tak pernah merasakan perasaan sehangat ini.
"Hya, aku janji mulai sekarang akan membaginya sama kamu!"
"Tentu, dan harus!"
"Div," panggil Elen.
"Ya, Sayang?"
"Sejak kapan kamu menyukaiku?" tanya Elen, masih nyaman berada di pelukan Divine.
"Apa kamu pernah mendengar nama Dave di sekolahmu?"
Deg.
"Aku tak mengenalnya," elak Elen.
"Tapi kamu tau siapa laki-laki itu? Coba kamu ingat? Beberapa waktu yang lalu aku melihat berkas lamaranmu secara perinci."
"Div, sudah ya! Masa SMA itu hanya masalalu," ucap Elen.
"Hya, seperti kisahku dengan Cassandra! Dia hanya masalalu, kamu jangan cemburu!"
"Siapa yang cemburu?" elak Elen.
"Kamulah, siapa lagi. Di dunia ini, jarang ada orang yang mengaku cemburu. Seperti waktu aku melihat kamu pulang dengan Rafael waktu itu!" jelas Divine.
"Kan kamu tukang cemburu," cibir Elen.
"Ya, gimana lagi. Masa, gak boleh cemburu sama calon istri sendiri," gumam Divine yang mampu membuat pipi Elen bersemu merah.
"Pulang sana."
"Kok jadi gak mau pulang ya, kalau nginep bakal di grebek warga gak sih?"
"Pulang, Div!"
"Ciuman selamat malamnya mana? Biar tidurku nyenyak dan gak mimpiin bidadari yang lain!" pinta Divine.
"Hm." Elen cemberut, disaat yang sama kelakuan Divine membuatnya sedikit terhibur terlebih saat Laki-laki itu menunjuk pipi. Elen pun hanya bisa menurut, agar laki-laki itu segera pulang. Baru hidungnya menyentuh kulit pipi, Divine menoleh membuat dua bibir mereka bertemu.
Divine tak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan berdiam saja, ia melu mat bibir tipis bak candu itu dengan lembut.
Hingga perlahan Elen mulai membalasnya dengan hal yang sama.
"Selamat malam, Elen."
__ADS_1
Elen yang malu-malu pun hanya bisa menatap senyum tipis kepergian Divine dari rumahnya. Setelah memastikan mobil itu menghilang, Elen masuk untuk menyusul Satria yang sudah terlelap lebih dulu.